Home » Humaniora

Tentang Ayah

26 June 2009 447 views 7 Comments

on_her_dad__s_shoulders_by_popestvictorOleh: Ken Lee

Dulu, dia lelaki yang disiplin dan berwibawa. Pemimpin yang selalu menerapkan kebebasan berpendapat, menentukan pilihan, dan bertanggung jawab atas pilihan tersebut.

Lelaki itu adalah saingan dan sahabat lelaki terbaik yang kumiliki sampai saat ini.

Dia adalah pemainan catur di waktu senggang, menjadi sainganku. Dia juga teman berrsamaku untuk menonton bareng sepakbola dan taruhan tim-tim sepok bola favorit. Kami sering bersitegang tapi akhirnya baikan lagi.Aku tahu dia sering mengalah untukku, seorang “his little girl” yang keras kepala dan penuh ambisi. Dia rela berbagi kemeja jadulnya, celana pendek serta sandalnya. Jadi ingat bagaimana raut wajahnya pagi itu ketika pertama kali melihatku memakai kemeja jadulnya, padahal kemeja itu sudah beberapa kali kupakai.

Lelaki itu adalah sang motivator untuk menjadi diri sendiri dan menjalani hidup agar tidak bermenye-menye atau bertangisan.

Di usia tujuh belasan, aku harus berpisah dari keluarga. Dia melepaskanku sambil berkata “Nak, life is full of struggle. Saya tidak bisa berbuat apa-apa kalau terjadi sesuatu denganmu di perantauan. Ingat, masa depanmu tergantung pada dirimu sendiri, bukan siapa pun. Saya hanya bisa mendoakanmu dari jauh.”

“Ya. Aku tahu itu, Yah. Terima kasih karena telah mendoakanku.” Batinku berkata lain, “Aku juga tahu a lesbian’s life is full of struggle. Sama-sama, Yah.”

“Kalau itu sudah menjadi pilihan kamu, pergilah, Ayah percaya kamu!”

Akhirnya aku pergi jauh untuk menjadi lesbian yang berpendidikan, mapan, berguna, berani mengambil resiko dan mewujudkan mimpi-mimpi kami. Aku pergi meninggalkan kota kelahiranku. Bersama perempuanku.

Dan sekarang, lelaki tua itu masih seperti dulu, tetap menyayangiku, dan ingin dekat denganku. Setelah kepergian ibu tercinta tahun lalu, dia memilih menghabiskan hari-hari masa tuanya bersamaku dan partner.

Sungguh, lelaki itu adalah sahabat terbaik yang penuh bijaksana dan sangat kuhormati.

I Love you Dad!

@Ken Lee, SepociKopi, 2009

Tentang Ken Lee:
Jatuh cinta pada pedesaan, laut dan hutan. Bercita-cita menjadi seorang petani setelah pensiun nanti.

7 Comments »

  • Arinie said:

    what a lovely daddy!, salam kenal ke dan salam hangat buat ayah yang begitu penuh pengertian dan cinta.

  • keyz said:

    huaaahhhh jd kangen mama qu :( (

  • LeiL said:

    Jd inget ama ayahku.
    I luv my dad too, ken…

  • lifeishappi said:

    suka bacanya…jiwanya sangat baik…suka! :)

  • Ken said:

    @Arinie :thanks ya. salammu pasti aku sampaikan ke papa. salam kenal jg dariku
    @keyz: salam kenal. salam buat mamamu ya
    @LeiL:jangan cuma kangen dunk.. beri dia prioritas. salam kenal
    @lifeishappi:yups.. begitulah adanya beliau. salam kenal

  • itzar chaidir said:

    sy izin kutip artikelnya untuk tugas

  • rubiyarni09 said:

    kangen ayah

Leave your response!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.