Home » Humaniora, Partnership

Berbeda Itu Indah

Submitted by on 02/03/2009 – 6:28 am6 Comments | 343 views

Oleh: Arie Gere

Di kamar kami, banyak sekali bukunya Michiru, baik itu yang dibeli sendiri, dianugerahkan orang-orang baik kepadanya, atau turunan dari sang ayah. Wah, aku kagum dengan buku-buku yang dimiliki kekasihku, ternyata kecintaannya akan membaca sama denganku. Hah, tetapi bedanya, koleksi bukuku sama sekali nggak banyak, secara uangnya pas-pasan untuk beli buku. Semasa kuliah dulu, aku suka berlarut-larut di perpustakaan hanya untuk menyelesaikan membaca sebuah buku. Waktu masih kuliah, aku punya buku favorit untuk selalu dibaca di waktu senggang. Judulnya Kesusasteraan Melayu Tionghoa Indonesia. Jilidnya ada berapa banyak aku lupa, yang pasti aku kesengsem banget sama penulis-penulis cihuy pada saat itu. Yah setting-nya sekitar tahun 1900-lah.

Salah seorang penulis andal yang aku kagumi adalah Kwee Tek Hoay dengan Nonton Capgome (1930)-nya yang buat aku tertawa pingkal-pingkal bila membacanya. Selain menyegarkan, penuh inspirasi. Aku juga ingat saat dulu ketika membaca kisah seorang pemuda malas kaya raya yang tiba-tiba jatuh miskin dan tak punya apa-apa lagi. Ah sayang sekali aku lupa apa judulnya. Saat miskinnya, dia bertemu dengan kekasih hatinya dan kemudian mereka menikah. Hidupnya, lamban laun membaik dengan adanya tanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Tahu apa yang dia lakukan untuk mencari nafkah? Pemuda ini berkeliaran mulai dari malam sampai subuh di daerah rawa dan persawahan. Tahu dia mau ngapain? Dia mau mencari kodok sebanyak-banyaknya untuk dimasak dan dijual di rumah makan yang baru dirintisnya. Dengan tangannya sendiri? Yah dengan tangannya sendiri. Sulit dibayangkan bila seorang pemuda yang dulunya malas, yang dulunya kaya raya, dan tak perlu bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya karena semua sudah terpenuhi, harus menangkap kodok di tengah pagi buta saat orang lain sedang terlelap.

Hmm, aku benar-benar salut dengan pemuda ini, memang benar, tak ada yang abadi. Kekayaan. Harta. Apa pun itu, tak ada yang abadi. Tapi satu hal yang aku yakin, cinta itu abadi. Tak pelak lagi, sang pemuda itu pun bersedia memenuhi kebutuhan keluarganya karena cinta. Cinta itu menguatkan segalanya, di kala resah, datanglah kepada cinta. Minta iba padanya, mintalah cinta yang menguatkan kita.

Nah, balik lagi ke koleksi buku aku dan Michiru. Ternyata, dari sudut membaca buku, selera kami berdua ternyata berbeda. Aku adalah sang pe-menye-menye stadium tinggi, sukanya baca buku yang mellow, maksudnya buku fiksi yang mampu mengaburkan bayangan kita atas fakta yang sebenarnya terjadi. Aha? Rupanya kekasih berbeda lagi, karena dia hanya suka membaca yang berbau fakta, sejarah dan ilmu-ilmu komunikasi yang digemarinya. Fiksi? Enyah deh sama dia. Buktinya, buku Mencintai Jo dan Gerhana Kembar yang sengaja kusisipkan di lemari buku kami, lewat aja sama dia. Dari segi film juga begitu, film kesukaanku adalah film kartun anak-anak, drama mellow, dan sinetron Indonesia yang menye-menye. Hahhahahaha.

Michiru bilang sih, “Penting banget ya nonton ginian? Tidak mendidik sama sekali.” Hehehhehe, bodo ah, palingan yang kulakukan adalah mengecilkan volume televisi sambil tetap kekeuh menonton acara yang kusuka. Kalau soal lagu, selera yang masih bisa disamakan adalah dangdutan. Karena Michiru akhir-akhir ini selalu pake NSP Menunggu – Ridho Rhoma, aku jadi keterusan dengarin lagu itu di kantor. Serunya lagi pas karokean, waktu bareng menyanyikan lagu Gadis atau Janda, aksi kami berdua bakal kompak banget di lagu ini. Jadinya, yang denger malah ketawa-ketawa kalau kami nyanyi berdua.

Anyway, ternyata nggak semuanya yang dipandang sama itu indah ya? Saat ini, justru perbedaaan yang membuatnya semakin bermakna. Yah, asal jangan berbeda terus sih. I love her, and always love her. Dunia ini indah dengan cinta dan bersamanya aku mabok cinta setiap hari. Hhahahahhaha, gombal banget ya? Sayangnya, Michiru paling nggak suka kata-kata manis yang berlebihan, menurutnya Gombal Gimbal. Hhahhahaha… Sedangkan menurutku, aku nggak pernah menggombal sama sekali. Lah wong memang aku orangnya begini, kalau cantikku bilang cantik, kalau senang ku bilang senang. Dan bagiku, setiap saat dialah yang paling cantik dan menarik. That’s true, babe. Kamu adalah Perempuan Paling Cantik di Negeriku Indonesia.

@Arie Gere, Sepoci Kopi.

  

6 Comments »

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also Comments Feed via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.