rentOleh Shinigami

Seberapapun jelek dan carut marutnya hidup, manusia selalu berusaha memperjuangkan dan merayakannya. Mungkin itu adalah salah satu makna yang bisa disarikan dari Rent (2005), sebuah film yang diadaptasi dari drama musikal Broadway karya mendiang Jonathan Larson dengan judul yang sama.

Berdurasi 109 menit, Rent versi film dibuka oleh adegan kedelapan pemeran utamanya berjajar di sebuah panggung, menyanyikan lagu yang menjadi nadi film ini “Season of Love”. Adegan cantik ini melibatkan permainan lampu sorot yang sederhana namun langsung memberikan kesan mendalam bahwa film ini menjanjikan. Bagi penonton yang tak langsung tersergap oleh lirik lagunya, paling tidak mereka akan cukup terpesona oleh kemampuan vokal salah satu pemainnya (Tracie Thoms) saat mendekati akhir lagu. Dan setelahnya, cerita pun bergulir.

Mark Cohen (Anthony Rapp)–seorang pembuat film- pulang ke apartemen di malam Natal yang dibaginya dengan Roger Davis (Adam Pascal) –seorang vokalis dan penulis lagu–di daerah East Village, New York, dan mendapati aliran listrik telah diputus oleh pihak pemilik kompleks atas dasar penunggakan uang sewa. Kompleks East Village memang merupakan tempat tinggal para pekerja seni, entah itu penulis, musisi, pembuat film, dan profesi seni lainnya yang memang bukanlah tambang emas. Kemudian tiba Benny atau Benjamin Coffin III (Taye Diggs), mantan penghuni kompleks yang telah naik kasta karena menikah dengan putri pemilik kompleks apartemen. Benny bersedia membebaskan mereka dari tanggungan uang sewa bila mereka menggagalkan aksi protes berbentuk pementasan yang akan digelar oleh Maureen Johnson (Idina Menzel) yang merupakan mantan pacar Mark. Ayah mertua Benny tak suka tindakan Maureen yang menentang rencana perombakan area itu menjadi kompleks apartemen dan pusat bisnis.

Teman lama mereka Mark dan Roger, seorang tenaga pengajar di MIT bernama Collins (Jessie L. Martin), datang berkunjung. Namun sebelum memasuki gedung apartemen, Collins dirampok dan dipukuli oleh tiga orang preman hingga terkapar di gang gelap. Di gang inilah ia kemudian akan bertemu dengan Angel (Wilson Jermaine Heredia), transeksual baik hati yang mahir perkusi, yang akan membantunya lalu menjadi kekasihnya. Kemudian penonton akan diperkenalkan kepada karakter Mimi Marquez (Rosario Dawson), penari klub yang tinggal satu lantai di bawah apartemen Mark dan Roger. Tampaknya Mimi jatuh hati dengan Roger si musisi, yang sayangnya begitu trauma oleh kematian pacarnya hingga tak bisa lagi membuka hatinya bagi perempuan lain.

Kisah terus menggelinding dengan cukup intens dan cepat, diiringi dengan lagu-lagu yang mengena, hingga kita bisa menyelami segala problematika yang dialami para tokoh itu. Penonton akan melihat pemahaman yang terbina antara Mark dan pacar baru Maureen, pengacara bernama Joanne (Tracie Thoms), setelah mereka sama-sama sepakat atas kebiasaan selingkuh Maureen. Dikisahkan juga percintaan yang kemudian berkembang antara Mimi dan Roger serta Collins dan Angel. Tak luput, Rent memaparkan keraguan Mark yang terjepit antara kebutuhan akan uang dan mempertahankan idealismenya sebagai pembuat film. Cerita ditutup dengan setting satu tahun kemudian, sekali lagi pada malam Natal. Namun semua tak lagi sama; terlalu banyak yang telah terjadi –bahkan untuk diceritakan di tulisan ini– untuk tak mengubah kehidupan masing-masing tokoh yang ada.

Meskipun ada berbagai penyesuaian yang dilakukan dari Rent versi panggung terhadap versi film ini (seperti tak diikutkannya beberapa lagu dan bagian atau digantinya beberapa dialog), pengikutsertaan enam dari delapan pemeran asli versi panggungnya memberikan jaminan bahwa film yang disutradarai Chris Columbus ini akan tetap setia dengan semangat asli yang diembuskan Jonathan Larson ke dalam karyanya. Dan menurut saya, keputusan ini jauh lebih bagus daripada gagasan awal untuk melibatkan bintang-bintang macam Britanny Murphy atau Justin Timberlake; gagasan yang kokoh dipertahankan ketika Spike Lee diplot sebagai sutradara film ini pada tahun 2001.

Menonton Rent seperti memandangi sekaligus menghayati mosaik perasaan. Adegan-adegan yang ditampilkan mampu menggugah perasaan dengan kuat, entah itu antusiasme, kebahagiaan, kesedihan, kemarahan, kegetiran, kehilangan, dan bentuk-bentuk rasa yang lain yang muncul berganti-ganti, merangkai sebuah gambaran kisah yang seperti hidup ini: tidak sempurna, tetapi indah.

Bila saya pikirkan lagi, Rent ibarat sebuah buku obat bagi segala macam penyakit. Mereka yang kecewa dan kehilangan kepercayaan atas cinta dapat disegarkan kembali oleh cinta yang ada di antara Roger dan Mimi serta, terutama, antara Collins dan Angel. Mereka yang terombang-ambing antara idealisme dan aturan main hidup bisa berkaca pada Mark dan Roger. Dan di atas semuanya, mereka yang nyaris menyerah akan hidup akan tertular semangat sekelompok manusia yang terus memperjuangkan dan mengangkat gelas mereka untuk kehidupan sebab, mengutip satu baris lirik lagunya, “I don’t own emotion. I rent.” –bahkan kita bukan pemilik dari emosi kita sendiri. Dengan kata lain, sebab semua yang kita punya dalam hidup ini hanyalah sewaan dari hidup itu sendiri atau Tuhan, sudah sepantasnyalah kita menikmati dan merayakannya selagi bisa. Semangat bohemian benar-benar dielu-elukan di sini.

Sebagaimana layaknya karya musikal, semua lagu yang ada mempunyai lirik yang berbicara. Tak ada satu pun yang sia-sia. Dan malahan, pesan yang ingin disampaikan bisa lebih mengena di dalam kemasan melodi. Perhatikan saja lagu-lagu seperti “Season of Love”, “No day but Today”, “Will I”, dan “I’ll Cover You” yang sangat romantis tapi tidak cengeng itu, atau “Without You” yang ironis. Namun demikian, memang telah menjadi risiko film musikal bila ada orang-orang yang tak tahan menyaksikan sebagian besar hal disajikan dalam lagu; mereka merasa film itu isinya hanya nyanyiiiii melulu. Kalau boleh menyarankan, jangan menyerah dengan lagu-lagunya; film ini terlalu bagus untuk ditinggalkan separuh jalan. Paling tidak nih, bagaimanapun tak betahnya, jangan berhenti sebelum melihat si cantik Rosario Dawson dengan sensual meliukkan tubuhnya yang berbalut stoking jala lengkap dengan bot kulit berhak lancip dan atasan seksi di atas panggung Cat Scratch Club.

@Shinigami, SepociKopi, 2009