Home » Humaniora, Intermezzo, Perempuan

On LDR

16 February 2009 49 views 4 Comments

Oleh: Bibiy

Saya jatuh sakit. Fisik dan terlebih hati. Ternyata hujan dan angin kencang belakangan ini tokcer merobohkan saya. Puncaknya terjadi kemarin. Tubuh saya sempoyongan, badan saya menggigil. Mata saya terasa panas dan mulai berair. Entah itu air mata atau efek tubuh saya yang menghangat terserang demam. Tenggorokan saya gatal seperti ada yang mengganjal. Di tengah kondisi seperti ini, saya malah memutuskan kabur saat jam kantor sudah selesai. Saya tepis bayangan hangatnya bergelung dibawah selimut.

Di bawah teror mendung yang setiap detik bisa melepaskan hujan dari sangkarnya, saya mulai berjalan. Tidak peduli bahwa satu-satunya teman berjalan saya adalah pikiran yang kalut. Saya (lagi-lagi) gagal mentransformasikan pikiran saya menjadi kumpulan energi positif. Sudah berkali-kali gangguan ini datang menggelitik kayak kutil yang minta disentil.

Saya memikirkan tentang hubungan saya. Ya, saya menjalani hal yang menjadi momok bagi semua pasangan, long distance relationship (LDR). Lima bulan sudah saya menjalani hubungan yang sendiri. Sendiri karena kekasih tidak bersama saya di sini. Sebuah hubungan yang orang bilang, “Tidak ada jalan berdampingan. Lupakan bergandeng tangan. Jangan harap keintiman. Tolong deh, jangan banyak protes!”

LDR memang tak sekeren namanya. Believe me, you don’t want to be in it. Kau bisa mati sesak bila berharap napas dari kekasihmu. Tanpa sadar, kau akan berjalan terseok-seok dan akhirnya tersungkur ke dalam liang kesepian yang dalam dan gelap. Tak ada yang bisa kau lakukan di sana selain berteriak. Menjerit! Sekeras-kerasnya! Sampai kau kehilangan kewarasan dan yang ingin kau lakukan hanyalah melarikan diri. Jiwamu menolak segala kalimat penghiburan karena itu bukan obat penawar dari pikiranmu yang kacau.

Hati saya terus ngerengik. Saya ibarat bayi raksasa yang menjerit-jerit berisik minta perhatian, kangen dijamah, haus kasih sayang, dan rindu dikelonin. Meski jeritan saya semakin melengking, dalam hati saya mengumpat. Hati dan pikiran saya riuh berdebat. Saya tahu logika yang akan jadi pemenang dalam pertarungannya ini. Saya tak mungkin mengharap kekasih terbang bermil-mil hanya untuk memeluk saya. Sayangnya, saya orang yang sangat mengagungkan hati. Dan saat ini hati saya sedang protes sekeras-kerasnya.

Begitulah saya, hari itu. Berjalan entah kemana. Saya menyeret kaki saya dan mengomandonya untuk terus melangkah. Saya mencari sebuah petualangan yang bisa membuyarkan kekusutan pikiran saya. Menyusuri trotoar sama sekali tidak ada enak-enaknya. Becek, berbatu, dan kadang berlubang. Beruntung sisa hujan seharian mengkamuflase debu-debu dan asap kendaraan. Sepintas jalanan tampak seperti tanpa polusi. Saya bisa bernapas teratur di tengah sesaknya kendaraan yang lalu lalang.

Sepanjang trotoar saya berjalan gagah seperti tentara. Jalan protokol yang saya lalui belum juga kelihatan ujungnya. Kaki saya juga belum lelah. Pikiran saya masih muram seperti awan yang bergulung di atas kepala.

SMS dari kekasih yang tiba-tiba masuk enggan saya balas. Amarah saya sedang kronis. Dan saat ini saya betul-betul sedang dikuasai olehnya. Tidak ada belas kasihan di setiap sudut relung hati saya. Bahkan untuk kekasih. Betul. Saya ngamuk padanya. Saya kalut karena dia. Saya kacau karena jarak. Karena dia tak disini. Karena dia mau saja disandera di negeri asing, meski dengan dalih sekolah. Satu tahun pula.

Maafkan Sayang, saya sedang sakit. Fisik maupun hati. Kalau kau tak ada disini, rasanya tidak ada guna aku memelas perhatianmu. Saya sungguh-sungguh sakit. Fisik dan hati. Jarak yang jauh ini, oh benar membunuh saya…

@Bibiy, SepociKopi, 2009

4 Comments »

  • niena said:

    don’t be like that
    ldr will prove how much you love each other and it will strengthen your relationship.

    well, at least it works that way for me… I’ve been with my love for 9 years, yang 7 tahun ldr… sedih tapi it’s still better than being with anybody else. coz she’s simply the best.

  • Rafi said:

    nienaaaaa…pa kabar? Kapan pulang ke indo?;) Bener tuh kata niena. Aku sendiri udah 6thn & selama itu LDR terus. Tapi makin cinta & sayang to each other. Perasaan jiwa malah tambah nyatu karena kualitas ketemu jadi prioritas utama & bukan kuantitasnya. Setiap obrolan di telp, chat atau bahkan sms makin romantis & lebih banyak menghindari pertengkaran. Gak selamanya LDR itu menjadi mimpi buruk, banyak segi positifnya jg dari pada negatifnya asal kita bisa dewasa dalam menyikapi situasinya ;)

  • ramadewi said:

    bener banget, niena. LDR sure is not a great thing to do at all, but
    believe me or not, it could work. I’ve been with my partner for exactly 9 years–5 years spent on LDR.

    When it still works, I feel content: I love her and she
    loves me as much; no distance can separate us.

    Semangat yang lagi LDR..!! Tahun2 pertama memang kaya HELL..!!

  • niena said:

    wah ternyata ga sendirian…
    senangnya, love actually works :)

Leave your response!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.