Home » Cuci Mata

Cuci Mata: Girls’ Night Out

20 June 2009 128 views 2 Comments

poolOleh: Sidney

Pertengahan tahun biasanya muncul berbarengan saat jenuh bekerja. Ingin liburan tapi malas bersaing dengan anak-anak sekolah yang juga sedang liburan. Belum lagi harga tiket pesawat yang mahalnya gila karena high season kecuali pemesan tiketnya telah dilakukan sejak setengah tahun di muka.

Iseng kutanyakan pada teman-teman lesbianku. “Sibuk nggak? Rencana libur ke mana?” Pertanyaan-pertanyaan itu dijawab dengan jawaban tidak jelas, entah, tau deh. Di antara keisengan dan kejenuhan, ada yang mencetuskan ide, “Buka kamar yuk.” Wow, tiba-tiba bohlam berpijar terang di atas kepalaku.

Rencana dibuat, penthouse tiga kamar di puncak apartemen wilayah segitiga emas Jakarta pun di-booking. Ide berkumpul di penthouse ini sebenarnya berasal dari adik partner yang juga sering “buka kamar” bersama komunitas keagamaannya. Berkumpul bersama di hotel atau apartemen kerap dilakukan, menciptakan suasana kegembiraan dan kekeluargaan.

Hari Sabtu siang aku dan partner naik private lift menuju lantai tertinggi apartemen. Aku masuk ke ruang megah dengan grand piano di sudut. Jendela-jendela besar membawa masuk sinar matahari di luar. Sofa-sofa besar berbentuk L menghadap ke TV plasma flat screen. Di dalam ruangan sudah menunggu sepasang teman lesbian.

Kami cipika-cipiki lalu berbasa-basi sebelum aku menaruh tas travelku di salah satu dari tiga kamar. Aku berjalan menuju jendela kamar, dan melihat pemandangan di bawah yang ternyata menghadap ke kolam renang. Di balkon yang super raksasa, ada jacuzi berukuran luas. Dari puncak ini manusia-manusia tampak dalam bentuk mini dan sebesar semut.

Di ruang tamu, temanku dan partner duduk di sofa mengganti-ganti channel TV yang jumlahnya ratusan.

“Acara ntar malam apa?”
“Main monopoli aja yuk.”
“Cluedo?”
“Twister?”
“Uno?”
“Mahyong?

Kami tertawa ngakak. Udah nginep di kamar megah ini mainannya tetap mainan anak-anak

Sepasang teman lagi belum tiba dan perut mulai berteriak lapar. Kami berempat memutuskan untuk ke Grand Indonesia untuk membeli bahan-bahan makanan yang diperlukan untuk acara masak-masak buat dinner malam nanti. Oya, sekalian membeli monopoli dan sepak kartu Uno.

“Buka kamar” ini sebenarnya tidak ada bedanya dengan menginap di rumah keluarga atau sahabat seperti kebiasaan setiap hari raya tiba. Namun sangat tidak mungkin apabila aku bersama sahabat-sahabat lesbian lainnya berkumpul di rumah partner yang sebenarnya juga besar. Kami ingin memiliki privasi untuk bermesraan di ruang-ruang lainnya selain kamar tidur. Menginap bersama di apartemen adalah solusi yang asyik untuk menikmati kebersamaan bersama partner dan sahabat-sahabat lesbian.

Kami memasak bersama-sama, lalu bermain hingga larut malam. Menggosip dan mengobrol ngalor-ngidul hingga malam larut. Keesokan paginya kami juga berenang lalu berendam di jacuzi. Kesempatan yang tepat untuk mengenakan bikini two pieces-ku. Di kolam renang, aku mencurigai beberapa perempuan yang tampaknya juga berpasangan. Kulirik mereka sembunyi-sembunyi, dalam hati berkata, Jangan-jangan ada pasangan lesbian yang tinggal di apartemen ini atau “buka kamar” seperti kami.

@Sidney, SepociKopi, 2009

2 Comments »

  • chiaki said:

    Wah, kapan yah kya gitu?? lg masa2 backstreet dr ortu c.. jd susah d “buka kamar” ky gt.. Heeemmm (berkhayal mode on)

  • libraries said:

    hmmm sound great!!

Leave your response!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.