Home » Have Your Say

Have Your Say: Anugrah dalam Duka

26 June 2009 272 views 19 Comments

42963f17909c152a808f0ead30e1576eDitinggal orang yang kamu kasihi? Kematian adalah pencuri yang kejam tanpa memandang siapa. Kematian juga meninggalkan luka yang tergores sulit disembuhkan. Bagaimana menghadapi duka dan luka? Dengarkan kisah sahabat lesbian kita, Arinie, yang menghadapi garis takdir malaikat maut.

Semuanya bermula dari kepergian bundaku tercinta. Ketegaran beliau untuk bertahan dari komplikasi penyakit yang dideritanya sejak sepuluh tahun terakhir setelah kepergian almarhum ayahku telah mendekati titik penghabisan. Justru itu terjadi saat aku tak berada di sampingnya. Aku tak sempat melihat jasadnya terakhir kali karena pesawat yang membawaku dari Singapore tertahan di bandara dan baru tiba di Jakarta menjelang Maghrib sementara pemakaman telah usai selepas Zuhur.

Aku cuma bisa menemui segunduk tanah bertahtakan nisan bertuliskan nama bundaku. Aku tergugu dalam tangis, sementara adik lelakiku merengkuhku dalam pelukannya seraya berbisik, ”Mbak, ada pesan dari Bunda sebelum meninggal. Bunda mau Mbak segera nikah. Mbak anak pertama tapi sudah dilangkahi enam kali pernikahan adik-adikmu. Bunda memikirkan kamu, Mbak. Penuhi permintaan terakhir Bunda, ya Mbak”.

Aku terpana menatapa adikku. Dia mengangguk meyakinkan ucapannya. Airmata kian deras mengalir sementara hatiku perih. Bagaimana mungkin aku mewujudkan keinginan Bunda? Sementara aku, tanpa seorang pun tahu, lebih mengagumi dan mencintai sosok perempuan nan cantik daripada memikirkan mencari seorang lelaki buat suamiku. Seluruh keluargaku pun tahu kalau aku tak pernah punya pacar sampai di usia 34 tahun.

Adikku berkata lagi, ”Mbak, ada seorang lelaki yang Bunda harapkan dapat menjadi suamimu. Dia kakak kelasku waktu kuliah. Namanya Dzaky. Kebetulan dia juga sudah lama naksir kamu. Bagaimana, Mbak?”

Apalagi yang bisa kulakukan? Aku menerima lelaki itu sebagai “wasiat” bunda untuk jadi suamiku dengan berbagai syarat yang kuajukan dan ternyata, lelaki itu, calon suamiku, mampu memenuhi berbagai syarat konyol akal-akalanku. Aku kian luluh saat dia memintaku menemani sisa hidupnya, sambil dia bercerita bahwa dokter memvonis usianya takkan mencapai 40 tahun sebab penyakit yang dideritanya sejak lahir.

Mas Dzaky, begitu aku memanggil suamiku, membawaku hijrah ke sebuah kota di Jawa Tengah sepekan setelah pernikahan kami. Dia betul-betul lelaki yang baik. Dia sangat mencintaiku sepenuh hatinya. Feeling Bunda ternyata tak salah ketika “jatuh hati” padanya. Dia tahu aku belum bisa mencintainya. Tapi tak pernah sekali pun terlontar kata-kata yang menyinggung perasaanku. Dia begitu santun dan menjaga hatiku agar tak terluka, memenuhi semua kebutuhan aktualisasi diriku, dan mengenalkanku dengan bangga pada setiap orang sebagai istrinya tercinta.

Kesabaran Mas Dzaky meruntuhkan hatiku, perlahan image-ku tentang buruknya sebuah pernikahan terkikis. Cinta yang tumbuh perlahan di hatiku terpupuk menjadi keikhlasan mengabdi padanya sebagai istri. Merawat fisiknya saat sakit adalah menjadi pendar kebahagiaan tersendiri bagiku. Meski demikian, secara curi-curi aku masih menjalin hubungan persahabatan dengan sahabat-sahabat lesbianku di dunia maya.

Satu hal yang tak bisa kupungkiri, jiwa lesbian masih bersemayam di diriku. Namun cinta suamiku mampu membuat aku mengerem hasratku untuk menjalin hubungan lebih dalam dengan salah seorang sahabat lesbianku. Pernikahan menjadi sesuatu yang suci dalam hatiku dan hendak kujaga dari noda.

Sakit suamiku kian parah. Dalam rentang waktu dua tahun, telah beberapa kali ambruk dan harus dirawat di rumah sakit dalam kurun waktu yang cukup panjang. Kelelahan yang mendera fisikku merawat suami dan bekerja merawat pasien-pasienku mengakibatkan dua kali kehamilanku mengalami keguguran. Tentu saja kami berduka, tapi apa hendak dikata, ayah mereka butuh perhatianku saat itu.

Kebahagiaan kami seperti grafik yang turun naik di sela sakitnya. Namun demikian, cintanya tak pernah surut untukku. Sampai akhirnya tubuh ringkihnya tak mampu lagi menahan sakit dan dua hari sebelum Idhul Adha, suamiku kembali masuk ICU dan kali ini untuk terakhir kalinya. Sembilan hari sudah dia mendiami ruang ICU dan sore itu dia berkata,”De, kamu sudah melewati beberapa kehilangan, jadi kalau harus kehilangan sekali lagi, aku yakin kamu kuat. Kamu perempuan terbaik dalm hidupku setelah ibu. Aku mencintaimu, titip nama untuk anak kita, ya”.

Aku terbenam dalam tangis yang kusembunyikan di dadanya yang kian tipis. Beberapa jam setelahnya, suamiku meninggal dengan senyum damai terukir di bibirnya yang membiru. Tangisku pecah sambil mengelus perutku yang berisi janin berusia dua bulan. Hatiku perih, anakku takkan pernah mengenal ayahnya.

Usai pemakaman almarhum suamiku di desa kelahirannya, aku masih larut dalam tangis tiap kali mengenang dirinya dan melihat setiap ruang dan benda kenangan bersamanya. Tapi di rahimku ada janin yang harus kuperhatikan. Dia akan ikut merasakan duka dan tangisku dan itu akan memengaruhi perkembangannya. Perlahan aku coba menguatkan diri demi janinku.

Ketika saat melahirkan tiba melalui bedah caesar karena bayiku ternyata cukup besar – 4,5 kilogram – bayi lelaki, aku menangis bahagia. Selamat datang ke dunia, Nak, kamulah cahaya dan permata hati Bunda. Meski ayahmu tak lagi bersama kita, Bunda janji akan memberimu kasih terbaik.

Bayiku tumbuh dengan sehat dan menjadi bayi favorit di lingkungan kami. Dia tampan, ramah, dan cerdas. Perkembangan motorik kasar dan halusnya tumbuh pesat. Bahagia menjadi hiasan hariku-hariku. Tawanya meronakan jiwa dan menghias setiap sudut ruang di rumahku. Tangis dan rengekannya membuat hatiku berbunga. Pose demi pose dirinya kuabadikan lewat kamera dan dia dengan wajah cute-nya selalu sadar-kamera tiap kali aku memotretnya.

Tapi sekali lagi, kebahagiaan itu cuma titipan. Di bulan Januari saat usianya menginjak 9 bulan, mendadak anakku sakit, muntah, dan diare. Segera kubawa ke rumah sakit dan aku terenyak saat dokter membawa anakku ke ruang ICU. Dokter bilang anakku kena megacolone. Anakku tak sadarkan diri, tubuhnya membiru tanda hipoksy karena oksigen kurang di tubuhnya. Aku tak beranjak dari sisinya kecuali untuk salat. Beruntai-untai doa kulantun untuk anakku tercinta, tapi sang maut tak pernah menunda tugasnya. Lima belas jam kemudian anakku meninggal dan membuatku terkulai lemas ambruk di sisi tempat tidurnya.

Tuhan, masih belum cukupkah duka untukku? Kenapa harus aku yang mengalami semua ini?. Aku yang menggapai dan tertatih, mencoba meraih bahagia dengan pernikahanku, mengapa justru duka menoreh dalam di jiwaku? Hari-hari menjadi kelabu. Jiwaku terguncang dan aku terpuruk dalam duka yang memalung dalam di hatiku.

Namun sekali lagi Tuhan tak hendak membuatku terpuruk berkepanjangan. KasihNya justru mengirimkan pasien-pasien bayi dan balita dengan berbagai penyakit padaku justru di saat aku berduka. Seolah Tuhan hendak berkata, ”Arinie, lihatlah derita pasien-pasienmu dan kesabaran orangtua mereka, sanggupkah kamu menanggungnya jika yang seperti ini Kuberikan padamu?”

Aku tersadar, deritaku belum apa-apa dibanding mereka. Anakku tak harus menderita panjang dalam sakitnya. Tuhan telah memberiku ilmu, Dia tak kehendaki ilmuku mati seiring kepergian suami dan putraku tercinta. Di pundakku ada amanah untuk kesehatan banyak jiwa atas anugrah ilmu dariNya.

Tuhan, takdirMu tak pernah salah, seorang lesbian sepertiku masih Kau anugrahi berjuta nikmat dan kesempatan untuk lebih dekat denganMu. Jika kali ini Kau beri aku kebahagiaan dengan hadirnya Tiara, kekasihku, dalam hidupku, menguatkan jiwaku saat aku lemah diempas duka. Semoga tak melenakan kami dan membuat kami lupa akan kasihMu yang selalu tulus meski kadang bergelombang.

@Arinie, SepociKopi, 2009

19 Comments »

  • mozz said:

    There were gone, There is coming, Flows just like that..But GOD had made everything beautiful in His time.
    * Sekalipun kadang aku sendiri juga selalu merasa hampir berputus asa dalam pengharapan kepadaNya.

  • Luph_angel said:

    Good story!
    Aku harap mbak sbar..mbak adlah perempuan kuat yg tabah.thx ud ksh pncerahan..
    Tuhan akan memberikan sgala sesuatu indah pd wktny..

  • gian said:

    aku sampai menangis baca kisahmu mbak. melewati empat kematian Ayah, Ibu, suami dan anak sungguh hal yang tak mudah di lewati. semoga mbak lebih kuat menjalani hari-hari selanjutnya……

  • LeiL said:

    Satu lg potret ktegaran prempuan yg patut jd bhn renungan buatku.
    Aku prcaya doa mnguatkan kt, trutama saat kt sdng mnghadapi ujian knaikan tngkat keimanan yg pstinya jauh lbh sulit dr ujian” buatan manusia.
    Dan aku jg prcaya bahwa,
    Sesungguhnya sesudah ksulitan itu ada kmudahan…

    Oya, jujur aku smpt kringat dingin wktu baca kisah kk Arin td.

  • Arinie said:

    to Mozz : yes mozz God hade made everything beautiful in His time even its hurt and sometimes we cant stand of His test, but time heal it.

    to Luph_angel : you are welcome, semoga kita selalu bisa memaknai keindahan takdir Tuhan pada waktunya.

    to Gian : Thanks do’a nya, insya Allah setiap ujian dikirim satu paket dengan jawabannya, untuk membuat kita lebih tegar.

    to Leil : nulisnya juga pake acara bekringat dingin dan mandi airmata kok…hehheheheh

    to Mozz, Luph_angel, Gian dan Leil : thanks dan salam kenal, jabat erat dan peluk hangat untuk kalian.

  • key_dea said:

    mudah2an di balik duka kk ada banyak kejutan kebahagiaan yg udah Tuhan siapin..yakin z kl Tuhan emang maha pengatur yg hebat..

  • Ve said:

    hiks hiks hiks , speachless ;-(

  • Jai said:

    Our lives are like candle in the winds, be tough girl! Look at the stars and look how they smiles for you:)

  • Tiara said:

    Mba arinie.. Yg sabar iah..
    Semangat trus & jaga ksehatan..

  • tiek said:

    aku buka kedua tanganku datang padaku Arinie, Aku peluk sayang kamu tanda persahabatan kita dan duka yang mendalam untuk kamu.
    Yang kuat Ar, Tuhan tidak pernah lupa kamu Ar dan Tuhan selalu berjaga untuk kamu.

  • tiek said:

    Peluk ku untuk kamu tanda persahabatan kita dan duka yang mendalam untuk kamu.
    Yang kuat Ar, Tuhan tidak pernah lupa kamu Ar dan Tuhan selalu menjagai kamu.

  • vantaggio said:

    satu hal yang tidak bisa di kendalikan manusia adalah kematian. ia datang tanpa tak seorang pun yang tahu dan sangat menyakitkan

    semangat buat arinie

  • libraries said:

    kisahmu luar biasa mba, menginspirasiku untuk lebih tegar dan bersemangat menjalani hidup karna ditinggal seorang sahabat yang paling aku sayangi.
    thanks mba
    allah tak akan memberikan cobaan yang melampaui kempampuan makhluknya.

  • mozz said:

    Yes, ur rite Ar..actually we must surrender with God’s plan.
    Massive hug for you too..have a working day, God Bless You.

  • futuredoctor said:

    ketegaran hati para ibu dalam merawat anak-anaknya yang sakit kronis sungguh hebat. menginap di RS berhari-hari, tetap tersenyum di depan anaknya, walau di dalam hatinya kita tak pernah tahu berapa masalah dan kesedihan yang menumpuk. Semangat ya. God bless you

  • lifeishappi said:

    wew! doa terakhirnya sama dengan doaku…serupa walau tak sama…hoh! hidup itu memang indah…terimakasih Tuhan..terimkasih Tuhan…terimakasih Tuhan… :) .

  • Arinie said:

    @Key_dea: amiinn…thanks doanya ya
    @ ve : :) thanks ya sist
    @ jai : I know the stars are twinkling above and smile for me :)
    @ tiara : Iya, thanks ya, insya Allah sedang memintal kesabaran
    @Tiek : Kusambut pelukan persahabatn darimu, trima kasih sdh menguatkan aku, moga Tuhan menjadikan kita semua bersahabat.
    @vantaggio : thanks buat suntikan semangatnya.
    @libraries : semoga Tuhan juga menguatkan kita semuad alam segala kehilangan, apapun bentuknya.
    @mozz : God bless u too mozz.
    @futuredoctor : perempuan memang hebat kan…:) God bless u too.
    @lifeishappi : semoga kita selalu pandai bersyukur yaaa

    To All : thanks atas segala doa dan suntuikan semangatnya, jabat erat dan peluk hangat tanda persahabatan dariku, salam kenal semuanya ya…

  • Ken said:

    Arinie,
    you’re not alone. Just move to another chapter to find happines.

  • Arinie said:

    @Ken : thanks ken, i am moving now and yes i find my happiness

Leave your response!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.