Home » Telezkop

te.Lez.kop: Dress Your Butch In…

15 April 2009 199 views 15 Comments

tomboyOleh: Shinigami

Bila berpatokan pada penggolongan lesbian berdasarkan label, maka yang bisa dikatakan menonjol adalah para butch. Malah ada yang sampai berkata kalau butch adalah seorang yang dapat langsung kau kenali sebagai lesbian meskipun kau melihatnya dari jarak 100 meter. Setengah hiperbola dan bercanda, tentu saja. Yang pasti, intinya adalah kehadiran seorang butch di tengah-tengah sekelompok orang dapat dengan cukup cepat ditengarai.

Menurut saya, cepatnya seseorang mengidentifikasi seorang butch cukup banyak berhubungan dengan penampilan. Seorang butch umumnya tak akan mengenakan pakaian yang menimbulkan kesan feminin. Biasanya, yang dikenakan adalah celana panjang atau bermuda dan kaus ataupun kemeja. Tentu saja semuanya lepas dari nuansa feminin: no girly colours especially (God forbid) pink, no ruffles, nothing cute, no bling-bling.

Bahkan dalam suatu kelompok perempuan yang semuanya bergaun dan berdandan feminin pun, bila ada seorang butch yang ikut di sana (karena satu dan lain hal), kau masih bisa dengan cepat mengidentifikasikannya. Besar kemungkinan ia adalah perempuan yang tampak tak nyaman atau pede dengan apa yang dikenakannya. Kalau boleh memilih sendiri gaun yang dikenakannya, bisa jadi yang dipilihnya adalah gaun model standar dengan warna gelap. Sudah cukup tak nyaman berada di dalam pakaian itu, tak perlu lah ditambah dengan menarik perhatian melalui warna-warna pastel apalagi centil. Dan bila kau masih tak yakin, silakan coba sejenak berada di area kamar mandi atau kamar ganti. Umumnya ia adalah orang pertama yang keluar dengan wajah penuh syukur atas penemuan celana panjang, kemeja, dan yang terpenting: alas kaki tanpa hak.

Jangan salah mengira bahwa tulisan ini menertawakan ataupun mengecilkan arti pilihan penampilan kaum butch. Demi jujur atas diri mereka apa adanya, kaum butch harus bertahan dari tatapan mata penuh tanya dan selidik yang, meskipun tak bersuara, sering terasa lebih nyaring dan lebih jembret dari stereo urakan pada kondangan di kampung-kampung. Bukan sesuatu yang mudah. Karena itu, alih-alih menertawakan, saya malah menganggap penampilan mereka menarik untuk diamati dan bahkan ditelusuri. Ya, ditelusuri, dari katakanlah anak-anak, remaja, hingga paling tidak ketika usia kepala tiga.

Pada kelompok usia anak-anak dan remaja, menurut saya, kaum butch tak menemui kesulitan berarti dalam berpenampilan (dengan anggapan ia telah merasa dirinya tak suka tampil feminin sejak dini). Lihat saja, betapa tak apa-apanya anak perempuan pada usia TK hingga SD untuk mengenakan pakaian model laki-laki. Bahkan seorang balita perempuan pun tampak sama menggemaskannya dalam overall biru dan kemeja putih maupun rok terusan merah muda bergambar Winnie the Pooh. Memasuki masa remaja, di saat kebanyakan cewek mulai sibuk mencoba berbagai tren busana dan mengakrabkan diri dengan riasan wajah, masih tak apa-apa bila ada mereka yang lebih memilih bergaya dengan pakaian remaja putra. Paling-paling, predikat tomboi akan dilekatkan pada mereka.

Memasuki usia mahasiswa, tatapan-tatapan cap stereo urakan mulai menyapa. Tetapi masih bisa untuk tak terlalu dipusingkan. Masih oke untuk bergaya dengan kaus, kemeja, celana panjang dari berbagai merek-merek surfing line. Bisa jadi sangat keren malah, dan lirikan-lirikan naksir mungkin mengisi di sela-sela pandangan bernuansa menghakimi itu. Saya cenderung berpikir inilah masa kejayaan gaya pakaian kaum butch. It just feels right.

Kesulitan mulai terasa signifikan ketika ijazah sudah di tangan dan harus mulai mencari kerja. Katakanlah mendekati pertengahan usia 20-an. Kaum butch mulai berurusan dengan dunia lebih luas dengan bentuk hubungan simbiosis mutualisme. Dunia kerja punya standar mereka sendiri bagaimana seorang pekerja perempuan dan laki-laki seharusnya berpakaian, dan para butch tak lagi bisa bersikap tak peduli seperti ketika remaja atau kuliah, sebab mereka kini butuh untuk diterima sebagi bagian dari dunia itu. Tunduk atau tidak tunduk, mungkin itu pilihannya. Maka, berbahagialah para butch yang bisa berwiraswasta, dan karenanya menjadi bos atas diri mereka sendiri, ataupun yang beruntung memperoleh lingkungan kerja yang tak mempermasalahkan penampilan.

Beranjak memasuki pagar usia 30, ketika pramuniaga toko mulai menyapa tak lagi dengan ‘mbak’, tapi dengan ‘ibu’ (memanggil ‘bapak’ hanya akan menyebabkan salah tingkah penuh maaf yang sulit disudahi ketika pramuniaga itu tahu bahwa sosok maskulin di depannya adalah seorang perempuan) – keadaan bisa jadi semakin sulit. Surfing line sudah terlihat agak kekanakan dan tak cocok dipakai ‘ibu-ibu’. Kalau begitu, apa pilihannya? Gaya busana bapak-bapak yang berarti kemeja dengan model dan corak yang membosankan serta celana kain ditambah dengan sepatu pantofel yang secara ajaib terlihat seragam?

Menurut saya, di alam usia 30 ke atas inilah fase yang cukup mengintimidasi terhadap gaya penampilan butch terjadi. Kalau memang tak ingin berbusana seperti bapak-bapak, para butch harus pandai mencari celah agar tak terjebak di dalam gaya tersebut ataupun busana surfing line yang bisa membuat mereka dituduh tak sadar usia. Celakanya, fase ini bisa jadi memolorkan dirinya hingga menjangkau usia 40-an atau bahkan 50-an.

Setelah itu apa? Setelah itu tak usah lagi terlalu khawatir, karena, menurut saya, saat kau melangkah masuk usia 60-an dan puluhan yang lebih besar lainnya, tak ada yang benar-benar peduli gaya pakaianmu. Lampu sorot tak lagi mengikutimu. Ia statis, hanya menimpakan sinarnya pada kenarsisan kaum usia produktif. Kejam memang, tapi setidaknya tak akan ada yang meributkan kenapa nenek itu memakai celana panjang dan kemeja.

@Shinigami, SepociKopi, 2009

15 Comments »

  • jeng_asih said:

    aku jadi inget program permak diri alias make over yang diadakan salah satu televisi swasta. ‘korban’ make over direkomendasikan oleh seseorang yang dekat.

    tadinya aku anggap program ini biasa saja, secara aku dekat dengan dunia beauty dan fashion. hingga satu hari, ternyata ‘korban; makeover tersebut seorang butch. terus terang aku sangat bersemangat untuk mengikutinya.

    hasil akhir? bwahahahahaha, aku gak berenti tertawa. ancur dan bener-bener lucu. si butch yang hobi pake jaket ber-capuchon, celana jeans bahkan kelihatan ‘boxer’nya mengintip, dipermak abies mirip cinderella. tube dress ungu, heels emas dan make up nuansa ungu dan gold yang glamour. rambut pendeknya juga ditata lebih feminim ala Tata Mahadewi.

    Terlihat sekali kalau si butch tak nyaman dengan permak tersebut. Tetapi yang paling bikin dia bahagia, ternyata ibunya si butch (which is yang merekomendasikan si butch untuk ikutan makeover) sangat menyukai perubahan anaknya. akhirnya dia bela-belain seneng dengan perubahan barunya.

    butch memang sosok yang unik. istilah fashionnya, boyish-feminim. hehehehehehe.

    anyway, yang penting nyaman lah. right?
    (intip artikel “inspired from Boy’s Don’t Cry”, index fashion di perempuan.com, inspirasi penampilan buat butch, hehehehe)

  • kei said:

    menurut ku gaya dan penampilan para butch itu keren2..
    aga maskulin gmna gitu..
    pokoknya keren deh.. :P

  • Bintang said:

    Tebel2in telinga aja jadinya….
    Di komen ini itu sama teman kerja, ga tau deh kira2 diomongin d belakang kaya apa…
    Bodo amat…..
    DUduk nyante dikit aja, ada aja temen yg negur “Adohhh, tu duduk manisan dikit ga bisa ya???” :p
    Bener juga tuh, di usia2 pasca mahasiswa, aq jadi “dipaksa” men”cewek”kan penampilan, terutama d t4 kerja. Diluar itu kembali lagi “nyaris semau gue”…. :P

  • simply said:

    tp kadang susah jg klo berpenampilan butch,klo kita idup di kota kecil.kesannya tuh kaya semua ngeliatin.padahal butch ny sendiri santai aja.

  • Summer Bait said:

    Haahaaha.. sapaan mas ato abang ato pak sepertinya uda biasa di terima oleh para butch. Eniwei, gw malah ngerasa cowok malah kalah maskulinnya dibanding dengan butch. Hidup para Butch!!! Tampil seadanya dengan rasa percaya diri dan kebanggaan diantara humanisme di dunia!!!

  • vantaggio said:

    buat g yang penting nyaman n udah terbiasa bodo amat dengan comment yang ad. Paling males kalo ke kondangan bidun mao pake fashion apa. ada saran??

  • Susan said:

    Kalau dunia kerja, cari saja pabrik yang mengharuskan memakai seragam :)

  • keyz said:

    yaelah knp pd binun she sm baju aj..
    pakailah yg menurut xan nyaman…ngapain puzingin kata org.kecuali qt itu telanjang baru dhe qt peduli kata org..
    tul gk mba jeng_asih,untung bukan jeng colin…wkwkwkwk…

  • jeng_asih said:

    @ keyz

    pake baju yang bikin kita nyaman = bener
    pake baju yang bikin orang yang kita sayangi nyaman = bener juga
    pake baju yang bikin kita + orang yang kita sayangi nyaman = BENER BANGET
    gak pake baju = GAK BENER….

    hihihihihhihihi

  • keyz said:

    @jeng_asih
    gak pake baju = GAK BENER << kata sypa gk bener mba??bener bgt itu mah BUT klo dkamar sm pacar wkwkwkwkwkw…..
    peace bunda :D

  • andrea said:

    hahahahaha…..
    wah tulisannya bener semua,tapi g usah peduli dgn penampilan dimanapun dirimu berada jadilah dirimu apa adanya,memang memilih kantorpun harus pandai dengan bekerja di kantor yang tidak mengharuskan untuk berpakaian formal yang penting adalah rapi,namun yang terpenting adalah tunjukan prestasi kerja yang baik di kantor sehingga penampilan adalah bukan yang terpenting lagi….
    lets work :-)

  • bulanbintang said:

    kenapa harus bingung dengan semakin bertambah usia? liat gayanya Ellen de Generes dong ! semakin matang dan semakin cakep :)

  • juno said:

    Lho, memangnya butch dan andro tidak boleh tampil agak ‘feminin’? Dari pengamatan saya, banyak dari mereka yang rajin ke salon untuk merawat kecantikan wajah dan tubuh. Mereka pun biasa merias wajah (make-up). Coba bayangkan, ada butch atau andro yang rapi, bersih, pakai kemeja longgar, lengannya digulung, celana panjang atau jeans ketat, dan bersepatu boots. Alis terawat indah, pipi semu segar, pakai lipstick sewarna bibir, dan… wangi pula! Waduh, femme mana yang tidak akan jatuh cinta? Jadi, kalau Anda butch atau andro, jangan ragu-ragu untuk tampil agak feminin karena Anda akan menjadi makin unik dan berbeda dengan yang lain. (Note: Tidak usah mencoba tampil sebagai laki-laki, non. Jenis ini yang aslinya sudah banyak banget!). Selamat mencoba!

    Salam hangat,
    Juno

  • Hujan said:

    @ juno setujuuuuuuuuuuuuuuuuu…
    butch memang menarik, dengan caranya sendiri…

    kalo mau model cewek2 anak gaul sih banyak….
    tapi kalo ngeliat cewek butch yang oke banget, cowok-cowok jadi juga tinggal gigit jari…

  • Tim said:

    Pernah ngga sih ngebahas soal army butch..?

Leave your response!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.