Oleh: Alex
Film yang dirilis tahun 1991 ini dimulai ketika dua perempuan, Thelma (Geena Davis) dan Louise (Susan Sarandon) memutuskan untuk berlibur bersama. Sejenak menjauh dari hidup penuh tekanan dan membosankan. Louise yang sudah muak menunggu pacarnya mau berkomitmen mengajak Thelma untuk liburan memancing. Thelma yang merupakan ibu rumah tangga dengan suami tukang selingkuh dan sering menghinanya dengan kata-kata kasar menganggap liburan ini sebagai pergantian suasana yang menyenangkan.
Hanya berdua, mereka menyusuri jalanan panjang dengan mobil kap terbuka T-Bird 1966. Karena lapar, Thelma dan Louise berhenti di bar tepi jalan. Di bar itu Thelma minum-minum dan flirting dengan seorang lelaki. Flirting iseng itu kemudian berakhir dengan percobaan perkosaan terhadap Thelma oleh lelaki tersebut. Louise menolong Thelma dan saat lelaki itu masih kurang ajar, Louise yang keburu naik darah menembak lelaki tersebut tanpa pikir panjang. Dan mulailah petualangan Thelma dan Louise yang sesungguhnya.
Tidak ingin ditangkap, mereka pun berniat melarikan diri ke Meksiko. Dalam pelarian itu, mereka (Thelma) ditipu perampok ganteng JD (Brad Pitt) yang membuat mereka harus kehilangan semua uangnya. Kadung jadi buronan, mereka merampok, menculik polisi, menembak truk yang sopirnya cabul.
Sulit untuk tidak bersimpati pada nasib dua perempuan ini, namun pada saat yang sama sulit pula untuk bersimpati pada mereka. Sebagaimana rasa frustrasi dan iba yang dirasakan oleh Detektif Hal (Harvey Keitel) yang mengejar mereka.

Semakin mendekati klimaks, kita bisa melihat akhir yang makin lama makin nggak keruan untuk Thelma dan Louise. Pilihannya: Ditangkap atau Mati. Dan pada akhir film yang legendaris itu, kita melihat bagaimana sia-sianya hidup yang mereka jalani. Buat saya, ending Thelma and Louise adalah salah satu ending film yang “mengganggu” dan sulit dilupakan.
Thelma and Louise disutradarai oleh Ridley Scott, yang memang sering kali menyutradari film dengan karakter-karakter perempuan kuat, sebut saja Alien dan GI. Jane. Walaupun dia juga dikenal dengan film-film “lelaki”nya, seperti Gladiator, Blade Runner, dan Black Hawk Dawn. Kepiawaian Ridley Scott sebagai sutradara tidak perlu diragukan lagi, namun yang juga layak memperoleh acungan jempol adalah Callie Khouri, sang penulis skenario. Thelma and Louise memperoleh Oscar untuk Skenario Original Terbaik pada tahun 1992, dan kedua pemeran utama, Susan Sarandon dan Geena Davis mendapat nominasi untuk Peran Utama Wanita Terbaik.
Thelma and Louise juga menjadi salah satu film yang memperoleh pendapatan terbesar pada tahun 1991. Pujian dan kritik bertubi-tubi menghantam film ini. Harian New York Times memberi review tak bercela terhadapnya. Roger Ebert memberikan nilai nyaris sempurna. Metacritic menempatkannya dalam 100 besar film dengan nilai tertinggi.
Thelma and Louise sering kali disebut sebagai film feminis. Entah di mana bagian feminisnya. Kenapa pula ada film yang disebut film feminis? Apakah hanya karena peran utama film ini adalah dua perempuan? Atau karena film ini bercerita tentang perempuan terepresi dan teraniaya, lalu bangkit memberontak, kemudian jadi buronan dan dikejar-kejar polisi? Tak tahulah. Menurut saya sih lebih feminis film Geena Davis yang lain, Long Kiss Goodnight, yang menempatkannya sebagai jagoan di atas lelaki.
Menonton Thelma and Louise berarti siap-siap masuk ke dalam petualangan menyesakkan yang berakhir ironis. Awal yang dimulai dengan keinginan perempuan-perempuan ini untuk mencicipi kebebasan berakhir dengan kebebasan yang sesungguhnya. Tapi apa pun, ini adalah film yang bagus dan patut ditonton. Bukan film lesbian memang walau dua perempuan ini sempat berciuman dan bergenggaman tangan menuju keabadian. Yang jelas tidak pernah ada ruginya menyaksikan sebuah film klasik grade A.
@Alex, SepociKopi, 2009
Leave a reply