Bunda Tersayang
Oleh: De Ni
Enggan sebenarnya aku memakai celana abu-abu itu. Beberapa bulan lalu, celana panjang itu adalah celana favoritku, sebelum semua kantongnya bolong. Baik samping kiri kanan mau pun belakang. Sudah beberapa kali aku menyimpan uang di saku dan uang itu kabur melewati celah kantong. Tapi hari ini terpaksa kugunakan celana itu. Pasalnya, hujan yang turun dalam beberapa hari ini membuat hampir semua celanaku masih menggantung di jemuran.
Siang yang begitu terik dan antrian parkir yang panjang, membuatku hampir menangis merasakan matahari menyusup di sela-sela jaket. Setelah menunggu 20 menit, sampailah aku di ujung. Dan kini saatnya aku mengeluarkan tiket parkir yang kuterima di pintu masuk. Aku ingat tiket itu kutaruh di saku celana. Astaga kantong celanaku bolong! Pasti tiket itu pun hilang. Aku menepikan motorku.
“Pak, tiket saya hilang.”
“Coba periksa dulu di jaket dan celananya.”
Kuraba saku celanaku. Hatiku lega ketika kurasakan ada lipatan kertas. Ah, tiketnya tidak hilang. Untunglah. Segera kuberi pada penjaga gerbang agar aku dapat keluar dari antrian terdepan setelah menyadari betapa asamnya wajah-wajah pengendara motor di belakangku. Aku tahu mereka kepanasan. Neraka seakan bocor siang itu. Berhenti di ujung jalan, aku memeriksa kembali semua saku celanaku.
Tidak bolong lagi.
Pasti sudah ada yang menjahit.
Senyumku mengembang mengingat seorang perempuan berusia 62 tahun yang begitu gesit, cekatan dan lincah seperti kelinci. Pekerjaan rumah tangga yang rumit, dikerjakannya dengan begitu sigap. Perempuan yang begitu kuat, tegas namun penuh cinta. Si tante.
Perempuan yang kupanggil Tante itu adalah mamanya Mel. Sejak kusematkan cincin di jari Mel, perlahan-lahan Mel menyusupkan aku menjadi anggota keluarganya. Perlahan-lahan aku mulai menjadi penghuni tetap rumah mereka. Mel mengajakku menginap di rumahnya mulai dari dua kali seminggu, bertambah menjadi tiga kali seminggu, hingga setiap hari. Sekarang, aku tinggal bersamanya di rumahnya. Di sebuah rumah sederhana, di seberang kali. Rumah yang penuh cinta dan tawa. Meski kecil namun begitu sejuk. Aku tinggal bersama Mel, ibunya, kakak perempuan Mel dan suami kakaknya serta seorang keponakan lelaki. Ayah Mel telah meninggal sejak Mel berumur 3 tahun.
Aku diterima mereka sebagai bagian keluarga. Bukan penghuni kost sebab aku tidak membayar serupiah pun. Aku adalah keluarga; senasib sependeritaan; semeja, semenu. Mereka makan ayam, aku juga. Saat mereka makan ikan asin, aku pun melahap menu yang sama.
Mari kuceritakan tentang Tante. Tante adalah orang yang begitu mengasihiku seperti dia mengasihi Mel. Tante menganggap aku sebagai orang penting buat Mel. Sumpah, keluarga Mel memperlakukan aku nyaris seperti “suami” Mel. Sejak kehadiranku di rumah itu, mereka tidak berani mengomeli Mel. Kalau Mel melakukan kesalahan, biasanya tante atau kakak akan segera memberitahuku dan melimpahkan kewenangan kepadaku untuk menegur dan menasehati Mel. Mereka tidak mempercayakan Mel pergi dengan siapa pun kecuali denganku. Jika Mel harus pergi dengan teman-temannya, Tante mengharuskan Mel mengantongi izin dariku terlebih dahulu.
Tante adalah orang yang selalu sibuk memberikan perhatian kepadaku, mulai dari menjahit kancing baju yang lepas, membetulkan celana yang sobek, sampai mencuci baju dan sepatuku jika Mel tidak sempat melakukannya. Kadang aku malu. Tapi di rumah ini aku tidak boleh melakukan pekerjaan ibu rumah tangga. Aku pulang dari bekerja hanya duduk, menonton TV, disiapkan makanan dan kopi. Tante juga tidak pernah lelah menungguku pulang mengajar hingga larut malam. Mel mungkin bisa ketiduran, tapi Tante tidak mau terlelap sebelum dia membukakan pintu untukku meski sangat larut. Dalam pikirannya selalu ada aku. Dia akan berteriak kepada Mel kalau Mel tidak menyiapkan sarapan dan segelas kopi atau susu di pagi hari untukku.
“Mel, De Ni mau pergi, kok nggak dilayani?” Tante segera mengambil gagang sapu yang digenggam Mel. “Sini Mama saja yang menyapu, kamu mengurusin De Ni dulu. Dia pasti senang kalau kamu yang menyiapkan semuanya.” Aku suka omelan Tante saat aku sakit dan tak mau minum obat batuk. Aku suka cerewet Tante saat aku nekad pakai koyo padahal kulitku alergi plester. Aku suka teriak Tante saat aku menunda makan malam karena menyelesaikan tugas kantor. Mirip seperti almarhum ibuku.
Kami yakin sesungguhnya keluarga Mel tahu tentang hubungan kami. Tapi mereka lebih memilih berpura-pura tidak tahu. Bagi mereka, ketidaktahuan tidak akan menyakitkan. Ketika Mel masih menjalin hubungan dengan lelaki, kulihat betapa Tante melindungi kami dengan memberikan 1001 alasan ke mana Mel pergi kepada pacarnya yang saat itu datang. Atau betapa mereka menjaga perasaanku dengan berusaha tidak membicarakan lelaki mana pun yang pernah mendekati Mel di hadapanku. Berkali-kali Tante juga menasehatiku dan Mel untuk mulai menyicil rumah bersama. Sebuah program jangka panjang yang mungkin hanya akan diucapkan seorang ibu yang benar-benar mengerti apa yang terjadi di balik hubungan kedua putrinya. Tante adalah pelindung kami. Berkali-kali dia merapatkan pintu kalau dilihatnya aku dan Mel sedang berdua di kamar, mungkin takut orang lain akan melihat (tanpa sengaja) kami berciuman.
Aku mendapat seribu cinta dan perhatian di rumah sederhana itu. Kami bertiga adalah satu kesatuan. Aku dan Mel tidak akan coming out pada mereka, tidak akan pernah. Kami membiarkan segalanya berjalan sealami mungkin. Kami berusaha menjadi anak yang berbakti kepada orangtua. Kami berusaha saling membangun. Kami berusaha saling memberi yang terbaik kepada keluarga. Sehingga, jika waktunya tiba; jika kisah cintaku dengan Mel berujung, semua akan diakhiri dengan baik. Tanpa luka, tanpa benci.
Dulu aku merindukan gelombang keriput di pipi ibuku, tapi sampai hari kematiannya, ibuku tetap terlihat cantik; tak ada keriput di pipinya akibat usia yang menua. Dan hari ini, dalam lelah aku membaringkan tubuhku pada pangkuan seorang perempuan tua. Ibu Mel, ibuku juga. Wajahnya penuh dengan keriput. Aku suka keriputnya, menggambarkan perjuangan kerasnya menjadi ibu tunggal yang membesarkan anak-anak seorang diri tanpa suami. Entah sampai kapan si tante akan menjadi ibuku, tapi aku berjanji, untuk selamanya dia akan menjadi bundaku.
@De Ni, SepociKopi, 2009









hikzz..hikz..airmata ini akhrna keluar membaca cerita ini..
saya jadi kangen sGendutqu drumah,yg kriput dpertengahan abad…enak sekali mendapatkan kluarga yg seperti itu…(kapan yuahh)
wah.so sweet bgt punya mertua kayak gitu. ambo jd pengenn.
hmmm…
apa bener ada kluarga yg ngedukung ampe kya gtu?
saLut deh klo ada….
^_^
add FS/FB/YM :
tiara_boedoet1@yahoo.com
andai saja ibuku dapat berlaku serupa pada kekasihku….
betapa indah dunia
andai pula mertuaku juga memberi restu
semoga suatu saat nanti kudapat bahagia sepertimu de ni
bahagialah selalu dengan cintamu dan orang-orang terkasih
De Ni, bagi resepnya dunk…
Wah de ni, dirimu beruntung sekali punya mertua idaman.
Pengeeen. . .
Den…bikin ngiriiiiii…hihihihi..
wah… selamat ye…
hidup itu emg indah dengan adany cinta dan kasih.
keep it de ni n don’t lose it
u r one lucky girl
what a luxury. dijaga baik2 ya
Kapan yah aku juga punya “mertua” seperti “mertua”mu Den??
Cerita-cerita cinta kamu & keluarganya bikin aku punya sedikit harapan lagi u/ bisa memiliki pasangan & diterima sama keluarga pasanganku nanti.
Aku cuma berharap, apa yang kamu ceritakan merupakan kisah nyata, bukan cuma khayalan belaka.
kak de ni beruntung banget,hmmm key sampe nangis baca nya..mudah2an cerita ini cepet2 dateng d kehidupan key ma partner key,aminn,Tuhan please beri key keberuntungan yang sama…^_^
Gue berharap someday gue bisa mendapatkan anugerah seperti yang telah elo dapatkan, Den. Keluarga gue bisa nerima Mei, dan keluarga Mei bisa nerima gue
Very touching story
@Grey, ini bukan khayalan Grey. Si Tante adalah orang yang sangat melindungi dan menerima kami apa adanya. Ia mengasihi kami dengan tulus dan sebisa mungkin selalu menutup telinganya dari omongan miring siapa pun tentang kami. Untuk semuanya itu, aku sangat menghargainya.
Kapan juga ya ortu aku menerima kekasih seperti kamu. Ortu ku dah curiga dengan kami.
Peno pancene bejo rek!
Emank ada kok hidup kaya De Ni, jadi bukan mimpi, contohnya aku, cuma bedanya aku ma partner ga serumah ma mertua. Jadi kadang klo libur ato weekend baru nginap tempat mertua. memang iya sebenarnya bunda dan ayahnya tau tapi pura2 tidak tau heheheh dan bagusnya tidak perlu coming out, yang penting hubungan dengan mertua ga ngaco ntar klo suruh pisah ranjang ma anaknya bisa berabe heheheheh
halah,, berkaca-kaca mataku membacanya..memang ibu adlh mnusia tbaik bgi hdup anknya..
:’(
yatuhan, aku iri
GOD BLESS u..
Wow.. Beruntung sekali. Ngga banyak yang bisa seberuntung itu.. Dijaga yah titipan dari Tuhan.
Semoga aku jg bisa bahagia dengan pasanganku. Bisa diterima tanpa dihakimi, siapapun. Amiin.
Leave your response!
Esensi Espresso
Lesbian, kita kerap mendengar bahwa hari ini harus lebih baik dari hari kemarin. Pepatah bijak itu bahkan tegas mengatakan merugilah orang yang kualitas hari kemarinnya sama saja dengan hari ini dan celaka jika hari ini lebih buruk dari kemarin. Pernahkan kita bertemu teman lama yang rasanya dari zaman mIRC sampai era Whatsapp masih berkutat dengan masalah itu-itu saja? Atau justru orang tersebut adalah diri sendiri?
Lesbian, kehidupan yang berkualitas seharusnya ibarat meniti tangga, terus bergerak dan melangkah lebih tinggi. Pada posisi yang lebih tinggi seharusnyalah kita berhadapan dengan masalah yang lebih menantang. Itu sebabnya SepociKopi menganggat tema ini, untuk mengingatkan kita semua untuk terus meningkatkan kualitas diri dalam bidang apa pun yang kita tekuni.
Lesbian, bulan ini juga kita memperingati hari Pendidikan Nasional. Pendidikan berarti proses pengubahan sikap dan tata laku untuk mendewasakan manusia. Tidak ada cara lain untuk meraih kehidupan yang lebih baik selain terus dan terus mendidik diri. Selamat menikmati didikan SepociKopi untuk seluruh pembaca setia. Peluk dan cium buat semuanya.
Kategori
Visitor Number:
Arsip SepociKopi
Sedang Online
Senggolan Sepocikopi
Stop Press!
Kami mempersembahan kaos SepociKopi yang bakal keren dipakai dalam berbagai acara.
Silakan pilih dan unduh sendiri desainnya, lalu kamu sablon sendiri di kaos warna favoritmu.
Satu desain pasti tidak cukup, dua juga pasti nggak... semuanya saja! Tenang kok, kaosnya sangat lesbian-friendly dan hetero-friendly, jadi nggak bakal ketahuan! Kalau ketemu sesama teman yang juga mengenakan kaos ini, cukup saling melirik penuh arti. Kodenya udah udah dipatenkan di kepala masing-masing bo!
Salam SepociKopi!
Tags
Pembelian Online:
www.gramediashop.com
www.gramediaonline.com
Friendly Reminder
Situs ini adalah situs lesbian nonprofit. Untuk 18 tahun ke atas. Harap keluar dari situs ini jika Anda masih di bawah umur.
Most Commented
www.facebook.com/sepocikopi
www.twitter.com/sepocikopi
Twitter Buttons
Most Viewed
Recent Comments
Switch to our mobile site
Copy Protected by Chetans WP-Copyprotect. Powered by WordPress | Arthemia theme by Michael Hutagalung 61 queries. 0.747 seconds.