Have Your Say: Sahabat Lesbianku Tersayang
Seorang sahabat heteroseksual membagi kisah pertemanannya dengan sahabat lesbiannya. Apa yang terjadi dengan mereka di balik dinding-dinding dingin rumah sakit? Dengarkan kisah ini…
Mungkin aku adalah perempuan straight satu-satunya yang menulis membagi cerita di sini. Aku ingin berbagi cerita tentang seorang sahabat lesbian yang kumiliki. Sudah cukup lama aku membaca SepociKopi. Terus terang aku menyukai isinya. Tulisan-tulisan di sini tak hanya ditujukan kepada kaum lesbian. Banyak tulisan yang menginspirasiku; kualitasnya cocok untuk semua pembaca awam, tak hanya lesbian. Salut kepada para pendiri, redaksi, dan penulis. Terus berjaya; isilah jiwa-jiwa yang haus dan kelaparan akan pencerahan hidup.
Ceritaku bermula lima tahun lalu. Aku mengalami kecelakaan terbesar dalam hidupku. Mobil yang ditumpangi olehku dan teman-teman ditabrak truk dan terseret sejauh seratus meter sebelum menabrak pembatas jalan. Kami berenam di mobil itu; dua sahabatku meninggal di tempat. Seorang lainnya meninggal dalam perjalanan menuju rumah sakit. Sementara sisanya, tiga orang perempuan; kami berjuang melawan maut.
Menurut orang-orang, kondisiku sangat kritis. Aku mengalami koma selama lima hari. Aku sendiri tidak ingat apa yang terjadi. Saat itu aku duduk di belakang. Hanya ingat gambaran sekelabat truk yang berada sangat dekat, mendengar suara benturan kencang, lalu semuanya gelap.
Tapi rupanya Tuhan berkehendak lain. Aku bertahan, terbangun di hari keenam dengan keadaan yang sangat payah. Tulang rusuk, kaki, panggul patah. Wajahku menabrak kaca sehingga pecahannya masuk ke pipiku. Tulang rahangku juga bergeser yang sampai sekarang masih terkadang terasa ngilu. Aku butuh operasi besar berkali-kali, bahkan aku mengalami operasi plastik pada akhir perawatan medisku di Singapura untuk memperbaiki cacat mengerikan di wajah.
Setelah sebulan berada di ruangan ICU, akhirnya aku boleh masuk ke kamar perawatan. Aku tinggal di kamar kelas satu, di mana aku membagi ruanganku dengan seorang pasien lain. Di sanalah aku berkenalan dengan seorang perempuan yang bernama Cindy yang mengisi ranjang pasien persis di sebelahku.
Mulanya aku tidak tahu Cindy sakit apa sebab aku sendiri masih dalam keadaan lemah. Tapi melalui cerita orangtuaku yang mengobrol dengan orangtua Cindy, aku baru tahu bahwa Cindy mengidap penyakit leukemia alias kanker darah. Cindy sering bolak-balik masuk rumah sakit, harus transfusi darah atau karena mengalami kelemahan tubuh. Cindy sendiri tampaknya masih muda.
Esoknya, ketika saat pengunjung tak diizinkan datang, aku meminta perawat untuk membuka tirai yang membagi ruangan antara aku dan Cinty. Pertama kalinya aku bertatapan wajah dengan Cindy. Ternyata Cindy seusia denganku, 22 tahun. Hanya saja, dia sudah tidak kuliah sejak setahun lalu. Dia berjuang melawan leukemia selama lima tahun. Kami mengobrol, tersendat-sendat karena aku tidak bisa berbicara dengan lancar. Rahangku seringkali sakit apabila kucoba menggerakannya.
Beberapa hari setelahnya, Cindy pulang karena keadaannya membaik. Aku masih berada di rumah sakit, sendirian karena ranjang sebelahku tidak diisi pasien. Saat itu aku merasa kesepian. Ternyata kehadiran Cindy, walaupun tak banyak bercakap, telah memberikan pertemanan dan pendampingan bagiku yang masih dalam proses penyembuhan.
Baru lima hari tanpa Cindy, tahu-tahu dia muncul lagi. Kali ini katanya dia mengalami mimisan hebat sehingga dokter memutuskan untuk merawatnya di rumah sakit. Cindy meminta kepada bagian administrasi supaya memasukkan dirinya di kamar perawatan yang dulu dia tempati setelah mengetahui aku – teman sekamarnya yang dulu, belum diizinkan meninggalkan rumah sakit.
Aku berada di rumah sakit selama dua bulan setelah akhirnya boleh melakukan perawatan dan terapi dari rumah. Selama itu, Cindy datang dan pergi. Lucu juga apabila mengingatnya. Saat dia pulang ke rumah, aku hanya menunggu beberapa hari lagi atau bahkan seminggu saja, karena Cindy pasti akan kembali. Walaupun dalam hati aku berharap suatu hari aku tidak perlu melihat Cindy lagi ke rumah sakit, karena bukankah artinya dia telah sehat?
Cindy tidak pernah sehat seperti diriku yang berangsur-angsur menguat. Dia meninggal pada akhir tahun itu, ketika aku baru saja selesai menjalani operasi plastik untuk wajahku. Aku memang bukan sahabat akrab sepanjang hidup yang berbagi suka dan dukanya, tapi pada malam-malam selama dua bulan bersama Cindy di kamar perawatan, kami pernah saling mengerang dan menangis bersamaan. Kami pernah memohon ingin mati saja agar tidak perlu merasakan derita fisik. Kami pernah saling mendoakan agar masing-masing kuat dan tabah. Kami pernah saling mengungkapan dosa masing-masing yang kami lakukan kepada orang lain hanya agar hati kami terasa plong dan pasrah
Itulah saat aku tahu bahwa Cindy seorang lesbian.
Aku baru tahu tentang arti menjadi lesbian saat itu. Maksudku, aku bukan orang bodoh yang tidak pernah tahu manusia homoseksual, tapi Cindy adalah satu-satunya sahabat lesbian yang coming out kepadaku. Temanku itu merasakan ketertarikan kepada perempuan saat di usia pubertasnya. Masa jatuh cintanya terbunuh dengan virus kanker kejam yang bukan hanya menghabisi usia mudanya, tapi juga menghabisi umurnya. Kubayangkan seandainya Cindy masih hidup sampai sekarang, tentu dia sangat gembira menemukan SepociKopi dan teman-teman sesama penulis maupun pembaca di sini. Dia pasti ikut menulis dan menjadi ngetop karena tulisannya yang menyentuh hati. Aku jadi ingat kata-katanya padaku dulu, “Kamu nggak marah kan sama aku karena aku suka cewek? Kamu nggak akan menjauhi aku kan? Mau jadi temanku terus kan?”
Kukatakan padanya bahwa aku takkan marah kepada mereka yang mencintai sesama jenis. Cinta adalah karunia Tuhan; mengapa kita harus mengutuknya? Dia menitipkan pesan terakhirnya padaku, “Kalau suatu hari ketemu dengan kaum homoseksual, jangan mengejek mereka ya.”
Kini aku menuliskan kisah tentang Cindy di sini agar Cindy tahu bahwa aku menjalankan amanatnya. Aku yakin dia tahu apa yang aku kerjakan dari atas sana. Semoga kau beristirahat dalam damai, sahabatku tersayang.
@Veronika Odelia, SepociKopi, 2009









ya Alloh, sedihnya rek…..kucur-kucur air mata ini, hiks….
sepertinya cindy memang sudah beristirahat dalam damai sekarang karena di akhir sisa hidupnya dia diberikan teman straight yang baik banget kayak kamu ….
seandainya ku punya

but punya deng bkn bgtu jeng_asih
(ente st8kn wkwkwkwkwkwk)
Aku rasa tidak sedikit kawan straight yang gemar berkunjung ke SepociKopi tercinta ini. Mungkin mereka lebih memilih mengamati dalam diam sambil merasakan juga suka dan sedihnya dunia para lesbian. Mungkin juga mereka memiliki sahabat lesbian dan saling berbagi seperti Veronika
Persahabatan tanpa memandang perbedaan memang indah dan bukan tidak mungkin.. Terharu banget dengan tulisan Vero.
mempunyai sahabat lesbian bukan berarti kita harus menjauhinya, mencintainya sebagai sahabat itu lebih baik, karena cinta tak mengenal jenis kelamin. aku punya seorang sahabat yang lesbian walaupun aku straight, aku tak pernah ingin melupakannya atau menjauhinya karena bagaimanapun dia selalu mengisi hari-hariku. dia tahu aku dan akupun tahu siapa dia. aku selalu berusaha untuk memahaminya walaupun dia pernah menyatakan cintanya padaku. tak pernah sedikitpun aku ingin melepaskannya karena dia sangat berarti bagiku karena 5 tahun pertama persahabatanku dengannya aku gak pernah tahu kalau dia lesbian walaupun akhirnya aku tahu aku tetap menyanyanginya sebagai sahabat.
sedihnya kisahnya ini…. wah…menyentuh hatikuuuuuuuu huaaaaaaaaah
andai gw pya sahabat seperti km, yang sangat memahami kondisi gw as a lesbian,,,,minimal support posistif yg bikin gw semangat, senangnya
I wish someone like you were there for me..
itulah cinta seorang lesbian
Aku beruntung,..sama halnya cindy.. Aku beruntung mempinyai maya dalam hidupku. Buat temen2 L, psti ada kok orang2 kayak maya dan vero.. Nc story
thats a great story in ur life…
i so sad read this story..
but, i think u must be change ur chance…
qhey… nce 2 know u..
:’(
mungkin indah dapat memiliki teman yang mengetahui orientasi seksual kita, tapi aku lebih memilih tidak ada sahabat yang tahu sama sekali, cukup aku yang menanggung dosa ini dan aku tidak mau membaginya kepada orang2 yang kukasihi.
tapi menurut aku, seorang teman adalah dia. bukan masalah dia tahu atau tidak dan mau sepaham dengan kita. tapi cukup dia mau mendengar sedikit, memahami kita, lalu tidak beranjak dari tempatnya sekarang, adalah hal paling menyenangkan yang aku punya.
rasanya jadi pengen meluk sahabat2 aku sekarang……..
ouwh,
what a sad story..
i’m touched.
hopefully, there are more people like u out there,,
so we can live side by side,
without fearing that someone or some people will avoid n hate peole like ‘US’.
hicks…
*hug*
gw terharu bgt……… coz gw jg sm kya cindy, dl gw msh ngrasa bngung wat jalanin hdp yg kyak gini pa lg umr gw msh 18 thn, tp skrg gk lg coz gw pnya teman kya veronika yg bsa ngertiin gw n trz jd shbt terbaik gw n ngebantu gw wat berubah
hy salam kenal semuanya…q bukan seorang L tp q akan terbuka untuk berteman dengan kalian semua
maaF sbeLumnya kLo ikuT k0men ds!ni, aKu bkn cwe, aK cwo Tp aK Tdk mencinTai waniTa, aKu Se0rang GAY,, aK ikuT Terharu mmbaca k!sah vero d!aTas, aK jg mndambakan seorang sahabaT cwo sTra!gT yg bsa mengerTi & mmahami keadaankU…
Leave your response!
Esensi Espresso
Lesbian, bulan Februari yang beraroma romantis mulai tampak. Apakah cinta? Pada hubungan percintaan lesbian yang tak bisa terikat dalam landasan pernikahan, banyak lesbian yang terjatuh pada kebingungan, ketakutan, dan ketidakpastian. Di mana pegangan untuk masa depan?
Lesbian, cinta bagi pasangan lesbian tentu membutuhkan perjuangan keras agar hubungan jangka panjang bisa terjadi. Banyak tantangannya dalam berkomitmen, misalnya kesetiaan, finansial, keluarga, perbedaan, dan lain-lain. Bisakah kita menjalaninya? Berapa lama pasangan lesbian bisa bertahan? Konon ada yang mengatakan bahwa usia pasangan lesbian tak bakal melewati satu tahun. Ah, tentu tidak benar!
Lesbian, untuk menjadi pasangan yang langgeng sampai nenek-nenek, kita bisa belajar dari teman-teman lesbian yang lain yang sudah bersama selama bertahun-tahun. Delapan tahun? Dua belas tahun? Lima belas tahun? Dua puluh tahun? Bisakah kita mencuri kebijaksaan mereka dan mengaplikasikannya ke dalam kehidupan percintaan agar kita pun bisa berbahagia dengan pasangan sampai nenek-nenek? Pastinya dong! Selamat merayakan cinta dalam arti yang sepenuh-penuhnya. Peluk cium untuk segenap pembaca SepociKopi tersayang.
Kategori
Visitor Number:
Arsip SepociKopi
Sedang Online
Senggolan Sepocikopi
Stop Press!
Kami mempersembahan kaos SepociKopi yang bakal keren dipakai dalam berbagai acara.
Silakan pilih dan unduh sendiri desainnya, lalu kamu sablon sendiri di kaos warna favoritmu.
Satu desain pasti tidak cukup, dua juga pasti nggak... semuanya saja! Tenang kok, kaosnya sangat lesbian-friendly dan hetero-friendly, jadi nggak bakal ketahuan! Kalau ketemu sesama teman yang juga mengenakan kaos ini, cukup saling melirik penuh arti. Kodenya udah udah dipatenkan di kepala masing-masing bo!
Salam SepociKopi!
Tags
Pembelian Online:
www.gramediashop.com
www.gramediaonline.com
Friendly Reminder
Situs ini adalah situs lesbian nonprofit. Untuk 18 tahun ke atas. Harap keluar dari situs ini jika Anda masih di bawah umur.
Most Commented
www.facebook.com/sepocikopi
www.twitter.com/sepocikopi
Twitter Buttons
Most Viewed
Recent Comments