Tajuk: Prahara Manohara, Prita, dan Kita
Oleh: Nuha Guwa
Sisi kemanusiaan kita sedang diketuk. Sebulan terakhir, media massa tak habis-habisnya mengupas tuntas persoalan Manohara Odelia Pinot. Ia mengklaim disandera putera kerajaan Kelantan Malaysia yang menjadi suaminya. Manohara mengaku dipelihara sebagai pelampiasan aktivitas seks sadomasokis. Bukti-bukti penganiayaan dan segala macam penyiksaan baik fisik maupun non fisik tengah dikumpulkan untuk menuntut balik dugaan perlakukan tidak manusiawi tersebut. Keberhasilan sang ibu membawa pulang Manohara atas bantuan berbagai pihak dielu-elukan semua stasiun televisi. Pemberitaan ini mengalahkan isu hot politik apa pun. Bahkan di usai sangat belia, semua segala tindak tanduk Manohara menjadi sorotan mendalam. Masyarakat haus akan pemberitaan lengkap terkait kasusnya.
Belum selesai kasus Manohara kita juga di kejutkan dengan kasus Prita Mulyasari yang dipenjara hanya karena sebuah email curhat. Email Prita dikirim kepada teman-temannya yang mengeluhkan pelayanan sebuah rumah sakit swasta di Jakarta menyebar ke publik lewat milis menjadi bumerang. Prita merasa dibohongi dengan diagnosa deman berdarah saat dirawat di rumah sakit tersebut pada pertengahan Agustus 2008. Belakangan dokter mengatakan dia hanya terkena virus udara. Tak hanya itu, dokter memberikan berbagai macam suntikan dengan dosis tinggi sehingga Prita mengalami sesak nafas. Yang membuat semua tak habis pikir, delik hukum yang dikenakan pada Prita sang penulis email pribadi tersebut menjadi berlapis, dari pencemaran nama baik hingga melanggar UU Informasi dan Teknologi dengan ancaman hukuman enam tahun penjara.
Ada apa ini? Tiba-tiba isu penyelewengan nilai-nilai kemanusiaan menghiasi layar visual kita. Seperti mengentakkan saraf-saraf kita tentang arti belai kasih dan penghargaan kemanusiaan. Terkait kasus Prita peradaban materialistis yang didominasi kekuasaan terbukti mampu menindas hak-hak individu yang sewajarnya. Prita tidak melakukan kejahatan apa pun. Pelayanan buruk oleh pihak rumah sakit tidak ia tuntut balik. Namun tampaknya nilai-nilai kemanusiaan yang dilakukan Prita dalam bentuk keluhan tereleminasi oleh kekuatan uang. Demikian juga dugaan yang dilakukan oleh Putera kerajaan Kelantan Malaysia. Materi berlimpah menenggalamkan derajat hidup seorang istri.
Makna apa yang bisa kita petik dalam kasus ini? Kita juga sudah banyak membaca di Have You Say SepociKopi. Kasus serupa banyak dialami teman-teman kita, KDRT – Kekerasan Dalam Rumah Tangga. Masalah kekuatan uang. Kekuasaan orangtua yang berusaha memisahkan anak mereka dengan pasangan lesbiannya . Yang menyedihkan, banyak kasus-kasus kejahatan yang dilakukan antar-lesbian dan di lingkungan keluarga lesbian tak sampai ke jalur hukum. Banyak dari kita memilih diam. Habis dipisah paksa keluarga, partner disiksa kerabat abang atau kakak. Lesbian-lesbian ini tak berdaya merelakan apa saja yang dialami mereka. Yang disiksa patner kebanyakan pasrah dengan apa yang terjadi. Yang uangnya dilarikan memilih tidak melaporkan ke polisi.
Pahitnya para lesbian yang menjadi korban tak tahu harus mengadu ke mana. Ketertutupan diri menyebabkan mereka menyimpan semuanya sendiri. Prahara kemanusiaan di kalangan lesbian bukan hal baru. Euforia pembebasan Manohara memang berita yang menggembirakan kita semua. Pembebasan menjadi tahanan rumah kepada Prita juga melegakan hak-hak kemanusiaan. Terlepas kasus ini, perjuangan yang lain akan terus berlanjut. Sanggupkah kita para lesbian mendapatkan keadilan atas aneka prahara kemanusiaan lain yang terjadi di sekitar kita? Di mana kita mencari keadilan jika ada keluarga memasung anaknya yang ketahuan lesbian? Siapa yang bisa membebaskan seorang lesbian dari belenggu kekejian partner lesbiannya yang cemburu buta? Bagaimana dengan simpanan masa depan yang amblas dilarikan oleh lesbian yang dulu mengaku sebagai sahabat terbaik?
@Nuha Guwa, SepociKopi, 2009









Aku jadi berpikir begini.
Bila suatu saat situs SepociKopi makin terkenal, dan makin di gembor-gemborkan popularitasnya oleh media cetak dan televisi, mungkinkah malah menjadi boomerang bagi kita semua yang ada di sini? Bagaimana bila ada pihak-pihak (agama, mungkin) yang malah menuduh situs ini sebagai pusat penyebaran (kata-kata yang gak pantas sama sekali!) lesbian di Indonesia, lalu dipaksa tutup seperti majalah Playboy yang berkasus itu? Kita (penulis, kolomnis dan para penghuni lainnya), apakah sudah mempunyai benteng preventif, mana tahu hal itu terjadi (semoga tidak terjadi!)?
Salam,
andai masyarakat umum tidak memandang “aneh” lesbian, betapa enaknya kita pasang teman=-teman kita yang “jahat” tu biar kapok.
Tapi ……. ketertutupan kita sebagai lesbian dimanfaatkan oleh teman-teman kita yang “jahat” berbuat seenaknya.
Teman-teman bagaimana kalau kita gunakan “feeling” kita sebelum berteman.
ato…. berteman ja dengan semuanya but…. no money, no datting, and no ML he he he he ….
Oh geez, not Mano again!!!
Harapan akn keadilan&ksetaraan dgn kaum hetero sprtinya msh mrupakan ftmrgana smata. Masalah religi dn hmpitan norma msyrkt mnjdikan hal ini smakin absurd. Alih alih mndptkn bntuan hukum, seorng L yg mngadu k pihak brwjib jstru akn mnanggung beban ganda tdk hnya krn derita yg sdng dialaminya ttpi jg akibat d prmalukan oleh plindung msyrkat atau pun oleh lingkungn sktrnya trutama kluarga. Mnyedihkan.
Tp sungguh pun demikian, sy ttp prcaya bhwa suatu hr nnti smua akan mnjdi lbh baik. Mski smpai saat ini sy hnya bs brdoa…
bener rie. gw jg kmrn2 itu jg sempet mikir kyk gt.
Ga kebayang deh.
smoga jgn sampai terjadi.
kalau sampai terjadi apa yang dicemaskan kak arie, maka negara (atau masyarakat?), sekali lagi menelan ludah sendiri atas ide demokrasi yang diusung di Indonesa Raya ini dan toleransi yang dibeberkan dalam pelajaran PPKN. hehehehhe.
dilema memang….tapi saat ini yang bisa kita perbuat adalah berkarya dengan segala kemampuan dari apa yang kita punya, menjalani proses bermodal berjuta kesabaran, karena Tuhan cuma mengharuskan kita berproses..soal hasilnya who knows…selagi prahara belum menerpa, sedia payung sebelum hujan…tapi jika badai telah mengguncang…berpegang pada tangan Tuhan adalh yang terbaik
Di lagu khan dah ada “… itulah Indonesia”.
Ya pasti akan banyak kerikil maupun badai. Siapa takut? Setiap masalah pasti akan ada sisi positif dan nyakin pasti ada jalan keluar. Belum apa-apa nyali sudah ciut gimana kalau benaran? Berharap tidak terjadi dengan Sepoci.
Yuk sembunyi aja di blog kami
hmm… sama dengan pikiran arie gere, yaa mudah2n para penulis dan pembaca sepocikopi bisa sama2 memperjuangkan sepocikopi ini
@ Arie Gere : setubuh tuh saya juga pernah berfikir begitu, gmn klo situs ini sampai dTutup.apa memulai lagi zaman primitif hanya bergerak dalam wadah yg telah ada saja.gmn klo mrk2yg tdk bisa menghadiri suatu acara yg dbuat.
siappp penontonnnn \:D/
klo ada yg macem-macem sm ini wadah OL jitak aj cupingnya
@ Arie Gere: tutup satu, tumbuh seribu!!! Yeah!!!
Setidaknya SepociKopi telah membiarkan benih-benih penulis di antara kita tersemai dengan baik di tempat ini. Jika tempat ini harus ditutup, biarlah kita seperti benih dandelion, diterbangkan angin, dan tumbuh lebih banyak di berbagai tempat. We’re here, and we’re alive. Banning our home means challenging us to build new ones.
Leave your response!
Esensi Espresso
Lesbian, bulan Februari yang beraroma romantis mulai tampak. Apakah cinta? Pada hubungan percintaan lesbian yang tak bisa terikat dalam landasan pernikahan, banyak lesbian yang terjatuh pada kebingungan, ketakutan, dan ketidakpastian. Di mana pegangan untuk masa depan?
Lesbian, cinta bagi pasangan lesbian tentu membutuhkan perjuangan keras agar hubungan jangka panjang bisa terjadi. Banyak tantangannya dalam berkomitmen, misalnya kesetiaan, finansial, keluarga, perbedaan, dan lain-lain. Bisakah kita menjalaninya? Berapa lama pasangan lesbian bisa bertahan? Konon ada yang mengatakan bahwa usia pasangan lesbian tak bakal melewati satu tahun. Ah, tentu tidak benar!
Lesbian, untuk menjadi pasangan yang langgeng sampai nenek-nenek, kita bisa belajar dari teman-teman lesbian yang lain yang sudah bersama selama bertahun-tahun. Delapan tahun? Dua belas tahun? Lima belas tahun? Dua puluh tahun? Bisakah kita mencuri kebijaksaan mereka dan mengaplikasikannya ke dalam kehidupan percintaan agar kita pun bisa berbahagia dengan pasangan sampai nenek-nenek? Pastinya dong! Selamat merayakan cinta dalam arti yang sepenuh-penuhnya. Peluk cium untuk segenap pembaca SepociKopi tersayang.
Kategori
Visitor Number:
Arsip SepociKopi
Sedang Online
Senggolan Sepocikopi
Stop Press!
Kami mempersembahan kaos SepociKopi yang bakal keren dipakai dalam berbagai acara.
Silakan pilih dan unduh sendiri desainnya, lalu kamu sablon sendiri di kaos warna favoritmu.
Satu desain pasti tidak cukup, dua juga pasti nggak... semuanya saja! Tenang kok, kaosnya sangat lesbian-friendly dan hetero-friendly, jadi nggak bakal ketahuan! Kalau ketemu sesama teman yang juga mengenakan kaos ini, cukup saling melirik penuh arti. Kodenya udah udah dipatenkan di kepala masing-masing bo!
Salam SepociKopi!
Tags
Pembelian Online:
www.gramediashop.com
www.gramediaonline.com
Friendly Reminder
Situs ini adalah situs lesbian nonprofit. Untuk 18 tahun ke atas. Harap keluar dari situs ini jika Anda masih di bawah umur.
Most Commented
www.facebook.com/sepocikopi
www.twitter.com/sepocikopi
Twitter Buttons
Most Viewed
Recent Comments