Bengkel Menulis: Editorial, Kilas Balik
Oleh: Lakhsmi
Kalau sering membaca koran, coba ingat-ingat apa yang dilihat pada lembar-lembar halamannya. Isinya adalah berita, artikel feature, dan iklan. Kalau kita teropong lebih dalam lagi, perhatikan baik-baik bahwa setiap media memiliki editorial. Apakah editorial itu?
Editorial adalah kata pengantar dari redaksi. Meskipun namanya editorial, itu tidak berarti penulisnya harus berasal dari anggota redaksi. Masing-masing media mempunyai ciri khas nama untuk menjadikan judul tulisan itu. Misalnya, Intisari menyebutnya sebagai “Dari Kami”. GetLife menyebutnya “Read Me First”. Kompas menyebutnya “Tajuk Rencana”. Dan kami di SepociKopi menyebutnya “Tajuk”.
Editorial yang terkenal adalah New York Times dengan kolomnis seperti Paul Krugman, Thomas Friedman, Gail Collins, dan lain-lain. New York Times memiliki tulisan-tulisan editorial yang meleganda dan sangat berpengaruh, bahkan beberapa tulisannya memenangkan penghargaan Pulitzer. Jika diperhatikan baik-baik, tulisan-tulisan editorial yang menonjol di media raksasa tidak mengambil posisi mayoritas, melainkan mengambil pandangan unik dari kacamata berbeda dan sering kali mengelak keumuman. Mengkompromikan pendirian dan penilaian demi pilihan kebersamaan adalah suatu hal yang tidak menarik untuk diangkat oleh penulis editorial terkenal.
Jurnalistik memiliki tiga resep untuk menghasilkan karya editorial yang berbobot. Pertama, penulis harus bisa melihat isu penting yang sedang merajalela di komunitas. Kedua, penulis harus bisa menciptakan argumentasi dari berbagai sisi sambil mempertimbangkan pihak oposisi yang berbeda sehingga kedalaman poin-poin yang diangkat mengena untuk semua. Ketiga, penulis harus lantang menjelaskan pandangannya untuk menanggulangi masalah tersebut.
Beberapa koran meletakkan editorial di halaman pertama, tapi kebanyakan editorial diletakkan di halaman kedua. Karena itu, Tajuk SepociKopi juga tidak muncul pada hari Senin – hari pembuka dalam satu minggu, tapi dia memiliki kehormatan untuk duduk di hari Selasa, hari kedua dalam tujuh hari. Jangan salah duga dengan menganggap isi editorial sebagai kata pengantar dari seluruh artikel atau berita yang akan muncul di media. Jangan salah duga dengan menganggap editorial sebagai berita murni yang tidak pantas diimbuhi dengan opini penulisnya. Juga jangan salah duga dengan menganggap editorial seharusnya di-back up dengan berita investigasi yang detil dan menyeluruh. Secara sederhana, editorial adalah tulisan yang mengupas pandangan, opini, atau paham terhadap berita terbaru, peristiwa, atau kejadian-kejadian yang menggelisahkan.
Editorial ini sangat unik, sehingga dia memiliki kekhasan yang tiada dua. Tulisannya bersifat untuk memengaruhi pembaca untuk setuju pada tema-tema yang diangkat olehnya. Sangat jelas editorial menentukan posisinya dengan lantang, seperti kanan (konservatif), tengah (liberal), atau kiri (sosialis) pada pandangan-pandangan politisnya. Penulis yang membingkai kolom editorial mewakili media sehingga dia harus mampu merepresentasikan visi dan misi dari dewan direksi/redaksi. Yang jelas, tulisan editorial tidak boleh takut pada kontroversi; bukan hanya bertujuan untuk menciptakan isu dalam masyarakat yang madani, melainkan juga menghasilkan respons dari publik.
Mochtar Lubis adalah seorang penulis editorial, sangat terkenal pada zamannya. Beliau memimpin surat kabar Indonesia Raya yang mengalami pembredelan selama enam kali dan akhirnya terpaksa harus menyerah kalah melawan tirani. Tulisan-tulisannya singkat, berani, langsung ke sasaran, bahkan pada paragraf-paragraf pertama. Mochtar Lubis setia mengangkat isu yang terjadi di sepanjang kehidupan bernegaranya dan beliau patuh terhadap aturan profesional editorial. Kolom editorialnya membuat penguasa kelabakan dan panas telinga sehingga mereka tidak segan-segan membunuh hak kebebasan berpendapat masyarakat.
Ada empat jenis editorial yang dapat dibedakan dari isinya. Editorial intepretasi, editorial kritik, editorial persuasif, dan editorial memuji. Jenis yang terakhir (editorial memuji) nyaris jarang ditemui, yang sering dilakukan adalah tiga jenis editorial lainnya. Semua jenis editorial di sini adalah membantu pembaca untuk melihat berbagai masalah sensitif dan terbaru yang terjadi di masyarakat, dimulai dengan cara menutupinya atau mengalihkannya, mengkritisasinya, menghadirkan solusi, dan menyoroti penanggulangannya. Editorial yang baik mampu memperlihatkan perspektif yang bersifat edukatif, informatif, dan juga provokatif dalam dimensi yang positif.
Kolom editorial memang bukan kolom favorit yang dibaca seketika dan terlebih dahulu. Ini yang menjadi pertanyaan bagi banyak orang sekarang, khususnya di Amerika yang penduduknya sebagian besar berpendidikan tinggi dan mampu menyimpulkan opini pribadi terhadap peristiwa-peristiwa yang terjadi: seberapa perlunya tulisan editorial di sebuah media? Namun, sampai detik ini, media tetap memiliki kolom editorial dan terus menjadi kolom kebanggaan. Editorial – dalam posisinya yang bukan di halaman pertama dan bukan kolom yang paling dicari pembaca – tetap gagah perkasa dan berkibar. Suaranya konsisten, kuat, dan mampu menjadi nyawa sebuah media yang dihormati masyarakat.
@Lakhsmi, SepociKopi, 2009














Aku baru tahu mbak ternyata TAJUK seperti ini ceritanya, tapi aku suka ada web lesbian yang berani menyuarakan pendapat umumnya tentang kejadian aktual di Indonesia dan dunia. Sungguh aku terharu kita punya web les seperti ini.
Leave your response!