Rich And Famous Socialite
Malam weekend partner mengajakku menghadiri pertunjukkan musik klasik dan soprano yang diadakan di kafe yang dijadikan pusat budaya. Aku sebenarnya bukan tipe pecinta kegiatan arts, partner yang lebih menyukai kegiatan semacam itu. Dia bergaul dengan perempuan-perempuan dari kalangan atas. Apalagi di pertunjukkan musik klasik dan soprano yang merupakan bagian dari penggalangan dana ini biasanya dihadiri oleh sahabar-sahabat partner.
Acara dibuka dengan makanan kecil hors d’oeuvre dan free flow wine. Rich and famous Jakartans are among the guests. Beberapa teman partner memang perempuan sosialita, perempuan-perempuan yang biasa dilihat di majalah-majalah gaya hidup. Perempuan-perempuan yang bertebaran di mal-mal kelas premium. Perempuan-perempuan yang sudah pasti hanya tinggal di Jakarta atau kota besar yaitu Surabaya dan Bali. Perempuan kaya, yang kekayaannya sungguh menembus langit.
Sebelumnya, kupikir banyak dari mereka yang “sombong” atau “banyak tingkah”. Apalagi kebanyakan dari mereka merupakan perempuan yang lahir dengan “status”. Sekolah di luar negeri. Saat lulus, tampuk presiden direktur telah menanti. Tidak perlu susah payah memikirkan biaya hidup. Kupikir mereka hanya merupakan perempuan-perempuan cantik, high maintenance, lahir dengan keberuntungan yang hanya tahu party-party saja dan tak peduli pada dunia. Ah, alangkah sempit cara berpikirku!
Bergaul bersama mereka, aku juga baru tahu bahwa gelar sosialita adalah sesuatu yang di-earned bukan born with. Aku kenal seorang perempuan yang tidak terlahir dari keluarga kaya, tapi berkat kemampuan dan prestasinya, dia menjadi bagian dari kalangan elite tanpa pernah dianggap lebih hina karena dulu dia tidak menenteng tas Prada dan memakai sepatu Christian Louboutin. Saya kenal dengan seorang perempuan lesbian yang sangat kaya raya tapi berpenampilan sangat sederhana walaupun selalu menghadiri acara pesta-pesta kaum jetset.
Tentu saja mereka berhak berkumpul semewah-mewahnya kalau mereka mau. Seorang sosialita memanfaatkan acara party sebagai sarana to see and be seen among the creme de la creme of society. Party pun sering kali jadi acara penggalangan dana yang tidak perlu digembar-gemborkan, sampai jadi media kampanye partai politik atau kampanye caleg, misalnya. Beberapa dari mereka yang jadi pelindung yayasan sosial, pendidikan, kesehatan, dan kemasyarakatan. Mereka aktif dalam berbagai kegiatan penggalangan dana, bahkan tidak segan-segan langsung turun tangan mengurus kegiatan itu.
Jika dilihat dari kacamata orang luar, kegiatan acara musik klasik dan soprano ini tampak hanya hura-hura tak penting yang akan berakhir di halaman majalah dengan foto-foto sosialita bersama pasangannya. Apalagi harga tiket yang bisa buat membeli berkarung-karung beras. Tapi ternyata hasil penjualan tiket disumbangkan sepenuhnya untuk beasiswa anak-anak tak mampu namun berprestasi. Sang sosialita penggagas acara ini lebih berprinsip memberi orang kail daripada ikan. Kekayaan bukan menjadi kemarukan, melainkan menjadi sharing kepada sesama yang membutuhkan.
Banyak orang yang minder ketika berhadapan dengan kaum rich and famous ini. Saking mindernya, mereka bahkan sudah berprasangka bahwa si kaya pastilah jahat. Sesuai dengan apa yang sering dilihat di sinetron, orang kaya pasti melakukan banyak pekerjaan yang kotor. Yang kaya pasti sombong jika sedikit saja dia tidak berminat berteman dengan seseorang. Yang kaya pasti semena-mena jika berhadapan dengan orang-orang kecil. Padahal itu tidak sepenuhnya benar. Teman-teman sosialita yang menjadi teman-teman partner sama sekali tidak begitu. Mereka sangat perhatian dengan kaum papa, sopan, dan menghormati sesama. Mereka sangat ramah, baik hati, dan menyenangkan.
Bagaimana dengan orang miskin yang dengki terhadap mereka yang kaya? Banyak orang miskin yang juga jahat, bersikap semena-mena, dan sombong dengan kemiskinan mereka. Maksudku, mentang-mentang miskin, mereka merasa berhak menuntut ini itu, berhak berkata-kata jahat, berhak menghancurkan properti orang lain, berhak menjelek-jelekkan seseorang, berhak menghakimi orang kaya, berhak merasa dialah yang paling putih hatinya. Apakah kita menilai kualitas manusia dari apa yang (tidak) dimilikinya? Semakin tidak memiliki mobil, berarti dia adalah orang jujur. Semakin tidak memiliki rumah besar, berarti dia adalah orang senasib seperti kita. Semakin tidak mengenakan barang-barang mahal, berarti dia adalah rendah hati. Apa yang dimiliki dan (tidak) dimiliki selayaknya tidak menjadi sasaran penilaian terhadap kualitas pribadi manusia.
Acara musik klasik dan soprano berakhir pada pukul sebelas malam. Beberapa teman partner mengajak kami berdua menikmati breakfast at hotel Mulia besok bersama-sama anak-anak mereka. Kami tidak berjanji karena aku lebih suka bergelung bersama partner di minggu pagi yang cerah di balik selimut yang hangat. Hmmm…
@Sidney, SepociKopi, 2009















Betul, tidak selamanya sombong berbanding lurus dengan kaya raya, atau jujur identik dengan kemiskinan. Saya rasa semua itu hanya sterotip budaya dan pandangan. Dibumbui dengan prasangka iri hati dan dengki, maka sterotip itu bisa semakin menguat keberadaannya. Semua orang bisa menjadi si kaya yang rendah hati atau si miskin yang sombong, dan tidak banyak pula si kaya yang sombong dan si miskin yang minder?ah semua itu hanya permainan hidup belaka…
Leave your response!