Home » Cuci Mata

Cuci Mata: The Language of Culinary

28 March 2009 192 views One Comment

Oleh: Sidney

Coq au vin. Unagi. Pasto. Garam Masala. Risotto. Kofte Kebab.

Beragam nama yang asing di lidah itu jadi tidak asing lagi saat sudah dinikmati dalam bentuk harfiah alias disantap dan dinikmati lidah. Bagi banyak orang, makan bukan lagi sekadar kegiatan penyambung nyawa. Malah kegiatan kuliner ini menjadi ajang gaul, acara televisi, bahkan bagian transaksi bisnis.

Banyak budaya menjunjung tinggi kegiatan makan ini. Thanksgiving dinner. Makan malam Imlek. Makan ketupat bersama saat Idul Fitri. Kegiatan makan merupakan bagian dari kebersamaan. Makan bersama diyakini bisa memperat hubungan persaudaraan dan keluarga.

Sejak kecil, orangtuaku sangat menekankan pentingnya makan bersama dalam keluarga. Setiap makan malam, kami berkumpul di meja makan. Dimulai dengan berdoa bersama, berterima kasih atas makanan yang akan kami santap, lalu kami pun akan mengobrol sambil menikmati makan malam. Makan bersama bukan hanya dinner saja, tapi panganan kecil juga dapat disajikan untuk keluarga atau sahabat yang datang bertamu. Berdiskusi, bercakap-cakap, dan menyimpul tali silaturahmi selalu didampingi oleh kegiatan makan.

Belakangan ini makan menjadi bagian dari gaya hidup. Kegiatan makan di luar rumah merupakan aktivitas penting dalam pertemuan keluarga bahkan rutinitas pergaulan. Restoran menjadi ruang berkumpul bersama saudara/orangtua atau sahabat, tempat janjian ketemu dengan klien, atau tempat kencan. Restoran yang dipilih pun bukan restoran sembarang, melainkan restoran yang menunya telah terbukti kelezatannya dan sesuai dengan selera para pengunjung.

Makan juga menjadi kegiatan yang mengisi jiwa dan juga tubuh. Saat menyantap makanan, lidah menikmati setiap rasa yang masuk ke mulut. Saat mengunyah, indra-indra lain pun bereaksi dengan menyambutnya sepenuh jiwa. Menikmati makan rupanya memang bukan hal yang baru, terbukti sejak dulu, makanan apa pun yang lezat pasti selalu ramai dikunjungi orang. Omongan dari mulut ke mulut pun menyebar. Entah gado-gado di warung anu sampai ke restoran elit di jalan anu. Karena itu, tidak heran makanan yang terkenal sejak zaman kurun waktu yang lama tetap terkenal dan bisa dinikmati oleh orang jika manajemennya berjalan dengan baik.

Bagiku, makan itu bukan hanya mengisi perut, tapi juga mengisi hati dan jiwa. Beberapa orang sering lupa meluangkan waktu untuk menikmati kegiatan makan, apa pun jenis makanan yang mereka santap. Lebih seringnya lagi, orang makan hanya karena dia harus makan. Titik. Ya, kalau kita hidup di zaman perang mungkin sangat bisa dimengerti. Tapi di zaman Blackberry, ah please deh, menyedihkan sekali!

Budaya makan menghasilkan budaya memasak. Makanan hasil karya banyak negara menjadi terkenal dan melegenda. Jenis makanan itu melanglang buana, dicicipi oleh milyaran lidah manusia, dicintai oleh mereka. Sebut saja makanan Jepang, Korea, Lebanon, Morocco, Prancis, Meksiko, Turki, Jerman, Inggris, Italia, Vietnam, dan lain-lain. Setiap makanan memiliki ciri khasnya masing-masing; dengan bumbu, cara memasak, aroma, racikan, dan presentasinya sendiri-sendiri.

Belakangan ini, dengan mal-mal dan pusat perbelanjaan yang menjamur, maka restoran-restoran baik lokal maupun import mulai membuka pintunya. Mulai dari restoran gaya kaki lima, warung, fast food, resto keluarga, sampai jamuan mewah lengkap bertebaran di Jakarta. Mencoba makanan baru pun jadi kegiatan gaul yang dikemas dengan nama “wisata kuliner”. Nggak pernah nyobain sushi di restoran XXX? Uh, kamu nggak gaul deh. Pizza yang kamu tahu cuma Pizza Hut? Aih, Jeng, tinggal di kerak bumi ya? Masakan Thailand yang lezat? Ouch, it’s too spicy for my stomach, try German’s sausage. Yuk kita mencoba Morroco, ambience restorannya sungguh-sungguh seperti berada di setting 1001 malam. Atau bagaimana kalau memilih makanan warung ala peranakan Indonesia yang belakangan ini di-upgrade menjadi mewah dan berkelas?

Dunia lesbian yang tidak lepas dari kopi darat pun sering menggunakan ajakan makan sebagai alasan pertemuan. Menikmati makan sambil melakukan pe-de-ka-te sambil melancarkan rayuan-rayuan maut memang asyik. Tidak perlu menunggu dating, untuk berkumpul bersama dengan teman-teman lesbian lainnya juga oke. Resto anu yang makanannya enak tapi tidak terlalu mahal, atau bistro XYZ yang terkenal dengan tempatnya yang gaul, atau cafe ABC yang kopinya tiada duanya. Makanan bisa menjadi penyelamat saat obrolan menjadi kaku dan kehilangan arah. Makanan bisa juga menjadi penyemangat ketika obrolan semakin hot dan seru.

Jadi mulailah memilih restoran yang menunjukkan jati dirimu dan ajak calon pasanganmu (atau teman-temanmu) ke sana, dan lihatlah kadar kecocokan (dan derajat persahabatanmu) di sana. Mungkin pepatah harus diubah menjadi Dari Perut Naik ke Hati.

@Sidney, SepociKopi, 2009

One Comment »

  • Anonymous said:

    Hi sidney,

    ngomongin soal makanan,, yummmy.,
    jd pengen makan, makanan yg lokal aja deh,,
    kerak telor anget2 kyanya maknyuss tuh,
    agak susah nie nyarinya,, prj masih lama lagee.

    ~ade doang ga pake rain~

Leave your response!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.