Home » Humaniora, Opini

Labelicious Club

18 June 2009 550 views 65 Comments

leah_label_by_britishsk8ergirlOleh: Lakhsmi

Seseorang yang belum kukenal menyapaku di YM pada suatu siang yang basah di tengah kesibukanku bekerja. Aku balas menyapanya dengan pertanyaan singkat, “Password?” Orang itu bingung dan bertanya apa yang kumaksud dengan password. Kujawab singkat, “Kata kuncinya adalah menyebutkan label kamu: femme, andro, butch.” Dia langsung menjawab “Aku nggak pake label.”

Aku kehilangan selera. Kututup jendela YM. Kubiarkan teman baruku menghadapi tembok raksasa Cina buatanku.

Sekretarisku datang, menanyakan mobil mana yang kugunakan nanti. Kusebut satu jenis sedan merek yang dilahirkan di Eropa, dia menyampaikan pendapatnya bahwa menyetir mobil itu bakalan nggak cocok buatku. Hujan deras membuat beberapa daerah tertutup banjir. Mobil pendek akan mengalami kesulitan melewati medan seperti itu. Kusebut lagi mobil jenis SUV merek perusahaan otomotif Jepang. Sekretarisku tersenyum, berkata akan menyiapkan kebutuhanku, lalu keluar.

Label, merek – apa pun namanya mengepung dunia material. Sesepele barang atau kegiatan apa pun, mau tidak mau kita memilih berdasarkan merek. Mulai dari tepung terigu, sambel, jam tangan, sepeda motor, tas, oli, pakaian dalam, sampai genre buku bacaan. Silakan masuk ke perpustakaan atau toko buku. Dengan pengaturan katalogisasi yang baik membuat pembaca atau pencari memiliki peta ruangan yang mudah dipelajari. Silakan mencari komunitas yang membela merek kamera tertentu sampai titik darah penghabisan sampai dengan merek mobil tertentu. Silakan mencari manusia yang senang menyebut dirinya sebagai “Penggila Pepsi” atau “Pencinta Christian Louboutin”.

Ingin mengelak dunia materialisme? Hello, apakah kita sedang berbincang tentang ceramah Sufi atau dunia spiritual atau pembicaraan Dhamma atau melakukan pendalaman iman? Memangnya kita mau mengobrol seperti cara Dalai Lama mengajar tentang meditasi atau faktor kesadaran diri? Atau membahas serius tentang bagaimana konsep rasionalisme ala Carl Gustav Jung? Atau juga pemikiran Plato tentang teori bentuk dan gagasan?

Sederhananya, mari turun dari awang-awang dan jejakkan kaki di tanah. Ini adalah perbincangan standar tentang kejadian sehari-hari dalam hidup manusia, tepatnya hidup menjadi lesbian. Dengan segala kelekatan manusia terhadap merek dan label di dunia kebendaan dan materi, sangat masuk akal jika bangsa lesbian menciptakan label untuk menjelaskan penampilan mereka: apakah femme, andro, atau butch. Tiga label ini mewakilkan dunia merek yang kita gunakan sehari-hari. Tiga label menjelaskan pengelompokan di mana kita memiliki rasa kesukaan terhadap penampilan dan gaya berbusana. Aku tidak tahu di mana kerennya gerakan menolak label jika orang yang bersangkutan masih saja membelok ke Starbuck’s untuk meminum pilihan kopi di sana?

Dengan jelas, aku bangga dengan labelku. Aku adalah femme yang berpenampilan seperti yang dijelaskan dalam ciri-ciri seorang femme. Aku membawa labelku ke mana pun aku pergi, seperti aku menyebut label lain yang aku sukai juga. Parfum? Kenzo. Mentega? Blue Band. Kecap? Bango. Tas? Chloe. Pendingin udara? Samsung. Kacamata? Giorgio Armani. Jam tangan? Seiko. Hape? Blackberry.

Silakan mengintip KTP, hitung ada berapa penggolongan di sana yang menyatukan manusia ke dalam grup tertentu: agama, golongan darah, dan kode pos. Manusia selalu dipilah dan dikelompokkan karena ia memiliki selera, jenis, dan penampilan yang berbeda-beda. Bayangkan kalau setiap manusia tidak mau dikelompokan! Dijamin, yang ada adalah kekacauan! Masuk ke supermarket, kita akan menemukan kesulitan mencari pembalut wanita yang dengan pinternya benda itu berada di dekat penjualan susu bayi hanya karena si penjual menolak pengelompokan ala visual merchandising. Suka nggak sih belanja di supermarket yang membingungkan seperti itu? Masuk di barisan imigrasi di Los Angeles International Airport, kita akan bertumpang tindih dan kacau balau dengan manusia berbagai bangsa dan negara yang tidak mau diatur berdasar paspor yang mereka bawa. Ini bandara atau pasar tradisional? Masuk ke sekolah kursus melukis, kumon, bahasa Inggris, bahkan universitas. Di sana ada level berdasarkan kemampuan, kepandaian, dan pilihan ilmu.

Manusia cinta pengelompokan atau pelabelan. Bukan cuma cinta, manusia butuh menjadi bagian dari kelompok atau label tertentu. Apa bedanya menyebut label andro dengan menyatakan terang-terangan bahwa dirinya beragama Hindu, ras Mongol, golongan darah B, orientasi seksual lesbian, pemahat, tidak menikah, pencinta sepakbola, pengguna Nokia, fans berat sepatu kets, penggemar kemeja lengan panjang polos, anggota komunitas laptop Acer, penggila Sour Sally’s yogurt, aktivis pecatur junior klub, dan pengumpul stiker Cars? Menjadi bagian dari komunitas atau kelompok tertentu membuat manusia merasa aman dan nyaman sebab manusia selalu butuh manusia lain untuk merefleksikan dirinya sendiri. Jadi lesbian mana pun yang berkata “nggak punya label” tentu nggak punya tempat tinggal, makanan kegemaran, tidak bisa menjadi anggota klub mana pun, beragama, bahkan tidak bisa menjadi lesbian. Oh no, bukankah orientasi seksual adalah pilihan juga?

Jendela YM terbuka lagi. Dia mengetikkan sesuatu buatku, “Aku no label.” Aku berhenti bekerja, mengangkat alis. No label? Dilihat dari exoplanet dan sabuk asteroid manapun,  no label juga memasukkan diri lesbian ke dalam kategorisasi label. No label adalah suatu penalaran yang menggelikan.

Aku tertawa sendiri memikirkan ironi ini. Kututup jendela YM setelah mengucapkan pesan singkat kepadanya, “Welcome to Labelicious Club. The following information must be provided before your application is processed: are you femme, andro, or butch?”

@Lakhsmi, SepociKopi, 2009

65 Comments »

  • noveeee said:

    rite…apa susahny say whats ur label..

  • van said:

    no label juga termasuk sebuah “kondisi/status” wlpn diluar 3 katagori (f,a,b), mgkn saja si no label kebingungan… hari senin maunya status butch, hari selasa femme, hari rabu andro femme, hari kamis andro butch… jumat cuti dulu ah (capek mikirnya mau jadi apa…)…

  • Yustine said:

    Aaaargh.. bingung. Don’t want to think ’bout it. Mending diterima-terima saja. label ya label. No Label juga masuk label. Jd intinya ga ada yg ga berlabel. Hehehe.. :P

  • ang said:

    …jadi males baca kelanjutan artikel ini, topiknya so last year..

  • baby said:

    mbak laks,
    dulu aku punya kekasih bule selama beberapa tahun, di negaranya hanya sebagian kecil yang pake label.dia selalu bilang antara aku dan dia “we are the couple of wife”. karena kita selalu “share together”. tidak perlu salah satu pihak melakukan pekerjaan yang biasa dilakukan untuk laki2 or sebaliknya, misalnya begitu……

    Butch selalu menggambarkan seperti sosok yang maskulin or seperti laki2. Mbak pernah liat film “If the wall could talk” (kalau ga salah itu judulnya). Pasangan lesbian yang menginginkan anak dan mendapatkan sperma dari pasangan gay.

    Sperma tersebut bukan ditanamkan didalam rahim cewek yang berambut panjang lho, tetapi ditanamkan di rahim yang berambut cepak.

    but ga tau deh…..tiap orang mungkin punya opini yang berbeda tentang label tapi aku pikir sah2 aja, kan kita hidup dinegara DEMOKRATIS.

    lagipula mbak laks kan kepala suku jadi kudu merangkul semua pihak tanpa perlu adanya pengkotak2an,hehehe(maaf, jangan marah ya boz).Regards……..

  • patrickstar said:

    no label bukan masalah merek atau brand atau golongan, no label adalah masalah penerimaan kita terhadap sebuah hubungan. tidak melihat ras, status sosial, religi ataupun apalah namanya. perempuan yang mencintai perempuan. lesbian? sama2 memiliki satu label, yaitu: perempuan. Jadi, kenapa harus dikotak2in lagi? :D

  • Sagita said:

    ihhhhh… kalo saja yang menulis artikel ini penulis yang bukan setaraf Lakhsmi, saya percaya… :oops:

  • Maly said:

    Sungguh malang ‘Lesbian malang’ itu :) makanya kalau mau YM dgn Lakhsmi seharusnya dah bersedia dengan soalan cepumas yang bakal diterjahnya… eh Lakhs ‘labelku’ andro yah :)

  • Lushka said:

    Kenapa juga orang malang ini ga nanya balik ‘kapan?’
    Kan preferensi bisa berubah,kalo tahun ini lagi suka jamu brotowali..siapa tau tahun depan dia suka jamu ndak-ndak cacing, beras kencur atau galian kabel eh singset.

  • kayla said:

    Mba Lax… sebagai L no label bukan suatu penaralan yang bodoh . Secara fisik mau didandanin spt apa tetap aja mereka perempuan . Dan ga ada khan di KTP ditulis jenis kelamin : Butch /femme/ andro. So jangan dikotak kotakan spt itu ….

  • Yani said:

    Memang sih lebih mudah membayangkan/menggambarkan seorang l dengan pelabelan, cuma gak usah jengkel juga kali bu kalo ada yg bilang ‘no label’ hehe sampai judge mereka konyol dan gak termasuk lesbian. Trus analogy pelabelan dengan brand2 tertentu rasanya kurang pas deh, kalau suatu brand jelas mempunyai kualitas dan image tersendiri, namun tidak dengan pelabelan (tidak semua butch preman atau tidak semua femme cantik hihi). Tapi aku suka dengan tanggapanya, this is labelacious club…hehe creative! Peace!:-D

  • Deska said:

    Surprise.. surprise..
    Surprise saya dengan tulisan Lakhsmi kali ini. Penulis sekaliber Lakhsmi bisa kehilangan ide atau topik. Mengulang-ulang sesuatu hal (lebeling) tanpa ada isu-isu baru. Dan anehnya dapur sepoci yang katanya terkenal ketat dalam menyortir dan mengedit tulisan2 yang layak posting, rupanya tidak berlaku untuk Lakhsmi atau sedang melempem ya?

  • Femme said:

    Menurut aku isu ini tetap hangat, lihat ajah yang komen pasti banyak, yang merasa tersinggung pasti banyak hahahaha, saudara lakhsmi saya salah satu penggemar anda, jika sekaliber anda masih mau mengupas ini sungguh membuka mata saya bahwa anda memang jagoan untuk mengundang orang agar membaca sepoci kopi, menyentuh hati yang berdiam di blog-blog mereka agar mau memberi komen pada isu yang ‘masih saja konyol’ ini. salut buat anda. isu ini isu gampang yang setiap orang akan mudah untuk nimbrung. isu yang siapa saja bisa berdemokrasi. saya yakin sekali tulisan anda ini dibuat untuk memanggil para lesbi segala lesbi. bravo ya. Percayalah apapun di sebut orang saya tahu anda tidak bodoh mengangkat topik ini sebagai bahan tulisan, tidak akan pernah basi, tidak akan menjatuhkan derajat anda sebagai salah satu penulis pentolan sepoci kopi. terbukalah mata saya ternyata pada hakekatnya manusia memang tidak bisa lepas dari labelisasi, mau atau tidak mau!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!! sebuah ide tulisan yang sangat kreatif…kamu benar mau atau tidka mau kita memang harus menerima dunia LABEL, welcome to labelism world.

  • Aderain said:

    Lax. Aku kangen tulisan kamu yang kayak gini…dulu aku jatuh cinta padamu karena berani mengeluarkan pendapat pahit yang ditutup dengan kesimpulan bombastis, buat gatel orang. Bener aku kangen padamu Lax (Baca; Lax yang dulu). Selamat pulang ya.

  • Kambinghitam said:

    satu kata : MEMBOSANKAN !!!!!!!

  • ENO said:

    RED LABEL, lebih mantap.

    * don’t care abt label

  • Arie Gere said:

    Lax, bagaimana seorang dikatakan butch?bagaimana dikatakan femme?bagaimana dengan andro? Lantas, siapa pula yang berhak melabelkan diri kayak gitu? Emangnya kalo tomboy langsung berhak dpt label butch? kalo feminim langsung bisa dibilang femme? andro di antara keduanya? kalau gitu sama aja kayak beli kucing dalam karung, judge the book by its cover only. atau kalau bukan dari penampilan, apakah dinilai dari kecendrungan sifat seorang lesbian? lembut atau keras? tetapi sifat itu sendiri kan abstrak,memangnya siapa yang tahu? aduh lax, coba jelaskan bagaimana lax mengkategorikan seseorang menjadi butch, femme dan andro, sehingga labelicious club itu diisi oleh orang dengan label yang tepat. Akupun tak tahu aku tepatnya berlabel apa.

    Salam,

  • Caca said:

    terkesan sombong n membosankan.

  • IL said:

    kalo menurut gw,
    label itu ya penting, penting, ngga penting
    jadi ngga penting, ngga penting, penting
    penting ngga penting, penting ngga, ngga penting
    ngga penting, penting, ngga penting penting ngga
    halaaahh.. apa si guee??

  • dian said:

    rame ya… ;D

  • Jai said:

    I’m no label, I’m just a boyish…

  • oryza sativa said:

    kondisi paling menyenangkan adalah ketika seseorang memahami pilihan-pilihannya dan nyaman menjalaninya.

  • carmia said:

    O ma GOD!!!
    mba lks koq kayak membatasi perempuan dalam 3 kategori yah? sempit sekali..
    analogi smua brand yang mbak sebutin juga kayaknya gak masuk deh kalo dipake di manusia. coba bayangin ada gak satu ibu yang ngelahirin banyak anak dengan brand yang sama. kayak pabrik hape ngeluarin blackberry kesayangan mbak? kalo emang manusia mau dikasi label harusnya satu-satu. labelku misalnya carmia, mbak diatas saya oryza sativa, mbak sendiri laksmi. itu uniknya manusia kan? gak ada yang sama mutlak, kayak merk parfum, hape, jam tangan, tas dan kacamata.
    btw, selera mbak cukup memperlihatkan mbak emang gak suka yang gak ber merk ya.. hihihiih
    korban pasar banget ih.

  • Ereen said:

    Rasanya sedikit banyak label itu perlu (untuk perkenalan pertama apalagi lewat internet) khan ribet kalau harus menjelaskan: Aku feminin, suka pakai rok, suka pakai heels, sukanya kesalon, masak, jalan-jalan, mengeriting rambut, beli tas tangan.. rasanya lebih simple kalau bilang saja “Femme”, otomatis dikepala khan sudah ada bayangan kayak apa Femme itu. Atau bilang tomboy, suka main bola, pakai sepatu pantofel, kemeja, celana bahan, suka salah dipanggil Mas, khan mendingan bilang saja “Butch” (hitung-hitung hemat waktu hihihihihihi.

    Memang benar tidak semua butch manly dan tidak semua femme girly. Tapi kalau ada femme yang tidak cantik? I’m sorry….. about ur face :p

  • Ss said:

    Bagaimana kalau aku femme di kantor, andro di rumah dan butch di futsal? Apakah aku ini? Oh yeah judge the book by it’s cover.

    Bagi lesbian in the closet, apakah pernah ditanya kamu feminim atau tomboy pada saat perkenalan pertama di dunia hetero?

    Penyamaan label di dunia material dangan label lesbian rasanya terlalu berlebihan. Dalam label dunia material menandakan kualitas, dalam label lesbian menunjukan penampilan.

    Begitu pentingnya penampilan kah dalam dunia lesbian?

  • Arinie said:

    tulisan yang cukup mampu menyedot minat orang untuk membaca dan berkomentar….label is just a label. yang terpenting adalah mampukah kita membuat diri kita berarti dengan label yang kita lekatkan pada diri kita

  • Fredric said:

    all, sumbang pendapat. Saya menduga tulisan ini adalah jenis tulisan argumentasi yang menyatakan pendapat pro-kontra dengan jelas. Dunia penuh dualisme ya bukan? Inilah satu sisi yang Lakhsmi tampilkan dengan tajam. Lakhsmi pernah mengajarkan teknik menulis argumentasi di Bengkel Menulis coba lihat di http://sepocikopi.com/2008/10/24/bengkel-menulis-mengoposisi-dalam-serangan-argumentasi

    Silakan dibaca saja. Saya yakin banget Lakhsmi mampu menulis kebalikan dari tulisan ini (kontra-label) dengan bobot tulisan yang sama yang bakalan buat kelompok orang-orang pemihak pro-label emosi. Betul nggak Lakhs? Justru di sini indahnya demokrasi. Ada yang setuju, ada yang tidak. Ada hitam, ada putih. Ada pro, ada kontra. Santai saja.

    Peace!

    (f)

  • Andro said:

    Label harus ada dalam L.

    Tiada Label tiada Identiti
    Tiada Identiti tiada Erti
    Tiada Erti = zero!

    Welcome to Androlicius Club

  • Jai said:

    I don’t care with my label, no label, S, M, L or Xtra Large, but i do like being boyish…

  • Grey said:

    Lakhsmi memang RUAAARRRRRR BIASA……Acungan 4 jempol deh buat Laks….
    Sejujurnya inilah yang di sebut marketing… HAhhahahahhaha….

    Dengan begini Sepoci jadi tambah rame…

  • eliz said:

    semua org boleh berkomentar, semua bisa berpendapat, awal baca tulisan ini mo komen ya ampun ni jeunk sombong amat? setelah baca ulang, ya sudahlah semua punya pendapat sendiri-sendiri… untung bukan gue yg nyapa pasti tak jawab, orang-orang berfikir gue B, setelah melihat penampilan eh ternyata A, pas udah kenal banget ya ampunnn ternyata F banget! yah label yg tepat kayae Butchie Bencong Slebor deh…. yukz mariii….

  • jeng_asih said:

    nah lho, rame nih? ikutan ah….

    jadi…jeng_asih itu femme, hehehehehe

    kendaraan : bis mayasari bakti Bekasi – Tn. Abang
    hape : nokia 2626
    tas : guess (ini juga kado dari partner)
    sepatu : fladeo
    parfum : ngeracik di condet
    jam tangan : gak pake karena di hape udah ada jam-nya
    aksesoris : kalung kristal swarovski (hadiah dari klien)

    mentega ama kecap, sama lax kayaknya, hahahaha

  • justine ht said:

    duh.. jeng asih, komentarmu membuatku terbahak bahak… wkkwkwkkwwkk

  • Deska said:

    Sepocikopi telah melacurkan diri jika benar artikel yang ditulis Lakhsmi hanya untuk menggaet pembaca sebanyak2nya, yang begini sama saja meremehkan kecerdasan pembaca2 sepocikopi.

  • mozz said:

    pelebelan lagi..pelebelan lagi..
    hanya karena suka sama sesama jenis aja ribetnya minta ampyun.
    perempuan ya perempuan ajjah..ga pake label.
    mang kita benda apa???
    cape deeee…

  • LeiL said:

    I’m surprised.
    Byk bgt yg ngasi comment yah.
    Kk lax mang top dah…
    Oh y, mnurut aq mslh pelabelan itu kmbali pd prsepsi msng2 individu. Klo pro ya silakan, klo kontra ya monggo.
    Hidup indah krn bunga2 prbedaan…

  • Hujan said:

    My partner said this to me “i am butch in the street, femme in the bed” hhe..

  • key_dea said:

    rame sekalski disini….
    jiah malah jadi tambah binun apakah dirikuw ini…

  • Mine said:

    tulisan Lakshmi kali ini cukup beresiko.. kalo pembaca digiring untuk belajar beragumen, mending cari topik yg lain. dengan topik ini, malah menciptakan image kalo mba melihat sesuatu dari label.. memiliki sesuatu yg berlebih memang cenderung kesana. tapi tidak selalu. ada yg lebih mengutamakan fungsi. kalo ini strategi marketing, jelas2 bukan strategi marketing yg smart untuk meramaikan comment.
    apapun itu, banggalah dengan pilihan masing2.. baik yg berlabel maupun tidak.. selagi kita nyaman.. ^^

  • d` said:

    Uhm… Label. Of course, I like something branded.
    Sudah beberapa hari ini, saya bolak balik membaca tulisan ini. Jujur, kalau saya adalah orang yang menyapa si penulis tadi, ketika dia bertanya : a/b/f? Dengan sangat jujur pula, saya akan menjawab, “Saya Wanita, No Label.”
    Tapi tidak berarti saya tidak menyukai pelabelan. Cuba saja, berapa orang di antara para pemberi komen or pembaca tak berkomen yang secara kebetulan berorientasi seksual : Lesbian, yang mengaku dan menyebut dirinya tidak berlabel, tapi ketika mereka mencari cinta or partner, mereka tidak melakukan aksi non label itu. Saya rasa rata-rata akan mempunyai keinginan ; mungkin No Label A : saya suka butch. No Label B : saya suka femme and blahblahblah.

    Mungkin lebih pahit rasanya langsung dituding orang lain karena pelabelan. Tapi malah tidak menyadari kalau jauhhhhhhhhh sebelumnya, dia sendiri sudah menjadi pribadi yang melabelkan.
    Yah dia mencari label pada pribadi yang dia cari. Kecuali, kalau dia benar-benar seorang pendatang baru.

    Dan aku, walau No Label, aku menyukai femme. Lol. I put no tags label on me. But, I do it to others. So, akui saja huh.

    Nah, kalau ada yang mengatakan “they don’t care about branded stuffs”. Sedikit ironis huh. Coba kalau kamu punya uang or kamu di suruh pilih di antara : handphone bermerek IMo dan satunya bermerek APPLE, kamu pilih mana?

    Setahuku, kejiwaan seseorang terkadang menolak menerima sesuatu or mengakui sesuatu karena pribadi itu tak mampu memiliki sesuatu itu. Dan beberapa, sangat solid dengan pemahaman yang melekat pada otaknya.

    Contoh lain: kamu menang undian tapi boleh milih, Ferarri atau becak? Jelas saja, ga mungkin akan memilih atau.

    Oh iyah, gay aja ada pelabelan ; Top, bottom or Flexible.

    d`
    Lesbian yang menyebut dirinya No Label. Tapi pencari wanita berlabel F. Melankolis, dikategorikan para teman Lesbian sebagai F, beberapa mengkategorikan A ke F.
    Suka kets, suka boots, suka cardigan, suka celana panjang slim fit. Suka pakaian dengan label-label yang bisa dijumpai di City Surf or Planet Break. Penggila handphone berteknologi canggih, pemilik handphone bermerek HTC, Blackberry. Tapi mulai bosan pada BB.
    Suka wanita yang berperut rata. Suka cocktail tapi bukan seorang pecandu. Tidak menyukai rokok yang terkemas dalam merek apapun. Penyuka Parfum : Emporio Armani, Giorgio Armani, Armani Mania. Tidak suka kecap kental manis. Tidak suka mentega. Penyuka coklat berlabel Hershey’s or Beryls. Penyuka film-film western, chinese, korean, Indian tapi tdk suka menonton sinetron.
    Aduhhhh capek deh.

  • Sky said:

    Menarik sekali…
    Meskipun ini bukan persoalan atau topik baru,
    dan beberapa orang dengan eksplisit menyatakan hal itu,
    tetap saja banyak yang bereaksi dan mengomentari…
    Hm… menarik sekali…

    Label?
    My label is “L” for Lesbian…

  • ian said:

    Andai saja sy tdk berjanji pd sahabat sy penulis u/memberi comment pd tulisan ini, pasti sdh sy anggap spt angin lalu yg tdk berasa kpn melewati sy.
    Kl tulisan ini mmg semata2 dibuat sbg suatu strategi marketing maka sy sngt setuju dng grey kalau jenk lax sngt sukses dlm mempromosikan sepoci kopi. Kl tulisan ini dibuat semata2 u/proses pembelajaran bengkel menulis spt comment fred maka jenk lax patut menjd lecturer sejati. Namun bl tulisan ini hny berupa tulisan ungkapan biasa jenk lax so….hmmm sptnya “selangit” sekali..di atas langit masih ada langit lho jenk. Hati2 terll tinggi nanti jatuh. :p
    @d : applause u/ anda krn berani mengakui bahkan menulis comment secara anda a/org yg ditolak “berteman” o/jenk lax. Yahhh label no label label no label perdebatan yg tdk akan pernah habis dan sngt membosankan jg basi. Yg pasti semua pny kehendak bebas ko. Dan harusnya anda bangga karena anda maka jenk lax bs “comeback” lg menulis spt comment aderain, krn anda pula tulisan ini jadi top viewer n mgkn comment plg bnyk. Krn anda, ini a/yg ke 2 kalinya sy menulis comment pd sepocikopi krn permintaan sahabat. Yg pd kenyataannya tdk pernah ada 1 tulisan pun di sepocikopi yg mampu membuat sy berkomentar scr sukarela.
    Maaf bila ada perkataan yg menyinggung, sy bkn siapa2, sy hny menyampaikan comment pd suatu forum yg sy rasa terbuka pd pendapat bebas pikiran setiap org. Salam Damai.

  • Sidney said:

    Mengagumkan. Tapi memang bisa diprediksi bakal seperti ini. Tulisan Lakhsmi dari dulu memang selalu membuat jagat raya lesbian gonjang-ganjing. Pada baru tahu? ke mane aje? Maturity is an essensial essence, being a d*ck is an epidemic. I am amazed to see some people be overly aggresive or became just a plain annoying commentator on this very-ordinary-and-BORING (as they said) article.

    Anyway back to the issue. Di sini, siapa ngomong-itu-mudah tidak peduli label adalah penipu murahan. Membeli odol pun kita bakal mmilih merek. Mau apa, Pepsodent atau merek Cina yang nggak jelas tapi murah harganya? Memilih roti juga begitu, mau roti abang-abang atau roti dari Bread Talk bakery? Kalau punya uang sampai digitnya menempus langit seperti kata Mbak d’, coba siapa yang nggak milih beli MercedeZ dibandingkan Suzuki (dengan segala hormat kepada mobil Suzuki). Intinya yah tulisan Lakhsmi bukan cuma menyinggung urusan label, tapi juga menampar diri untuk mengingatkan betapa leburnya kita dengan kehidupan materilisme.

    I hate to write comment and worse, I promised to Lakhsmi to stay cool. But this article has magic, I hate admit that I join the crowd of ridiculously labelicious. And now I rest my case.

    Sidney – nggak perlu nyebut barang-barang merek yang digunakannya.

  • d` said:

    @Sidney, setuju banget. Setuju sekali. Waduh senangnya karena akhirnya ada yang mengerti tulisan ini dengan sangat. Yang melihat terlalu dangkal mengira ini semacam iklan sabun. But, deep inside : “we’re only human”. Jadi wajar saja bersikap dan bersifat seperti manusia.

    @Ian : wah, salut juga dengan cara mandangmu tentang sebuah tulisan. Uhm selain sisi marketing dan sisi lecturer juga yah. Waduh, saya pribadi malah tidak memikirkan ke 2 poin itu. Kayaknya cara pandang harus sedikit dibumbui neh :p.

    Peace. Peace. Peace.

    d` “A Non Label Lesbian” (still)

  • the L word said:

    jadi rekan-rekan semuanya berlabel apa?

  • Arie Gere said:

    Ada kopi gratis? Mari kita teguk sejenak dan ngaso sebentar. Saya lelah membacai pro-kontra yang tak berkesudahan ini. Please, kasih ruang buat para pembaca lain label-no label-with label yang adem ayem dengan pilihannya masing-masing. Situs ini semakin ramai dengan pro-kontra, hiruk pikuk kayak penonton kesetanan, lalu lalang merebut lahan komen yang paling yahud serta-merta belingsatan dengan tuduhan mark-up marketing sampai ke pelacuran. Hei, coba cuci muka, sadarkan diri sendiri, wadah SepociKopi ini dibuat untuk apa? buat siapa? We live here, live life beyond the ordinary, as a lesbian family. Saya bertaruh, saya berkeluarga dengan Anda, apa pun label anda! Tak bisakah, komen tuduh menuduhnya cukup sampai disini, saudariku?

    Salam,
    Keluarga adalah tempat kita saling berbagi rasa, saling memperhatikan, saling menyayangi dan membantu satu dengan yang lainnya.

  • mozz said:

    berpelukaaaaann…heheheee..

  • fjameela said:

    kalau ditanya ‘password’ trus jawabnya ‘i havent decide it yet’ atau ‘i’m not sure for today’ ym-nya dimatiin juga gak ya?
    salut buat lakshmi yang bisa setia dengan satu label sepanjang waktu.

  • chubby-gal said:

    hehehe.. seru2… mantap… gue setuju ma laksmi, meski kadang tersudut ma orang2 lain klo mereka ga suka pake label, dan menyebutkan diri no label heheh..

    gue lagi nilik, jaman duluuuuuuu kalaaaa di indonesia, nama labelnya lain… ada kantil ada hunter, trus ada apa lagi? lupa.. ada ga disini sejarah2 komunitas L di indo hehehe….

  • tiara said:

    hidDUpp LabeLL..
    hehheee…
    ^_^

    eNak Pke LabeL iahh..
    aqu StuJu bngT!

  • Fredric said:

    @Baby bukannya justru Lakhsmi membebaskan semua lesbian dari pengotak-ngotakan dengan memimpin manajemen media SepociKopi untuk membebaskan semua pendapat para lesbian dalam bentuk tulisan?

    @Arie Gere justru di sanalah letak pesta demokrasi. Setiap orang boleh memiliki pendapatnya masing-masing. Ruang pro dan kontra memang selalu riuh dengan pendapat. Bukankah ini saat yang tepat untuk para lesbian belajar mengeluarkan pendapatnya dengan baik dan benar? Lihat aja debat Capres saja tidak berhasil dengan sukses malah jadi ajang saling jilat menjilat. Pointnya adalah setiap orang boleh-boleh saja memiliki pendapat pro atau kontra tapi selayaknya dikatakan dengan penjelasan yang runtut, masuk akal, dan baik. Perspektif dari segala sudut boleh diujicobakan. Kadang-kadang inilah pil pahit yang harus ditelan nggak ada jawaban yang memiliki satu perspektif dan persetujuan yang sama.

    @lesbian yang setuju label saya tahu ada banyak di luar sana yang membaca tulisan ini kenapa nggak berani mengungkapkan pendapatmu?

    @lesbian yang nggak setuju label cool aja man daripada menulis komen yang cuma meneriakkan kekesalan mendingan nulis esai yang beroposisi tapi tidak jatuh dalam jurang polemik. Setuju?

    Peace!

    (f)

  • lifeishappi said:

    gileee…yang komen banyak ajah…laks pasti ketawa2 niy…ato malah ikutan surprise juga…
    ROCKS!
    hiduplah manusia yang hidup dengan rasa sayang di hatinya…apapun mereknya.
    proudly saying, saya perempuan yang mencintai perempuan saya.

  • Ve said:

    hehe,it’s really a nice story.
    apa kalau label itu harus tetap selalu a/f/b yah? apa gak bs diganti dgn label : coming out/not coming out/ragu2 ; newcomer/udah lama; setia/tidak setia; dll? coz kalau mnrt ku label itu dilihat dari penampilan saja berarti label bs berubah2 setiap saat mengikuti perubahan penampilan seseorang,untuk itu seseorang yg sudah tidak berganti penampilan lebih suka menyebut dirinya n label scara dirinya itu gak cocok dibilang femme,andro atau buch ;-)

  • Radlia Lestari said:

    eehm,,lebel yach ?? sah2 aja sih.. tapi jujur,, pelebelan itu (whatever namanya) bagi aku dan pasanganku g ada.. yang kita tau,,kita adalah 2 orang wanita yang saling mencintai.. (^_^)

    kadang berpikir,, buat femme yang cuman suka buthc (kan banyak tuh yang gitu..),,knpa g sekalian cari cwok aja..
    hehehe…
    peace… (^_^)

  • horas said:

    kenapa mesti harus da lebel segalak,,,,kalo lesbo ya lesbo aja…
    gw setuju tuh ma yang nggk da lebel…jadi pas pacaran berdua gt
    kan nggk harus berperan sebagai butch apa fremme…..lagian kalo di luar jadi nggk kelihatan berbdannya…
    lagian gw ngeri klao liat butch yang maco banget n juga yang feminim heheeh

  • libraries said:

    beberapa kali mondar mandir artikel ini tapi bingung mau comment apa,, (editor said :”ga komen lebih bagus!! kami kan ga ribet sortir celotehan kmu!! ,, * peace tante lex n lax :p)
    satu sisi saya sangat setuju dengan posting yang terakhir, lebih-lebih memang begitu yang saya dan partner rasakan, mencintai satu sama lain selama 5 tahun, tidak pernah berencana tepe-tepe ke perempuan yg lain (walau terkadang itu terbesit dibenak saya), dan merencanakan masa depan kehidupan nyata yang menanti kami sepert mempersiapkan pacar laki-laki yang cocok untuk sya dan dia agar saat perpisahan tiba kami tidak akan kaget karna merasa kehilangan satu sama lain.

    namun sisi lainya adalah resiko yang harus dialami oleh perempuan yang memutuskan mensearch kata lesbian di paman google dan akhirnya terjerembab dirumah ini. ya rumah! rumah perempuan penyuka perempuan yang ditengah kebingungan antara hidup yang harus dilalui atau cinta yang dialaminya sekarang atau keinginan seksual yang merajai otaknya sehingga berfikir bahwa dengan berkumpul dengan komunitas ini adalah jalan kepada cintanya.

    so what’s ur choice gals???

  • LigX said:

    n_n
    label??memang sebagian komunitas L harus mencantumkan label dlm perkenalan..kalo ad yg mengatakan “no lable” rasanya komunitas L tersenyum dan ucapkan “tentukan dulu lable mu baru bisa masuk dunia L”..ironi memang,tapi di luar sana tidak ada pencantuman lable dalam komunitas L..
    lable bagi sebagian orang dan sebagian komunitas memang penting,,tapi bagi yang ber no lable itu,mereka pikir lable itu ga penting yang jelas kita masih dalam satu minoritas L…
    yah..susah dijelaskan memang bila selalu berkutat dengan lable..hmm

  • angel said:

    bagaimanapun juga perempuan tetap perempuan, entah mereka memberikan label butch or femme
    aku pribadi nggak pernah mempermasalahkan hal tersebut, menurut aku gmana sekarang kita bisa berjalan bergandengan tangan dengan pasangan kita dengan kepala tegak dan sejajar dengan pasangan heterosexual.
    ya nggak ayang lia?

  • LG said:

    wah, mbak..LG juga no label nih..i think woman r so unique to put in three labels :)

  • kurkur said:

    hampir aja berpikiran untuk mengangkat label menjadi bahan skripsi..cm g jadi..^_^

    aq no label..
    dan aq bangga menjadi no label..
    krn perempuan yah perempuan..jgn kotak-kotakkan itu..

    lgpula persepsi label itu berbeda2 dimata orang..
    apa iya,label hanya dilihat dari penampilan saja??
    g dilihat dari sifat kah???

    menurut qu,,label hanya 1..yaitu perempuan..
    yah..hanya perempuan..^_^

  • lala_denda said:

    I don’t really care about lebel, as long as that person is not boring to chatt with, but I prefer friendly and smart femme to accompany me ;-)
    I will asking the same password to person that I don’t know and meet online.

  • sapti said:

    my label is IRT…………. you know housewife. but my hb do love me

  • lafe said:

    I’m No Label….means I JUST don’t label myself!!!! huft,,,wotsoeva!!! But two thumbs up for the article,,,Laksmi…as alwys…….

  • believer seeker said:

    Article anda sekilas baca, dingin dan tidak berperasaan… g ngomong begini krn g mrasa mba ni jg kl ngomong maunya 2 d poin lsg kan?
    Bisa dipahamin c kl mba ingin menyadarkan org tuk mengenali dirinya sendiri sblm mencoba mengenali yg laen… n jg save ur time in selecting d new comers k dunia anda… tp lesbian adlh dunia yg tough…. sedikit kelembutan ta da salahnya bukan… Peace :D

  • fleurosa said:

    Label?again?hahaha..masing2 berpendapat dengan caranya..tapi jangan melupakan anggapan seseorg mengenai dia menilai dirinya adalah ‘no label’ right?.

    aku..mencintai wanita,perempuan yah hanya itu yang hingga kini aku tau, walau pernah memiliki mantan yang melabelkan dirinya ‘butch’ atau ‘andro-butch’ aku tak merasakan perbedaan mereka dengan aku. Sedangkan aku?bagiku aku adalah wanita,tanpa definisi label (sesungguhnya itu yang aku senang, walau terpaksa beradu mulut saat seorg OP atau anggota mirc ‘komunitas Stro’ menanyakan labelku).

    aku tak ingin bercinta dengan syarat, yang ku tau adalah, aku mencintai seorang wanita, perempuan yang memiliki kelembutan hati bukan terbatas pada label.

    NB: maaf Sis, hanya sekedar berasumsi atas makna cinta yang aku rasa :D

Leave your response!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.