Lagak Lajang: Nonton Bareng
Oleh: Oscar Arumi
Sekumpulan mahasiswa mulai berlarian menuju tempat duduk idamannya saat melihat petugas administrasi kampus tergopoh-gopoh membawa tumpukan soal dan kertas lembar jawaban ujian tengah semester tahun ini. Saya berjalan bersisian dengan petugas itu sambil sesekali melempar senyum kepada mahasiswa-mahasiswi di yang bolak-balik membaca, membuka, menyalin, mencatat, dan menulis sesuatu di atas kertas-kertas mini berukuran A4 yang sudah dibagi menjadi 16 bagian. Masa-masa kuliah adalah masa-masa terindah di zaman saya dulu. Bermain dan berkumpul dengan kawan-kawan, lalu belajar sambil sesekali nyontek bareng, di lanjutkan dengan masa-masa berpacaran yang tiada hentinya, membuat saya benar-benar menikmati kehidupan ini.
Saat petugas selesai membagikan soal dan lembar jawaban, tugas pengawasan beralih ke saya. Sesekali saya berjalan, kemudian duduk sambil melirik dan mengamati dengan mimik serius. Sesekali pula, saya sengaja membelakangi mahasiwa sambil sebentar keluar kelas menghirup udara segar. Saat itu, saya membaca apa yang terjadi di dalam kelas: lempar melempar jawaban, contek menyontek kertas jawaban, bahkan mungkin diam-diam mengirim SMS dan menelepon. Tak pernah lewat lima menit, saya kembali memasuki kelas dan memperhatikan lagi wajah-wajah mahasiswa yang berpura-pura serius mengerjakan soal ujiannya.
* * *
Saat duduk di bangku mahasiswa sepuluh tahun lalu, saya dan sahabat-sahabat perempuan saya sering melakukan hal-hal unik dan lucu. Mulai dari berjalan bersama, ya benar-benar enam orang berjalan bersama sambil bergandengan di depan halaman kampus, sampai-sampai semua mata memandang dan menyoraki tingkah laku kami. Kami pernah mengeliling kampus tanpa tujuan sambil naik becak bersama-sama. Keliling-keliling saja, piknik dengan abang becak yang tersenyum-senyum melihat tingkah laku kami.
Suatu kali, sahabat saya merencanakan acara nontong film bareng. Nonton apa? Nonton blue film. Nonton bokep bareng. Mulanya semua malu-malu mengatakan setuju, namun ternyata belum ada di antara kami yang pernah menonton film porno beramai-ramai, termasuk saya sendiri. Persiapan matang segera direncanakan. Saya berperan sebagai seksi penyewaan film (saya langsung menyewa 20 keping dengan harga Rp 2,000!) sementara sahabat saya menyediakan kamarnya untuk digunakan untuk acara nonton bareng. Yang lain sibuk dengan persiapan VCD player sebab yang punya rumah tak memilki VCD player di rumahnya. Sahabat yang satunya lagi sibuk mempersiapkan konsumsi untuk acara nonton bareng sementara sisanya membersihkan ruangan yang akan di gunakan untuk acara nanti.
Tak lama, sesi acara nonton bareng dimulai. “Mau Melayu, Oriental atau bule?” tanya saya. Semua menjawab, ‘’Buleeeeeeeeeee!’’. Saya menyalakan film. Beberapa mimik muka mulai berubah; ada yang terlihat syurrr, ada yang asem, ada yang tampak mual, ada yang tenang saja, ada yang senyum-senyum sendiri tanpa arti. Yang mual mulai keluar ruangan dan muntah-muntah di kamar mandi. Kami tertawa melihat sahabat kami, namun tak lama, dia kembali menonton dengan muka yang sedikit lesu. Setelah usai, semuanya mulai sibuk mencari-cari film apa yang akan diputar selanjutnya. Teman saya terpana.
“Lho, kok banyak banget film lesbinya?”
Srrrrrrrt! Saya bingung juga menjawabnya. Film-film lesbian itu memang koleksi pribadi saya.
Lantas saya jawab, “Yah, terserah kalau mau nonton, biar rame aja!”
Entah kenapa, sahabat-sahabat saya penasaran dengan adegan lesbian. Kami memutar salah satu film koleksi pribadi saya. Semuanya mulai tegang dan memasang wajah serius. Tingkahnya masih sama saja seperti tadi; ada yang syurrrrr, ada yang asem, ada yang tenang, ada yang senyum-senyum sendiri, tapi yang muntah-muntah tetap saja tidak bisa terelakkan. Entah apa pula yang terjadi dengan lambung sahabat saya ini, mungkin jijik melihat tontonan-tontonan seperti itu di depan mata. Kami menjadi iba dengannya dan menyudahi acara nonton bareng hari itu. Meski hanya beberapa film, sepertinya kami puas dengan pengalaman barunya hari ini. Nonton bokep bareng. Ya kapan lagi?
Saat yang lain sibuk menyerbu makanan di atas meja, saya dan sahabat saya yang muntah-muntah tadi membereskan film-film yang berserakan di lantai. Setelah saya hitung, ternyata kepingan filmnya berkurang. Saya hitung sekali lagi lagi, tetap masih ada yang selisih. Koleksi saya berkurang tiga buah. Film lesbi pula!
Belum habis saya berpikir, sahabat saya yang muntah-muntah tadi nyeletuk, “Tenang aja, nanti dibalikin deh!’’
Saya hanya bisa nyengir lebar mengingat jawaban sahabat saya itu.
* * *
Tiba-tiba bel kampus berdering lantang. Cengiran saya berubah menjadi senyum lebar memandang mahasiswa-mahasiswa saya yang mulai panik dan gelagapan karena ternyata waktu ujian sudah benar-benar habis!
@Oscar Arumi, SepociKopi, 2009









Wah, nonton bokep bareng-bareng? Agak ngeri sih bo’, soalnya ntar takut gak kuat iman jadi nyerang kanan kiri deh hahaha. . .
lucu juga …. saat nunggu in ujian di kampus tapi pikiran ke mana-mana. apalagi ingat nonton bokep lagi hi hi hi hi gimana aa a a kalo ada mahasiswa yang bisa baca pikran seseorang ..?
Memang saat jaga ujian kita ga boleh kerja apa-apa selain ngawasi siswa kita mengerjakan soal-soal. Na saat itulah kita bisa memikirkan diri kita, sampai pikiran kita ke mana-mana …
gokil bgt sumpah w jg inget ms lalu pas sma
Leave your response!
Esensi Espresso
Lesbian, bulan Februari yang beraroma romantis mulai tampak. Apakah cinta? Pada hubungan percintaan lesbian yang tak bisa terikat dalam landasan pernikahan, banyak lesbian yang terjatuh pada kebingungan, ketakutan, dan ketidakpastian. Di mana pegangan untuk masa depan?
Lesbian, cinta bagi pasangan lesbian tentu membutuhkan perjuangan keras agar hubungan jangka panjang bisa terjadi. Banyak tantangannya dalam berkomitmen, misalnya kesetiaan, finansial, keluarga, perbedaan, dan lain-lain. Bisakah kita menjalaninya? Berapa lama pasangan lesbian bisa bertahan? Konon ada yang mengatakan bahwa usia pasangan lesbian tak bakal melewati satu tahun. Ah, tentu tidak benar!
Lesbian, untuk menjadi pasangan yang langgeng sampai nenek-nenek, kita bisa belajar dari teman-teman lesbian yang lain yang sudah bersama selama bertahun-tahun. Delapan tahun? Dua belas tahun? Lima belas tahun? Dua puluh tahun? Bisakah kita mencuri kebijaksaan mereka dan mengaplikasikannya ke dalam kehidupan percintaan agar kita pun bisa berbahagia dengan pasangan sampai nenek-nenek? Pastinya dong! Selamat merayakan cinta dalam arti yang sepenuh-penuhnya. Peluk cium untuk segenap pembaca SepociKopi tersayang.
Kategori
Visitor Number:
Arsip SepociKopi
Sedang Online
Senggolan Sepocikopi
Stop Press!
Kami mempersembahan kaos SepociKopi yang bakal keren dipakai dalam berbagai acara.
Silakan pilih dan unduh sendiri desainnya, lalu kamu sablon sendiri di kaos warna favoritmu.
Satu desain pasti tidak cukup, dua juga pasti nggak... semuanya saja! Tenang kok, kaosnya sangat lesbian-friendly dan hetero-friendly, jadi nggak bakal ketahuan! Kalau ketemu sesama teman yang juga mengenakan kaos ini, cukup saling melirik penuh arti. Kodenya udah udah dipatenkan di kepala masing-masing bo!
Salam SepociKopi!
Tags
Pembelian Online:
www.gramediashop.com
www.gramediaonline.com
Friendly Reminder
Situs ini adalah situs lesbian nonprofit. Untuk 18 tahun ke atas. Harap keluar dari situs ini jika Anda masih di bawah umur.
Most Commented
www.facebook.com/sepocikopi
www.twitter.com/sepocikopi
Twitter Buttons
Most Viewed
Recent Comments