Home » Tajuk

Tajuk: Let’s Go Green dan Kita

14 April 2009 165 views 6 Comments

go_green_by_xxacgxxpngOleh: Nuha Guwa

Dunia kita yang indah ini mulai mengalami krisis bahan baku . Pahitnya, akibat eksploitasi sumber daya alam gila-gilaan ini kualitas kehidupan di bumi yang semakin merosot. Global warming pun jadi isu aktual yang mencemaskan. Naiknya karbon dioksida dan gas-gas lain yang merusak efek rumah kaca sebagai tabir bumi dari terjangan matahari sehingga membuat ozon menipis juga merupakan ancaman. Negara kita ikut ditekan habis-habisan oleh dunia luar agar mempertahankan sisa hutannya yang terakhir. Kedengaran seperti hutan tak bisa diperbaharui lagi. Bagai tambang bumi yang habis begitu saja. Tentu saja hal ini sedikit banyaknya mendekati kebenaran mengingat untuk mendapatkan hutan dengan tingkat kelebatan yang tinggi, dibutuhkan waktu ratusan tahun.

Sumber hayati yang muncul dari cikal bakal biji, tunas, pohon kecil hingga menjadi rimba raya membutuhkan generasi ke generasi yang mampu membiarkan koloni tersebut hidup sendiri. Tapi kini? Ketika setiap individu mengklaim tiap jengkal tanah bahwa itu hak milik mereka. Kemudian mengambil keuntungan membabi buta tanpa pertimbangan, memang pertanda benar bumi kita sedang dan akan terus mengalami penurunan kualitas hunian. Perubahan iklim menjadi momok yang sangat menakutkan. Prediksi teori suatu saat bumi akan ditenggelamkan oleh air mulai masuk akal jika es di kutub mencair oleh pemanasan global.

Indonesia masih dianggap penting sebagai tameng dan paru-paru dunia. Hutan lebat yang masih tersisa di barat Sumatra hingga ke bagian timur Papua kaya akan flora fauna. Taman nasional yang tak seberapa itu masih memiliki kandungan hayati berharga, sumber oksigen kaya bagi bumi. Namun imbauan pelestarian hutan kita oleh negara-negara luar disambut dengan skeptis, didengar dengan cibiran, diambil dengan rasa curiga. Jangan-jangan sisa hutan yang terakhir itu banyak kandungan minyak buminya, kandungan emas, bahkan uranium yang sangat berharga sebagai bahan baku senjata pemusnah massal, sehingga kita tak boleh mengutak atik. Beberapa ahli apoteker malah mengklaim setengah obat dunia bisa ditemukan di hutan Indonesia. Lalu jika memang hutan-hutan itu memiliki kandungan-kandungan berharga, wajar atau berhakkah kita menyentuhnya?

Pemerintah memang terlihat gigih mengejar para perampok hutan, menjalin kerjasama solid dengan kepolisian agar merazia setiap truk yang sliweran dengan gelondongan, atau kayu jadi. Namun para pencuri kayu ini lebih lihai. Mereka memakai jalur air, cara lama yang masih eksis. Menyewa warga lokal yang tangguh dan mengenal hutan dengan baik. Menurunkan gelondongan dari atas gunung kemudian menggiringnya dini hari dari sungai, di sana langsung ada yang menampung dan menyulapnya sebagai kayu-kayu balok siap jadi. Tinggal cara mengangkut yang perlu diakal-akali untuk mengelabui razia.

Ini hanya bagian kecil sekelumit tentang nyaris punahnya Hijau di tanah kita. Bagaimana dengan kesadaran lingkungan yang lain? Kita masih santai mengendarai mobil meski jarak yang dituju hanya sejengkal. Membiarkan air conditioning megap-megap mendinginkan supir kita yang tidur nyaman di tempat parkir. Memilih menghidupkan mobil dan makan nangkring di pinggiran jalan dengan mesin pendingin yang terus menyala. Alat-alat elektronik yang tak hemat listrik. Memiliki kulkas lebih dari satu untuk sebuah keluarga kecil. Televisi di tiga kamar yang terus menyala tanpa ada yang menonton. Lampu-lampu yang menghiasi jalanan dan kota kita agar terlihat wah dan gemerlap di malam hari. Sungguh sebuah kenyataan yang tak bisa kita pungkiri.

Konfrensi Tingkat Tinggi terkait perubahan iklim tiap tahun diadakan di setiap negara, berpindah-pindah dari satu lokasi indah ke lokasi indah yang lain. Hasilnya? Belum terlihat signifikan. Bahkan sampah masih terlihat menggunung tak jauh dari lokasi KTT tadi. Lihat saja setiap kita yang keluar swalayan dengan beragam sampah baru yang akan ditumpuk di tong sampah rumah. Berapa banyak plastik kresek yang kita gotong pulang? Kapan kita mulai menolak barang-barang yang tak ramah lingkungan ini ? Kita tak pernah sadar dengan sampah-sampah yang memang kini bisa didaur ulang. Namun untuk mendaur ulang pun kita butuh bahan bakar. Lagi-lagi semua sumber energi ini dikuras habis dari perut bumi. Kapan lagi kita belajar berhemat? Kapan kita menyadari bahwa fosil minyak bumi itu lama-lama akan semakin langka. Meskipun pencarian energi alternatif diupayakan, namun tetap saja bahan bakar minyak masih menjadi komoditi andalan setiap negara. Bahan bakar nabati yang konon dapat menggeser ketergantungan dengan minyak bumi juga berati dimulai dengan aksi menanam pohon. Lalu kapan lagi kita tanami halaman rumah dengan pohon-pohon baru?

Jika perempuan negara seperti Michelle istri Barrack Obama berani bertanam sayur mayur di halaman Gedung Putih. Ibu Ani SBY mencanangkan kelahiran satu bayi dengan menanam satu pohon, tentu sebuah langkah yang patut mendapat dukungan kita. Gebrakan perempuan didukung oleh para perempuan. Sebagai segelintir bagian dari perempuan tentu kita para lesbian tak seharusnya acuh dengan gerakan Go Green ini. Bagaimana jika tanda cinta dengan kekasih ditandai dengan menanam pohon? Peringatan hari pertemuan ditandai dengan satu pohon? Putus dengan kekasih ditandai dengan satu pohon? Keberhasilan di tempat kerja ditandai dengan menanam satu pohon? Memenangkan pertandingan olahraga atau kegiatan dengan menanam lagi satu pohon? Atau jika dana-dana itu berlebih bersama patner mendatangi desa-desa yang tak jauh dengan lereng bukit gundul. Menyerahkan bibit-bibit pohon produktif buah-buahan atau tanaman keras, jati, durian, cengkeh, atau kayu manis yang benar-benar bisa menghasilkan, sehingga warga setempat merasa memiliki manfaat menanaminya.

Tentu sebuah dunia yang masih hijau, hunian tempat tinggal ramah lingkungan, bebas polusi, bebas sampah dan sumber makanan yang bisa dinikmati tanpa perlu mengeluarkan uang menjadi mimpi kita semua. Mari teman-teman lesbian, kita ciptakan dunia kita yang go green!

@Nuha Guwa, SepociKopi, 2009

6 Comments »

  • em said:

    Tanda cinta ma partner ditandai dengan nanem pohon..? Hmmm inspiratif, idenya lucu and bole jg ;) tapi lebih seru lg klo pas brantem, nanem pohon, baekan nanem pohon.. kebayang kan ngak keitung pohon yang bakal tumbuh ntarannya, klo nanemnya di halaman rumah– kebayang deh bisa buat hutan baru :)

    -em

  • mollyajah said:

    Aku paling enggak ngerti sama orang yang nyampur-nyampur sampah rumah tangga, sampah basah dicampur ma kertas, dan botol, dipisahinkan pemulung gampang ngambilin barang yang bisa didaur ulang.

  • vantaggio said:

    semangat dalam go green. gk bisa bayangkan kalo bentar lagi bumi ini akan hancur….

  • Ghara said:

    1 area tanam pohon untuk putus cinta…
    1 area tanam pohon untuk gebetan baru…
    1 area untuk raihan prestasi…
    1 area untuk kegagalan…
    4 area itu menjadi indikator kita…
    Menjadi lebih baik… Atau bertambah buruk…

    But most of all, start from ur self…
    Aku sudah memulai…
    Tidak mengisi bensin pada siang hari…
    Mengurangi dampak menipisnya ozon…
    Yang kecil saja dulu…

    *) Why don’t you…???

  • tiek said:

    tanam pohon? aku setuju tapi kalo lahan ga ada gimana?
    memanfaatkan kertas bolak balik, memanfaatkan air bekas bilasan mencuci baju untuk keperluan lain, misalnya untuk membersihkan kamar mandi, untuk membersihkan ember. aku dah memulai kecil-kecil. ayo teman kita mulai dari yang bisa kita kerjakan! OK?

  • vantaggio said:

    aku save the earth dengan bervegetarian.

Leave your response!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.