Home » Humaniora, Tentang Cinta

Lima Tahun Terbaik

4 June 2009 122 views 27 Comments

choco_joos_love_by_kickass_peanutOleh: Sebening Embun

Rasanya seperti baru kemarin aku mengenalnya. Rasanya masih seperti pasangan baru dengan segala kenorakan dan hal-hal lebay-nya.

Aku masih menciumnya puluhan kali sehari, seperti saat-saat aku baru jadian. Aku masih memeluknya puluhan kali sehari, seperti saat aku baru kecanduan pada dirinya. Aku masih menyusupkan wajahku ke lekuk-lekuk tubuhnya, seperti saat aku baru membenamkan kepalaku di sana. Aku masih menghujaninya dengan ungkapan sayang, seperti saat aku baru lagi kasmaran. Aku masih ngotot tebar pesona padanya, seperti saat aku baru meyakinkan diri bahwa dia memang terpesona padaku. Aku tidak bosan-bosannya bertanya apakah dia mencintaiku dan apakah dia tau aku sangat mencintainya. Aku masih mati-matian mencari perhatiannya, seperti bulan-bulan pertama jadian dan nyaris tidak percaya kalau perhatiaannya selalu tertuju padaku.

Aku sering bertanya-tanya, ke mana 1,800 hari yang telah kulewati bersamanya? Di mana jejak-jejak puluhan bulan itu? Mengapa rasanya seperti baru kemarin?

Aku pernah dengar tentang intimidasi waktu yang memudarkan segala. Warna-warna merah cinta setajam mawar terancam layu, kelopaknya akan gugur satu-satu. Warna-warna kuning kasih sayang seterang matahari akan memudar, sinarnya lenyap tak berbekas ditelan malam.

Aku sungguh takut teror ini, demikian juga kekasih. Hingga kami jarang membicarakan hal-hal yang menyangkut waktu. Kekasih malah sering mengelak bila aku mengajaknya berbincang tentang waktu, misalnya tentang berapa lama kita sudah bersama. Mungkin itu juga alasannya kami tidak (belum) pernah merayakan anniversary.

Tapi rasanya waktu demikian bergegas. Rasanya lingkaran sangkala demikian berputar cepat. Tiba-tiba saja, dengan canggung aku harus terbiasa menyebut angka lima. Lima tahun, menjelang enam tahun, ketika ada yang bertanya sudah berapa lama hubunganku dengan kekasih.

Suatu hari, seorang teman yang kukenal sekitar tiga atau empat tahun lalu (kemudian hilang kontak begitu saja) tiba-tiba muncul dan menyapa.

Apa kabar?

Baik. Alhamdulillah.

Kamu masih sama partner kamu yang dulu?

Masih, sama siapa lagi? Memangnya kenapa?

Oh, awet juga ya? Aku pikir sudah putus.

Mungkin karena pake formalin kali, jawabku berseloroh.

Tapi dia memiliki kecurigaan yang serius. Aku menyiapkan mental untuk menerima pertanyaan yang bisa membuat jantung melompat.

Berarti sudah berapa lama?

Baru lima tahun.

Lima tahun terus-terusan atau putus sambung?

Terus-terusan. Kami kan bukan BBB.

Tapi selingkuh pernah dong?

Nggak.

Nggak ketahuan aja kali?

Aku menelan ludah. Haruskah hubungan lesbian tidak pernah luput dari rekor perselingkuhan baik yang ketahuan ataupun tidak? Secara nyata atau sekedar selingkuh di dunia maya?

Alhamdulillah. Puji Tuhan. Aku dan juga kekasih tidak pernah bermasalah dalam urusan kesetiaan pada pasangan. Kami saling memuja. Kami saling mencinta. Kami saling tergila-gila satu sama lain. Dari awal hingga hari ini. Bahkan dengan segala peluang dan kesempatan yang terbuka lebar, tidak ada selera untuk mencicip perselingkuhan.

Tiba-tiba aku berpikir, mencoba membaca apa yang dipikirkannya terhadap hubunganku dengan kekasih. Karena banyak lesbian di luar sana yang masih penasaran tentang bagaimana penghujung hubungan sepasang lesbian.

Yang satu dua bulan putus, sudah biasa. Yang satu-dua tahun putus, cukup banyak. Aku mulai memahami ketika semakin banyak yang bertanya ketika usia hubungan dengan kekasih semakin tua. Mungkin mereka sedang menunggu penghabisan yang akan mereka dengar. Bila akhirnyanya seperti dugaan mereka (misalnya hubungan kami bubar jalan, apalagi dibumbui dengan peperangan dahsyat), maka bertambahlah satu topic hangat; topik asyik buat bisik-bisik di bilik obrolan. Mungkin ada yang menyayangkan atau menyedihkan. Yang pesimis terhadap sebuah hubungan akan semakin pesimis.

”Tuh lihat kan, si anu yang selalu mengumbar kemesraan dengan partnernya putus juga.”

”Ngapain pacaran lama-lama, ujungnya toh bubar juga?”

”Ah, mana ada sih hubungan lesbian yang langgeng? Mimpi kali ye!”

Aku dan kekasih telah hidup di negeri impian yang kami bangun sendiri. Jauh sebelum bersama kekasih, aku juga memiliki pandangan pesimis yang sama. Lalu bermimpi tentang mencintai perempuan dengan ketulusan. Bermimpi tentang mencintai perembuan dengan rasa yang lebih ringan dengan warna yang lebih terang, berwarna kebahagiaan.

Bila grafik hubungan turun naik, dalam rentang lima tahun diagram hubunganku dan kekasih nyaris datar-datar saja. Tidak ada ada yang membuat tabulasinya melompat naik atau menukik tajam. Pertengkaran, kesalapahaman, dan kejenuhan adalah hal yang pasti ada dalam sebuah hubungan, termasuk dalam hubunganku dengan kekasih. Yang membedakan mungkin dalam masalah cara bertengkar, cara beremosi, dan berdamai. Kami bertengkar, tapi tidak untuk menyakiti. Kami bertengkar lalu mempelajarinya dan tidak ingin terjatuh di hal yang sama. Beremosi tapi tidak sampai membenci. Jenuh tapi tidak menjadikan selingkuh sebagai solusinya.

Ada yang mengatakan karena faktor usia. Usia kami memang tidak muda lagi. Bertengkar bukan semacam hiburan, melainkan aktifitas yang menguras energi dan emosi, sekecil atau sesepele pertengkaran itu. Tenaga kami untuk bertengkar jauh berkurang. Lebih baik menyibukkan diri untuk membahagiakan orang yang kami kasihi.

Aku selalu sibuk; sibuk dan sibuk (sebut 10 kali lagi) mencurahkan perhatianku untuk keluarga, kekasih, dan pekerjaan. Aku tidak mempunyai kesempatan untuk memberi perhatian berlebihan untuk orang-orang yang haus perhatian dan mencari kesempatan untuk mencicipi bagaimana rasanya pacaran dengan seorang Ning. Kekasihku juga sibuk; sibuk dan sibuk (sebut 20 kali lagi) mencurahkan perhatian untuk keluarganya, diriku dan pekerjaannya. Hingga tidak ada waktu yang tersisa untuk tebar pesona di mana-mana.

Maka begitulah bagaimana kehidupan kami nyaris sedatar lapangan sepak bola.

Tapi, sungguh oh Tuhan, alangkah bahagianya.

Dengan serendah-rendahnya aku menunduk di hadapan Tuhan, bersyukur atas karuaniaNya. Tidak ada yang hebat di antara kami berdua. Aku dan kekasih sama-sama manusia biasa dengan segala kelemahan dan keburukannya. Tuhan adalah yang hebat; yang menjaga segalanya, membuat segalanya lebih ringan untuk kami jalani.

Inilah lima tahun terbaik dalam hidupku.

@Sebening Embun, SepociKopi, 2009

27 Comments »

  • Lucky said:

    Just enjoy it while you could………

  • Maly said:

    ‘JANGAN’ (sebut beribu kali)
    jangan ada perpisahan dengan
    ujudnya perselingkuhan

    Doa buat kamu dan semua L

    :)

  • Sagita said:

    Plak! Plak! berasa tertampar-tampar mukaku, dek… :lol:

  • candra- said:

    Mba Ning lebaynya sama banget ama kekasihku.wihihihihihi :D

  • Jo said:

    I love you, A & ning :)

  • Jojo Lune said:

    SETUJUUUUUUUUUUUUUUUUU ma mbak-ku satu ini…^_^

  • tiara said:

    hMm… 5 taHun yg iNdaHh..
    smoGa aJah aqu Bisa saMpe berTaHun2 gTU iahHh,,

  • Arie Gere said:

    tiup lilinnya, potong kuenya, cium pipinya… :)
    sekaraaaaang juuuugaaaaa…
    sekaraaaaaang juuugaaaaa…

    Happy annyversary ya ning….

  • Hyuga said:

    Semoga 5 tahun itu bisa berlipat-lipat, salut…..
    buat kalian be2 :-)

  • Carry said:

    ning…
    Aku selalu mengagumi kelembutan dan kesetiaan kamu..
    Setuju untuk semua pendapat yang kamu tulis di sini, Ning..
    Doaku untuk kalian berdua..

  • LeiL said:

    Mbak top bgt dah.
    Smoga bs langgeng terus ya….

  • -zoe- said:

    always luv ur writing ^^

  • tiek said:

    cemburu tu sakiiiiit banget di hati
    makanya teman-teman L
    ayo kita junjung tinggi kesetiaan

  • LDC said:

    Aku dan dia baru akan menginjak 4 tahun, dengan pola hubungan yang ada pertengkaran, kesakitan, dan sangkaan kawan-kawan bahwa hubungan kami sangat sulit rintangannya. tapi kami masih bertahan, meski juga ada jenuh(alhamdulillah kami juga tak pernah selingkuh)….Sekilas membaca coretan ini, aku terhenyak terbelalak akan kemungkinan yang tetap saja mungkin ujung jalan kami yang indah, cerita ini menginspirasiku meminimalis dan menyelesaikan pertengkaran sebaik mungkin. Trims, Sobat :)

    Semoga selalu langgeng

  • Grey said:

    Ning, Happy Anniversary yah.
    Moga-moga tetep langgeng selamanya.

  • Tiara said:

    Aqu putus..
    T.T
    Bru brharap akn sama dng mba ning.. Tpi.. Huft..
    Sakit bngt rasa na..

  • qiyutz said:

    5 taon??dahsyat bgd dewh..pgn tu slanggeng itu..tp bgmn bsa langgeng klo partner z gag d..:-S..salut dech wat Xn..

  • kayla said:

    5 tahun waktu yg cukup lama buat mengenal diri masing2 , aku 14 tahun … sempat putus sih . Tapi skrg dah jadian lagi. Doa dr jauh buat Ning… Moga 2 langgeng selamanya ….

  • Arinie said:

    baca tulisan ini bikin aku terharu…happy 5th years annivarsary ya ning…selamat telah mampu melewati yg pahit danmanis bersama, sungguh menginspirasi buat setiap orang terutama pasangan2 yg baru menjalin kebersamaan. Doa terlantun buat Ning dan partnernya…moga segala aral kedepan kan mampu teratasi dan terlewati hingga sampai ke 5 th berikutnya….

  • key_dea said:

    mudah2an key bisa ngerasain keberuntungan yang mba rasain…aminnn
    bagi2 rahasianya dunk mba,biar bisa lebih bijak ngadepin partner…

  • Jemi alfians said:

    Andai aja aku bisa baca tulisan mbak sejak dulu mungkin aku ga akan pernah mengalami sakit yang sedalam ini,dua tahun aku putus dengannya,sejak saat itu juga aku hidup tapi tak bernyawa,aku masih mencintainya sangat,dia ga cantik ga special tapi juga ga tergantikan.Andai dia tahu hancurnya aku saat ini dan menyesalnya aku krn telah pergi darinya dulu.Apa keajaiban itu memang masih ada dan apa aku masih bisa bersama nya.

  • echy said:

    hmmm…asik tuh…aq jg prnh pcran lama ma gf aq 8 thn tp akhirx semua berakhir dgn damai…dia jd sahabat terbaikku skrg….

  • Lune said:

    mbak bening…awet teruss !!! Merdeka !! ada salam dari sayangku …. wkwkwkwkkwkw……

  • smilelow said:

    hmmm,, nice share… aku juga ingin sibuk.. sibuk untuk memperbaiki diriku..

  • Be said:

    I myself had the best 4-5 years, masih sering cium, tapi udah putus. Hate it like hell. She doesnt want the live that un-normal.

  • chandra said:

    hubungan saya dan dia 2 tahun.
    indah, sangat indah, hingga kini saya masih terperangkap akan memory saya dan dia.
    setia dalam dunia ini?
    apakah kesetiaan itu di jaga atau dicari?

  • It is not always BLUE said:

    Sungguh, saya baru tahu kalau ada orang yang bisa ‘berbagi’ kekasih dengan orang lain, maksud saya, saya ingin belajar bagaimana memiliki rasa ikhlas ‘melepas’ kekasih jika ia harus kembali mengurus keluarganya walau cuma untuk sementara.
    I really need help on how to handle this all..

Leave your response!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.