Home » Cuci Mata, Perempuan

Cuci Mata: Dari Sepatu Naik ke Hati

9 May 2009 173 views 10 Comments

shoes__by_xxxflyingturtlexxxOleh: Sidney

Man must have invented high heels to torture women. Well, d’uh! Isn’t it obvious?

Sepatu high heels yang sesungguhnya menyiksa tumit tetap dipakai perempuan agar dia bisa tampil indah. Tapi banyak perempuan tampak tidak keberatan. Mereka tampak bahagia berlenggak-lenggok di mal dengan sepatu high heels.

Buat banyak perempuan keluar rumah tanpa sepatu yang pas serasa telanjang. Aku bisa pulang lagi untuk mengganti sepatu kalau sepatu yang kukenakan rasanya nggak sreg di kaki. Rasanya gelisah sepanjang hari kalau harus mengenakan sepatu sandal terbuka padahal aku memakai stoking, misalnya. Saltum itu nggak banget deh.

Kaki itu jelas lambang kecantikan. Di zaman-zaman kerajaan Cina dulu, perempuan kelas atas dibebat kakinya. Makin kecil kakinya, dianggap makin cantik. Entah siapa yang gila ya, mungkin sama seperti tujuan high heels diciptakan, perempuan-perempuan itu sengaja dibuat susah berlari biar tidak kabur dari istana. Sama seperti zaman sekarang, perempuan sengaja dipasung di high heels supaya tidak mudah kabur dari kejaran lelaki atau bebas bergerak ke mana saja.

Tapi kaki yang indah tidak hanya konsumsi mata lelaki. Perempuan-perempuan juga menikmati memandang kaki indah sesama perempuan. Di abad sekarang, ketika perempuan dengan kaki jenjang dan sepatu cantik dianggap sebagai dewi, well, lesbian yang juga jelas-jelas perempuan tidak ketinggalan menghias kakinya dengan sepatu-sepatu indah.

Aku termasuk yang girang ketika butik Christian Louboutin dibuka di Indonesia. Sepatu adalah lambang keindahan. Simbol seni di dunia glamor dan fashionista. Tidak pernah ada salah untuk membeli sepasang sepatu yang akan membuat tubuh perempuan menjadi lebih tinggi, lebih cantik, lebih sempurna, itu prinsipku. Seperti tabungan, sepatu bisa dikeluarkan saat butuh. Tidak perlu langsung dipakai saat baru dibeli. Peraturanku adalah, lebih baik beli sekarang daripada menyesal di kemudian hari. Menemukan sepatu yang pas seperti menemukan pacar cantik, cerdas, dan mapan yang “mungkin” hanya datang sekali seumur hidup.

Katanya, sepatu menjadikan para lesbian mau nggak mau ditempeli lebel. Untuk mereka yang menyombongkan diri dengan berkata keras no label, mendadak harus masuk dalam label tertentu ketika memilih sepatu. Para butchi akan mencintai seni memakai sepatu monoton dengan model yang sama dan warna serupa seperti merek-merek khas maskulin Clarks, Timberland, Johnston & Murphy, Hugo Boss, Dr. Marten, Eastland, Ben Sherman, Cole Haan. Andro yang memilih sepatu tanpa ingin terlihat terlalu kemayu atau kebapakan, suka memilih sepatu sport, sneakers, sandal santai, atau sepatu berhak datar dan rendah, berkelamin universal seperti merek Adidas, Puma, Birkenstock, Converse, Anne Klein, Crocs, Hush Puppies. Sementara aku, yang mencintai sepatu berbentuk aneka rupa bisa jatuh dalam label femme. Aku selalu mematutkan sepatu sehingga serasi dengan tas dan busana yang kukenakan. Saat aku lagi demam androgini look, maka aku tinggal mengambil sepatu yang sesuai. Tapi jika aku harus menjadi putri keraton dengan kebaya batik dan selendangnya, aku tidak keberatan mengenakan sepatu yang tepat.

Sepatu selalu menjadi bagian dari hidup perempuan. Menjadi lesbian bukan berarti menjadi gerombolan perempuan yang kelaki-lakian yang tak mampu berdandan dan beraneka gaya. Selain sepatu Christian Louboutin, sebagai femme, aku juga senang mengenakan sepatu Manolo Blahnik, Jimmy Choo, Rene Cauvilla, Dolce & Gabbana, Emilio Pucci, Chloe, Kenneth Cole, Prada, dan lain-lain. Aku bisa menabung selama sebulan dengan tidak mendatangi restoran-restoran favoritku atau pergi ke salon dan spa hanya untuk membeli sepasang sepatu dari keluaran butik Dior, misalnya.

Sepatu memang hanya terletak jauh di bawah, dekat dengan bumi. Tapi karena junjungan dan kemantapanya, si pemakai bisa berdiri menjulang, meraih langit tertinggi.

@Sidney, SepociKopi, 2009

10 Comments »

  • dena said:

    Mubaziiirrrrrrr dan engga membumi… dan kurang peka dengan kesulitan ekonomi mayoritas rakyat negri ini…. sementara masih banyak penduduk negri ini yang hanya bisa makan nasi aking…. :-(

  • Ereen said:

    Aaaah….. 5 inch closer to heaven :)

  • bianca timmerman said:

    my heels are pointy and my nails are blunt. labels suck.

  • track.ed said:

    wat a coincidence ! gw baru beli 2 pasang sepatu ..
    boros tapi happy deh.. hehe
    anyway good shoes bring you to good places right?

  • BillG said:

    To Dena: “Life is unfair, get use to it” – Bill Gates

  • dendalion said:

    Hush puppies itu favoritku. Temanku lg tergila-gila Crocs sampai punya tiga pasang warna yang beda-beda,,, betooollll bangeeed kalau label keliatan dari selera milih spatu.

    Pengeeeen beli pump shoesnya anne Klein tapi musti nabung lamaan..barang label punya kualitas yang lebih tahan lama,,,,

  • sheila said:

    Kita harus shopping bareng sid! Wakakaka

    Seleramu itu gk tahan buat dompet

    Sekali-kali boleh juga jadi miss jinjing eh miss borju

    Hidup belanja

    Sekali belanja terus belanja

  • lifeishappi said:

    SUKA LAST PARAGAPH! inspirasi positif dalam melihat sepatu. Gud!

  • Sidney said:

    @Dena:
    take it easy, girl. Orang yg belanja adalah orang yang nyumbangin buat orang miskin. Baca deh tulisanku tentang membeli barang http://sepocikopi.com/2009/03/21/cuci-mata-mari-berbelanja

    @Ereen:
    five inch closer to my credit card limit :)

    @Bianca Timmerman:
    labels never suck, hidup label. We have different opinion on this.

    @track.ed:
    aku pernah beli 4 pasang sepatu waktu lagi kalap wakakaka

    @BillG:
    oom bill datang ke SepociKopi? :P

    @dendalion:
    setuju label punya kualitas yang lebih tahan lama. Tapi tergantung labelnya juga ding.

    @Sheila:
    motto yang muach muach :) )

    @lifeishappi:
    We are the god of shoes sista

  • horas said:

    duuuuuuuuuuuh dari pda tersiksa mending ngggk usah aja,,,,,atau pake sendal jepit aja tuh heheheheheh jd ngggk usa nabung buat beli sepatu ooooooooh ye setuju hahhaa

Leave your response!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.