Home » Humaniora, Relationship

Hikayat Sepuluh

15 May 2009 83 views 5 Comments

dancer_by_muhadi65Oleh: Arie Gere

Aku ingin berpacaran dengan Dian Sastro. Tapi sial, mana mungkin Dian mau pacaran sama aku, si tampang kusut, si rambut bonding yang tak pernah lurus, si pengharap diet yang tak pernah kurus? Akhirnya, lamunanku pun beralih ke perempuan lain. Bagaimana seumpamanya kalau pacaran dengan BCL? Wuihhhhhh, tiba-tiba, pipi kananku tertanda bekas tamparan Mr. Sinclair. Badanku babak belur dibuatnya. Sial, benar-benar sial. Lamunan beralih ke perempuan-perempuan lain, ke tubuh perempuan bahenol kenalanku – salah seorang pelaris manis dunia perhotelan di kotaku. Ingin mencoba menelponnya; ingin tahu bagaimana responsnya. Kuambil hape, dan kring-kring olala, lagu panggilan bernada Madu Tiga-nya Ahmad Dhani merajalela. Sialan! Telepon dari kantorku berhasil membuyarkan lamunan.

Beralih, pikiran nakal menjalar ke perempuan lain. Aku teringat sahabatku yang cantik. Bagaimana rasanya tidur semalam dengannya? Tidur dengan tanda petik tentunya. Auwwww, geblek! Kakiku seperti diinjak sama Mr Er., suami sahabatku yang juga temanku. Hahahahhahah, just kidding. Lantas, mataku mulai berkedip-kedip menggoda klien di depan mata. Makin gila, mata makin berkedip tak karuan. Kulepas kaca mata brengsek yang tahtanya tak pernah turun. Ternyata ohhhh ternyata, mataku memang kemasukan debu. Bagaimana mungkin menggoda perempuan dengan mata merah seperti ini?

Kecewa, lamunanku pun kembali ke awal, ke Angka Satu. Maksudnya, kembali kepada kekasih tersayang, Michiru. Kenapa Angka Satu? Karena aku adalah Angka Nol miliknya. Jadi, bayangkan saja begini: dia adalah satu dan aku adalah nol, apa yang terjadi bila dua angka berjalan berdampingan?

Kutanya, pada Angka Satu, “Angka Satu tersayang…”

Dilihat rambut, dipikir bulu,
Dirasa rupa, ternyata beludru,
Izinkan aku bertanya padamu,
Maukah kau bila kumadu?

“Dirimu tak termasuk dalam lamunanku karena setiap hari, setiap saat, setiap waktu, aku dapat memelukmu, menciummu, menyetubuhimu, menggodamu, dan me-me-me-me lainnya kepadamu – kapan saja aku mau. Jadi, bolehkah aku, memikirkan angka-angka lain sehingga menjadi dua puluh, tiga puluh, empat puluh?”

Jawab Angka Satu, “Oh, boleh saja Angka Nol. Bila kau boleh menjadi dua puluh, tiga puluh, empat puluh, maka Sayangku, izinkan aku untuk mengecewakanmu sekali saja.”


Sungguh pedih bila diazab,
Kena pukulan tinju menggebu
Hadapiku sampai matamu sembab
Tapi ku takkan mau kaumadu

Aku berpikir, ohohohoh, liang dunia, ternyata kekasihku setia, aku minta empat puluh, dia cuma minta satu kali. Langsung kujawab, “Tentu saja, Kekasihku, apakah yang satu itu?”

Lalu disambung Angka Satu, “Satu kali itu adalah saat aku berkenalan dengan perempuan, saat aku bercinta dengannya. Semua hanya dalam satu jam saja.’’

Buru-buru aku menyelanya, “Tentu saja, Kekasihku, aku takkan melarangmu. Sebab kau pun tak melarangku bukan? Tidak apa-apa, Kekasih, jika hanya satu jam saja.”

Dentung alunan musik membawa anganku menari-nari. Serampang dua belas nan indah bergelayut di otakku. Sebentar lagi aku akan menari dengan Dian Sastro, Bunga Citra Lestari, pelaris manis hotel, sahabatku, dan lainnya. Aku bagai raja dipinang dewa. Tak tertandingi, tak terlawankan. Biarkan dunia tahu aku bergembira. Mainkan semua musik yang ada, aku berpesta hari ini.

Kekasihku melanjutkan kata-katanya, “Tentu, Sayang, satu jam saja. MAKSUDNYA SATU JAM SETIAP HARINYA!’’

Lamunanku terhenti. Ucapan Angka Satu berputar-putar di telinga; menginjak-injak otak; lantas menyumbat saraf. Segerombalan pendendang dentak Melayu berserakan, berhamburan, lari kocar-kacir melihat srigala menerkam dan menerjang. Memporak-porandakan seluruh penari. Dian Sastro kewalahan, BCL tak karuan, pelaris manis hotel entah ke mana, sahabatku kabur. Yang lain lenyap ditelan bumi. Satu jam setiap harinya? Kekasihku akan tidur dengan perempuan lain selama satu jam setiap harinya?

Matilah riwayatku. Matilah aku.

Lalu, kujawab dengan lesu, “Kalau begitu, tak usah, Sayang. Biarkan aku tetap menjadi pendampingmu saja. Tak usah menjadi dua puluh, tiga puluh, atau empat puluh.”

Sayup-sayup kudengar sisa dendang Melayu bersyair untukku:

Pak ketipak ketipung, suara dendang bertalu-talu
Pura-pura bingung, hati di dalam siapa yang tahu,
Dari mana datangnya lintah, dari sawah turun ke kali,
Dari mana datangnya cinta, dari mata turun ke hati

Layang-layang selayang pandang,
Boleh dipandang, dipegang jangan,
Poligami hanya seangan layang,
Tak kubiarkan jadi harapan.

Angka Satu tersenyum puas setelah melihat Nol Buncit seketika mengurungkan niat poligami. Angka Satu menggandeng lengan Nol Buncit. Lalu mereka berjalan berdua-dua; berdampingan, bergandengan, persis layaknya angka sepuluh. Hidup selamanya, sebagai angka sepuluh.

@ Arie Gere, SepociKopi, 2009

5 Comments »

  • rihanna said:

    …mesti pandai pembohong…
    …mesti pandai temberang…
    tetapi jangan sampai…
    eh pecah temberang…

    *wink-wink

  • jeng_asih said:

    engkau hikayat…hikayat…sepuluhhhhhh *bernyanyi seperti dewi perssik*

  • _titiktitik_ said:

    BTW, Dian sastro kan dulu bisexual, so ada kesempatan rie. :D
    Hahaha

  • bUnd_dO said:

    ha . . .ha . . .
    munGKin KiwiL ma rhoma irama arUs bca ni crita.SALUT

  • bUnd_dO said:

    :) :P ;)

Leave your response!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.