Home » Tajuk

Tajuk: Bayi Tabung dan Kita

26 May 2009 972 views 7 Comments

baby_by_crazyllehOleh: Nuha Guwa

“Psssst, anaknya yang baru lahir itu bayi tabung, loh!”

Sering kita mendengar kasak-kusuk ini untuk kelahiran seorang anak yang dibuat dengan proses bayi tabung. Sepertinya kelahiran teknologi bayi tabung masih merupakan hal aneh dan ganjil. Malah sebagian orang menganggap aib, sehingga harus disembunyikan rapat-rapat. Seorang selebritis terkenal baru saja melahirkan bayi yang menggunakan proses teknologi ini. Dengan terbata-taba dia memohon pada reporter infotaimen agar tidak menyiarkan anaknya sebagai hasil kecanggihan teknologi kesuburan manusia. Dia takut jika anaknya merasa kecil hati karena dihadirkan ke dunia dengan cara yang tidak biasa. Mungkin ini ketakutan alami dari seorang ibu.

Bisa jadi di usia remaja anak tersebut – sepuluh atau lima belas tahun dari sekarang, proses pembuatan bayi manusia malah lebih canggih lagi sehingga sang ibu tak perlu mencari-cari pengertian logis dan ilmiah bagaimana kehadiran anaknya di dunia. Bisa jadi juga sang anak malah lebih semakin mencintai ayah ibu yang mengupayakan kehidupannya dengan cara yang berbeda.

Bayi tabung atau pembuahan in vitro mulai diperkenalkan P.C Steptoe dan R.G. Edwards pada tahun 1977. Mereka mencoba membuat teknik pembuahan manusia, di mana sel telur atau ovum dibuahi di luar tubuh. Pada tahun 1978 lahirlah bayi tabung pertama di Inggris yang membuat kehebohan di masa itu. Pada awalnya, metode ini mendapat kecaman para petinggi agama di dunia, namun merupakan solusi bagi mereka yang tak bisa memiliki keturunan. Prosesnya hanya dengan memindahkan sel telur dari ovarium dibuahi sperma dalam sebuah medium cair.

Kehadiran metode bayi tabung memang disambut hangat para homoseksual. Keengganan atau ketidakmampuan melakukan pembuahan dengan cara biasa membuat cara ini menjadi pilihan utama untuk memiliki anak. Banyak pasangan homoseksual, khususnya lesbian mulai melirik bank sperma. Atau bahkan sengaja mencari lelaki sesuai kriteria untuk dimintai spermanya agar dapat membuahi sel telur salah satu pasangan mereka.

Pada negara yang memiliki hukum jelas dan patuh padanya, bayi tabung bukan masalah krusial. Pasangan suami istri dengan status pernikahan yang jelas dipastikan dapat mudah mengikuti program ini. Dengan menunjukkan surat nikah dan menyetorkan segepok uang sesuai permintaan dokter maka proses itu dapat dilakukan dengan sekejap mata. Namun bagaimana dengan pasangan homoseksual khususnya pasangan lesbian? Apakah dengan serta merta rumah sakit mau melakukan proses bayi tabung untuk mereka?

Negara yang melegalkan perkawinan sesama jenis tidak akan mempersulit [prosesnya. Biasanya pihak rumah sakit akan menanyakan status hubungan mereka. Barulah kemudian dokter yang menangani akan membuat tindakan medis pada salah satu pasangan. Hal ini juga diikuti dengan peraturan hukum yang ketat, bahwa keduanya akan menjamin dan bertanggungjawab atas kesejahteraan anak tersebut, termasuk keputusan-keputusan hukum jika pasangan tersebut tidak bersama lagi pada suatu hari.

Namun apa jadinya jika hal ini dilakukan di Indonesia atau negara yang tak memiliki kejelasan status pasangan homoseksual? Beberapa pasangan lesbian memang sudah melakukan proses pembuatan bayi tabung ini. Biayanya bervariasi, misalnya di Singapura – program ini dipatok puluhan bahkan mendekati ratusan juta rupiah. Rumah sakit lokal mematok puluhan juta rupiah tergantung paket, apakah mau yang langsung berhasil ditambah embel-embel dengan pemilihan sperma dan sel telur berkualitas. Tapi jangan harap rumah sakit di Indonesia mau melakukannya jika kita tidak membawa suami.

Pada akhirnya banyak pasangan lesbian yang menginginkan anak mencari pasangan gay yang juga menginginkan anak. Mereka menikah dengan resmi memakai upacara agama dan negara; namun tentu saja tidak melakukan hubungan layaknya suami istri. Proses pembuatan bayi tabung tentu merupakan pilihan terbaik. Anak tersebut sah secara agama dan terikat perkawinan yang sah pula. Kelangsungan hidup sang anak juga menjadi jelas. Ia akan diasuh oleh ayah ibu bahkan mungkin dua ayah dan dua ibu. Perjanjian pengasuhan anak dapat dilakukan sebelum proses bayi tabung dilakukan seperti siapa yang akan bertanggungjawab terkait keuangan, biasa sehari-hari, biaya kelahiran, biaya sekolah bahkan hingga kuliah.

Jaminan hidup bayi tersebut seharusnya menjadi tumpuan UTAMA sebuah proses bayi tabung. Bukan keinginan emosi yang kekanak-kanakan, seperti untuk membahagiakan pasangan atau pembuktian cinta yang tidak jelas. Anak tercipta bukan sekadar mainan yang akan menyenangkan hati. Memiliki anak berarti kita siap bertanggungjawab atas kelanjutan hidup mereka. Jangan sampai mereka terlantar dan tersia-siakan.

Sebenarnya cara mengangkat anak atau mengadopsi bayi masih merupakan pilihan terbanyak untuk saat ini. Selain tidak seribet bayi tabung, proses pengangkatan anak tidak memiliki keruwetan yang tak berujung pangkal. Tidak ada urusan sperma siapa dan telur siapa yang akan digabungkan. Namun semuanya kembali kepada tanggungjawab moral kita bersama kepada anak tersebut. Jangankan memiliki anak, tanpa tanggungjawab seorang anak saja pasangan lesbian acak kali menimbulkan keributan yang menghasilkan drama menyedihkan.

Jika persoalan bayi tabung saja masih dianggap keanehan, lalu bagaimana jika pasangan lesbian tiba-tiba muncul ke permukaan dengan program bayi tabung? Selebritis kondang itu saja masih kuatir dengan keberadaan anak tabungnya kelak, bagaimana dengan pasangan lesbian? Siapkah kita memberikan pengertian kepada anak bahwa ternyata ia tidak memiliki ayah, melainkan hanya dua orang perempuan yang menjadi ibunya? Jika sang anak memiliki seorang ayah gay dan ibu lesbian, cukup dewasakah kita membesarkan mereka dengan cara yang layak seperti keluarga bahagia? Jika kita ternyata memiliki pasangan dan suami yang gay memiliki patner juga, siapkah membesarkan anak dengan cara yang sehat dan baik? Sanggupkah kita mengasihi dan menjaganya layaknya anak-anak lainnya yang memiliki ayah ibu lengkap yang saling mencintai?

Jika pertanyaan ini masih begitu sulit terjawab, lebih baik tinggalkan program semacam bayi tabung atau mengadopsi anak. Kebahagiaan bisa dicari dengan cara lain. Cinta dan kasih sayang dapat dicurahkan kepada anak-anak tak beruntung yang keberadaan mereka tak pernah diperhatikan oleh orang di sekeliling kita.

@Nuha Guwa, SepociKopi, 2009

7 Comments »

  • Arie Gere said:

    Kadang aku berpikir, untuk menjadi seorang lesbian yang sukses dan bahagia itu, sepertinya harus punya cukup uang agar tujuan-tujuan tertentu seorang lesbian bisa tercapai. Maksudnya begini, seorang lesbian punya cara yang agak ‘beda’ dari orang hetero agar tujuan hidupnya bisa tercapai. Contohnya, begitu rumit dan berlikunya proses seorang lesbian agar bisa memiliki seorang anak. Ada cara yang lebih mudah gak bu Nuha? :) . Kayaknya, hidup kaum lesbian ini selalu berada di dalam lingkungan kesulitan yang tak berkesudahan.

    Salam,
    Arie

  • keyz said:

    kata-kata terakhir setubuh bgt tuh :D

  • jeng_asih said:

    itu dia! banyak orang berpikir untuk punya anak agar bisa mewarisi semuanya dalam hidup yang kita punya sekarang. Ilmu, harta, doa….

    tidak mudah bagi kita untuk belajar RELA plus IKHLAS saat apa yang kita miliki saat ini jatuh ketangan mereka yang tidak sedarah dengan kita.

    bahkan yang terpenting adalah doa yang menjaga kita setelah tiada. akankah mereka yang tidak sedarah mampu mendoakan kita dengan baik dibanding anak-anak yang kita didik dengan benar kelak?

  • LeiL said:

    Manusiawi sekali jika tiap psngan ingin memiliki penerus. Alternatif pmecahannya kembali pada keputusn masing2 psngn.
    Spakat dgn mbak Nuha bhwa mslh plg essensial dlm mengasuh anak adalah tanggung jwb. So,pikir dahulu sblm “beranak”. Klo mmg blm siap lahir bathin, pending aja dl program Hunting Baby-nya…
    Hehehe…

  • Maly said:

    Pengen anak? pacaran aja ma Lmom

    hewhewhew…

    :-)

  • Arinie said:

    anak tak selalu harus yg dikandung oleh rahim kita, anak yg “dikandung” oleh hati kita, dibesarkan dengan cinta dari hati akans ama baiknya dengan anak yang terlahir dari rahim kita. Betapa banyak anak yang kurang beruntung dilahirkan kedunia..kenapa masih kita dipusingkan dengan segala cara untuk punya anak dari rahim kita…??

  • vhytha said:

    aku juga pengen anak,,,ngeliyat anak tuh cakep jd pngen punya,,,tapi pcarku capa ya????

Leave your response!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.