Home » Coming Out, Humaniora, Ibu

Bunda Tersayang

Submitted by on 22/04/2009 – 1:40 pm19 Comments | 955 views

Oleh: De Ni

Enggan sebenarnya aku memakai celana abu-abu itu. Beberapa bulan lalu, celana panjang itu adalah celana favoritku, sebelum semua kantongnya bolong. Baik samping kiri kanan mau pun belakang. Sudah beberapa kali aku menyimpan uang di saku dan uang itu kabur melewati celah kantong. Tapi hari ini terpaksa kugunakan celana itu. Pasalnya, hujan yang turun dalam beberapa hari ini membuat hampir semua celanaku masih menggantung di jemuran.

Siang yang begitu terik dan antrian parkir yang panjang, membuatku hampir menangis merasakan matahari menyusup di sela-sela jaket. Setelah menunggu 20 menit, sampailah aku di ujung. Dan kini saatnya aku mengeluarkan tiket parkir yang kuterima di pintu masuk. Aku ingat tiket itu kutaruh di saku celana. Astaga kantong celanaku bolong! Pasti tiket itu pun hilang. Aku menepikan motorku.

“Pak, tiket saya hilang.”

“Coba periksa dulu di jaket dan celananya.”

Kuraba saku celanaku. Hatiku lega ketika kurasakan ada lipatan kertas. Ah, tiketnya tidak hilang. Untunglah. Segera kuberi pada penjaga gerbang agar aku dapat keluar dari antrian terdepan setelah menyadari betapa asamnya wajah-wajah pengendara motor di belakangku. Aku tahu mereka kepanasan. Neraka seakan bocor siang itu. Berhenti di ujung jalan, aku memeriksa kembali semua saku celanaku.

Tidak bolong lagi.

Pasti sudah ada yang menjahit.

Senyumku mengembang mengingat seorang perempuan berusia 62 tahun yang begitu gesit, cekatan dan lincah seperti kelinci. Pekerjaan rumah tangga yang rumit, dikerjakannya dengan begitu sigap. Perempuan yang begitu kuat, tegas namun penuh cinta. Si tante.

Perempuan yang kupanggil Tante itu adalah mamanya Mel. Sejak kusematkan cincin di jari Mel, perlahan-lahan Mel menyusupkan aku menjadi anggota keluarganya. Perlahan-lahan aku mulai menjadi penghuni tetap rumah mereka. Mel mengajakku menginap di rumahnya mulai dari dua kali seminggu, bertambah menjadi tiga kali seminggu, hingga setiap hari. Sekarang, aku tinggal bersamanya di rumahnya. Di sebuah rumah sederhana, di seberang kali. Rumah yang penuh cinta dan tawa. Meski kecil namun begitu sejuk. Aku tinggal bersama Mel, ibunya, kakak perempuan Mel dan suami kakaknya serta seorang keponakan lelaki. Ayah Mel telah meninggal sejak Mel berumur 3 tahun.

Aku diterima mereka sebagai bagian keluarga. Bukan penghuni kost sebab aku tidak membayar serupiah pun. Aku adalah keluarga; senasib sependeritaan; semeja, semenu. Mereka makan ayam, aku juga. Saat mereka makan ikan asin, aku pun melahap menu yang sama.

Mari kuceritakan tentang Tante. Tante adalah orang yang begitu mengasihiku seperti dia mengasihi Mel. Tante menganggap aku sebagai orang penting buat Mel. Sumpah, keluarga Mel memperlakukan aku nyaris seperti “suami” Mel. Sejak kehadiranku di rumah itu, mereka tidak berani mengomeli Mel. Kalau Mel melakukan kesalahan, biasanya tante atau kakak akan segera memberitahuku dan melimpahkan kewenangan kepadaku untuk menegur dan menasehati Mel. Mereka tidak mempercayakan Mel pergi dengan siapa pun kecuali denganku. Jika Mel harus pergi dengan teman-temannya, Tante mengharuskan Mel mengantongi izin dariku terlebih dahulu.

Tante adalah orang yang selalu sibuk memberikan perhatian kepadaku, mulai dari menjahit kancing baju yang lepas, membetulkan celana yang sobek, sampai mencuci baju dan sepatuku jika Mel tidak sempat melakukannya. Kadang aku malu. Tapi di rumah ini aku tidak boleh melakukan pekerjaan ibu rumah tangga. Aku pulang dari bekerja hanya duduk, menonton TV, disiapkan makanan dan kopi. Tante juga tidak pernah lelah menungguku pulang mengajar hingga larut malam. Mel mungkin bisa ketiduran, tapi Tante tidak mau terlelap sebelum dia membukakan pintu untukku meski sangat larut. Dalam pikirannya selalu ada aku. Dia akan berteriak kepada Mel kalau Mel tidak menyiapkan sarapan dan segelas kopi atau susu di pagi hari untukku.

“Mel, De Ni mau pergi, kok nggak dilayani?” Tante segera mengambil gagang sapu yang digenggam Mel. “Sini Mama saja yang menyapu, kamu mengurusin De Ni dulu. Dia pasti senang kalau kamu yang menyiapkan semuanya.” Aku suka omelan Tante saat aku sakit dan tak mau minum obat batuk. Aku suka cerewet Tante saat aku nekad pakai koyo padahal kulitku alergi plester. Aku suka teriak Tante saat aku menunda makan malam karena menyelesaikan tugas kantor. Mirip seperti almarhum ibuku.

Kami yakin sesungguhnya keluarga Mel tahu tentang hubungan kami. Tapi mereka lebih memilih berpura-pura tidak tahu. Bagi mereka, ketidaktahuan tidak akan menyakitkan. Ketika Mel masih menjalin hubungan dengan lelaki, kulihat betapa Tante melindungi kami dengan memberikan 1001 alasan ke mana Mel pergi kepada pacarnya yang saat itu datang. Atau betapa mereka menjaga perasaanku dengan berusaha tidak membicarakan lelaki mana pun yang pernah mendekati Mel di hadapanku. Berkali-kali Tante juga menasehatiku dan Mel untuk mulai menyicil rumah bersama. Sebuah program jangka panjang yang mungkin hanya akan diucapkan seorang ibu yang benar-benar mengerti apa yang terjadi di balik hubungan kedua putrinya. Tante adalah pelindung kami. Berkali-kali dia merapatkan pintu kalau dilihatnya aku dan Mel sedang berdua di kamar, mungkin takut orang lain akan melihat (tanpa sengaja) kami berciuman.

Aku mendapat seribu cinta dan perhatian di rumah sederhana itu. Kami bertiga adalah satu kesatuan. Aku dan Mel tidak akan coming out pada mereka, tidak akan pernah. Kami membiarkan segalanya berjalan sealami mungkin. Kami berusaha menjadi anak yang berbakti kepada orangtua. Kami berusaha saling membangun. Kami berusaha saling memberi yang terbaik kepada keluarga. Sehingga, jika waktunya tiba; jika kisah cintaku dengan Mel berujung, semua akan diakhiri dengan baik. Tanpa luka, tanpa benci.

Dulu aku merindukan gelombang keriput di pipi ibuku, tapi sampai hari kematiannya, ibuku tetap terlihat cantik; tak ada keriput di pipinya akibat usia yang menua. Dan hari ini, dalam lelah aku membaringkan tubuhku pada pangkuan seorang perempuan tua. Ibu Mel, ibuku juga. Wajahnya penuh dengan keriput. Aku suka keriputnya, menggambarkan perjuangan kerasnya menjadi ibu tunggal yang membesarkan anak-anak seorang diri tanpa suami. Entah sampai kapan si tante akan menjadi ibuku, tapi aku berjanji, untuk selamanya dia akan menjadi bundaku.

@De Ni, SepociKopi, 2009

  

Tags: ,

19 Comments »

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also Comments Feed via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.