te.Lez.kop: Side by Side and Cheek to Cheek
oleh Shinigami
Beberapa waktu lalu saya sempat keluar mencari jajanan bersama mantan pacar. Bukan tempat yang mentereng, cukup di warung jagung dan roti bakar dekat kosnya. Sambil menunggu pesanan, kami sedikit mengobrol. Namun di sela-sela obrolan, ketika kami tak lagi berkata-kata, perhatian saya teralih pada sepasang kekasih yang duduk di meja ujung. Pasangan itu sebenarnya biasa saja, mulai dari dandanan hingga wajah tak ada yang berlebihan ataupun kurang. Yang menarik bagi saya adalah posisi duduk yang mereka pilih.
Setiap meja di warung itu dilengkapi oleh bangku kayu di kedua sisinya. Setiap bangku cukup panjang untuk bisa ditempati oleh dua orang dengan nyaman. Dengan bangku seperti itu, pasangan yang menarik perhatian saya malam itu memilih untuk duduk bersisian dan berdempetan. Apanya yang menarik, mungkin begitu kaupikir. Bukankah itu posisi duduk biasa bagi mereka yang pacaran? Memang. Hanya saja, hal itu menjadi menarik ketika saya membandingkannya dengan posisi duduk yang dipilih pasangan lesbian.
Sebelum saya melanjutkan dengan apa yang ada di pikiran saya, terlebih dahulu saya mau mengatakan bahwa ini bukan generalisasi. Dibutuhkan riset dan pengolahan data yang benar-benar serius dan dapat dipertanggungjawabkan untuk dapat menarik kesimpulan secara umum seperti itu. Yang akan dipaparkan cuma pemikiran atas pengamatan kecil yang kebetulan tertambat di otak saya. Setuju? Mari.
Pasangan tadi membuat saya menggali ingatan sekaligus memasang kesadaran lebih untuk memperhatikan sekeliling selama beberapa waktu: pasangan heteroseksual di pujasera supermarket, pasangan lesbian remaja di McD, pasangan heteroseksual di restoran all you can eat, pasangan lesbian di kafe, serta memori atas kencan-kencan yang saya dan mantan lakukan dulu. Dari pengamatan dan ingatan itu, saya menangkap sebuah fenomena bahwa pasangan heteroseksual lebih sering menampilkan posisi duduk bersisian dan bersebelahan, sedangkan pasangan homoseksual (dalam hal ini lesbian) lebih sering duduk berhadapan. Terlepas dari apa pun tipe kursi yang mereka gunakan.
Awalnya saya sebatas mengamati perbedaan posisi duduk ini. Namun, bisa jadi karena kurang kerjaan atau memang kedua hal ini dapat dikaji lebih lanjut, saya kemudian mencoba membaca kenyataan ini dengan mengaitkannya terhadap karakteristik hubungan yang dimiliki kedua kelompok.
Hubungan heteroseksual adalah hubungan yang dapat dikatakan sangat aman. Dalam artian, secara umum, tidak ada sanggahan keberatan dari masyarakat. Hal ini membuat pasangan heteroseksual dapat dengan mudahnya menunjukkan kebersamaan bahkan kemesraan mereka di depan umum. Karena itulah tak ada yang heran melihat posisi duduk sepasang kekasih di warung jagung tadi.
Nyaris berbeda seratus delapan puluh derajat, hubungan homoseksual sampai sekarang adalah hubungan yang tak diakui secara terbuka oleh masyarakat. Ibarat sekolah, statusnya baru terdaftar, belum disamakan, apalagi terakreditasi A. Duduk berhadapan dan bukannya bersisian, bagi saya, dapat dibaca sebagai bentuk ketidakterbukaan terhadap pihak umum. Bahwa masih ada sesuatu yang harus disembunyikan, disimpan hanya untuk mereka berdua. Bukan karena tak mau membagi, namun lebih kepada tak bisa. Di luar sana tidaklah begitu ramah.
Dan mungkin ini suara sel-sel penghuni jalan romantis di kota otak saya, sebab ketika memikirkan posisi duduk pasangan heteroseksual, saya teringat pada lirik Side by Side, sebuah lagu dari drama musikal Company karya Stephen Soundheim. Terutama bagian-bagian berikut: “Comfy and cozy, Side by side by side” … // “One is lonely and two is boring” … // “One’s impossible, two is dreary, Three is company, safe and cheery”. Saya membayangkan mereka menganggap orang-orang lain di sekitar adalah teman untuk berbagi kebersamaan dan kemesraan. Berdua tidaklah cukup. Mereka butuh membuka celah bagi dunia untuk turut menikmatinya. Jadilah mereka duduk bersisian, menghadap dunia.
Sedangkan bagi pasangan lesbian, lirik lagu Cheek to Cheek yang pernah dipopulerkan Frank Sinatra terasa lebih mengena: “Heaven, I’m in heaven, And the cares that hung around me through the week, Seem to vanish like a gamblers lucky streak, When were out together dancing cheek to cheek.” Meskipun duduk berhadapan bukanlah berdansa sambil bertempel pipi, tetapi kedekatan yang dirasakan memiliki kemiripan. Seolah berkata, “ Lihat wajahku, sayang. Mereka bisa jadi tak ramah, tapi tak usah kaupedulikan. Ada aku di sini. Lihat saja wajahku.” Seakan saling menguatkan.
Namun demikian, apa pun yang saya pikirkan tentang kedua posisi duduk itu tak membuat salah satunya menjadi lebih baik dari yang lain. Mereka hanya berbeda. Berbeda yang menjadi menarik. Itu saja.
@Shinigami, SepociKopi, 2009









sepoci keren. i love it. slamat buat para admin.
congratz buat rumah barunya. bagus banget. smoga kontennya juga makin menarik, beragam n tetep bermutu.
wah senengnya punya rumah baru.. mudah2an tambah banyak yg betah ya tinggal dirumah ini, n yang pasti tambah berbobot dan OK.!
pernah dengar kalau duduk berhadapan dengan pasangan itu jauh lebih romantis dan menghargai pasangan, karena saling tatap mata saat bicara.
wow, keren sepocikopi…. congratulation for the new home… thank’s for always be with us, all Indonesian Lesbian…
Shinigami-san,
Aku suka dengan hasil observasimu. Tapi entah kenapa, waktu berbicara soal cheek to cheek, aku malah kepikir kalo mungkin karena dunia diluar sana nggak aman, maka itu pasangan lesbian saling berhadapan, to watch their partner’s back, so to speak.
Sepoci kopi, congrats on the cool new house!
masa c? kalo saya (hetero) lagi makan sama pacar saya, biasanya malah duduk berhadapan tu. soalnya biar lebih gampang memindahkan perhatian dari makanan ke pacar yang sedang berbicara atau sebaliknya. kalo bersisian kan harus nengok ya? hehe..
alasan yg sebenarnya adalah, bagi kami (saya n pacar), kalo lagi makan ya acaranya ya bener2 makan. lagian kan yg lebih penting adalah berbagi kebersamaannya to
baru minggu kemaren bahas masalah tempat duduk ama temen straight (tentunya mereka gak tau aku L). tapi kalau aku lebih nyaman aja duduk hadap-hadapan. selain bisa liat-liatan, tapi yang pasti si gak harus sempit-sempitan. gak enak banget makan trus tangan nyengol sana sini hahaha
untuk sepocikopi, rumah barunya keren. awalnya sempet nyasar nih hahah, tapi jadi lebih mantaaappp. thx banget buat sepocikopi. bener2 nyaman disini
Kalau aku seh tergantung mejanya. Kalau mejanya kecil, duduknya berhadapan. Tapi kalau mejanya besar duduknya bersebelahan. Secara kalau makan apa2 kami selalu sharing. Jadi kalau mejanya kebesaran susah makan barengnya.
Hehehehe
hm … jadi begitu ya …
hm …
Wah, kalo aku malah mikir sebaliknya, selama ini kalo lagi kumpul ama temen-temen lesbian couple, mereka lebih sering duduknya bersisian, dan aku ngeliat dengan posisi begitu mereka bisa saling sentuhan tangan kadang-kadang, menyentuh bahu kadang-kadang, dan berdekatan satu sama lainnya (ini sih sering
)
wh rumah baru y
congratulation for the new home
rada-rada bingung nhe sm rumah barunya, but nti coba dpelajari lg dhe
@andro_danish : mba ada yg mw shering soal L mom anak co
kalo sy dan pasangan lbh memilih kenyamanan dari kita berdua. Kalo lg nyaman duduk berhadapan ya duduk berhadapan,demikian sebaliknya. Tp aku lebih suka duduk bersebelahan krn bs dkt kalo suapin pasangan aku n lebih hangat hehe..
Berarti gue kgk salah kalo ini sepocikopi yang baru.Soft euy!
Buat masalah duduk2annya, asal jangan didudukin mah…sah2 aja mu gimana juga! Wkekekeke…
oww,,kyk gitu yaa??
gw siy setubuh ama De Ni.. tergantung ukuran meja ama kursinya donk..
tapi yg sering gw jabanin ama mantan partner dulunya siy berhadapan. klo lg marah & sensian baru deh duduk bersisian…
wkwkwkwk…
bdw,,salut buat rumah baru sepocikopi yaa.
hmm,,jadi tambah betah niy mampir d mari.
moga kontennya makin membuat para sista merasa ‘homy’ & makin bermutu.
best of luck
Saya jg pernah mengamati,setuju semuanya bener. Dan pengalaman sy ma partner memang qt berdua sukanya duduk berhadapan selain lebih mesra saling bertatap mata, makan jg lebih nyaman apalagi klo dtambah acara suap2an hehehe
romantis tulisannya, mbak. aku memang sering berhadap2an sama pacar duduknya. cihui cheek to cheek
ngomong2 sepocikopi jadi keren banget gini. setuju pindah
congrats!
Wuiiih…komennya rame euy! Ikutan aah…hehe. Tampilan barunya sepoci cukup keren. Congrats ya! Kalo masalah duduk, gw slalu milih hadap2an, gak ada niat lain kecuali menghargai org yg kita ajak bicara, siapapun orgnya. Biarpun acaranya makan, teteup ada acara ngobrolnya kan? Ato gw yg kseringan meeting kali ya, jd buat gw ‘eye contact’ hrs slalu ada…hahaha. Bentuk wujud dr respect ke org yg kt ajak bicara
nice sweet duduk ber 2 an ma couple kita,
aku duduk bersebelahan ja
rasanya leboh dekaat ma dia
tapi aku juga pernah duduk berhadapan ma dia
yaaa lebih dalam kami saling curhat n mata kami ga lepas
memandang kekasih . makin mantap
ikut nimbrung donk…
klo soal makan, so pasti gw lbih seneng face to face, coz dapet aja chemistry nya. apalagi klo boxin gw nawarin ” Yang, mo omelet ga, mo teh or kopi, desert nya mo apa??? yah seneng aje diperhatiin, tapi belum pernah tuh gw disuapin..he..he..tp itu luar biasa mantap sx..gw sih klo makan sambil bercanda gtu makanya lbh enak berhadapan tau..n so pasti curi2 pandang gtu dehhh
Leave your response!
Esensi Espresso
Lesbian, bulan Februari yang beraroma romantis mulai tampak. Apakah cinta? Pada hubungan percintaan lesbian yang tak bisa terikat dalam landasan pernikahan, banyak lesbian yang terjatuh pada kebingungan, ketakutan, dan ketidakpastian. Di mana pegangan untuk masa depan?
Lesbian, cinta bagi pasangan lesbian tentu membutuhkan perjuangan keras agar hubungan jangka panjang bisa terjadi. Banyak tantangannya dalam berkomitmen, misalnya kesetiaan, finansial, keluarga, perbedaan, dan lain-lain. Bisakah kita menjalaninya? Berapa lama pasangan lesbian bisa bertahan? Konon ada yang mengatakan bahwa usia pasangan lesbian tak bakal melewati satu tahun. Ah, tentu tidak benar!
Lesbian, untuk menjadi pasangan yang langgeng sampai nenek-nenek, kita bisa belajar dari teman-teman lesbian yang lain yang sudah bersama selama bertahun-tahun. Delapan tahun? Dua belas tahun? Lima belas tahun? Dua puluh tahun? Bisakah kita mencuri kebijaksaan mereka dan mengaplikasikannya ke dalam kehidupan percintaan agar kita pun bisa berbahagia dengan pasangan sampai nenek-nenek? Pastinya dong! Selamat merayakan cinta dalam arti yang sepenuh-penuhnya. Peluk cium untuk segenap pembaca SepociKopi tersayang.
Kategori
Visitor Number:
Arsip SepociKopi
Sedang Online
Senggolan Sepocikopi
Stop Press!
Kami mempersembahan kaos SepociKopi yang bakal keren dipakai dalam berbagai acara.
Silakan pilih dan unduh sendiri desainnya, lalu kamu sablon sendiri di kaos warna favoritmu.
Satu desain pasti tidak cukup, dua juga pasti nggak... semuanya saja! Tenang kok, kaosnya sangat lesbian-friendly dan hetero-friendly, jadi nggak bakal ketahuan! Kalau ketemu sesama teman yang juga mengenakan kaos ini, cukup saling melirik penuh arti. Kodenya udah udah dipatenkan di kepala masing-masing bo!
Salam SepociKopi!
Tags
Pembelian Online:
www.gramediashop.com
www.gramediaonline.com
Friendly Reminder
Situs ini adalah situs lesbian nonprofit. Untuk 18 tahun ke atas. Harap keluar dari situs ini jika Anda masih di bawah umur.
Most Commented
www.facebook.com/sepocikopi
www.twitter.com/sepocikopi
Twitter Buttons
Most Viewed
Recent Comments