Era Baru Gerakan Lesbian Indonesia
Oleh: Alex
“Tolong biarkan saya untuk terus berjuang melalui tulisan dan karya sastra.” (Sobron Aidit)
Selamat datang di majalah lesbian on line pertama di Indonesia. Tirai sudah disibakkan, era baru telah tiba. Era lesbian yang menujukkan keberadaan dan visibilitas mereka melalui tulisan. Tidak hanya satu atau dua tulisan tapi ribuan tulisan, yang masih akan terus bertambah setiap harinya.
Sejak imperialisme dikenal di muka bumi, para penguasa dan penjajah lebih takut pada kekuatan pena daripada kekuatan senjata. Imperialis melakukan tindakan divide et impera dan pembodohan secara berkelanjutan terhadap pihak yang direpresi. Kita bisa membaca sejarah panjang bagaimana cara penjajah dan rezim Orde Baru sukses melakukan proyek pembodohan dan penciptaan keadaan ketakutan pada rakyatnya terus-menerus.
Menulis adalah perlawanan. RA. Kartini dan founding fathers kita telah membuktikan keampuhan pena mereka hingga bisa menggoyahkan kekuasan dan hegemoni penguasa. Setelah ratusan tahun dijajah, para pendiri bangsa ini memulai perlawanan melalui tulisan dengan mendirikan surat kabar Medan Prijaji pada tahun 1903, yang dipimpin oleh R.M Tirtoadisuryo. Melalui media ini, pertama kalinya kaum bumiputera melantangkan suara mereka di bawah represi Hindia Belanda. Surat kabar inilah yang kemudian menjadi inspirasi tokoh-tokoh seperti H.O.S Tjokroaminoto, Ki Hajar Dewantara, hingga Soekarno.
Perjuangan melalui pena ini efektif menyulut rasa kebangsaan, membangun kaum intelektual, dan membentuk idealisme, meskipun pada masa itu hanya orang-orang kaya dan berpendidikan saja yang paham baca tulis. Tapi coba bayangkan, seandainya para pelopor pejuang Kebangkitan Nasional tahun 1908 itu tidak pernah menulis, tidak pernah menyampaikan gagasan mereka, tidak pernah menitipkan inspirasi mereka melalui tulisan hanya karena cuma segelintir orang saja yang bisa menikmati tulisan mereka. Mungkin takkan ada Soekarno atau Hatta yang pada generasi selanjutnya menjadi motor pergerakan nasional hingga membawa Indonesia menuju kemerdekaan.
Menulis bukanlah sekadar menulis. Melalui medium ini, lesbian mengapresiasikan pengalamannya sebagai lesbian, memberikan opininya terhadap situasi masyarakat, dan mengkritisi komunitas lesbian agar menjadi lebih baik. Melalui proses ini pula, lesbian bisa mengenali persoalan, mengobservasi, meresponsif, dan mengartikan barometer realitas yang dihadapinya. Dan pada ujungnya, tulisan akan melahirkan kesadaran perseptif terhadap diri sendiri dan juga terhadap komunitas lesbian secara menyeluruh.
Pada masa Orde Baru, pemerintah melakukan sensor ketat terhadap tulisan-tulisan yang beredar di masyarakat. Koran-koran dibredel, buku-buku dibakar, penulis yang berani menyentil pemerintah dipenjara. Ada alasan mengapa pemerintah Orde Baru melakukan mutilasi informasi, sensor, “cuci otak” melalui buku-buku pelajaran sekolah yang diseragamkan. Karena mereka paham benar bahwa satu gagasan bisa memunculkan embrio pemberontakan yang tak akan bisa dibendung. Mereka tahu manusia bisa tewas dihajar peluru tapi gagasan tidak bisa dibunuh, dan sekali disebarkan langsung menginfeksi bak virus ke benak pembaca. Hal itu membuat waswas orang-orang yang selama ini duduk nyaman sambil menebarkan kondisi ketakutan dalam benak kita.
Pramoedya Ananta Toer dan Sobron Aidit adalah dua tokoh terbuang yang tak henti menyuarakan perjuangan lewat tulisannya. Membuktikan bahwa di mana pun kau berada, apa pun media atau sarana yang kaumiliki, tidak ada seorang pun yang bisa menghentikanmu menuang gagasan perjuangan. Tubuh boleh dipenjara, tapi gagasan dan pikiran yang digulirkan lewat tulisan bisa melampaui kungkungan fisik.
Selama dua tahun, SepociKopi telah membuktikan apa yang ditakuti oleh rezim masa lalu itu memang benar. Bukan sekali-dua kali kami menerima komen-komen tidak sedap, makian melalui e-mail, atau intimidasi dari masyarakat umum maupun sesama lesbian yang merasa terancam dengan catatan dan analisis tulisan kami yang vokal. Tapi kami takkan pernah berhenti. Kami akan terus bergerak dan maju. Jika kami boleh berdoa sekarang, kami hanya berharap para penulis diberi obor abadi yang akan jadi sumber untuk terus menyalakan senoktah bara di hati kami. Bara yang akan terestafetkan kemudian menimbulkan kobaran dan semangat kebaikan di hati para pembaca.
Tulisan-tulisan di SepociKopi mengajak lesbian Indonesia untuk membuka wawasan, membentuk gerakan baru, dalam konsep visibilitas dalam gerilya. Apa pula maksud istilah ini: “visibilitas dalam gerilya”? Penulis-penulis di SepociKopi memberikan visibilitas terhadap keberadaan lesbian yang selama ini tak kasatmata. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, gerilya adalah cara berperang yang tidak terikat secara resmi pada ketentuan perang, biasanya dilakukan secara sembunyi dan tiba-tiba. Sejak zaman peperangan, penjajah selalu takut dengan perang gerilya ini; perang yang melawan hantu. Di sini, di pojok dunia maya kita membentuk komunitas on line yang menyebarkan jejaring virus gagasan ini.
Di dunia realitas, kita bergerak secara bergerilya. Di antara perempuan-perempuan lesbian yang duduk di balik meja menentukan nasib investasi miliaran rupiah, hingga yang berada di jalanan mempertaruhkan nyawa mereka demi sesuap nasi. Merasuk di antara perempuan-perempuan penguasa hingga buruh. Menggeliat di antara benak perempuan dosen hingga remaja sekolah menengah. Siapa pun atau apa pun kamu, coming out atau tidak, lajang atau telah menikah, ikut menulis atau tidak, satu hal yang harus diingat, tetaplah bangga menjadi dirimu. Bangga menjadi lesbian, perempuan, dan terutama bangga menjadi manusia.
Seribu lebih tulisan ada di majalah on line ini, dimulai dengan satu tulisan. Sudah jauh langkah yang telah diayun sejak saya dan Lakhsmi mulai menulis apa yang menjadi kegelisahan kami. Dimulai dengan ide sederhana namun ternyata dasyat. Satu menjadi dua, dua menjadi tiga, dan seterusnya. Gagasan meledak, menyebar, dan tak terbendung. Penulis-penulis luar biasa datang kepada kami dengan suka hati. Mereka adalah para perempuan yang berpendidikan tinggi, memiliki posisi baik pada bidang pekerjaan yang digeluti, dan juga memiliki daya tawar besar di masyarakat. Sebagian besar di antara mereka menulis di antara kesibukannya saat menjadi pengambil keputusan krusial yang memengaruhi nasib ratusan karyawan di perusahaan yang dipimpinnya, di antara sela waktu mendidik anak-anak jalanan, di antara kericuhan ketika sibuk melobi penguasa, di antara kerepotan menjadi seorang ibu, di antara mencuri waktu dari beban tugas yang ditimpakan atasan, atau di antara rapat-rapat budaya dan sastra. Tapi mereka tetap meluangkan waktu untuk menulis – dengan sukarela – tidak jarang dikejar deadline tulisan di SepociKopi bahkan juga ditekan tugas ujian mid-term serta tanggungjawab penyerahan paper minggu depan. Perempuan-perempuan hebat yang membuat saya harus berhenti, mengangkat gelas, dan membungkuk dalam-dalam berterima kasih atas segala uluran bantuan yang tak ternilai selama dua tahun ini.
Sejujurnya, gerakan ini bukanlah gerakan baru. Ini adalah gerakan berkelanjutan. Puluhan tahun lalu, perempuan-perempuan lesbian lain sudah melakukan gerakan mereka dengan cara yang berbeda sesuai dengan cara praktis dan kemajuan teknologi yang ada pada masa itu. Saya cukup beruntung bisa mengenal sejumlah aktivis lesbian hebat yang tidak pernah berhenti berjuang dan bergerak selama puluhan tahun. Dari mereka saya mendapat banyak buah pikiran dan kekuatan untuk memulai gerakan baru ini. SepociKopi hadir untuk melengkapi gagasan perjuangan yang sudah ada sebelumnya. Saya berutang banyak gagasan dan inspirasi dari gerakan lesbian sebelum ini.
Kini pada tahun 2009, seratus satu tahun setelah kebangkitan nasional, kita memulai gagasan tentang kebangkitan lesbian Indonesia. Suatu era kebangkitan lesbian melalui tulisan yang penuh gagasan dan inspiratif, selain informatif. Tulisan-tulisan di sini akan tetap hidup, lama setelah penulisnya tiada. Tulisan-tulisan di sini nantinya juga menjadi rekaman catatan sejarah lesbian Indonesia, menjadi embrio untuk perjuangan selanjutnya. Di masa depan, lima atau sepuluh tahun dari sekarang, saya percaya akan lahir generasi lesbian Indonesia dengan era baru mereka, yang diestafetkan oleh kita, dengan gerakan baru yang saya yakini akan membawa lebih banyak kebaikan bagi kita semua.
@Alex, SepociKopi, 2009









Standing ovation for a very moving speech.
*Lakhsmi
Hidup SepociKopi !!!!
Semoga perjuangan ini akan membuahkan hasil yang lebih baik kedepannya. Mari kita berjuang bersama. Bukan dengan senjata dan kekerasan, tapi dengan pena dan pemikiran-pemikiran kita.
Sekali lagi, Hidup SepociKopi!!!!
kalau alex jadi caleg, aku pilih alex!
High five !
semoga orde baru nggak akan terulang lagi.
amin.
lex….mestinya lu nulis di jurnal perempuan deh. sekalian utk lbh mengangkat sepoci kopi ke tingkat “nasional”
saya akan dukung,,,,
semoga saja saya bisa mulai menulis
dengan membaca,,,,
saya boleh minta kisah-kisah kapan kalian menjadi lesbi gak?
dan pada tanggal 2 nov say ajuga akan mementaskan naskah tentang lesbian berjudul ” Hysteris Banana Split ” karya Prihardono. jam 7 malam di Gelanggang remaja Jakarta Barat. Kalau bisa datang ya…. maka itu sya butuh data dan riset tentang dunia lesbi…
kalau tidak mengganggu saya ucapkan terima kasih…
Leave your response!
Esensi Espresso
Lesbian, bulan Februari yang beraroma romantis mulai tampak. Apakah cinta? Pada hubungan percintaan lesbian yang tak bisa terikat dalam landasan pernikahan, banyak lesbian yang terjatuh pada kebingungan, ketakutan, dan ketidakpastian. Di mana pegangan untuk masa depan?
Lesbian, cinta bagi pasangan lesbian tentu membutuhkan perjuangan keras agar hubungan jangka panjang bisa terjadi. Banyak tantangannya dalam berkomitmen, misalnya kesetiaan, finansial, keluarga, perbedaan, dan lain-lain. Bisakah kita menjalaninya? Berapa lama pasangan lesbian bisa bertahan? Konon ada yang mengatakan bahwa usia pasangan lesbian tak bakal melewati satu tahun. Ah, tentu tidak benar!
Lesbian, untuk menjadi pasangan yang langgeng sampai nenek-nenek, kita bisa belajar dari teman-teman lesbian yang lain yang sudah bersama selama bertahun-tahun. Delapan tahun? Dua belas tahun? Lima belas tahun? Dua puluh tahun? Bisakah kita mencuri kebijaksaan mereka dan mengaplikasikannya ke dalam kehidupan percintaan agar kita pun bisa berbahagia dengan pasangan sampai nenek-nenek? Pastinya dong! Selamat merayakan cinta dalam arti yang sepenuh-penuhnya. Peluk cium untuk segenap pembaca SepociKopi tersayang.
Kategori
Visitor Number:
Arsip SepociKopi
Sedang Online
Senggolan Sepocikopi
Stop Press!
Kami mempersembahan kaos SepociKopi yang bakal keren dipakai dalam berbagai acara.
Silakan pilih dan unduh sendiri desainnya, lalu kamu sablon sendiri di kaos warna favoritmu.
Satu desain pasti tidak cukup, dua juga pasti nggak... semuanya saja! Tenang kok, kaosnya sangat lesbian-friendly dan hetero-friendly, jadi nggak bakal ketahuan! Kalau ketemu sesama teman yang juga mengenakan kaos ini, cukup saling melirik penuh arti. Kodenya udah udah dipatenkan di kepala masing-masing bo!
Salam SepociKopi!
Tags
Pembelian Online:
www.gramediashop.com
www.gramediaonline.com
Friendly Reminder
Situs ini adalah situs lesbian nonprofit. Untuk 18 tahun ke atas. Harap keluar dari situs ini jika Anda masih di bawah umur.
Most Commented
www.facebook.com/sepocikopi
www.twitter.com/sepocikopi
Twitter Buttons
Most Viewed
Recent Comments