Untuk Ayahanda Tercinta
Oleh: De Ni
Untuk Ayahku,
Kemarin aku ke rumah paman. Aku melihat paman begitu kuatir ketika Calista belum pulang hingga jam sebelas malam. Paman berkali-kali meneleponnya, meski pun berkali-kali pula setelah menelepon paman berteriak, “Mail box lagi!”. Paman gelisah, berdiri di dapur, pindah ke ruang tamu, beranjak ke kamar, lalu pergi lagi ke teras. Itulah yang paman lakukan sepanjang menanti Calista. Hingga akhirnya paman memutuskan untuk menunggu Calista di bibir jalan. Malam itu, paman sangat marah, sampai-sampai ingin menampar wajah Calista. Untung tante berbaik hati membela Calista mati-matian hingga kemarahan paman mereda.
Ayah, aku tahu, kau tidak pernah merasakan apa yang paman rasakan malam itu, karena aku tidak pernah pergi dengan seorang lelaki dan membuatmu resah menunggu hingga larut malam. Namun pernahkah kau merasa resah mengapa aku tidak pernah memperkenalkanmu pada seorang lelaki yang biasa disebut pacar? Aku tidak memahami apa yang ada dalam pikiran ayah. Mengertikah ayah pada cintaku terhadap Mel? Pahamkah ayah pada rahasia antara aku dengan Bunda? Ataukah ternyata kesibukan ayah memakan semua waktumu untuk sekedar memikirkan masa depanku?
Ayah, teman-teman seangkatanku telah banyak yang menikah. Bahkan keempat gadis tetangga sebelah kiri kita yang usianya jauh di bawahku telah menikah. Gadis tetangga depan telah lima kali bergonta-ganti pacar. Namun tak pernah sekali pun Ayah pernah bertanya tentang seorang lelaki kepadaku.
Kadang kita hanya bertemu lewat telepon atau duduk bersama di sofa tanpa kata-kata. Ayah merokok, aku minum kopi hingga terasa ada jarak yang merobek-robek dan memisahkan kita. Kadang aku berpikir bahwa aku tidak pernah ada dalam pikiranmu.
Ayah ingat waktu aku menjadi juara kelas? Dari sekolah aku buru-buru pulang ke rumah. Aku tak sabar melihat senyum banggamu ketika melihat rapor. Tapi apa yang kudapat? Ayah cuek, meninggalkan sebait kalimat yang sampai kini masuk pada memori jangka panjangku, “Iya, Neng, taruh aja rapor di atas meja, nanti Papa liat.” Namun hingga dua hari berlalu, kau tak pernah menyentuhnya
Dan istri tercintamu selalu membela, “Neng, jangan kecewa ya. Mungkin Papa mau liat kamu jadi juara umum.” Kujadikan sikap ayah sebagai cambuk. Aku belajar mati-matian hingga aku menjadi juara umum di sekolah. Pada waktu itu, ayah memang melihat raporku, tapi kau tidak tersenyum bangga. Padahal, aku tidak minta sepeda, hape, atau hadiah apa pun seperti yang didapat teman-temanku ketika mereka memperoleh prestasi yang sama. Sunggguh, aku hanya butuh perhatian dan kepedulian ayah.
Beberapa temanku bilang, mestinya aku beruntung kalau kau tidak pernah bertanya: mana pacar kamu? Kapan kawin? Kenapa mesti tinggal sama Mel? Ada apa antara kamu dengan Mel? Atau berkata: Cepat cari pacar! Jangan bikin malu orangtua! Papa pengen punya cucu dari kamu!
Ya mestinya aku beruntung. Tapi entah mengapa, aku justru ingin kau menanyakan semua hal itu. Karena ayah punya hak untuk mengajukan semua pertanyaan itu. Sebab kau berharga untukku. Ayah ingat, beberapa bulan lalu setelah membaca berita tentang Lindsay Lohan, Abang pernah bertanya, “Lesbian itu anti cowok, ya? Mereka heterophobia nggak, ya? Setahu gue, jarang tuh penulis lesbian yang cerita tentang bokap, biasanya mereka lebih mencintai ibu yang berkelamin sama.” Waktu itu Ayah hanya diam. Ayah lebih memilih terpaku pada tumpukan koran sama seperti aku yang mencoba memakukan diriku pada sendok, garpu, dan semangkuk mie instan. Akhirnya pertanyaan Abang tak terjawab. Abang pun mencoba menjawab pertanyaanya sendiri, “Nggak anti cowok kali, ya? Secara mereka semua kan lahir dari benih lelaki.” Jawaban, Abang tepat. Aku tidak anti kepada Ayah. Aku ingin mencintai Ayah sebesar aku mencintai ibu. Untuk semua alasan itu, maka kutulis surat ini buatmu. Sebab telah kusadar aku ada karena 25 tahun yang lalu sel sperma ayah membuahi sel telur ibu. Tanpa dirimu, aku tidak akan terlahir.
Ayah, sungguh aku ingin menjadi lesbian yang sehat. Lesbian yang membuka diri secara positif pada figur lelaki. Lesbian yang bukan hanya menjunjung kaumku, namun juga menghargai kaum hetero. Aku ingin kita dekat sama seperti aku dekat dengan ibu. Maka aku berharap ayah mau bertanya. Tanyakanlah banyak hal kepadaku. Tanyakan mengapa matahari tak pernah lelah menyinari bumi, tanyakan mengapa hujan turun demikian deras, tanyakan mengapa air mengalir dari sungai dan bermuara ke laut, tanyakan mengapa di laut ada ombak, mengapa bulan dan bintang begitu akur. Tanyakan mengapa aku belum berkekasih, mengapa rumah kita tak disatroni lelaki, mengapa aku dekat dengan Mel, mengapa aku tinggal bersamanya, mengapa aku menatap Mel dengan tatapan yang berbeda, tanyakan tentang debar cinta yang tak wajar dalam diriku. Meski tak semua tanyamu akan aku jawab, namun setidaknya aku tahu ada kedekatan antara kita. Kedekatan yang dinyatakan dalam setiap ragu dan tanyamu, dalam perhatian dan kegelisahanmu.
Ayah, sungguh aku ingin tahu apa yang kau pikirkan tentangku. Tapi sudahlah, kau tak perlu menjawabnya. Sebab semalam aku membuka dompetmu. Awalnya aku hanya ingin meminjam KTP-mu untuk melengkapi beberapa dokumenku, tapi aku tertarik pada sepucuk surat yang berhimpit bersama surat-surat tua pemberian kakek yang umurnya sudah puluhan tahun. Surat dari istrimu, dari bundaku.
Untuk Suamiku
Penikahan adalah anugerah. Anak-anak adalah karunia Tuhan. Kematian adalah kemenangan dan kehidupan adalah kesempatan. Maka dalam kesempatan yang masih Papa miliki, perhatikan anak-anak seperti saat kita memperhatikan mereka ketika menjadi masih bayi mungil.
…
Mama titip De Ni. Si bontot yang suka sok tua itu. Jangan pernah paksa dia untuk menikah. Jangan tekan dia untuk memiliki kekasih. Terimalah siapa pun yang dia cintai. Jadilah pendampingnya di gereja, jika suatu saat dia memilih untuk menikah. Tapi, jangan pernah paksa dia untuk memilih. Setiap manusia berhak menentukan pilihan dan jalannya masing-masing.
Dari Istrimu
Seketika air mataku menetes membaca surat yang terlipat rapi di dompetmu. Aku merasa begitu sedih, namun tiba-tiba Tuhan mengantarkan senyum untukku ketika di bagian lain dalam dompetmu aku menemukan fotoku, abang, dan bunda. Ya, hanya foto kami yang ada di dompetmu, hanya foto kami. Saat itu aku sadar bahwa kau sangat mencintaiku dalam kebisuanmu.
Dari anakmu yang sangat mencintaimu, Ayah,
De Ni
@De Ni, SepociKopi, 2009









huaaawwhhh
(
seandainya mama ku seperti itu.. seandainya ayah ku mengerti hal ini.but bgmn bs y scra kami tinggalkn ayah saat aku msh batita yg butuh figur itu.wlaupun now ada sosoknya but ku anggp mati but hidup dtubuh ku..
k’den, crita2mu membuat ku trz berpikir apa hidup ini adil..apa hidup ini seperti ini / staknat
Terkadang dalam kebisuan dan amarah itu lah kasih sayang orang tua muncul.
Ayah ku sangatlah jarang bercerita dan ngobrol dengan anak-anakny tapi kasih sayang dan perhatiaanny sangatlah tidak diragukan lagi.
I love u dad.
even we never have chat.
papa ku jg ky gitu.. slalu diam, ga pernah nanya2, jrg bgt bicara ma aku kynya ga peduli gt..huh..
tp mgkn sebenarnya dy peduli x yah..
hidup emang membingungkan..sering apa yg terlihat bukan yg sebenarnya..
diam yang ikut membuat gue menangis. betapa cinta dan benci kadang tak perlu terverbalkan dalam ucapan yang kasat mata. setiap orang punya cara masing-masing mengekspresikannya. Hari ini gue belajar. Terimakasih sudah berbagi.
yakin den kalo ayahmu nanya, kenapa menatap mel dengan tatapan yang berbeda…? akankah dikau jawab dengan jujur kacang ijo…hihihihihihihihihi
eke tunggu moment itu…ntar cerita-cerita lagi ya di dieu, hohohooho
I love this one, De Ni. Baca ini kayak ngaca. Tiba2 inget sosok almarhum Bapakku, jd tanggul air mata jebol juga barusan. Ah, mungkin aku lagi PMS. Kangen Bapak.
aku tidak bisa membedakan kasih sayang dan curahan cinta baik kepada ayah maupun ibu. Namun, hanya dgn ayah aku bisa bercerita dan berdiskusi apa saja (di luar kondisiku sbagai L). Ayah tau kapan saatnya menarik diriku perlahan tatkala aku kabur dari pandangannya. Dan mengulurku ketika aku mulai terasa dekat dengannya…
terkadang diam dan bisu adalah pilihan tepat untuk mengungkapkan kasih sayang.
Senang baca tulisan De Ni. Nendang!!!
duh ga bisa koment
bagus banget, pas banget ma lagu harmoninya padi yg tiba-tiba terdengar…
udah baca poci dari dulu banget (akhir 2006 or awal2007, lupa), tapi baru kali ini nangis baca postingan..
jadi kangen ayah, kangen dia narik tanganku dan mengusapkan ke dagunya yang baru cukuran, haha…
seperti kisah hidupku.. hanya umurku 30 tahun dan belum sekalipun ayahku bertanya tentang laki-laki.. mungkin dalam diamnya dia benar2 tahu siapa aku.. seperti dalam diamnya dia benar2 mencintaiku.. lelaki yang selalu menghormati wanita, yang senantiasa memaksa anak perempuan satu2nya untuk berprestasi.. terima kasih De Ni untuk mengingatkanku betapa beruntungnya hidupku.. Bapakku lelaki terbaik
aku mungkin tak seberuntung yg lain, bapakku benar2 sesosok pendiam sejati, aku malah sengaja menghindar dr dia untuk tidak diajak bicara, karena aku merasa ga dihargai setiap ngasih pendapat.
aku ga begitu salut melihat sesosok laki2 dikeluarga, apakah itu bapak, abang atau adikku. sedari aku kecil sudah aku rasakan perbedaan antara laki2 dan perempuan di keluarga, laki2 selalu sj disanjung tetapi aku (perempuan) selalu saja ditindas.
mungkin iru salah satu yg membentuk aku menjadi perempuan yg suka perempuan, walaupun aku tdk anti laki2, tp aku tdk respek atas mereka. . . dengan kata lain aku tidak butuh laki2 dalam hidupku.
mkin skit hti ne krn mengecewakan papa yg ingin ak meneruskan garis keturunanya karena adat kami,
tapi aku telah menyadari sejak kecil bahwa wanita itu lebih baik dripada lelaki,
aku ingin menjadi anak yg bisa membahagiakan papa dan mama dengan cara hidup ku..
Ah tu kan..stiap baca tulisan ka DeNi pasti aja ne mata jd mengeluarkan air.. T.T
Bagus banget tulisan’y..hikz..hikz..
Leave your response!
Esensi Espresso
Lesbian, bulan Februari yang beraroma romantis mulai tampak. Apakah cinta? Pada hubungan percintaan lesbian yang tak bisa terikat dalam landasan pernikahan, banyak lesbian yang terjatuh pada kebingungan, ketakutan, dan ketidakpastian. Di mana pegangan untuk masa depan?
Lesbian, cinta bagi pasangan lesbian tentu membutuhkan perjuangan keras agar hubungan jangka panjang bisa terjadi. Banyak tantangannya dalam berkomitmen, misalnya kesetiaan, finansial, keluarga, perbedaan, dan lain-lain. Bisakah kita menjalaninya? Berapa lama pasangan lesbian bisa bertahan? Konon ada yang mengatakan bahwa usia pasangan lesbian tak bakal melewati satu tahun. Ah, tentu tidak benar!
Lesbian, untuk menjadi pasangan yang langgeng sampai nenek-nenek, kita bisa belajar dari teman-teman lesbian yang lain yang sudah bersama selama bertahun-tahun. Delapan tahun? Dua belas tahun? Lima belas tahun? Dua puluh tahun? Bisakah kita mencuri kebijaksaan mereka dan mengaplikasikannya ke dalam kehidupan percintaan agar kita pun bisa berbahagia dengan pasangan sampai nenek-nenek? Pastinya dong! Selamat merayakan cinta dalam arti yang sepenuh-penuhnya. Peluk cium untuk segenap pembaca SepociKopi tersayang.
Kategori
Visitor Number:
Arsip SepociKopi
Sedang Online
Senggolan Sepocikopi
Stop Press!
Kami mempersembahan kaos SepociKopi yang bakal keren dipakai dalam berbagai acara.
Silakan pilih dan unduh sendiri desainnya, lalu kamu sablon sendiri di kaos warna favoritmu.
Satu desain pasti tidak cukup, dua juga pasti nggak... semuanya saja! Tenang kok, kaosnya sangat lesbian-friendly dan hetero-friendly, jadi nggak bakal ketahuan! Kalau ketemu sesama teman yang juga mengenakan kaos ini, cukup saling melirik penuh arti. Kodenya udah udah dipatenkan di kepala masing-masing bo!
Salam SepociKopi!
Tags
Pembelian Online:
www.gramediashop.com
www.gramediaonline.com
Friendly Reminder
Situs ini adalah situs lesbian nonprofit. Untuk 18 tahun ke atas. Harap keluar dari situs ini jika Anda masih di bawah umur.
Most Commented
www.facebook.com/sepocikopi
www.twitter.com/sepocikopi
Twitter Buttons
Most Viewed
Recent Comments