Home » Tajuk

Tajuk: Buku, Film, Musik Bajakan dan Kita

2 June 2009 72 views 3 Comments

film-crew_urb032Oleh: Nuha Guwa

Di Indonesia, buku memang masih menjadi barang mahal dan mewah. Jangan heran jika anggaran membeli buku pada umumnya berada di daftar paling bawah kecuali buku yang wajib dibeli untuk bahan penunjang belajar di sekolah atau kampus serta buku-buku yang menyokong profesi. Buku – baik fiksi atau non fiksi, bisa ditemukan resensinya di internet. Film hasil resensi on line juga menjadi acuan bagus sebelum membeli. Bagi saya resensi merupakan saran terbaik sebelum mendatangi toko. Untuk buku, saya akan mulai dari toko buku yang terkenal dan besar. Baru kemudian menyisiri toko buku bekas. Yang menakjubkan ternyata di tempat penjualan buku bekas ini semua buku-buku bestseller dan populer yang paling dicari dijual super lengkap. Mau yang edisi baru hard cover, soft cover, hingga yang sudah buluk – bekas dikucel-kucel pembaca sebelumnya, semua ada.

Yang membuat kagum, ternyata buku-buku tersebut asli tapi palsu.Terlihat sangat mirip dengan yang asli, bahkan lebih bagus. Jika dulu sistemnya adalah dengan menggunakan mesin foto kopi (hasilnya selalu ada bercak garis hitam di bagian tengah-tengah halaman), sekarang sistem membajak jauh lebih canggih. Scanner membuat semuanya begitu mudah. Semua lembaran-lembaran itu tinggal disimpan dalam bentuk ebook. Yang paling membuat syok, suatu kali di tempat penjualan buku bekas, saya ditawari buku Harry Potter dan Andrea Hirata dalam bentuk CD Rom. Harganya hanya lima puluh ribu rupiah. Saya tidak dapat membayangkan jika saya adalah Andrea Hirata atau JK. Rowling. Hati saya pasti remuk redam. Hasil jerih payah menulis berbulan-bulan hanya dihargai dengan sangat murah oleh para perampok karya intelektual.

Lalu bagaimana pula dengan film? Musik? Dua benda ini menjadi andalan utama para pembajak. Masyarakat gandrung menonton, tergila-gila dengan musik. Film baru yang menduduki tangga penonton tertinggi dan musik yang menempati tangga lagu terpuncak, merupakan incaran para pembajak. Belum sampai hitungan hari, film dan musik sudah bisa ditemukan di toko CD, DVD, VCD bajakan. Proses pembuatan film berarti padat karya, melibatkan begitu banyak orang dan uang. Segala jerih payah penulis skenario, produser, sutradara, hingga aktor dan aktris film merupakan perjuangan yang tidak murah. Sinerji waktu dan tenaga mereka merupakan biaya yang begitu besar. Di mana penghargaan kita terhadap semua itu jika masih membeli hasil rampokan para pembajak?

Bukankah kita tahu bahwa mencuri merupakan sebuah tindakan yang salah secara moral dan agama? Mengambil barang dalam bentuk fisik, bahkan menadah hasil curian orang lain untuk kita nikmati dengan murah merupakan perbuatan yang semena-mena. Kalau berkaca pada hukum, kita juga sudah tahu bahwa peraturan tertulis di Indonesia memiliki sanksi hukum terhadap upaya pembajakan. Namun sayangnya penegakan hukum seakan-akan tak memiliki gigi terhadap si pelaku pembajakan, bahkan tidak menimbulkan efek jera sama sekali. Barang-barang bajakan tetap enjamur, dijual dengan bebas di tempat umum. Akibat terlalu banyaknya benda-benda bajakan di sekeliling kita, masyarakat tak lagi merasa itu semua merupakan barang curian. Perasaan menghargai hasil jerih payah orang lain seperti lenyap begitu saja.

Pembajakan hak cipta memang memiliki masalah rumit di negara tercinta ini. Tapi teman-teman lesbian dapat memulainya dari hal-hal terkecil. Menumbuhkan rasa penghargaan pada hasil karya seseorang akan mendorong kita untuk tidak ikut dalam kejahatan tersebut. Coba bayangkan jika hasil karya tersebut ciptaan kita, kekasih, atau merupakan hasil usaha kerabat dan teman. Sangat menyakitkan membayangkan yang paling berharga dari kita dicuri oleh orang-orang yang kita kasihi.

Dengan memberikan penghargaan kepada hasil jerih payah orang lain semoga membuat kita sadar, bahwa hasil karya bajakan apa pun seharusnya tak lagi menempati rak buku, rak film bahkan musik di dalam mobil atau di rumah kita. Bagaimana hidup kita mau tenang jika musik yang kita dengarkan ternyata hasil kejahatan? Bagaimana jiwa kita bisa bahagia ternyata buku yang kita baca hasil bajakan? Bagaimana kita mendapatkan pembelajaran jika film yang ditonton ternyata juga hasil curian? Menjadi lesbian yang merupakan minoritas di masyarakat sanggup membuat perubahan mayoritas dengan bersama-sama bertekad untuk selalu berbuat kebaikan bagi manusia lain.

@Nuha Guwa, SepociKopi, 2009

3 Comments »

  • lendy said:

    Maaf, yang menulis apakah juga sudah benar2 mengunakan produk original, jangan2 cd2 musiknya juga bajakan. Masukan nih- tulisan2 ditajuk jangan hanya jadi retorika saja. Ujung2nya cuma bacaan numpang lewat menuh2in poci.

  • nuhaguwa said:

    Dear Lendy.
    Sudah beberapa tahun saya sudah tidak membeli barang bajakan. Kalau pun ada music kompilasi itu hasil hadiah teman-teman saya. Ada juga film berbentuk DVD hasil pemberian teman-teman. Tapi sejauh ini saya hanya membeli barang-barang yang original. Musik terakhir yang saya beli Anggun C. Sasmi dan Mulan Jameela. Aku sangat menyukai lirik-lirik Anggun yang sastra, dan lirik lagu Mulan yang berani dan agak gokil. Aku sangat menghargai jerih payah mereka. Terima kasih atas komennya ya. Salam hangat.

    Nuha-G

  • chubby-gal said:

    Begitu juga banyak software bajakan yang beredar diinternet/dimangga 2, diawali dengan MS Windows kita, MS Office kita, meski sekedar MS WORD apakah berlisensi apa nda? Kadang selalu berpikiran “Wah bill gates udah kaya kok” tapi teteeuup itu jerih payah orang. Aku terus terang masih suka beli bajakan, memalukan sich, not proud of it, tapi its just so tempting dan kocek juga terbatas.

    Nah, kemaren sempet nonton ditipi atau denger dimana, akhirnya para pemusik indonesia mengatasi kerugian penjualan CD/Kaset dari bajakan adalah dengan menjual Ring Back Tone. Bayangkan tiap orang di indonesia punya HP dan karena itu hal yang baru, smua pasang RBT, sampai ada yang pasang beberapa lagu, mayan tiap RBT 7rb/bln kalikan berjuta2 orang di indonesia heheh… dan sekian banyak operator hehehe…

    Aku jadi kepikiran, kenapa para pemusik/penulis itu ga meng out smartkan pembajak, dengan menjual hasil karya yang di”murah”kan, tapi dengan volume yang banyak… tapi ya emang si, its not just about keuntungan tapi about penghargaan suatu karya yang bagus dan masih banyak faktor lainnya seperti pajak dll dll hmm..

Leave your response!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.