Cuci Mata: Dari Sepatu Naik ke Hati
Oleh: Sidney
Man must have invented high heels to torture women. Well, d’uh! Isn’t it obvious?
Sepatu high heels yang sesungguhnya menyiksa tumit tetap dipakai perempuan agar dia bisa tampil indah. Tapi banyak perempuan tampak tidak keberatan. Mereka tampak bahagia berlenggak-lenggok di mal dengan sepatu high heels.
Buat banyak perempuan keluar rumah tanpa sepatu yang pas serasa telanjang. Aku bisa pulang lagi untuk mengganti sepatu kalau sepatu yang kukenakan rasanya nggak sreg di kaki. Rasanya gelisah sepanjang hari kalau harus mengenakan sepatu sandal terbuka padahal aku memakai stoking, misalnya. Saltum itu nggak banget deh.
Kaki itu jelas lambang kecantikan. Di zaman-zaman kerajaan Cina dulu, perempuan kelas atas dibebat kakinya. Makin kecil kakinya, dianggap makin cantik. Entah siapa yang gila ya, mungkin sama seperti tujuan high heels diciptakan, perempuan-perempuan itu sengaja dibuat susah berlari biar tidak kabur dari istana. Sama seperti zaman sekarang, perempuan sengaja dipasung di high heels supaya tidak mudah kabur dari kejaran lelaki atau bebas bergerak ke mana saja.
Tapi kaki yang indah tidak hanya konsumsi mata lelaki. Perempuan-perempuan juga menikmati memandang kaki indah sesama perempuan. Di abad sekarang, ketika perempuan dengan kaki jenjang dan sepatu cantik dianggap sebagai dewi, well, lesbian yang juga jelas-jelas perempuan tidak ketinggalan menghias kakinya dengan sepatu-sepatu indah.
Aku termasuk yang girang ketika butik Christian Louboutin dibuka di Indonesia. Sepatu adalah lambang keindahan. Simbol seni di dunia glamor dan fashionista. Tidak pernah ada salah untuk membeli sepasang sepatu yang akan membuat tubuh perempuan menjadi lebih tinggi, lebih cantik, lebih sempurna, itu prinsipku. Seperti tabungan, sepatu bisa dikeluarkan saat butuh. Tidak perlu langsung dipakai saat baru dibeli. Peraturanku adalah, lebih baik beli sekarang daripada menyesal di kemudian hari. Menemukan sepatu yang pas seperti menemukan pacar cantik, cerdas, dan mapan yang “mungkin” hanya datang sekali seumur hidup.
Katanya, sepatu menjadikan para lesbian mau nggak mau ditempeli lebel. Untuk mereka yang menyombongkan diri dengan berkata keras no label, mendadak harus masuk dalam label tertentu ketika memilih sepatu. Para butchi akan mencintai seni memakai sepatu monoton dengan model yang sama dan warna serupa seperti merek-merek khas maskulin Clarks, Timberland, Johnston & Murphy, Hugo Boss, Dr. Marten, Eastland, Ben Sherman, Cole Haan. Andro yang memilih sepatu tanpa ingin terlihat terlalu kemayu atau kebapakan, suka memilih sepatu sport, sneakers, sandal santai, atau sepatu berhak datar dan rendah, berkelamin universal seperti merek Adidas, Puma, Birkenstock, Converse, Anne Klein, Crocs, Hush Puppies. Sementara aku, yang mencintai sepatu berbentuk aneka rupa bisa jatuh dalam label femme. Aku selalu mematutkan sepatu sehingga serasi dengan tas dan busana yang kukenakan. Saat aku lagi demam androgini look, maka aku tinggal mengambil sepatu yang sesuai. Tapi jika aku harus menjadi putri keraton dengan kebaya batik dan selendangnya, aku tidak keberatan mengenakan sepatu yang tepat.
Sepatu selalu menjadi bagian dari hidup perempuan. Menjadi lesbian bukan berarti menjadi gerombolan perempuan yang kelaki-lakian yang tak mampu berdandan dan beraneka gaya. Selain sepatu Christian Louboutin, sebagai femme, aku juga senang mengenakan sepatu Manolo Blahnik, Jimmy Choo, Rene Cauvilla, Dolce & Gabbana, Emilio Pucci, Chloe, Kenneth Cole, Prada, dan lain-lain. Aku bisa menabung selama sebulan dengan tidak mendatangi restoran-restoran favoritku atau pergi ke salon dan spa hanya untuk membeli sepasang sepatu dari keluaran butik Dior, misalnya.
Sepatu memang hanya terletak jauh di bawah, dekat dengan bumi. Tapi karena junjungan dan kemantapanya, si pemakai bisa berdiri menjulang, meraih langit tertinggi.
@Sidney, SepociKopi, 2009









Mubaziiirrrrrrr dan engga membumi… dan kurang peka dengan kesulitan ekonomi mayoritas rakyat negri ini…. sementara masih banyak penduduk negri ini yang hanya bisa makan nasi aking….
Aaaah….. 5 inch closer to heaven
my heels are pointy and my nails are blunt. labels suck.
wat a coincidence ! gw baru beli 2 pasang sepatu ..
boros tapi happy deh.. hehe
anyway good shoes bring you to good places right?
To Dena: “Life is unfair, get use to it” – Bill Gates
Hush puppies itu favoritku. Temanku lg tergila-gila Crocs sampai punya tiga pasang warna yang beda-beda,,, betooollll bangeeed kalau label keliatan dari selera milih spatu.
Pengeeeen beli pump shoesnya anne Klein tapi musti nabung lamaan..barang label punya kualitas yang lebih tahan lama,,,,
Kita harus shopping bareng sid! Wakakaka
Seleramu itu gk tahan buat dompet
Sekali-kali boleh juga jadi miss jinjing eh miss borju
Hidup belanja
Sekali belanja terus belanja
SUKA LAST PARAGAPH! inspirasi positif dalam melihat sepatu. Gud!
@Dena:
take it easy, girl. Orang yg belanja adalah orang yang nyumbangin buat orang miskin. Baca deh tulisanku tentang membeli barang http://sepocikopi.com/2009/03/21/cuci-mata-mari-berbelanja
@Ereen:
five inch closer to my credit card limit
@Bianca Timmerman:
labels never suck, hidup label. We have different opinion on this.
@track.ed:
aku pernah beli 4 pasang sepatu waktu lagi kalap wakakaka
@BillG:
oom bill datang ke SepociKopi?
@dendalion:
setuju label punya kualitas yang lebih tahan lama. Tapi tergantung labelnya juga ding.
@Sheila:
)
motto yang muach muach
@lifeishappi:
We are the god of shoes sista
duuuuuuuuuuuh dari pda tersiksa mending ngggk usah aja,,,,,atau pake sendal jepit aja tuh heheheheheh jd ngggk usa nabung buat beli sepatu ooooooooh ye setuju hahhaa
Leave your response!
Esensi Espresso
Lesbian, bulan Februari yang beraroma romantis mulai tampak. Apakah cinta? Pada hubungan percintaan lesbian yang tak bisa terikat dalam landasan pernikahan, banyak lesbian yang terjatuh pada kebingungan, ketakutan, dan ketidakpastian. Di mana pegangan untuk masa depan?
Lesbian, cinta bagi pasangan lesbian tentu membutuhkan perjuangan keras agar hubungan jangka panjang bisa terjadi. Banyak tantangannya dalam berkomitmen, misalnya kesetiaan, finansial, keluarga, perbedaan, dan lain-lain. Bisakah kita menjalaninya? Berapa lama pasangan lesbian bisa bertahan? Konon ada yang mengatakan bahwa usia pasangan lesbian tak bakal melewati satu tahun. Ah, tentu tidak benar!
Lesbian, untuk menjadi pasangan yang langgeng sampai nenek-nenek, kita bisa belajar dari teman-teman lesbian yang lain yang sudah bersama selama bertahun-tahun. Delapan tahun? Dua belas tahun? Lima belas tahun? Dua puluh tahun? Bisakah kita mencuri kebijaksaan mereka dan mengaplikasikannya ke dalam kehidupan percintaan agar kita pun bisa berbahagia dengan pasangan sampai nenek-nenek? Pastinya dong! Selamat merayakan cinta dalam arti yang sepenuh-penuhnya. Peluk cium untuk segenap pembaca SepociKopi tersayang.
Kategori
Visitor Number:
Arsip SepociKopi
Sedang Online
Senggolan Sepocikopi
Stop Press!
Kami mempersembahan kaos SepociKopi yang bakal keren dipakai dalam berbagai acara.
Silakan pilih dan unduh sendiri desainnya, lalu kamu sablon sendiri di kaos warna favoritmu.
Satu desain pasti tidak cukup, dua juga pasti nggak... semuanya saja! Tenang kok, kaosnya sangat lesbian-friendly dan hetero-friendly, jadi nggak bakal ketahuan! Kalau ketemu sesama teman yang juga mengenakan kaos ini, cukup saling melirik penuh arti. Kodenya udah udah dipatenkan di kepala masing-masing bo!
Salam SepociKopi!
Tags
Pembelian Online:
www.gramediashop.com
www.gramediaonline.com
Friendly Reminder
Situs ini adalah situs lesbian nonprofit. Untuk 18 tahun ke atas. Harap keluar dari situs ini jika Anda masih di bawah umur.
Most Commented
www.facebook.com/sepocikopi
www.twitter.com/sepocikopi
Twitter Buttons
Most Viewed
Recent Comments