Home » Lagak Lajang

Lagak Lajang: Go Braless!

16 May 2009 528 views 6 Comments

no_bra_by_strawberrywestOleh: Oscar Arumi

Gerah, gerah, gerah! Akhir-akhir ini, sang matahari seakan tidak berhenti bermesraan dengan bumi dengan mencurahkan pelukan panasnya. Lamban tapi pasti, keringat mulai bercucuran di dahi dan kening. Deodoran di bawah lengan tak mampu menahan keringat tubuh. Daripada basah karena mandi keringat, seketika saya lepas seluruh busana, bergegas menuju kamar mandi tanpa pikir panjang. Byuuuuuur! Tak ada yang lebih nikmat dibandingkan dengan mandi.

Tanpa pilih-pilih, saya mengambil sehelai celana dalam, sepotong celana pendek, dan selembar pakaian mini tanpa lengan dari dalam lemari. Kemudian, saya melirik BH di barisan pakaian dalam, namun saya memutuskan tidak mau mengenakannya sekarang. Gerah!

Tanpa BH, rasanya hidup saya seakan lebih bebas dan bernapas lega. Tapi, jangan salah, Ibu bakal marah besar bila mengetahui saya jarang memakai pakaian dalam yang satu ini. Katanya, payudara saya akan longgar, tidak seksi, dan aduhai lagi. Menurutnya, payudara adalah salah satu aset terindah perempuan yang harus dijaga kekencangannya. Dan, bagi perempuan lajang seperti saya, payudara sebagai daya pikat kaum lelaki harus dirawat keindahannya. Seandainya Ibu tahu…

Bagi saya, BH hanya berfungsi agar tonjolan puting pada payudara tak kelihatan dan tembus pandang. Sungguh, hanya itu saja fungsinya bagi saya. Saya tak terlalu tertarik pada fungsi-fungsi lain, seperti pengencangan atau keindahan. Kupikir tidak perlu terlalu lama mengenakan BH. Namanya juga lesbian setengah tomboy! Walaupun begitu, saya sendiri juga tak nyaman memakai bebat dada. Payudara seperti ditimpa berjuta-juta ton kayu raksasa yang membuat pegal seluruh tubuh, belum lagi membuat napas saya kehilangan arah. Bebat? Tentu tidak, Mami.

BH berhasil menjerat hidup saya bagai budak zaman pra-peradaban. Saya merasa menjadi orang merdeka hanya ketika payudara saya dibiarkan lepas dan leluasa apa adanya. Tumbuh tanpa tekanan, berdiri tanpa sandaran. Saya teringat kelas bahasa Inggris waktu SMU dulu. Perempuan bule yang berdiri di depan kami berlenggak-lenggok tanpa malu sambil mengajarkan teknik berbicara di depan umum. Dia tidak menggunakan BH sama sekali! Kenapa saya tahu? Tentu saja, tonjolan putingnya yang indah tak pernah lepas dari kaca mata saya. Guru saya mengajar dengan santai dan penuh percaya diri di depan kami. Saya berpikir alangakh enak menjadi perempuan bule yang bebas seperti ini, tak seperti saya yang harus dijerat tali BH yang menyesakkan dada. Sejak itu, saya memutuskan tak pernah memakai BH ketika tidur. Perempuan mana pun yang pernah sekamar dengan saya; baik Ibu, saudara, sahabat atau kolega mengenal kebiasaan saya berbusana di kamar (rumah atau hotel) yang selalu tanpa melibatkan BH di dalam aturan berbusana saya.

Sebenarnya, saya tak menyukai payudara yang menempel di tubuh saya bukan karena saya lesbian. Justru karena menyayangi payudara, saya membiarkan payudara mandiri tanpa sanggahan BH yang mengikatnya. Saya membiarkannya bernafas lega, selega saya menghirup aroma embun di pegunungan. Terlebih lagi, setelah salah seorang sahabat mengirimkan sepotong imel kepada saya tentang BH dan payudara.

To: Oscar
From: Lala

Ditemukan bahwa wanita-wanita dengan kanker payudara memiliki sejarah memakai BH sport yg sangat ketat dan memiliki durasi lebih lama dalam pemakaian BH-nya daripada wanita yang tidak maupun belum terkena penyakit ini. Kenyataannya, hampir semua kelompok penderita kanker payudara memakai BH lebih dari 12 jam. Ketika seorang wanita memakai BH yang ketat, si wanita ini ‘menekan’ payudaranya dengan tekanan, menutup jalan kecil lymphatic dari payudara menuju ke nadi/urat. Ini menyebabkan cairan bertambah dan lambat laun membentuk kista. Toksin harus dikeluarkan melalui lymphatic. Tarikan BH pada payudara tidak cukup melakukan proses pembersihan sehingga menghasilkan penimbunan toksin pada payudara. Sesungguhnya, BH menyebabkan payudara menjadi lemah dan kendur. Payudara bergantung pada penyangga buatan dari BH, tubuh kehilangan kemampuan untuk menyangga payudara itu sendiri. Inilah sebabnya mengapa banyak wanita merasa tidak nyaman tanpa BH. Apa solusi bagi kanker payudara? JANGAN MEMAKAI BH YANG KETAT DAN TIDUR TANPA MENGENAKAN BH!
(Sumber: Milis Tetangga)

Bergegas saya matikan lampu kamar, mengambil guling empuk, dan tidur di atas bantal kesayangan saya. Sekali lagi tanpa BH. Tanpa BH. Jelas? Jadi, kenapa takut? Go Braless!

@Oscar Arumi, SepociKopi, 2009

6 Comments »

  • keyz said:

    betul sangat…udh 1taon ini saya tidak memakai BH but beralih kMiniset tapi tetep aj gk suka akhrnya tidak memakai penyangga sama sekali dhe…cz klo memakai BH/Miniset sport itu akan terjadi iritasi diantara dua bukit itu,daripada saya tersiksa n bikin penyakit +mending bebas merdeka aj dhe dua bukit terjal itu :D

    Lebih sehat,lebih bernafas, lebih nyaman pastinya :D

  • ENO said:

    My habit : Once I reach my house / hotel, I throw my bra away :-)

  • Maly said:

    Bersama patner indah tanpa bra.

  • dhani ramadhan said:

    emang indah dan bebas hidup tanpa apapun

  • shila said:

    tidur tanpa Bh membuat mimpi saya indah . .
    kadang klo memakai BH saat tidur, membuat saya terbangun ditengah malam akibat adanya ketidak nyamanan pd tubuh.

    menurut pasangan saya, sya seksi kalu tidak memakai Bh pada saat ditempat tidur…
    hehehheee

  • akuu ! said:

    bener nggak sih tidur tanpa bh bikin payudara tambah gede? hehe

Leave your response!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.