Home » Have Your Say

Have Your Say: Kesetiaan yang Mahal Harganya

Submitted by on 27/03/2009 – 5:54 am11 Comments | 764 views

Bersetia? Bisakah kita para lesbian melakukannya, tanpa ikatan hukum pernikahan apa pun? Setia hanya berlandaskan cinta semata, tanpa terlibat perselingkuhan maupun terjatuh dalam hubungan poligami? Bisakah kita melakukannya? Dengarkan kisah sahabat lesbian kita, Anna yang bercerita.

Perkenalkan, saya Anna. Saat ini, sudah enam tahun saya menjalin hubungan dengan kekasih saya, sebut saja Santi.

Tahun-tahun awal hubungan kami berjalan mulus tanpa ada gangguan yang berarti. Semuanya berjalan baik-baik saja. Segalanya indah. Walaupun tinggal di kota yang berbeda, kami selalu saling menjaga kesetiaan. Di tahun kedua, saya memutuskan untuk pindah ke kota tempat tinggal Santi agar kami berdua bisa hidup bersama tanpa terpisahkan jarak dan waktu. Hidup berdua dengan Santi membuat saya merasa sangat bahagia. Hari-hari yang kami lalui penuh dengan cinta sepenuh hati. Saya sangat mencintainya. Begitupun sebaliknya.

Hingga akhirnya pada tahun keempat, hubungan kami diterpa cobaan. Semua berawal dari perkenalan Santi dengan seorang perempuan (sebut saja namanya X), teman dari salah satu saudaranya yang kebetulan sedang berlibur di kota ini. Selama beberapa hari hingga X pulang kembali ke kotanya, semua masih terasa baik-baik saja. Namun setelah beberapa minggu berlalu, saya mulai merasakan ketidaknyamanan.

Santi mulai rajin mengirim berita melalui SMS dengan X. Hampir setiap hari dia melakukannya. Pagi, siang, hingga larut malam. Saya mencurigainya. Ketika saya mengungkapkan kegelisahan saya, Santi selalu berusaha menutupi dan mengatakan bahwa mereka hanya sekedar berteman. Oke, saya berusaha memercayai kata-kata kekasih saya. Saya meyakinkan diri dia takkan berbohong pada saya.

Tapi kerisauan saya tidak berhenti, malah semakin menjadi-jadi. Sampai akhirnya, suatu saat saya memergoki salah satu SMS Santi untuk X menunjukkan bahwa selama ini yang terjadi antara Santi dan X bukanlah pertemanan semata. Ya, tanpa sepengetahuan saya, mereka berdua telah ‘jadian’ dan berpacaran. Saya terkejut.

Bayangkan betapa hancurnya hati saya. Saya menangis tak karuan. Seraya bersimpuh di kaki Santi, saya memohon agar perselingkuhannya segera dihentikan. Tapi rupanya hati Santi sama sekali tak tergugah meski melihat kepedihan dan kehancuran saya. Santi tetap ingin melanjutkan hubungan perselingkuhannya dengan X, tapi juga tak mau memutuskan hubungan kami berdua. Santi ingin kami ‘jalan’ bertiga.

Betapa tak berperasaannya dia!

Saya lemas, jatuh tertunduk tanpa tahu harus berbuat apa. Hampir setahun saya tetap hidup bersama Santi dengan kepedihan yang tiada henti. Melihatnya tak pernah lepas dari handphone (hal yang selama ini tak pernah ia lakukan), mendengarnya bercengkerama dengan X di telepon. Dada saya serasa terkoyak habis-habisan. Saya berusaha tetap bertahan mendampingi Santi, meski hati saya tak pernah merelakan keputusannya untuk tetap menduakan saya. Entahlah, saya begitu mencintainya. Seorang kawan bahkan pernah berkomentar betapa bodohnya saya yang mau tetap bertahan demi cinta yang konyol dan gila seperti ini.

Sampai suatu saat, hati saya merasa letiiih sekali, hingga akhirnya saya memutuskan untuk meninggalkan semua ini. Meninggalkan Santi,meninggalkan segala kenangan indah kami berdua selama ini. Meninggalkan semuanya dalam diam. Toh tak lama lagi X akan pindah juga ke kota ini. Dan saya tak mau menjalani cinta yang gila ini. Saya berusaha mengikhlaskan semuanya. Biarlah Santi mencari kebahagiaannya sendiri. Dan biarlah saya mengalah, menyudahi segalanya.

Selama beberapa bulan saya berusaha mempersiapkan segala hal untuk kembali pulang ke kota asal saya. Beberapa bulan setelah saya memutuskan untuk berpisah dari Santi (tapi masih dalam kondisi tinggal serumah dengannya), saya sempat berkenalan dengan seorang perempuan (yang juga teman lesbian, sebut saja Z). Pada awal perkenalan, kami biasa saja. Hingga akhirnya entahlah, saya ‘jadian’ dengan Z. Santi yang curiga dengan kesibukan mendadak saya ber-SMS dengan Z menjadi marah besar. Santi mencecar saya dengan berbagai pertanyaan tentang Z. Saya cuma diam menangis.

Tibalah saatnya saya pulang kembali ke kota asal. Dengan meninggalkan sepucuk surat untuk Santi, saya pergi ketika Santi tak ada di rumah. Sesampainya di rumah, saya berusaha untuk menenangkan diri. Tanpa ada lagi Santi yang selama ini selalu menemani. Jujur, hati kecil saya masih mencintainya meski saya telah dilukainya tanpa ampun.

Belum ada seminggu setelah saya pulang kembali ke rumah, Santi menyusul dan mengajak saya kembali lagi padanya. Santi meminta maaf. Santi memutuskan untuk menyudahi hubungannya dengan X dan ingin kembali bersama saya seperti dulu.

Sekali lagi, jujur,saya masih mencintainya. Tapi hati saya masih terlalu sakit untuk menerima Santi kembali dan mempercayainya. Lagi pula, saya sudah menjalin hubungan dengan Z. Entahlah, terkadang saya juga merasa ragu menjalani hubungan dengan Z. Mungkinkah ia hanya menjadi pelampiasan kekecewaan dan sakit hati saya terhadap Santi? Saya tidak tahu. Hati saya menjadi bimbang.

Gagal mengajak saya kembali ke pelukannya ternyata tidak membuat Santi patah semangat. Lewat telepon dan SMS dia menangis dan memohon pada saya
untuk kembali padanya dan memulai segalanya dengan lembaran hidup yang baru. Santi bersikeras bahwa dia tak akan bisa jika tanpa saya. Lama kelamaan hati saya luluh juga. Tapi saya juga bingung tak karuan. Di satu pihak, Santi kukuh tak ingin diputus, di pihak lain, Z juga tak mau saya tinggalkan. Duh Tuhan, betapa runyamnya perasaan saya!

Akhirnya dengan menanggung segala resiko, saya memutuskan untuk kembali ke pelukan Santi. Kini, saya dan Santi telah bersama kembali. Kami saling berjanji tak akan lagi ada luka dan pedih lagi. Saling berjanji tak akan lagi mengulang segala kesalahan. Semoga godaan keji tak akan lagi menghampiri kehidupan saya dan Santi lagi. Semoga kehidupan kami berdua akan baik-baik saja. Semoga…

(diceritakan dan ditulis oleh Anna)

@Anna, SepociKopi, 2009

Redaksi SepociKopi menerima kiriman kisah pengalamanmu yang mengiris hati namun telah berhasil kau lewati dengan baik. Mungkin ceritamu bisa menjadi sharing berharga buat teman-teman yang lain. Bagi pengalamanmu ke redaksi SepociKopi di jejak_artemis@yahoo.co.id dan alex58id@yahoo.com, dan sebeningembun@gmail.com

Tags:

11 Comments »

  • Kiki says:

    salut untuk anna . .. .

  • chubby-gal says:

    tulisan ini cukup inspiring, ternyata ada hope untuk rujuk kembali, a happy ending. Sementara banyak diluar sana bubar begitu saja!

  • reini says:

    ada gak perselingkuhan yang bisa dibenarkan?

  • lonelittle says:

    makasih banget karena kamu udah nulis tentang perselingkuhan :) saya pengen banget minta kakak saya baca tulisan kamu, soalnya kejadiannya mirip banget lol

  • Anonymous says:

    Ke pasar beli buah
    numpang komen ah,

    Waduh,, lagi2 kriminalitas berupa perselingkuhan.
    Moga akur2 aja ya, duh amp ngenes buanget nie gw bacanya.. Hiks..Hiks..
    Susah emg klo dah cinte.

    Eniwei lam knal smuanya.

  • Anonymous says:

    @jeng_asih :
    memang betul,but tuk beli yg baru qdu cari yg sregk dhati wlaupun itu cuma cermin y…

    @sam:tul bgt tuh,kebukti sm mantan awak dlu.but now tuh org sadar smpe kpn pun dy gakan bs mendapatkan yg sesuai dg hati dy.

    dan menyikapi soal ini,seseorang itu bisa berubah.bahkan hdp pun dberikan kesempatan k-2..klo kesempatan itu tdk dpergunakan baru buang tuh cermin yg udh drekatkn beli yg baruuu… :D

    _keyz_

  • Anonymous says:

    Aku gak pernah percaya kesetiaan seseorang yg pernah berselingkuh, sekali berselingkuh pasti akan ada yang kedua kali, ketiga, keempat, dst, itu adalah sebuah penyakit. Penyakit hawa nafsu yang sukar dikendalikan. Kesetian bukan hal yang mustahil buat mereka yang tau arti kata bersyukur atas segala anugerah Tuhan. (Sam)

  • Anonymous says:

    to : anna

    menurut aku, hubungan itu ibarat cermin. pasangan kita adalah cermin kita. entah cermin dalam bertindak, berfikir maupun merasa.

    jika sekali saja, cermin itu pecah, dia tak akan bisa lagi digunakan. oke, jika kamu bisa merangkai serpihan-serpihan kacanya, lalu menempelnya dengan lem aibon satu demi satu. tapi cobalah kembali bercermin disana? masih bagus kah?

    ternyata kamu mendapati wajahmu telah terobek-robek. cobalah mengusapnya, tanganmu pun dipastikan kemasukan (keselusuben, kata orang jawa) pecahan kaca yang bakal menyakitimu minta ampun. ini analogi, jika cermin yang sudah retak itu tak akan lagi memuluskan hubunganmu dengan santi seperti dulu. rasanya bakal lain. kalau sudah begini, mending beli “kaca” baru, kan?

    oke, kita ganti cerminnya. kamu bercermin di air. tiba2 ada batu masuk ke air, air beriak walau kembali tenang. tapi kotoran-kotoran yang singgah didasar telah terangkat dan menjadikan warna air tak sama. kalau sudah begini, mending beli aqua buat minum, kan? (jadi haus nulis paragraf ini, hehehehe)

    yah, intinya begitu, lah. cari yang lain (terlalu revolusioner gak, sih? hehehehehe)

    -jeng_asih-

  • Oryza Sativa/EJ. Rose says:

    hm … dalam satu minggu, muncul dua tulisan tentang perselingkuhan di poci. pas banget, i just dumped my exgirlfriend because she cheated on me. well, selain karena LDR dengan komunikasi yang buruk.

    Anna, secara personal saya berterima kasih atas tulisan yang lebih kurang menggambarkan kondisi saat ini. perselingkuhan, menurut saya adalah hal yang tidak dapat ditoleransi, tapi mungkin bisa oleh orang yang punya maaf sangat besar dan tidak pandai menghukum.

    curcol banget sih ni :p

    jadi…semoga hubunganmu dengan santi bisa berjalan lebih baik dari sebelumnya :)

  • Anonymous says:

    dalam 10 hbgn mgkin 2 atau 3 hal sprt ini bisa terjadi.selagi masih punya nafas kita butuh diuji dgn cara apa sekalipun justeru itu siapkanlah hati dan fikiran biar ujian yg dtg itu kita masih punya IQ
    utk mengatasinya.

    tahniah atas rasa cinta antara kalian

    :D

    *GB*

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also Comments Feed via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.