Oleh: Oryza Sativa
Perselingkuhan satu, dua, dan tiga. Saya menomori ketiganya secara kronologis. Yang pertama dan kedua terbuka sendiri seperti stoples kaca yang pecah, tanpa repot-repot saya perlu membantingnya. Yang ketiga lebih ironis, miris, dan nyeri—karena kekasih saya sendiri yang mengakuinya. Celakanya, saya kenal si perempuan nomor tiga ini. Bahkan saya baru saja pulang dari mengunjunginya, saat kekasih saya menelepon dan mengakui segalanya.
Jangan tanya pada saya rasanya seperti apa. Mungkin di antara pembaca ada yang pernah ingin melempar kontainer ke arah pasangan saat mengetahui kejujurannya. Mungkin juga ada yang biasa-biasa saja, karena terbiasa diselingkuhi. Mungkin juga ada yang langsung masuk UGD karena serangan jantung mendadak. Mungkin juga ada yang nekat bunuh diri. Entahlah, terlalu banyak kemungkinan yang tidak mungkin saya rangkum. Yang jelas, saat itu juga saya merasa ingin meremas kekasih saya berikut perempuan-perempuan yang pernah gelayutan di hidupnya dalam sekali remas. Kemudian debunya saya masukkan ke lubang jamban.
Ah, senangnya!
(Tetapi pada kenyataannya, segala sesuatunya terlihat lebih mulus hanya di permukaan)
Saya tidak tahu, semudah apa orang lain memaafkan kesalahan. Yang saya tahu, bagi saya hal itu sulitnya setengah mati. Ya, saya tahu bahwa manusia tidak luput dari kesalahan. Tapi saya juga tahu kalau saya lebih pandai menghukum daripada memaafkan.
Lantas itulah yang saya lakukan. Alih-alih memaafkan kelakukan kekasih, saya pilih menghukumnya. Sebagai ganti perlakuannya terhadap saya. Tengah malam saya mengirim sms mencak-mencak berisi protes, bahwa saya sudah tidak tahan lagi bertahan di hubungan kami. Setelahnya, saya matikan handphone dan acara saling menyakiti dimulai keesokan harinya—nyaris sore saat itu. Dia menangis, saya menangis. Dia menyatakan penyesalan-penyesalannya dan saya ngotot bahwa penyesalan-penyesalannya sudah terlambat. Sangat terlambat. Saya capek dan sedang tidak butuh kondisi yang labil. Saya butuh menyelamatkan diri sendiri. Harus. Saya ingin egois seperti yang pernah dia lakukan. Pokoknya bagi saya, hubungan kami sudah game over.
Jangan kira kondisi saya baik setelahnya. Sebaliknya, saya berada dalam kondisi down-to-bottom-of-my-ass banget (tapi yah, masih lebih baik sakit hati daripada sakit gigi). Dia masih menghubungi saya, baik lewat telepon maupun sms. Masih dengan kalimat-kalimat penyesalan yang saya balas dengan ceramah panjang lebar penuh emosi tentang perselingkuhan, cinta, tuhan, dan keyakinan. Sampai akhirnya dia mengerti, bahwa saya sedang tidak ingin diganggu sama sekali dan SMS-SMS-nya pun berhenti.
Saya lega. Saya tenang. Saya senang. Untuk sesaat.
Selama kondisi bobrok itu, saya banyak-banyak ngobrol dengan orang-orang di sekitar saya. Tidak peduli mereka kenal dekat dengan saya atau tidak, yang penting bicara. Saya ngobrol dengan sahabat-sahabat, yang sepertinya sangat ingin melempar kekasih saya dengan bom atau mencemplungkannya ke dalam sumur penuh buaya. Bahkan dosen saya berbaik hati untuk meluangkan waktunya agar saya dapat bincang-bincang privat dengannya. Dengan sabar tapi penasaran, dia menunggu cerita saya. lalu pelan-pelan tapi pasti, dia menasihati saya. Beliau berkata, “Saya rasa keputusan yang kamu ambil sudah benar. Tetapi pada saatnya kamu harus memaafkan dan memberi toleransi. Karena saya bisa melihat, seberapa dalam perasaan kalian.”
Ouch. Dalam.
Tepat dua hari setelah perbincangan itu, meledaklah perang dunia ketiga (baca: saat kekasih saya mengakui perselingkuhan nomor tiga). Dari pinggir jalan, masuk ke dalam mobil, sampai rumah teman saya, mulut saya berhasil meloloskan sampah-sampah kebun binatang tanpa saringan, hanya untuknya yang terkasih. Rasanya seperti menembakinya dengan kotoran hewan busuk kemudian saya sadar, ternyata marah-marah itu bikin capek.
Tapi saya senang! Saya lega!
Sungguhan kali ini. Aneh ya? Memang. Setelah tenang, baru saya telaah lagi sebab musababnya kesenangan dan kelegaan yang sungguh-sungguh itu. Menakjubkan hasilnya. Saya senang dan lega setelah menemukan kejujuran dan keberanian yang saya cari sejak lama. Saya menghargainya. Lantas dia bercerita tentang hari-hari yang menimpanya yang saya simpulkan sebagai karma dari kelakuannya selama ini. Padahal sudah saya ingatkan sejak lama, karma does exist, da(dar gu)ling.
Malam itu juga kami ngobrol dengan keintiman yang sudah hilang entah sejak kapan. Keintiman yang saya tunggu-tunggu sampai bosan, yang saya rindukan sampai hati saya berkarat. Mumpung suasana sedang bagus, sekalian saya beberkan konsekuensi-konsekuensi yang akan diembannya jika berhubungan dengan saya. Kata seorang teman, kami seperti sedang menyerahkan dan menerima bendera perdamaian. Dan saya rasa frase itu tepat, saya menerima bendera perdamaian darinya dengan syarat: kontrak perilaku. Saya menuntut keseimbangan dalam hubungan.
Lantas saya tekankan, tidak mudah untuk mendapatkan kepercayaan saya kembali. Saya rasa dia menyadarinya, karena dua tahun sudah lebih dari cukup untuk mengenal siapa saya dan bagaimana saya ketika ingin bertindak sesuka hati. Saya katakan padanya, saya ingin bersenang-senang setelah trauma-trauma batin. Saya minta padanya, untuk membiarkan saya mengatakan apapun yang saya suka, sekalipun isi pembicaraan saya tidak masuk akal. Saya katakan padanya, saya tidak tahu berapa banyak kesempatan dan kepercayaan yang mesti saya beri. Saya katakan padanya, kalau dia mengulangi kesalahannya saya akan mengeliminasinya dari kehidupan saya seperti kontes-kontes nyanyi itu lho. Tidak lupa, saya minta kekasih untuk membaca buku-buku kesukaan saya supaya dia sanggup mendengarkan saya ngoceh amburadul tentang buku-buku itu. Dan tuntutan serta peringatan lainnya.
Tahu-tahu malam itu sudah beranjak pagi. Saya masih ingin memeluk keintiman yang baru saja datang. Tapi keintiman tidak boleh saya lahap malam itu juga. Masih akan ada malam-malam berikutnya, diselingi emosi-emosi ekstrim dan kesempatan untuknya membuktikan kontrak perilaku yang telah kami sepakati. Saya memutuskan untuk memberinya kesempatan dan toleransi, setelah hati saya berkata seperti itu. Lagi-lagi mengutip dosen saya, “Suara hati adalah suara tuhan.” Kalimat itu mempertegas jalan keluar dari konflik batin yang melelahkan. Saya tidak jadi pergi ke psikolog untuk anger management. Ke depannya, saya ingin memperdalam ilmu hukum.
Hidup memang penuh kejutan.
@Oryza Sativa, SepociKopi, 2009
oryza sativa
April 10th, 2009 at 10:22 pm
gambarnya lucu hakhakhakhakhak
Jo
April 11th, 2009 at 9:52 am
Rasanya ga karuan ya, sist. Berada dalam dilema. Melepaskan partner yang berselingkuh sama sakitnya dengan memaafkan dia dan tetap bersamanya
tiek
April 11th, 2009 at 1:22 pm
sakitnya dikhianati kekasih, lebih sakit kita mutusin dia …… aduh maak dada ini sesek ga bisa napas. mungkin karena ga ada ikatan yang legal tu ya jadi seenaknya aja bertingkah …..
aku belum siap untuk mengambil keputusan menyudahi hubungan meskipun aku lebih sering sakit hati karena cemburu.
Aku sangat menyayangi dia. Cintaku ke dia cinta mati. hualaaaah sumpeh ni.
Sinyo
April 11th, 2009 at 1:43 pm
kontrak perilaku, boleh juga OS… hakhakhakhakhak
oryza sativa
April 11th, 2009 at 9:21 pm
to jo: setelah kutimbang2, rasanya lebih baik dan menyenangkan buatku saat memaafkan dan bersamanya lagi. rasanya lebih lega dan lega. ghihihihihi. perasaan aneh yang menyenangkan.
to tiek: be patient! (bete juga sama kalimat sabar ini)
to sinyo: aku kan meminjam frase dari ibu. hahahahhaa. seperti yang telah diperbincangkan, ahli hukumnya disini adalah mahmudin dan misty sebagai saksinya. ahahahahaha
keyz
April 12th, 2009 at 1:26 pm
sedikit sadis she but y mgkn itu yg mesti dlakukan x
Niga
April 12th, 2009 at 7:56 pm
Memafkan dan mendoakannya selalu adalah hal pertama yang aku lakuin buat dia supaya hatiku tenang. But, untuk urusan selingkuh, aku belum pernah balikan ma ex-ku. Krn aku pikir, selagi aku masih bersamanya, tidak pernah ada niat untuk selingkuh dng yang lain. Aku bisa, knp dia gak?
oryza sativa
April 12th, 2009 at 9:48 pm
to keyz: nggak sadisnya itu, kalo kuiris-iris baru sadis kali ya?
to niga: ah ja, i have the same question ahahahahahah
Nisha
April 13th, 2009 at 9:52 am
Apakah memaafkan adalah solusi dari semuanya? Gimana kalo ternyata dia selingkuh lagi, lagi, lagi dan lagi? Mungkin yang terbaik adalah berpisah dan jangan pernah kembali pd pasangan yg pernah menyelingkuhi kita. Msh byk wanita baik diluar sana kok:)
oryza sativa
April 13th, 2009 at 10:15 am
to nisha: bicara masalah solusi, akan menjadi relatif pada setiap individunya. ah ja, itu karena manusia memang dibikin unik dan tak seragam oleh causa prima.
Ri
April 13th, 2009 at 6:17 pm
Jd udh baikan lg skrg?
Senang ya bisa kembali saling cinta.