sick_by_meppolOleh: Abie
*Cerpen ini belum pernah dipublikasikan oleh media mana pun

“Bapak dan Ibu dokter yang terhormat, bantulah saya! Sepertinya saya butuh di-opname di rumah sakit ini untuk beberapa hari. Atau kalau mungkin, saya butuh di-opname sampai akhir hayat saya. Saya sudah tidak tertolong lagi. Bantulah saya, karena saya tak ingin mati, apalagi mati sia-sia. Bantulah saya Pak, Bu. Saya mohon!”

Lantas dokter memeriksa di bagian dada saya dengan steteskop. Memastikan detak jantung saya, deru dan desah nafas saya. Juga beliau tidak lupa memeriksa kerongkongan saya, mulai dari lidah, tenggorokan, dan lama memperhatikan anak lidah saya yang memerah dan bergerak perlahan. Beliau menggunakan masker penutup mulut dan hidung. Mungkin takut ketularan virus berbahaya, atau malah beliau memang tidak tahan dengan nafas saya yang berbau pahit karena asap rokok.

“Saya memang butuh di-opname Pak dokter. Bakteri, virus, kuman dan hama penyakit telah berkeliaran di kediaman saya. Saya mohon!”

Setelah memasuki menit ke-37 di ruangan itu, salah satu perawat yang sejak tadi membantu sang dokter memandang saya sembari menunjuk sebuah pintu keluar. Pengusiran yang ramah.

“Bapak dan Ibu dokter, tidakkah anda kasihan terhadap saya? Saya telah meronta-ronta di hadapan Anda, dan tidakkah Anda tergugah dengan linangan airmata saya yang sejak tadi tak berhenti turun?”

Sekali lagi, sang perawat menunjuk ke arah pintu keluar, dan pada kedua daun pintunya telah berdiri seorang penjaga keamanan dengan seragam dan peralatan yang lengkap. Saya melangkah perlahan, memasuki koridor yang lemah, hiruk pikuk dahak, riuh tangis, dan juga merupakan jalannya mayat, setelah nyawa mereka melayang entah ke surga atau ke neraka, atau mungkin tidak keduanya.

Dengan berat dan penuh kegelisahan, saya meninggalkan ruang periksa dokter umum tersebut. Saya sangat yakin bahwa saya butuh di-opname, diberi obat-obatan, diatur pola makan, dan lain sebagainya, selayaknya pasien yang lain. Ibu saya juga mengatakan demikian, menyuruh saya datang ke rumah sakit, juga ayah saya, tante, om, kakek dan nenek, serta saudara-saudara saya yang lain. Setiap hari mereka bilang kepada saya bahwa mereka bersedia membayar berapa pun harga obat-obatan yang kapan perlu dipesan dari luar negeri. Yang penting saya sembuh.

***

Saya mendatangi klinik pribadi seorang Dokter Spesialis Penyakit dalam.

“Bu dokter, bantulah saya. Walau hanya dengan menandatangani surat rujukan ke rumah sakit pusat, agar saya bisa di-opname, atau bahkan dioperasi sekali pun. Saya sudah tidak tahan. Orang tua, semua saudara-saudara serta sahabat-sahabat saya teramat menginginkan saya sembuh. Kasihanilah saya. Saya benar-benar butuh perawatan dan obat-obatan.”

“Sejak kapan Anda merasakannya?”

Serasa mendapat angin segar, ketika Bu dokter memulai kalimatnya. Saya berharap ini adalah dialog yang saya nanti-nantikan. Beberapa ruang praktek telah saya kunjungi, namun hanya Bu dokter ini yang berani menanyakan apa perasaan saya. Tidak seperti yang lain. Setelah saya jelaskan, para dokter, perawat, bidan, dan para medis lainnya menyuruh saya pergi tanpa memberikan komentar. Apakah mereka bingung, atau tidak tahu, atau takut, atau tidak mengerti sama sekali, juga tidak jelas bagi saya.

“Sudah cukup lama, Bu dokter, kira-kira sejak saya berusia sebelas tahun. Jika sekarang saya berumur 23 tahun, berarti saya sudah merasakannya selama lebih kurang dua belas tahun. Semakin lama saya juga semakin yakin kalau saya butuh di-opname. Apalagi setelah ibu saya mencoba memberikan obat-obatan alternatif, malah semakin menjadi-jadi.”

Bu dokter mengangguk dan semakin memberi saya harapan.

“Terus itu kamu… yang pertama kali?”

Tidak sia-sia kedatangan saya ke sini, ternyata Bu dokter ini memang pintar. Tahu kalau untuk pertama kalinya pacar saya memasukkan jari tengahnya ke lubang kemaluan saya. Ah, terasa geli jika mengingatnya.
Malam itu seperti biasa dia bertandang ke rumah sewaan saya. Mengantarkan seikat cinta yang segar. Lalu saya menaruhnya di sebuah vas warna-warni seperti pelangi. Hampir satu tahun hubungan kami, tidak pernah dia lupa mengantarkan seikat cinta setiap malam. Apalagi ketika malam tak berpenghuni, maka amanlah seikat cinta itu sampai di rumah saya.

Tapi malam itu, seikat cinta tak hanya menjadi hiasan di kamar saya. Kami menikmati aroma cinta itu. Wanginya menusuk hidung saya, hingga saya tak sadarkan diri telah menelanjangi cinta itu sendiri. Membuat pagi begitu nyata hadir di saat saya terbangun setelah bercinta.

***

“Cukup sakit, Dokter. Ini sudah yang kesekian kalinya. Karena itu saya bertambah yakin kalau saya butuh di-opname. Saya mohon, berilah saya surat pengantar agar saya bisa di-opname, dialirkan cairan infus ke tubuh saya, dioperasi, atau kapan perlu dokter sendiri yang melakukan operasi cangkok hati saya.”

Kali ini saya benar-benar meronta di hadapan Dokter Spesialis Syaraf. Saya bosan ditolak melulu setiap mengunjungi tempat praktek dokter. Saya merasa kalau usia saya, hanya dilewati dengan mengunjungi dokter. Saya sudah berjuang keras memastikan penyakit saya melalui berbagai tes medis. USG, roentgen, dan periksa segala cairan di tubuh saya sudah saya lakukan. Cairan darah, cairan kencing, sampai buang air besar saya.

Dokter yang saya kunjungi telah beragam banyaknya. Spesialis Penyakit Dalam, Kebidanan, Psikiater, Mata, THT, dan berbagai jenis spesialis-spesialis yang lainnya. Sampai-sampai di rumah saya telah tercipta sebuah pustaka pribadi yang berisikan daftar kartu berobat, resep dokter, hasil roentgen, hasil laboratorium, dan daftar yang lainnya. Tidak lupa sebuah kotak ukuran sedang telah penuh dengan berbagai jenis obat-obatan. Sama sekali semua itu belum juga menyembuhkan saya. Yang ada hanyalah sebuah penolakan dan ketidakpastian atau lebih tepatnya ketidakjelasan atau ketidaktahuan atau ketidakmautahuan atau ketidakpedulian. Ah, saya juga tidak mengerti. Mungkin saya memang butuh di-opname.

“Dokter, bagaimana hasil tes saya? Kapan saya bisa di-opname? Rasanya memang lebih baik saya di-opname Dokter. Saya benar-benar sudah tidak tahan lagi, apalagi semenjak Ibu saya mulai membawa saya berobat ke seorang dukun. Saya capek dan kasihan melihat ibu yang setiap malam harus bangun untuk memasangkan obat-obatan dukun dan membaca mantera panjang lebar. Tapi tetap juga tidak membantu. Menakutkan Dokter!”

Dokter masih memeriksa semua hasil uji laboratorium yang baru saja diterimanya dari salah seorang petugas yang sangat cantik. Mungkin bisa saya bilang kalau kali ini saya bertemu dengan juru rawat yang manis, ramah, dan pemurah senyum. Tapi saya tidak mau jatuh hati, takut melukai hati pacar saya yang juga tak kalah cantik dari sang perawat. Bagi saya dia adalah perempuan terindah dan terbaik yang pernah diciptakan Tuhan untuk saya. Walaupun kadang banyak orang bilang bahwa kami pasangan sakit, karena ayahnya bilang dia juga perlu disembuhkan. Untungnya, Ayah pacar saya itu dan saudara-saudaranya yang lain tidak memaksanya untuk mengunjungi dokter atau di-opname.

“Sejak beberapa hari yang lalu, Ibu saya mengajak saya untuk datang ke pengajian. Saya merasa tenang. Lantunan ayat-ayat Al-Qur’an yang kami baca bersama-sama membuat saya demikian tenang. Sejujurnya saya senang salat berjamaah, karena terasa lebih khusuk dibanding salat sendiri. Tapi lagi-lagi, beberapa guru ngaji masih menanyakan soal kesembuhan saya. Jadi, karena itu saya datang ke sini memastikan saya butuh di-opname atau tidak Dokter? Saya butuh pengobatan atau tidak?”

Sebenarnya saya mulai jengkel dengan keadaan yang begini. Sudah beberapa kali saya bilang ke Ibu dan saudara-saudara saya yang lain, bahwa tidak ada yang dapat membantu saya. Maksudnya tidak seorang pun yang dapat menjelaskan tentang virus, bakteri, kuman, atau hama apa yang bersarang di tubuh saya. Tapi mereka tetap memaksa saya untuk sembuh.

“Jadi Dokter, apakah saya sakit atau tidak?”

***

Saya harap kunjungan saya kali ini adalah untuk mendapatkan kepastian. Saya menuju ruang pendaftaran pasien baru di klinik Dokter Spesialis Jantung. Seperti biasa petugas harus mengisi lembaran registrasi pasien sambil menanyakan identitas saya.

“Nama?”

“Rahmawati.”

“Jenis kelamin?”

“Perempuan.”

“Umur?”

“25 tahun.”

Wroclaw, 2 Juni 2009, lewat tengah malam.

Tentang cerpen “Opname”:

Karya prosa ini belum pernah dipublikasikan oleh media mana pun. SepociKopi sangat gembira mempublikasikan cerpen ini sebagai cerpen LGBT yang melewati persyarakatan kelayakan redaksi sastra SepociKopi.

Tentang Abie:
Usia pertengahan 20 tahun, sedang menuntut ilmu di Lower Silesia University, Polandia, jurusan Antropologi dan Kajian Budaya. Penulis adalah pembaca setia majalah lesbian online SepociKopi.