ring_concept_by_chainOleh: Oscar Arumi

Perempuan adalah sumber keindahahan. Mata, kening, dagu, pipi, pantat, dada (ups!), lengan, kaki, jari-jari, semuanya benar-benar indah. Selain itu, yang melekat di tubuh seorang perempuan juga menjadi pemadangan menawan mata. Sepatu boots, rok sepinggul, tali pinggang, anting-anting, kalung, bahkan untuk yang satu ini, cincin yang dipakainya. Cincin? Ya, itu aksesoris menarik yang melekat di jemari perempuan.

Kalau saya berpapasan dengan seorang perempuan, hal pertama yang saya lakukan tersenyum dan kemudian melirik pada jari-jari tangannya. Untuk apa? Jelas, saya sedang mengincar cincin yang bertahta di jarinya. Hei, jangan salah sangka, jelas saya tidak berniat merampok cincinnya. Saya hanya ingin mengecek apakah perempuan ini memakai cincin atau tidak. Untuk apa? Jelas, untuk melihat status perempuan ini!

Pekan lalu, saya harus mewakili kampus untuk mengikuti undangan seminar perpajakan di sebuah hotel berbintang empat. Mulanya benar-benar membosankan, lama-lama semakin memuakkan, dan hampir saja saya ketiduran di acara itu. Tiba-tiba, lengan saya diguncang oleh seseorang yang duduk sebelah saya.

“Mbak, coffee break nih.  Ayo, coba menunya. Sayang kalau tidak dimakan.’’

“Eh, iya, mari…”

Malu-malu saya berdiri dan mengambil beberapa potong kue dan secangkir kopi supaya mata bisa melotot terus di sepanjang acara seminar. Perempuan muda yang menegur saya tersenyum lagi. Saya balas senyumannya dengan basa-basi. Ah sudahlah, mengobrol dengannya di sela-sela coffee break mungkin dapat meredakan mata mengantuk saya. Saya kembali ke tempat duduk bersama empat orang lainnya mengelilingi sebuah meja bundar berisi camilan  kue-kue dan bercangkir-cangkir kopi. Setelah basa-basi berkenalan (dan benar-benar basi), saya terpikat melihat cincin yang berkilau di jari perempuan yang menegur saya tadi.

“Wah, Mbak, cincinnnya bagus banget! Cincin tunangan ya?”

Aduh, lancang sekali mulut ini, tapi sudahlah, sudah terkatakan, mau diapain lagi? Padahal saya cuma menebak saja. Saya benar-benar tidak tahu apakah perempuan ini sudah menikah atau belum.

‘’Iya, kelihatan banget ya, Mbak?’’ Sambil tertawa, dia memandangi cincin di jarinya sambil memamerkan kilau cahayanya.

“Cincin belah rotan itu memang keliatan banget seperti cincin tunangan. Duh, ketauan deh kalau udah punya ikatan! Nggak bisa tepe-tepe lagi dong, Mbak”. Yang lain mulai usil menanggapi.

‘’Mending kayak saya aja. Anak saya sudah satu, tapi lihat nih, cincin saya macam-macam. Nggak cuma satu saja! Kemarin saya minta ganti cincin kawin sama suami. Soalnya sudah kolot banget, bosan sama modelnya. Untungnya suami saya baik, pengertian, sayang sama anak-anak. Saya jadi teringat pas mau nikah. Kami hampir berantem gara-gara memilih cincin. Banyak banget sih modelnya. Untung ada teman yang membantu saya memperlihatkan cincin ini. Langsung kesemsem deh!”

Hhh. Saya hanya bisa bersiul bodoh kalau sudah terjerat dengan pembicaraan membosankan seperti ini. Tipikal perempuan sih, kalau sudah disinggung dengan masalah pernak-pernik seputar kewanitaan pasti tak akan berhenti berbicara.

“Oiya, mba Ocha, kok gak ada cincin sih di jarinya?” Saya memutar kepala, berharap perempuan yang bernama Ocha’ akan memberikan jawaban yang agak sedikit cerdas kali ini. Tetapi, semua mata malah memandang saya, loh kok saya? Nama saya Oscar, kok Ocha sih? Enak aja ganti-ganti nama saya sesukanya.

“Hm, eh…. hm, saya masih melajang, Mbak,” kata saya pura-pura malu. Padahal dalam hati, masabodo mau ada cincin, mau melajang, mau belum kawin, mau tidak laku (hmmm, yang ini nggak deh!) pokoknya egepecapedemigi - emang gue pikirin cape deh mikir gituan !

“Oh, mbak Ocha single toh? Eh, mbak Ocha mau gak saya kenalin sama XYZ?”

Oho, tidak, tidak, tidak! Sudah dapat dipastikan mau ke mana arah pembicaraan ini. Stop, stop, stop! Saya mulai mengantuk lagi, berharap seminar ‘perjodohan’ eh maksudnya, seminar ‘perpajakan’ ini cepat selesai. Kenapa status perempuan lajang seperti saya selalu saja jadi sasaran empuk buat objek jodoh-jodohan? Lain kali saya pakai sepuluh cincin saja sekalian biar terhindar dari mulut-mulut usil seperti ini.

@Oscar Arumi, SepociKopi, 2009