Hikayat Sepuluh
Oleh: Arie Gere
Aku ingin berpacaran dengan Dian Sastro. Tapi sial, mana mungkin Dian mau pacaran sama aku, si tampang kusut, si rambut bonding yang tak pernah lurus, si pengharap diet yang tak pernah kurus? Akhirnya, lamunanku pun beralih ke perempuan lain. Bagaimana seumpamanya kalau pacaran dengan BCL? Wuihhhhhh, tiba-tiba, pipi kananku tertanda bekas tamparan Mr. Sinclair. Badanku babak belur dibuatnya. Sial, benar-benar sial. Lamunan beralih ke perempuan-perempuan lain, ke tubuh perempuan bahenol kenalanku – salah seorang pelaris manis dunia perhotelan di kotaku. Ingin mencoba menelponnya; ingin tahu bagaimana responsnya. Kuambil hape, dan kring-kring olala, lagu panggilan bernada Madu Tiga-nya Ahmad Dhani merajalela. Sialan! Telepon dari kantorku berhasil membuyarkan lamunan.
Beralih, pikiran nakal menjalar ke perempuan lain. Aku teringat sahabatku yang cantik. Bagaimana rasanya tidur semalam dengannya? Tidur dengan tanda petik tentunya. Auwwww, geblek! Kakiku seperti diinjak sama Mr Er., suami sahabatku yang juga temanku. Hahahahhahah, just kidding. Lantas, mataku mulai berkedip-kedip menggoda klien di depan mata. Makin gila, mata makin berkedip tak karuan. Kulepas kaca mata brengsek yang tahtanya tak pernah turun. Ternyata ohhhh ternyata, mataku memang kemasukan debu. Bagaimana mungkin menggoda perempuan dengan mata merah seperti ini?
Kecewa, lamunanku pun kembali ke awal, ke Angka Satu. Maksudnya, kembali kepada kekasih tersayang, Michiru. Kenapa Angka Satu? Karena aku adalah Angka Nol miliknya. Jadi, bayangkan saja begini: dia adalah satu dan aku adalah nol, apa yang terjadi bila dua angka berjalan berdampingan?
Kutanya, pada Angka Satu, “Angka Satu tersayang…”
Dilihat rambut, dipikir bulu,
Dirasa rupa, ternyata beludru,
Izinkan aku bertanya padamu,
Maukah kau bila kumadu?
“Dirimu tak termasuk dalam lamunanku karena setiap hari, setiap saat, setiap waktu, aku dapat memelukmu, menciummu, menyetubuhimu, menggodamu, dan me-me-me-me lainnya kepadamu – kapan saja aku mau. Jadi, bolehkah aku, memikirkan angka-angka lain sehingga menjadi dua puluh, tiga puluh, empat puluh?”
Jawab Angka Satu, “Oh, boleh saja Angka Nol. Bila kau boleh menjadi dua puluh, tiga puluh, empat puluh, maka Sayangku, izinkan aku untuk mengecewakanmu sekali saja.”
Sungguh pedih bila diazab,
Kena pukulan tinju menggebu
Hadapiku sampai matamu sembab
Tapi ku takkan mau kaumadu
Aku berpikir, ohohohoh, liang dunia, ternyata kekasihku setia, aku minta empat puluh, dia cuma minta satu kali. Langsung kujawab, “Tentu saja, Kekasihku, apakah yang satu itu?”
Lalu disambung Angka Satu, “Satu kali itu adalah saat aku berkenalan dengan perempuan, saat aku bercinta dengannya. Semua hanya dalam satu jam saja.’’
Buru-buru aku menyelanya, “Tentu saja, Kekasihku, aku takkan melarangmu. Sebab kau pun tak melarangku bukan? Tidak apa-apa, Kekasih, jika hanya satu jam saja.”
Dentung alunan musik membawa anganku menari-nari. Serampang dua belas nan indah bergelayut di otakku. Sebentar lagi aku akan menari dengan Dian Sastro, Bunga Citra Lestari, pelaris manis hotel, sahabatku, dan lainnya. Aku bagai raja dipinang dewa. Tak tertandingi, tak terlawankan. Biarkan dunia tahu aku bergembira. Mainkan semua musik yang ada, aku berpesta hari ini.
Kekasihku melanjutkan kata-katanya, “Tentu, Sayang, satu jam saja. MAKSUDNYA SATU JAM SETIAP HARINYA!’’
Lamunanku terhenti. Ucapan Angka Satu berputar-putar di telinga; menginjak-injak otak; lantas menyumbat saraf. Segerombalan pendendang dentak Melayu berserakan, berhamburan, lari kocar-kacir melihat srigala menerkam dan menerjang. Memporak-porandakan seluruh penari. Dian Sastro kewalahan, BCL tak karuan, pelaris manis hotel entah ke mana, sahabatku kabur. Yang lain lenyap ditelan bumi. Satu jam setiap harinya? Kekasihku akan tidur dengan perempuan lain selama satu jam setiap harinya?
Matilah riwayatku. Matilah aku.
Lalu, kujawab dengan lesu, “Kalau begitu, tak usah, Sayang. Biarkan aku tetap menjadi pendampingmu saja. Tak usah menjadi dua puluh, tiga puluh, atau empat puluh.”
Sayup-sayup kudengar sisa dendang Melayu bersyair untukku:
Pak ketipak ketipung, suara dendang bertalu-talu
Pura-pura bingung, hati di dalam siapa yang tahu,
Dari mana datangnya lintah, dari sawah turun ke kali,
Dari mana datangnya cinta, dari mata turun ke hati
Layang-layang selayang pandang,
Boleh dipandang, dipegang jangan,
Poligami hanya seangan layang,
Tak kubiarkan jadi harapan.
Angka Satu tersenyum puas setelah melihat Nol Buncit seketika mengurungkan niat poligami. Angka Satu menggandeng lengan Nol Buncit. Lalu mereka berjalan berdua-dua; berdampingan, bergandengan, persis layaknya angka sepuluh. Hidup selamanya, sebagai angka sepuluh.
@ Arie Gere, SepociKopi, 2009









…mesti pandai pembohong…
…mesti pandai temberang…
tetapi jangan sampai…
eh pecah temberang…
*wink-wink
engkau hikayat…hikayat…sepuluhhhhhh *bernyanyi seperti dewi perssik*
BTW, Dian sastro kan dulu bisexual, so ada kesempatan rie.
Hahaha
ha . . .ha . . .
munGKin KiwiL ma rhoma irama arUs bca ni crita.SALUT
Leave your response!
Esensi Espresso
Lesbian, bulan Februari yang beraroma romantis mulai tampak. Apakah cinta? Pada hubungan percintaan lesbian yang tak bisa terikat dalam landasan pernikahan, banyak lesbian yang terjatuh pada kebingungan, ketakutan, dan ketidakpastian. Di mana pegangan untuk masa depan?
Lesbian, cinta bagi pasangan lesbian tentu membutuhkan perjuangan keras agar hubungan jangka panjang bisa terjadi. Banyak tantangannya dalam berkomitmen, misalnya kesetiaan, finansial, keluarga, perbedaan, dan lain-lain. Bisakah kita menjalaninya? Berapa lama pasangan lesbian bisa bertahan? Konon ada yang mengatakan bahwa usia pasangan lesbian tak bakal melewati satu tahun. Ah, tentu tidak benar!
Lesbian, untuk menjadi pasangan yang langgeng sampai nenek-nenek, kita bisa belajar dari teman-teman lesbian yang lain yang sudah bersama selama bertahun-tahun. Delapan tahun? Dua belas tahun? Lima belas tahun? Dua puluh tahun? Bisakah kita mencuri kebijaksaan mereka dan mengaplikasikannya ke dalam kehidupan percintaan agar kita pun bisa berbahagia dengan pasangan sampai nenek-nenek? Pastinya dong! Selamat merayakan cinta dalam arti yang sepenuh-penuhnya. Peluk cium untuk segenap pembaca SepociKopi tersayang.
Kategori
Visitor Number:
Arsip SepociKopi
Sedang Online
Senggolan Sepocikopi
Stop Press!
Kami mempersembahan kaos SepociKopi yang bakal keren dipakai dalam berbagai acara.
Silakan pilih dan unduh sendiri desainnya, lalu kamu sablon sendiri di kaos warna favoritmu.
Satu desain pasti tidak cukup, dua juga pasti nggak... semuanya saja! Tenang kok, kaosnya sangat lesbian-friendly dan hetero-friendly, jadi nggak bakal ketahuan! Kalau ketemu sesama teman yang juga mengenakan kaos ini, cukup saling melirik penuh arti. Kodenya udah udah dipatenkan di kepala masing-masing bo!
Salam SepociKopi!
Tags
Pembelian Online:
www.gramediashop.com
www.gramediaonline.com
Friendly Reminder
Situs ini adalah situs lesbian nonprofit. Untuk 18 tahun ke atas. Harap keluar dari situs ini jika Anda masih di bawah umur.
Most Commented
www.facebook.com/sepocikopi
www.twitter.com/sepocikopi
Twitter Buttons
Most Viewed
Recent Comments