one_and_one_is_two_by_islandtimeOleh: Frizzy Jo

Aku membayangkan lelaki itu pasti iri karena begitu banyak tulisan tentang perempuan sedangkan hanya sekali ini, aku menulis tentangnya. Bukan karena aku tidak sayang padanya. Aku sayang banget sama dia. Lelaki itu pasti tahu, merasakannya. Walaupun aku lebih dekat dengan perempuan, tapi sayangku ke perempuan dan dirinya seimbang.

Aku juga membayangkan dan mengerti bagaimana perasaannya saat semua orang berkata bahwa surga itu berada di telapak kaki perempuan yang telah melahirkan. Seolah-olah keberadaan seorang ayah tidak ada artinya. Dunia seolah runtuh dan surga lenyap setelah seorang ibu pergi. Aku berharap dia tidak bersedih mendengar perumpamaan itu. Kalimat itu cuma peribahasa kok. Kalau aku menciptakan lanjutan peribahasa itu, tentu aku akan menambahkan bahwa tentu saja surga juga berada di atas bahu seorang lelaki yang mencintai anaknya.

Aku sering memperhatikan bahu miliknya. Semakin hari semakin membungkuk karena dimakan usia. Bahu yang sejak dulu tanpa kenal lelah memanggulku di atasnya dan membuatku merengek-rengek saat dia menolak karena kelelahan setelah bekerja seharian. Waktu kecil dulu aku sangat penuntut sama lelaki itu. Padahal sama saja, sekarang pun aku sering menuntut macam-macam. Bahu itu juga sering menjadi sandaran waktu aku mencurahkan tangis. Aku sayang bahu lelaki itu.

Aku masih ingat waktu dia marah-marah dengan perempuan kesayanganku karena dia menghukumku dengan sangat keras. Lelaki itu sangat marah karena memar yang tertinggal di tubuhku. Baginya, tidak sepantasnya aku mendapatkan! Aku ingat saat dia berkata kepada perempuan kesayanganku bahwa wajar aku mengotori pakaian karena keasyikan main di empang milik tetangga.

Aku begitu menyayangimu, lelaki kesayanganku. Aku tahu, sebelum aku lahir dia begitu mengharapkan kehadiran anak lelaki di tengah keluarga . Tapi kudengar dia tidak menunjukkan rasa kecewa saat aku hadir. Bahkan sungguh, dia tidak pernah mengubahku; aku saja yang tumbuh menjadi perempuan tomboy. Dia malah membelikanku boneka. Dan apa balasanku? Aku menangis keras-keras, tidak menghargai hadiahnya. Aku malah memintanya membelikan aku pistol dan mobil mainan. Aku yakin, diam-diam dia mengenal diriku lebih dari siapa pun di dunia ini.

Bagaimana kuucapkan terima kasih yang besar padanya karena telah mengenalkan musik kepadaku? Terima kasih karena dengan gaya maskulin-romantisnya, dia meletakkan gitar pertamaku di samping ranjang saat aku terlelap. Ternyata kecintaannya pada musik menular kepadaku. Aku ingat saat kami berdua bernyanyi karaoke beberapa minggu yang lalu. Dia pasti tidak menyadari kalau aku menitikkan airmata saat lelaki itu dengan gagah menyanyikan lagu Ebiet G. Ade. Lagu favorit kami berdua.

Bagaimana kuucapkan terima kasih yang besar padanya karena begitu cerewet padaku di saat aku terkapar tak berdaya karena sakit? Dia takkan cerewet karena aku tidak memakai rok. Dia takkan cerewet karena aku tidak bisa memasak, atau karena aku sering memanjat pagar. Dia juga takkan cerewet karena aku memiliki banyak sahabat perempuan daripada teman lelaki. Sebagian besar orang akan berpikir dia pasti tidak peduli dengan diriku. Kupikir mereka salah. Justru dalam diam khas dirinya, lelaki itu seratus persen memperhatikanku. Dia membebaskanku atas pilihan terbaik bagi hidupku. Dia memberiku pelajaran bahwa aku bisa menjadi segala yang aku mau selama itu untuk kebaikanku.

Surga itu masih selalu ada di atas bahunya. Bahu yang kini selalu bergetar saat dia terbatuk-batuk karena terlalu bawel mengobrol denganku. Bahu yang aku percaya akan selalu tersedia untukku saat aku butuh sandaran. Bahu yang selalu siap menerima diriku apa adanya kapan pun; di mana pun, dalam segala keadaan. Terima kasih, Papa. Kau adalah lelaki itu, yang sangat kucintai dengan segenap hatiku.

@Frizzy Jo, SepociKopi, 2009

SepociKopi merayakan dan menghormati ayah dan para lelaki yang membuat hidup para perempuan lesbian mekar berseri. We love man! Terima kasih kepada De Ni dan Frizzy Jo yang mendukung perayaan ini dengan tulisan cantik dan mengharu biru.