Home » Tajuk

Tajuk: Reality Show dan Kita

23 June 2009 155 views 8 Comments

a3f3b11a65be555ad9f86e3ba9010770Oleh: Nuha Guwa

Kehadiran teknologi yang membantu demi meningkatkan kehidupan merupakan sebuah persembahan terhormat bagi manusia. Televisi adalah bagian dari penemuan teknologi untuk kepentingan seluruh insan dan seharusnya mampu diakses oleh seluruh umat manusia. “Kotak ajaib” itu milik kita semua; entah kaya, miskin, bodoh, pintar, anak-anak, dewasa, remaja, lelaki, perempuan, lesbian, binan atau siapa pun. Tak peduli tempat atau lokasi. Ia bisa diletakkan di mana saja untuk menghibur, mencerahkan, memberi pengetahuan, dan menemani para penontonnya.

Sayangnya manusia-manusia yang berada di balik tim kreatif malah melupakan tujuan utama puluhan tahun lalu ketika televisi ditemukan oleh para perintis teknologi. Banyak suguhan televisi membuat masyarakat menjadi tersesat dan bodoh; menjadi gemuk dan malas; enggan beraktifitas ke luar rumah. Siaran televisi juga didakwa habis-habisan memberi pengaruh buruk terhadap pemirsa. Apakah itu salah para tim kreatif? Tidak juga, karena penonton juga memberi andil dalam lingkaran kejahatan tak berujung ini. Karena kesibukan, tekanan kehidupan, dan kemalasan, banyak orangtua membiarkan anak-anak mereka di depan tontonan televisi atau menyerahkan kepengasuhan anak mereka kepada pembantu atau pendamping yang tak peduli dengan masa depan kanak-kanak yang diasuhnya. Sayangnya meski pun ditekan dengan jutaan protes, caci maki, dan hujatan, televisi seakan tak bergeming.

Jika kita coba membedah satu per satu; sinetron, berita, film, olahraga, kartun, talk show yang memiliki sisi baik, mereka juga tidak lepas dengan sisi buruk. Pernah dengar seorang penggila sepak bola yang bunuh diri ketika tahu kesebelasannya kalah karena menonton televisi? Sekarang, bagaimana dengan acara yang belakangan ini lagi naik daun, reality show? Apakah reality show benar-benar sebuah suguhan memukau? Melihat angka dan statistik, memang benar, acara itu banyak menyihir mata pemirsa dan menguntungkan. Puluhan juta penonton terpaku di acara ini. Ratusan juta iklan mengantre. Tidak heran jika hampir semua stasiun televisi Indonesia menyuguhkan acara reality show .

Coba kita tilik sebagian saja. Mulai dari acara Akademi Fantasi, Indonesian Idol, Bedah Rumah, Tolong, Tukar Nasib, sampai puluhan jenis infotainmen (sebenarnya infotainmen berkelamin reality show juga sebab bukankah sama-sama mengumbar drama dan air mata?), suguhan yang telah begitu banyak mengubah pandangan permirsa dan para bintang yang terlibat di dalamnya. Lulusan Akademi fantasi banyak yang bermimpi membahagiakan keluarga mereka, tapi kenyataannya banyak yang malah menghadapi belitan ekonomi sulit. Biaya yang dihabiskan untuk mencari dukungan sms belum lagi terbayar, sementara biaya hidup di Jakarta dengan pendapatan mereka yang tidak seberapa belum mampu mensejahterakan diri mereka sendiri. Ini sisi negatif dari sebuah acara reality show yang berpengaruh langsung kepada subjek yang terlibat di dalamnya. Namun pemirsa tak pernah tahu.

Bagaimana dengan dampak reality show yang lain? Acara Bedah Rumah misalnya. Rumah yang tadinya gubuk tiba-tiba berubah menjadi bagus; ada kulkas, televisi, dan peralatan listrik lainnya yang diberikan secara gratis. Tapi setelahnya apa? Jika pendapatan para subjek dalam acara tersebut ternyata tak bisa menutupi biaya listrik atau maintenance rumah mereka bagaimana? Apakah tidak menjadi masalah baru bagi para pemeran acara reality show tersebut? Namun pemirsa tak pernah tahu.

Acara reality show (baca: unreality show) yang lebih dahsyat mengangkat problema tabu kekeluargaan. Acara jenis ini muncul menjamur seperti di musim penghujan, menyoroti sisi miring kehidupan seperti perselingkuhan, homoseksual, pekerja seks komersil, kemiskinan, dan lain sebagainya. Jika acara ini berupa acara khusus berita tentu dapat dimaklumi. Belitan perseteruan atas kisah-kisah tersembunyi ini disebutkan sebagai kategori “kisah nyata” namun kenyataan yang terbongkar tidak demikian.

Televisi menjadi ajang penipuan dan kebohongan terhadap publik. Hampir setiap adegan reality show bukan hasil peliputan murni melainkan sebuah acara yang direkayasa. Seperti sinetron, mereka juga memiliki skenario dan tim penulisnya yang khusus untuk menggaet penonton dan mendapatkan target iklan. Semakin seru, semakin dramatis; semakin tegang, semakin besar minat pemirsa. Parahnya lagi, reality show seperti “Termehek-mehek” menjadi tren pertelevisian Indonesia. Kelompok yang berkepentingan menciptakan persengkongkolan besar dengan tidak mencantumkan betapa tidak nyatanya acara mereka. Semua adalah fiksi, tapi kenyataan itu tidak pernah dinyatakan secara terang-terangan.

Secanggih apa sih kamera tersembunyi sampai bisa begitu jelas merekam? Secanggih apa sih lensa yang hebat dengan kualitas gambar dan saturasi warna yang cingklong? Di zaman sekarang, kamera kancing dan pen camera masih belum mampu mendekati objek dengan cara zooming yang jernih. Dari sini saja sebenarnya kita dapat menerka bahwa sebagian besar kisah-kisah yang ditayangkan sebenarnya rekonstruksi kisah nyata. Direkam dengan kamera profesional dengan setting dan plot khusus.

Yang paling konyol, acara ini ternyata banyak ditonton anak-anak. Rasanya tidak sanggup melihat reaksi anak-anak di bawah umur ketika menonton reality show yang menyuguhkan jeritan seorang anak yang mengamuk pada ayahnya yang kedapatan kencan dengan seorang lelaki; terlepas dari omongan tentang dosa atau moralitas. Penyuguhan cerita semacam ini bukan tontonan yang pas buat kanak-kanak. Bukankah kanak-kanak adalah harta masa depan? Bayangkan jika anak-anak yang menonton akan memendam persepsi salah tentang keberadaan homoseksual. Ujung-ujungnya, akan banyak anak-anak yang beranggapan bahwa kehidupan di televisi sama seperti kehidupan nyata (teori kultivasi). Bayangkan apa yang akan terjadi ketika mereka besar nanti. Yang menjadi polisi akan menjadi polisi yang kejam terhadap homoseksual; yang menjadi jaksa akan mengancam homoseksual dengan dakwaaan berat. Hakim akan berpihak pada keputusan yang seberat-seberatnya. Yang menjadi wartawan akan langsung melakukan penghakiman berita pada setiap laku kriminal homoseksual.

Apakah kita menganggap acara reality show adalah acara yang bermanfaat? Apa hikmah yang bisa dipetik dari cerita palsu yang direka ulang ini? Jangan sampai kita yang termasuk sebagai subjek cerita dijerumuskan pada kesimpulan salah oleh para pemirsa: “benarkah kehidupan lesbian ternyata begitu?” Jika tak setuju dengan adanya acara seperti ini, alihkan tontonan kita atau matikan saja televisi. Jangan biarkan anak-anak atau keponakan-keponakan atau saudara-saudara kita menikmati acara tersebut. Sekecil apa pun usaha kita untuk mengubahnya, usaha itu pasti akan berarti. Mari kita lawan acara reality show tak bermutu itu dengan ketidakpedulian kita terhadap acara tersebut. Biarkan rating reality show yang penuh penipuan tersebut turun dan mati pelan-pelan.

@Nuha Guwa, SepociKopi, 2009

8 Comments »

  • mozz said:

    weleeh..weleeh..mbak Nuha Guwa pengamat reality show yaa? apal mua molai dari A ampe Z? aku malah ga ada yang tau ntu acara apa’an? kalo sepocikopies mah apal banget malah..btw, apa khabar nine muse, jupiter, oriza ya?

  • Arinie said:

    aetuju….!!reality show tak lebih upaya pembohongan public yang dahsyat liciknya karena terorganisir dan direncanakan…matikan tv atau pindah channel lain kalau acara reality show dimulai, ok gals!.

  • justine ht said:

    sekecil apapun usaha kita untuk mengubahnya, usaha itu pasti akan berarti… aku suka kata kata ini bu Nuha.. aku bersedih utk Indonesiaku.. salam kenal

  • tiek said:

    Aku kadang-kadang nonton acara TV reality show di atas, banyak yang merasa tertolong dengan masalah yang dimiliki klien TV tersebut. Banyak hal baru yang diketahui pemirsa, aku pernah dengarkan teman tetangga cara menanggapi lesbian, gay, perselingkuhan yang paling heboh tanggapan tentang cinta sejenis……
    Tanggapan mereka cinta sejenis itu diharamkan dan dianggap dosa besar. GLODHAK DIEEEEER.

  • Sky said:

    Dan tidak bisa dipungkiri bahwa televisi memiliki efek hipnotif, jika bukan magis…
    Mungkin kita perlu membuat tayangan tandingan dengan sisipan-sisipan subliminal berisi pesan-pesan sponsor untuk menyayangi kaum LGBT… :-p

  • Yustine said:

    Setuju! Seperti salah satu film Indonesia yang sedang diputar dan menceritakan kehidupan lesbian. Nanti penonton akan berpikir bahwa lesbian berasal dari keluarga broken home, rusak, pemakai, blablabla.. Semoga kelak ada acara atau film yang bisa mengedukasi masyarakat tentang kaum homoseksual dengan benar.

  • LeiL said:

    Yayaya, bgitulah wjh prtelevisian kt skrg.
    Edukasi dn moralitas tdk lg mnjdi unsur pntng yg patut d kedepankn.
    Jstru sisi komersil yg lbh diutamakn dgn mmelihara acara yg sarat pnipuan dn pmbohongan publik.
    Mmg altrnatf trmudah agr kt tdk ikutan trkontaminasi adlh dgn mnjadi pnonton yg smart. Pntar” lah dlm mmilih tntonan.
    Ayo brsama kt “habisi” tu reality show, Merdeka!!

  • ayank said:

    hai…..anak2 dahsyat….gw ayank di padand
    mkin gile aje……ancur……
    salam kenal bwt raffi,ancur(olga) ma luna ya,,,,

Leave your response!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.