Lagak Lajang: Go Braless!
Oleh: Oscar Arumi
Gerah, gerah, gerah! Akhir-akhir ini, sang matahari seakan tidak berhenti bermesraan dengan bumi dengan mencurahkan pelukan panasnya. Lamban tapi pasti, keringat mulai bercucuran di dahi dan kening. Deodoran di bawah lengan tak mampu menahan keringat tubuh. Daripada basah karena mandi keringat, seketika saya lepas seluruh busana, bergegas menuju kamar mandi tanpa pikir panjang. Byuuuuuur! Tak ada yang lebih nikmat dibandingkan dengan mandi.
Tanpa pilih-pilih, saya mengambil sehelai celana dalam, sepotong celana pendek, dan selembar pakaian mini tanpa lengan dari dalam lemari. Kemudian, saya melirik BH di barisan pakaian dalam, namun saya memutuskan tidak mau mengenakannya sekarang. Gerah!
Tanpa BH, rasanya hidup saya seakan lebih bebas dan bernapas lega. Tapi, jangan salah, Ibu bakal marah besar bila mengetahui saya jarang memakai pakaian dalam yang satu ini. Katanya, payudara saya akan longgar, tidak seksi, dan aduhai lagi. Menurutnya, payudara adalah salah satu aset terindah perempuan yang harus dijaga kekencangannya. Dan, bagi perempuan lajang seperti saya, payudara sebagai daya pikat kaum lelaki harus dirawat keindahannya. Seandainya Ibu tahu…
Bagi saya, BH hanya berfungsi agar tonjolan puting pada payudara tak kelihatan dan tembus pandang. Sungguh, hanya itu saja fungsinya bagi saya. Saya tak terlalu tertarik pada fungsi-fungsi lain, seperti pengencangan atau keindahan. Kupikir tidak perlu terlalu lama mengenakan BH. Namanya juga lesbian setengah tomboy! Walaupun begitu, saya sendiri juga tak nyaman memakai bebat dada. Payudara seperti ditimpa berjuta-juta ton kayu raksasa yang membuat pegal seluruh tubuh, belum lagi membuat napas saya kehilangan arah. Bebat? Tentu tidak, Mami.
BH berhasil menjerat hidup saya bagai budak zaman pra-peradaban. Saya merasa menjadi orang merdeka hanya ketika payudara saya dibiarkan lepas dan leluasa apa adanya. Tumbuh tanpa tekanan, berdiri tanpa sandaran. Saya teringat kelas bahasa Inggris waktu SMU dulu. Perempuan bule yang berdiri di depan kami berlenggak-lenggok tanpa malu sambil mengajarkan teknik berbicara di depan umum. Dia tidak menggunakan BH sama sekali! Kenapa saya tahu? Tentu saja, tonjolan putingnya yang indah tak pernah lepas dari kaca mata saya. Guru saya mengajar dengan santai dan penuh percaya diri di depan kami. Saya berpikir alangakh enak menjadi perempuan bule yang bebas seperti ini, tak seperti saya yang harus dijerat tali BH yang menyesakkan dada. Sejak itu, saya memutuskan tak pernah memakai BH ketika tidur. Perempuan mana pun yang pernah sekamar dengan saya; baik Ibu, saudara, sahabat atau kolega mengenal kebiasaan saya berbusana di kamar (rumah atau hotel) yang selalu tanpa melibatkan BH di dalam aturan berbusana saya.
Sebenarnya, saya tak menyukai payudara yang menempel di tubuh saya bukan karena saya lesbian. Justru karena menyayangi payudara, saya membiarkan payudara mandiri tanpa sanggahan BH yang mengikatnya. Saya membiarkannya bernafas lega, selega saya menghirup aroma embun di pegunungan. Terlebih lagi, setelah salah seorang sahabat mengirimkan sepotong imel kepada saya tentang BH dan payudara.
To: Oscar
From: Lala
Ditemukan bahwa wanita-wanita dengan kanker payudara memiliki sejarah memakai BH sport yg sangat ketat dan memiliki durasi lebih lama dalam pemakaian BH-nya daripada wanita yang tidak maupun belum terkena penyakit ini. Kenyataannya, hampir semua kelompok penderita kanker payudara memakai BH lebih dari 12 jam. Ketika seorang wanita memakai BH yang ketat, si wanita ini ‘menekan’ payudaranya dengan tekanan, menutup jalan kecil lymphatic dari payudara menuju ke nadi/urat. Ini menyebabkan cairan bertambah dan lambat laun membentuk kista. Toksin harus dikeluarkan melalui lymphatic. Tarikan BH pada payudara tidak cukup melakukan proses pembersihan sehingga menghasilkan penimbunan toksin pada payudara. Sesungguhnya, BH menyebabkan payudara menjadi lemah dan kendur. Payudara bergantung pada penyangga buatan dari BH, tubuh kehilangan kemampuan untuk menyangga payudara itu sendiri. Inilah sebabnya mengapa banyak wanita merasa tidak nyaman tanpa BH. Apa solusi bagi kanker payudara? JANGAN MEMAKAI BH YANG KETAT DAN TIDUR TANPA MENGENAKAN BH!
(Sumber: Milis Tetangga)
Bergegas saya matikan lampu kamar, mengambil guling empuk, dan tidur di atas bantal kesayangan saya. Sekali lagi tanpa BH. Tanpa BH. Jelas? Jadi, kenapa takut? Go Braless!
@Oscar Arumi, SepociKopi, 2009









betul sangat…udh 1taon ini saya tidak memakai BH but beralih kMiniset tapi tetep aj gk suka akhrnya tidak memakai penyangga sama sekali dhe…cz klo memakai BH/Miniset sport itu akan terjadi iritasi diantara dua bukit itu,daripada saya tersiksa n bikin penyakit +mending bebas merdeka aj dhe dua bukit terjal itu
Lebih sehat,lebih bernafas, lebih nyaman pastinya
My habit : Once I reach my house / hotel, I throw my bra away
Bersama patner indah tanpa bra.
emang indah dan bebas hidup tanpa apapun
tidur tanpa Bh membuat mimpi saya indah . .
kadang klo memakai BH saat tidur, membuat saya terbangun ditengah malam akibat adanya ketidak nyamanan pd tubuh.
menurut pasangan saya, sya seksi kalu tidak memakai Bh pada saat ditempat tidur…
hehehheee
bener nggak sih tidur tanpa bh bikin payudara tambah gede? hehe
Leave your response!
Esensi Espresso
Lesbian, bulan Februari yang beraroma romantis mulai tampak. Apakah cinta? Pada hubungan percintaan lesbian yang tak bisa terikat dalam landasan pernikahan, banyak lesbian yang terjatuh pada kebingungan, ketakutan, dan ketidakpastian. Di mana pegangan untuk masa depan?
Lesbian, cinta bagi pasangan lesbian tentu membutuhkan perjuangan keras agar hubungan jangka panjang bisa terjadi. Banyak tantangannya dalam berkomitmen, misalnya kesetiaan, finansial, keluarga, perbedaan, dan lain-lain. Bisakah kita menjalaninya? Berapa lama pasangan lesbian bisa bertahan? Konon ada yang mengatakan bahwa usia pasangan lesbian tak bakal melewati satu tahun. Ah, tentu tidak benar!
Lesbian, untuk menjadi pasangan yang langgeng sampai nenek-nenek, kita bisa belajar dari teman-teman lesbian yang lain yang sudah bersama selama bertahun-tahun. Delapan tahun? Dua belas tahun? Lima belas tahun? Dua puluh tahun? Bisakah kita mencuri kebijaksaan mereka dan mengaplikasikannya ke dalam kehidupan percintaan agar kita pun bisa berbahagia dengan pasangan sampai nenek-nenek? Pastinya dong! Selamat merayakan cinta dalam arti yang sepenuh-penuhnya. Peluk cium untuk segenap pembaca SepociKopi tersayang.
Kategori
Visitor Number:
Arsip SepociKopi
Sedang Online
Senggolan Sepocikopi
Stop Press!
Kami mempersembahan kaos SepociKopi yang bakal keren dipakai dalam berbagai acara.
Silakan pilih dan unduh sendiri desainnya, lalu kamu sablon sendiri di kaos warna favoritmu.
Satu desain pasti tidak cukup, dua juga pasti nggak... semuanya saja! Tenang kok, kaosnya sangat lesbian-friendly dan hetero-friendly, jadi nggak bakal ketahuan! Kalau ketemu sesama teman yang juga mengenakan kaos ini, cukup saling melirik penuh arti. Kodenya udah udah dipatenkan di kepala masing-masing bo!
Salam SepociKopi!
Tags
Pembelian Online:
www.gramediashop.com
www.gramediaonline.com
Friendly Reminder
Situs ini adalah situs lesbian nonprofit. Untuk 18 tahun ke atas. Harap keluar dari situs ini jika Anda masih di bawah umur.
Most Commented
www.facebook.com/sepocikopi
www.twitter.com/sepocikopi
Twitter Buttons
Most Viewed
Recent Comments