On LDR
Saya jatuh sakit. Fisik dan terlebih hati. Ternyata hujan dan angin kencang belakangan ini tokcer merobohkan saya. Puncaknya terjadi kemarin. Tubuh saya sempoyongan, badan saya menggigil. Mata saya terasa panas dan mulai berair. Entah itu air mata atau efek tubuh saya yang menghangat terserang demam. Tenggorokan saya gatal seperti ada yang mengganjal. Di tengah kondisi seperti ini, saya malah memutuskan kabur saat jam kantor sudah selesai. Saya tepis bayangan hangatnya bergelung dibawah selimut.
Di bawah teror mendung yang setiap detik bisa melepaskan hujan dari sangkarnya, saya mulai berjalan. Tidak peduli bahwa satu-satunya teman berjalan saya adalah pikiran yang kalut. Saya (lagi-lagi) gagal mentransformasikan pikiran saya menjadi kumpulan energi positif. Sudah berkali-kali gangguan ini datang menggelitik kayak kutil yang minta disentil.
Saya memikirkan tentang hubungan saya. Ya, saya menjalani hal yang menjadi momok bagi semua pasangan, long distance relationship (LDR). Lima bulan sudah saya menjalani hubungan yang sendiri. Sendiri karena kekasih tidak bersama saya di sini. Sebuah hubungan yang orang bilang, “Tidak ada jalan berdampingan. Lupakan bergandeng tangan. Jangan harap keintiman. Tolong deh, jangan banyak protes!”
LDR memang tak sekeren namanya. Believe me, you don’t want to be in it. Kau bisa mati sesak bila berharap napas dari kekasihmu. Tanpa sadar, kau akan berjalan terseok-seok dan akhirnya tersungkur ke dalam liang kesepian yang dalam dan gelap. Tak ada yang bisa kau lakukan di sana selain berteriak. Menjerit! Sekeras-kerasnya! Sampai kau kehilangan kewarasan dan yang ingin kau lakukan hanyalah melarikan diri. Jiwamu menolak segala kalimat penghiburan karena itu bukan obat penawar dari pikiranmu yang kacau.
Hati saya terus ngerengik. Saya ibarat bayi raksasa yang menjerit-jerit berisik minta perhatian, kangen dijamah, haus kasih sayang, dan rindu dikelonin. Meski jeritan saya semakin melengking, dalam hati saya mengumpat. Hati dan pikiran saya riuh berdebat. Saya tahu logika yang akan jadi pemenang dalam pertarungannya ini. Saya tak mungkin mengharap kekasih terbang bermil-mil hanya untuk memeluk saya. Sayangnya, saya orang yang sangat mengagungkan hati. Dan saat ini hati saya sedang protes sekeras-kerasnya.
Begitulah saya, hari itu. Berjalan entah kemana. Saya menyeret kaki saya dan mengomandonya untuk terus melangkah. Saya mencari sebuah petualangan yang bisa membuyarkan kekusutan pikiran saya. Menyusuri trotoar sama sekali tidak ada enak-enaknya. Becek, berbatu, dan kadang berlubang. Beruntung sisa hujan seharian mengkamuflase debu-debu dan asap kendaraan. Sepintas jalanan tampak seperti tanpa polusi. Saya bisa bernapas teratur di tengah sesaknya kendaraan yang lalu lalang.
Sepanjang trotoar saya berjalan gagah seperti tentara. Jalan protokol yang saya lalui belum juga kelihatan ujungnya. Kaki saya juga belum lelah. Pikiran saya masih muram seperti awan yang bergulung di atas kepala.
SMS dari kekasih yang tiba-tiba masuk enggan saya balas. Amarah saya sedang kronis. Dan saat ini saya betul-betul sedang dikuasai olehnya. Tidak ada belas kasihan di setiap sudut relung hati saya. Bahkan untuk kekasih. Betul. Saya ngamuk padanya. Saya kalut karena dia. Saya kacau karena jarak. Karena dia tak disini. Karena dia mau saja disandera di negeri asing, meski dengan dalih sekolah. Satu tahun pula.
Maafkan Sayang, saya sedang sakit. Fisik maupun hati. Kalau kau tak ada disini, rasanya tidak ada guna aku memelas perhatianmu. Saya sungguh-sungguh sakit. Fisik dan hati. Jarak yang jauh ini, oh benar membunuh saya…
@Bibiy, SepociKopi, 2009










don’t be like that
ldr will prove how much you love each other and it will strengthen your relationship.
well, at least it works that way for me… I’ve been with my love for 9 years, yang 7 tahun ldr… sedih tapi it’s still better than being with anybody else. coz she’s simply the best.
nienaaaaa…pa kabar? Kapan pulang ke indo?;) Bener tuh kata niena. Aku sendiri udah 6thn & selama itu LDR terus. Tapi makin cinta & sayang to each other. Perasaan jiwa malah tambah nyatu karena kualitas ketemu jadi prioritas utama & bukan kuantitasnya. Setiap obrolan di telp, chat atau bahkan sms makin romantis & lebih banyak menghindari pertengkaran. Gak selamanya LDR itu menjadi mimpi buruk, banyak segi positifnya jg dari pada negatifnya asal kita bisa dewasa dalam menyikapi situasinya
bener banget, niena. LDR sure is not a great thing to do at all, but
believe me or not, it could work. I’ve been with my partner for exactly 9 years–5 years spent on LDR.
When it still works, I feel content: I love her and she
loves me as much; no distance can separate us.
Semangat yang lagi LDR..!! Tahun2 pertama memang kaya HELL..!!
wah ternyata ga sendirian…
senangnya, love actually works
Leave your response!
Esensi Espresso
Lesbian, bulan Februari yang beraroma romantis mulai tampak. Apakah cinta? Pada hubungan percintaan lesbian yang tak bisa terikat dalam landasan pernikahan, banyak lesbian yang terjatuh pada kebingungan, ketakutan, dan ketidakpastian. Di mana pegangan untuk masa depan?
Lesbian, cinta bagi pasangan lesbian tentu membutuhkan perjuangan keras agar hubungan jangka panjang bisa terjadi. Banyak tantangannya dalam berkomitmen, misalnya kesetiaan, finansial, keluarga, perbedaan, dan lain-lain. Bisakah kita menjalaninya? Berapa lama pasangan lesbian bisa bertahan? Konon ada yang mengatakan bahwa usia pasangan lesbian tak bakal melewati satu tahun. Ah, tentu tidak benar!
Lesbian, untuk menjadi pasangan yang langgeng sampai nenek-nenek, kita bisa belajar dari teman-teman lesbian yang lain yang sudah bersama selama bertahun-tahun. Delapan tahun? Dua belas tahun? Lima belas tahun? Dua puluh tahun? Bisakah kita mencuri kebijaksaan mereka dan mengaplikasikannya ke dalam kehidupan percintaan agar kita pun bisa berbahagia dengan pasangan sampai nenek-nenek? Pastinya dong! Selamat merayakan cinta dalam arti yang sepenuh-penuhnya. Peluk cium untuk segenap pembaca SepociKopi tersayang.
Kategori
Visitor Number:
Arsip SepociKopi
Sedang Online
Senggolan Sepocikopi
Stop Press!
Kami mempersembahan kaos SepociKopi yang bakal keren dipakai dalam berbagai acara.
Silakan pilih dan unduh sendiri desainnya, lalu kamu sablon sendiri di kaos warna favoritmu.
Satu desain pasti tidak cukup, dua juga pasti nggak... semuanya saja! Tenang kok, kaosnya sangat lesbian-friendly dan hetero-friendly, jadi nggak bakal ketahuan! Kalau ketemu sesama teman yang juga mengenakan kaos ini, cukup saling melirik penuh arti. Kodenya udah udah dipatenkan di kepala masing-masing bo!
Salam SepociKopi!
Tags
Pembelian Online:
www.gramediashop.com
www.gramediaonline.com
Friendly Reminder
Situs ini adalah situs lesbian nonprofit. Untuk 18 tahun ke atas. Harap keluar dari situs ini jika Anda masih di bawah umur.
Most Commented
www.facebook.com/sepocikopi
www.twitter.com/sepocikopi
Twitter Buttons
Most Viewed
Recent Comments