Oleh: Alex
Sejak awal, saya tahu ini film kelas B yang biasanya bakal diputar lewat tengah malam di televisi. Tapi buat kita para lesbian, jangan berkecil hati dulu…. Bayangkan jika Rambo adalah lesbian, nah jadinya adalah In Her Line of Fire ini. Mariel Hemingway berperan sebagai Lynn Delaney, agen Secret Service yang juga mantan marinir, dengan tugas mengawal wakil presiden Amerika. Tangguh deh pokoknya, apalagi badannya Mariel memang tinggi besar. Jadi cucok gitu melihat dia jadi bodyguard.
Cerita dimulai ketika Air Force Two, pesawat yang mengangkut Wapres Amerika Serikat (David Keith) jatuh di pulau terpencil di Pasifik Selatan. Tiga orang selamat, selain Pak Wapres dan Lynn, ada wartawan Sharon Serrano (Jill Bennett). Tapi sayangnya Pak Wapres ditangkap dan disandera kelompok pemberontak untuk dimintai tebusan. Jadi duo cewek jagoan (yang kebetulan sama-sama lesbian) ini harus bahu membahu ala Stallone dan Steven Segal untuk menyelamatkan Pak Wapres dalam film berdurasi 88 menit ini.
Cerita film tahun 1995 ini sebenarnya banyak yang nggak masuk akal, tapi adegan-adegan aksinya lumayanlah walaupun spesial effectnya pas-pasan banget. Sama kalau nonton Rambo kita nggak pernah bertanya bagaimana satu orang bisa mengalahkan dua kampung, dalam film ini juga jangan nanya pertanyaan semacam itu. Jangan tanya kenapa pemberontak bisa dengan mudah menjatuhkan pesawat kepresidenan atau bagaimana bisa Sharon mengenakan kaus merah yang menurut saya seperti bendera yang berteriak, “Shoot me! Shoot me! I’m here!” Secara mereka dikejar gerilyawan di hutan gitu, kan warna merah artinya berani… berani mati, maksudnya.

Pada akhir film, Lynn sebagai Rambo-nya tentu mendapatkan “sang wanita”nya dong. Walaupun sepanjang film dia banyak bertengkar dengan Sharon yang sexy dan menggoda (dengan kaus merah itu), tapi penonton tahulah bahwa mereka saling tertarik. Terjebak di hutan, dikejar gerilyawan pemberontak, harus menyelamatkan wapres, wow adrenalin tubuh keduanya menjerit, “I want to kiss you. Now!” Ah, tapi seperti saya bilang, menonton film ini seperti nonton Rambo atau Comando dalam versi lesbian.
Melihat Mariel Hemingway membawa senapan sudah cukup membuat saya kepingin minta diselamatkan. Dan dia yang aktingnya paling oke di antara akting-akting standar kelas B aktor-aktor lainnya. Sebelum main film ini, Mariel Hemingway pernah bermain dalam film lesbian lain, berjudul Personal Best. Sementara Jill Bennett yang berperan sebagai wartawan berisik dan banyak protes adalah lesbian yang sudah coming out dalam kehidupan nyata. Sehabis film ini Jill Bennett juga bermain dalam serial gay/lesbian yang penuh adegan erotis, Dante’s Cove.
Sebenarnya In Her Line of Fire nggak seburuk itu kok, bahkan saya rekomendasikan untuk ditonton. Kalau bisa tahan nonton bioskop TransTV yang sering mengeluarkan paket film-film aksi lelaki, film ini jelas harus ditonton. Serius, saya udah nonton In Her Line of Fire ini tiga kali, pernah diputar di TV lokal Indonesia kok. Lumayan buat hiburan apalagi saat malam-malam nggak ada kerjaan dan kebetulan nggak bisa tidur pas film ini diputar.
@Alex, SepociKopi, 2009
Sam_moel
June 15th, 2009 at 1:36 pm
Mmm…I Luv the pict… So……..mmm