Home » Humaniora, Intermezzo

Oh My (Straight) Handphones!

25 March 2009 54 views 12 Comments

Oleh: Ade Rain

Semua pasti kenal yang namanya telepon genggam. Penjajahan handphone (HP) kini juga sudah sampai ke daerah sawah menyawah, dari tengah belantara sampai pulau-pulau terpencil yang banyak malarianya. Jadi jangan heran kalau Pak Tani juga bisa bergaya di depan padi menguning sambil menggengam Communicator.

Bentuk dan pilihan HP pun macam-macam, mau yang kecil bisa ditaruh antara selipan beha, mau yang memanjang sehingga bisa disembunyikan di selangkangan, atau bulat membundar canggih berdesain futuristik. Yang baterenya liquid, yang ada peta GPS, yang media hiburannya segede bagong, sehingga bisa ngilangi sedih-sedih ala film Mumbay.

Juga banyak printal-printil lengkap, skype, google map, teve kecil, radio, video call, push mail (bagi yang punya banyak identitas tentu semua e-mail ajaib masuk ke dalam satu HP saja). Wushhhh email-email setiap saat masuk ke dalam inbox dan sampailah rahasia segala macam info dengan cepat. Bahkan gambar dengan segala macam pose bisa saling dikirim buat nyenengi patner. Hmm, mau ambil gambar diri bugil, nampangi burket, bukit lembah bukit hot itu, atau bulu semua bulu dalam satu HP mungil, monggo… silakan miliki HP sesuai kocek dan kebutuhan.

Buatku HP itu benda yang sungguh numero ono te o pe kepentingannya. Mati aja kalau nggak ada signal! Biar deh kalau nanti aku mati terlentang di atas kain kafan trus telepon genggamku ditaruh aja di sebelahnya, atau ditaruh di dada sebagai tanda duka cita. Sungguh hidup dan matiku CDMA! Alias Cuma Di Mata Andphone-ku (maksaaaa). Meskipun ada waktu-waktu tertentu kalau aku lagi sama partner atau keluarga liburan di tempat indah beneran nggak mau diganggu HP, Tapi… aku nggak bisa nggak dapat berita tuh! Mau nggak mau kalau sudah begitu ya bawa HP ke mana pun, mulai dari ngebor sampai megap-megap….

Justru di sinilah yang ingin kuceritakan, bahwa “benda keramat” itu memang begitu berkesan dalam hidup. (Tapi…) Teringat pertama sekali memiliki telepon genggam. Bentuknya masih kayak tempat minuman anak-anak sekolah dasar yang gede itu, antenanya panjang, beli sekali dua. Satu jadi milik ibuku, dan satu punyaku berwarna sama dengan nyokap hanya ujung antena hape kucelupi warna akrilik pink norak biar beda.

Waktu itu masih pake sistem AMPS yang kalo nelepon terdengar suara geererrrek jegrekkkk geeerrrreek jegreek tanda nyari signal. Oh uh oh.. Auzubillaaah…Capek deh! Tapi kalau suaranya nyambung seneng luar biasa. Tentu saja tidak semua kawasan mampu menerima pemancar dengan baik. Jadi teriak-teriak sambil pamer punya HP trus pura-pura nggak ada signal pun jadi tren yang sungguh cekiber malu-maluin. Nggak heran kalau para pemakai HP zaman itu sering keliatan konyol sendiri….

Suatu hari di kantin kampus dengan telpon AMPS sama ibuku:

“Maaa aku pulang kuliah jam 3, jemput ya.”
“Nak, rendangnya ada di kulkas tinggal suruh mbok panasin…”
(Mukaku makin manggut-manggut mengkerut dalam hati udah ketawa ngakak, tapi tetap pasang wajah lempeng pura-pura ngerti…). Gubraks deh. Otakku cikulkulsap berasap, sungguh cepat panas pakai benda itu. Syukurnya bumi tetap berputar, dan zaman jebot HP kayak gituan cepat berakhir.

Sekarang begitu canggihnya handphone, mau yang banyak multimedia pakailah aiiipon alias iPhone keluaran Apple itu (gilak, promosi! hihihih). Mau yang punya beratus-ratus alamat email, push mail deh, 24 jam trus online sampe mata berair. Bercokolah dengan blekberi, sekalian beli yang layar sentuh (ogah deh nggak kuku kukuku dipakai buat nyentuh layar, gagap abis!) Nggak akan buat kita istirahat, kerja terusss hehehe itulah jeleknya. Yang pasti blekberi itu penggangu tidur kalo nggak disiplin! Awas aja… jangan sampe stroke.

Nah jelas HP bagi “L underground” kayak aku menghadapinya sungguh beda. Begitu banyak provider yang menawarkan segala macam kelebihan, akhirnya jadi pakai beberapa deh. Pabrik chip pun ngga mau kalah, sampe-sampe sekarang ada satu chip yang bisa digunakan untuk beberapa nomor GSM dan CDMA. Jangan heran kalau hapenya satu tapi nomornya bisa sampai lima sampai enam nomor. Tapi justru itu… pakainya pun bingung.

Yang repot kalau punya kerjaan serabutan kayak aku begini, hidup di tiga belahan dunia antah berantah, trus mengadu nasib di lima planet yang berbeda… walah, aku sampai rajin mengoleksi chip telepon genggam, bahkan yang berasal dari liang kubur pun punya (Hiperbola deh!). Jadi aku pun terpaksa menggunakan banyak HP, nggak pakai chip satu penggemarnya banyak tadi, bingung bo!

Tapi yang itu pun masih buat aku repot kayak tikus curut dan sering kena DBD (Diri Banyak Dosa). Pertama, sering salah nyebut nama. Aku pikir tadinya bapak-bapak yang minta produknya difoto, trus tiba-tiba yang nelepon suaranya mirip-mirip, kusebut dengan mantap nama orang yang baru menelepon itu dengan nama bapak sebelumnya… Aduh gelo nggak sih!

“Pak Danu nanti fotografernya langsung ke perusahaan bapak…”
“Danu? Mbak, saya Pramsraju, yang kemarin nelepon…”

Bayangin itu ternyata etnis India yang mau kumintain tolong mengisi pertunjukan musik Tabla di salah satu acara pesta kantor teman. ( Nomor hp-ku yang ini khusus untuk perusahan XXX)

“Rain… aku ke kotamu besok, kita ketemuan ya makan siang Soto Udang…” Sudah pasti ini dari handphone “lesbian”-ku yang nada deringnyaa “Alone”. Nada itu membuatku cepat tahu siapa yang menelepon. Namun suatu kali… HP itu memanggil, aku main angkat aja. Dan masuklah kita ke dosa kedua deh, yaitu Bohong.

“Dengan Aderain… ada yang bisa kubantu, Sis?”
Di ujung sana suara istri petinggi di kotaku yang minta fotografer memotret di tempatnya terdengar bingung terbata-bata, menyebut nama asliku memastikan ia menelepon orang yang benar…(walah-walah). Tentu asal jawabku yang gaya-gayaan nyebut Aderain itu berakibat fatal. Ketika harus ketemu ibu pejabat tadi dia pun bertanya, “ Nak kamu punya nama panggilan lain ya? Siapa tadi Adek Ren?”

“Ah bukan, Bu, namaku tetap satu kok.”

Aku terduduk lemas sambil berharap semoga si ibu ini langsung amnesia nggak nyebut-nyebut nama itu lagi.
Sorenya waktu pulang kerja anak sulungku iseng minjam HP “lesbian”ku itu… “ Mom aku minta lagu-lagumu ya, aku nyalain “blutut”-nya…
“Hah jadi kamu yang ganti nada dering HP straight-ku sama dengan HP Belok?”

Mukanya manyun. Dosa ketiga, marah nggak jelas sama anakku. Mukanya cengengesan, aku memang nggak ngomel-ngomel, pasrah aja mendongkol langsung buka baju masuk kamar mandi dan ngadem di bawah shower. Di dalam sana aku bersenandung…

“Handphone-ku ada lima , rupa-rupa warnanya, hijau, kuning, kelabu, merah muda, dan biru, berdering hp straight… dor! Hatiku sangat kacau, hpku masih lima, kupegang erat-erat.”

@Ade Rain, SepociKopi, 2009

12 Comments »

  • ariegere said:

    kak, naruh hape di beha ya???hahhahahahahahahha

  • ariegere said:

    kak, naruh hape di beha ya???hahhahahahahahahha

  • Ghara... said:

    Rain, nomor yang kamu kasih ke aku itu ada 4 lho, 1 lagi mana?
    Btw, itu semua nomor L ato nomor S?
    Yang sering aku hubungi itu yang mana, yang di beha ato yang diselangkangan? (^_*)

    Wuuuush, *lariiii…*

  • Ghara... said:

    Rain, nomor yang kamu kasih ke aku itu ada 4 lho, 1 lagi mana?
    Btw, itu semua nomor L ato nomor S?
    Yang sering aku hubungi itu yang mana, yang di beha ato yang diselangkangan? (^_*)

    Wuuuush, *lariiii…*

  • Grey_S said:

    Rain, anak sulungmu tau yah kamu L???

  • dian said:

    hahaha…
    seru tuh taro di beha,,
    ingat jaman ujian,haha

  • Anonymous said:

    ari-duh yang bergetar di dada waktu kita nyambut sya kemarinkan disimpan di bra… wakakaka

    graha- kamu selangkangan soalnya kalo sms ngajak makan ngga kenal waktu.

    Hi grey iya anak sulungku tau..
    tau 100% luar dalam…sampe ke dalammm dalammm

    dian sama kayak sulung ya nyimpan hp di beha kalo ujian wakakaka

    aderain-

  • Wil said:

    Ckckckck… aku baru tau sis, kalo ada Pak Tani yang nyawah sambil megang-megang Communicator… rupanya doi lebih canggih dari aku yang tinggal di kota, Bo…!! Malu ah kalo ketemu doi, secara aku yang dikota aja belon punya, hehehe… salam yah buat Pak Tani…

  • d` said:

    ck ck ck
    pantes, pantes saja :p

  • Anonymous said:

    lama tak jumpa,masih lucuuu ajaaaaa…
    aku masih ngerasain hidup di belahan bumi yang sinyalnya turun naik,padahal jarak dari tower providernya kurang dari 1 km,tapi seneng,masih bisa lihat pohon gede,bikin cuaca lebih adem dibanding di kota. huhhh…tetep bersyukur,heheheheee…
    oya,lima2nya blakberi???ampyun dj,1 aja belum kebayang bisa punya,heh3.
    terimakasih ya atas tulisannya,dah lama kangen. T-Jogja

  • Anonymous said:

    bibir d kulum, makan duren
    assalamualaikum, ibu rain

    ga bisa komen apa2, perut dah sakit nie ngakak amp guling2an, baca postingan si ibu ini.

    ~ade doank ga pake rain~

  • Lahel said:

    Duh sista,…makin gokil aja tulisanmu, mantap bah! Btw, tembang hpku ada lima da bisa di albumkan tuh, ntar kapan rilis kabari aku ya

Leave your response!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.