Home » Humaniora, Keluarga

Lelaki yang Kucinta

8 May 2009 365 views 18 Comments

one_and_one_is_two_by_islandtimeOleh: Frizzy Jo

Aku membayangkan lelaki itu pasti iri karena begitu banyak tulisan tentang perempuan sedangkan hanya sekali ini, aku menulis tentangnya. Bukan karena aku tidak sayang padanya. Aku sayang banget sama dia. Lelaki itu pasti tahu, merasakannya. Walaupun aku lebih dekat dengan perempuan, tapi sayangku ke perempuan dan dirinya seimbang.

Aku juga membayangkan dan mengerti bagaimana perasaannya saat semua orang berkata bahwa surga itu berada di telapak kaki perempuan yang telah melahirkan. Seolah-olah keberadaan seorang ayah tidak ada artinya. Dunia seolah runtuh dan surga lenyap setelah seorang ibu pergi. Aku berharap dia tidak bersedih mendengar perumpamaan itu. Kalimat itu cuma peribahasa kok. Kalau aku menciptakan lanjutan peribahasa itu, tentu aku akan menambahkan bahwa tentu saja surga juga berada di atas bahu seorang lelaki yang mencintai anaknya.

Aku sering memperhatikan bahu miliknya. Semakin hari semakin membungkuk karena dimakan usia. Bahu yang sejak dulu tanpa kenal lelah memanggulku di atasnya dan membuatku merengek-rengek saat dia menolak karena kelelahan setelah bekerja seharian. Waktu kecil dulu aku sangat penuntut sama lelaki itu. Padahal sama saja, sekarang pun aku sering menuntut macam-macam. Bahu itu juga sering menjadi sandaran waktu aku mencurahkan tangis. Aku sayang bahu lelaki itu.

Aku masih ingat waktu dia marah-marah dengan perempuan kesayanganku karena dia menghukumku dengan sangat keras. Lelaki itu sangat marah karena memar yang tertinggal di tubuhku. Baginya, tidak sepantasnya aku mendapatkan! Aku ingat saat dia berkata kepada perempuan kesayanganku bahwa wajar aku mengotori pakaian karena keasyikan main di empang milik tetangga.

Aku begitu menyayangimu, lelaki kesayanganku. Aku tahu, sebelum aku lahir dia begitu mengharapkan kehadiran anak lelaki di tengah keluarga . Tapi kudengar dia tidak menunjukkan rasa kecewa saat aku hadir. Bahkan sungguh, dia tidak pernah mengubahku; aku saja yang tumbuh menjadi perempuan tomboy. Dia malah membelikanku boneka. Dan apa balasanku? Aku menangis keras-keras, tidak menghargai hadiahnya. Aku malah memintanya membelikan aku pistol dan mobil mainan. Aku yakin, diam-diam dia mengenal diriku lebih dari siapa pun di dunia ini.

Bagaimana kuucapkan terima kasih yang besar padanya karena telah mengenalkan musik kepadaku? Terima kasih karena dengan gaya maskulin-romantisnya, dia meletakkan gitar pertamaku di samping ranjang saat aku terlelap. Ternyata kecintaannya pada musik menular kepadaku. Aku ingat saat kami berdua bernyanyi karaoke beberapa minggu yang lalu. Dia pasti tidak menyadari kalau aku menitikkan airmata saat lelaki itu dengan gagah menyanyikan lagu Ebiet G. Ade. Lagu favorit kami berdua.

Bagaimana kuucapkan terima kasih yang besar padanya karena begitu cerewet padaku di saat aku terkapar tak berdaya karena sakit? Dia takkan cerewet karena aku tidak memakai rok. Dia takkan cerewet karena aku tidak bisa memasak, atau karena aku sering memanjat pagar. Dia juga takkan cerewet karena aku memiliki banyak sahabat perempuan daripada teman lelaki. Sebagian besar orang akan berpikir dia pasti tidak peduli dengan diriku. Kupikir mereka salah. Justru dalam diam khas dirinya, lelaki itu seratus persen memperhatikanku. Dia membebaskanku atas pilihan terbaik bagi hidupku. Dia memberiku pelajaran bahwa aku bisa menjadi segala yang aku mau selama itu untuk kebaikanku.

Surga itu masih selalu ada di atas bahunya. Bahu yang kini selalu bergetar saat dia terbatuk-batuk karena terlalu bawel mengobrol denganku. Bahu yang aku percaya akan selalu tersedia untukku saat aku butuh sandaran. Bahu yang selalu siap menerima diriku apa adanya kapan pun; di mana pun, dalam segala keadaan. Terima kasih, Papa. Kau adalah lelaki itu, yang sangat kucintai dengan segenap hatiku.

@Frizzy Jo, SepociKopi, 2009

SepociKopi merayakan dan menghormati ayah dan para lelaki yang membuat hidup para perempuan lesbian mekar berseri. We love man! Terima kasih kepada De Ni dan Frizzy Jo yang mendukung perayaan ini dengan tulisan cantik dan mengharu biru.

18 Comments »

  • De Ni said:

    hihk hikh hikh hikh
    Thanks buat tulisannya sis!!!
    Ampe nangis gue

  • keyz said:

    adughh enk bgt y yg punya ayah…
    :( seandainya ayah ku tak membuang kami…
    but y sudahlah mereka ada kami pun ada :D

  • aderain said:

    jadi pengen pulang cium tangan my dad

  • Arie Gere said:

    heheheh..bapak itu temen ku berantem krn sifat kami bedua sama rata..heheheh…kalo udah gak omongan bisa berhari hari, saling buang muka pas di meja makan, pura pura g liat pdhl di depan mata…qeqeqeqe, kalau pas baikan, kayak pinang di belah gincu.. sama sama merah,, sama sama klop..

  • Sagita said:

    Pun, seandainya aku tidak menikah, aku yakin seyakin2nya ayah dan sdr2ku (yg pria semua) pasti akan membentengi dan menjaga aku dari terpaan mulut2 usil.

    Jo dan aku mungkin sekian persen dari lesbian2 yang memiliki ayah yang luar biasa.

    Jo dan aku mungkin hanya sebagian kecil yang menjadi lesbian bukan karena trauma dan apriori thdp laki-laki.

    Jo, thanks a lot! artikelmu mewakili 99,9% dari rasa dan kejadian2 selama aku bersama ayah. :wink:

  • Shanz said:

    …mengingatkanku pada lelaki-lelaki yang kusayang… especially my dear one..

  • mozz said:

    andai bapakku membiarkanku berambut cepak & ngga nuntut pake rok kaya’ bapak kamu jo..

  • vantaggio said:

    My dad is my hero… Love u dad.
    Ayah ku walau jarang bercakap dengan anak2ny tapi ketika kita meminta sesuatu, ia pasti akan berusaha memenuhiny. Itu tercermin ketika ia mengantar jemput anak2ny ke sekolah.
    Thank dad.

  • krucil said:

    artikel yang bagus sekali :)
    looks like we have the same kind of father ya frizzy jo..
    i love him sooooo much..

  • Rafi said:

    Gak ada ayah, ya gak mgkn ada anak. Gak ada alasan utk gak berbakti pd ayah,skalipun ibu yg diutamakan ;)

  • Tiek said:

    haru biru kalo ingat bapak, beliau orang yang begitu semangat membiayai sekolah bahkan kuliah kami.
    matur nuwun pak aku bisa sekolah, bisa nyari duit sendiri ini semua karena bapak yang selalu memberi semangat kami anak-anaknya agar kami “sekolah setinggi mungkin bapak yang biayain sekolahmu” itu yang selalu bapak sampaikan kekami apabila kami anak-anaknya lulus SMA.
    Betapa bangganya beliau saat kami satu-persatu wisuda sarjana. Setiap kali bapak menangis bangga melihat kami anak-anaknya diwisuda.
    Aku yakin bapak sudah ke surga bersama Allah betapa baiknya beliau menyiapkan supaya kami mandiri. Matur nuwun Pak semua mendoakan bapak.

  • An said:

    Aku tahu andai bapak saat ini masih ada pasti bapak kecewa melihat aku saat ini mencintai seorang perempuan. Ngapunten pak

  • lawless said:

    waaah itu gw bangeeeet………………….I adore my dad more than anything……………

  • JoGjalicious said:

    senangnya saat membaca tulisan ini. Andai kan aku mengenal papa ku.. mungkin kan dia juga akan menggendong ku di bahu nya?
    Pa, engkau ada- aku pun ada meski kita hidup berdampingan di dalam dunia pararel ini.

  • LigX said:

    hiks-hiks,, sungguh ayah yang sempurna..

  • keeny said:

    love u dad….

  • Dava said:

    My real father just stay cool n never talk more

  • dewilyla said:

    jadi kangen sama bapak’my dear love parents..

Leave your response!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.