Home » Humaniora, Intermezzo

Berjingkat di Lesbian Bar

11 February 2009 135 views 6 Comments

Oleh: Ade Rain

Sudah beberapa hari aku merasa seperti dodol, badan dibaluri krim yang amat sangat tebal, lalu dibungkus lengan panjang tipis, pullover, ditambah jaket yang juga sungguh berukuran selimut. Dikemas seperti dodol tradisional memang unik rasanya. Seperti didandani secara komplet, tinggal dibaluri minyak goreng, daun pisang, plastik, baru bungkusan kulit Aren yang diikat ketat sehingga dodol tampak cantik dan apik.

Dengan pakaian robot dodol berlapis-lapis itu tentu saja jalan agak sulit untuk terlihat anggun. Tapi siapa juga peduli, lagi dalam keadaan dingin begitu ngga mikir lagi mau cantik-cantik ria. Heh… salah dink… aku masih suka dandan juga. Salah seorang teman cowok satu programku habis-habisan mengomel setiap kali aku masih juga tanya besok mau pakai baju apa ya?

Berjuang memikirkan agar tetap tampil modis di tengah musim dingin itu membuatnya bete. Karena jelas-jelas dia juga setiap hari berbungkus seperti dodol tadi…(tapi dodol dia kayaknya dodol basi deh lebih tebal dan membuatnya tampak sedikit seperti dodol dalam bambu, tegang dan susah jalan.) Capcay deh, cape banget sama dia karena berantem tiap hari soal pakai baju apa ya besok?

Malam itu, aku tahu sekali, dia, si Raden, ingin mengekor mengikutiku pergi. Bete ngga sih? Dia kan cowok, lagian aku punya urusan sendiri. Urusan perempuan.

Dia membelok ke 12th street, aku lempeng, ngga mau lihat-lihat dia ke belakang… duh semoga dia beneran nggak ikut. Aku sudah browsing tempat hangout lesbian itu sejak di kota ini. Nggak akan kuizinkan cowok kayak dia merusak malam itu.

Akhirnya tempat yang dicari ditemukan. Lokasinya hanya berjarak beberapa blog saja dari hotel. Tempat nongkrong lesbian malam itu kecil jadi terlihat cukup ramai. Tak begitu mencolok meskipun berada di jantung kota . Tempatnya di antara hilir mudik manusia yang keluar masuk lingkungan Forest Park Building.

Kumasuki bar mungil tersebut. Ada meja tinggi memanjang, dengan dua bartender perempuan muda. Tulisan The XXXX kecil menyala menyabut kedatangan. Meja bundar tak jauh dari situ berisi beberapa perempuan sibuk mengobrol, meja yang lebih jauh juga penuh. Musik ringan mengalun perlahan tak mengganggu percakapan orang-orang di dalamnya. Aku membuka jaket, berjalan manis ke dalam.

Masih bingung ingin duduk di mana, akhirnya mendatangi meja bar. Bertanya pada bartender minuman apa yang tak mengandung soda dan alkohol. Ia menganjurkan orange juice tonic, setelah paham apa isinya aku memesan satu. Dengan ramah ia mengajakku mengobrol. Ia tertawa berkali-kali ketika kujelaskan soal dodol tadi dan cara berpakaianku. Kami tertawa. Sesekali aku melempar pandangan ke luar serbuk salju terkena cahaya lampu turun pelan-pelan, indah. Aku suka melihat serbuk putih itu liar ke sana kemari menjatuhkan diri.

Ragu-ragu aku bertanya apakah semua tamu di sini kebanyakan lesbian, ia memastikan dengan anggukan dan senyuman. Tangannya yang berwarna kemerahan memanggil salah seorang perempuan. Tak kelihatan lesbian sama sekali. Ia menyebut namanya Alen. Bartender mengenalkan diri dengan nama Gael. Duh… beneran aku deg-deg-an berada di sekitar mereka, seperti masuk ke kampung sendiri dan langsung merasa nyaman di dalamnya.

Bisa kurasakan kehangatan Gael, ia memang pantas menjadi bartender. Sangat ramah dan aktif menghangatkan suasana. Gael meminta Alen mengenalkanku pada teman-temannya. Setelah mengobrol sebentar bertiga, Alen langsung membawaku ke meja di bagian tengah. Aku langsung tenggelam berada di kumpulan mereka, tak melihat satu butchy pun. Beberapa andro, satu cewek dengan lengan penuh tato tapi tetap saja terlihat feminin.

Pelan-pelan kutanya pada Alen, apakah mereka mengenal dua grup di meja lain? Alen bilang hanya tahu beberapa tapi tak kenal dekat dengan wajah-wajah tersebut, menurutnya yang berada di pojok berasal dari kota lain tempat lain, dan ia hanya familier wajah. Menurutnya ada sekitar 30-an L yang sering nongkrong di tempat itu, rata-rata warga kota , namun ada juga yang membawa teman-teman dari kota lain, umumnya lebih ramai hari Sabtu.

Sedang asyik-asyik mengobrol, tiba-tiba bel pintu masuk berbunyi… tamu baru, dan kulihat punggung Raden. Leherku seperti kelilit kemben.. eh syal eh dodol syalnya Raden. Aku tahu Raden selalu cari minuman buat menghangatkan diri, sejak kemarin dia keluar-masuk Liquor bar. Aku sontak panik. Bisik-bisik kukatakan pada Alen untuk menyembunyikan aku di pojokan mereka, agar Raden tak bisa melihatku.

Kukatakan dengan bisikan setan. (Itu loh bisik-bisik pucat yang secepat kilat dibarengi muka tegang ketakutan…)

“Pssst Alen I’m not coming out… he is one of my friend from Indonesia.”

Teman Alen, Christ datang menyusul, menyalami. Alen memintanya menutupiku.

Tiba-tiba…

“Eeeh… eh XXXXXX kok di sini?”

Kudengar suara Raden memanggil namaku. Dudul gundul pacul deh, beneran kayak dicolok selang air kupingku dengar suaranya.

“Aku kedinginan di luar jadi main masuk aja ke sini.”
“Ah elu mah muna katanya ngga minummm.”
“Iya ini mau mau mabuk air jeruk biar ngga gila gara-gara kuliah kita siang tadi.”
Aku mulai ketus deh sama dia, sebenarnya ngga benci malah sering kecanduan berantem gitu… emang asyik berantem sama Raden semua suka ketawa kalau kita udah heboh. Masalahnya aku ngga mood berantem di situ. Radeeeennn kamu keluar giiih!!! aku berteriak dalam hati.

Raden mengajak duduk di mejanya. Aku melangkah di belakang pelan menyingkir dari Christ berbisik lagi memintanya untuk memberitahu Gael agar tak mengajakku mengobrol. Ah aku duduk di meja Raden… ingin kubunuh dia pake cangkir mini liquor yang diminumnya, bisa ngga ya, atau pakai taplak meja aja kubungkam mulutnya trus masukkan ke dalam drum bir biar ngga ganggu malamku.

Dia masih terus godain bilang aku muna diam-diam ternyata minum alkohol, bodoh ah… toh dia cuma liat aku minum jus. Sepuluh menit pertama booorrriiing setengah mati. Aku udah mau pamit meninggalkan bar itu, tapi dia bilang mau ikut aku, padahal maksudnya mau keluar, tunggu dia keluar aku balik lagi ke tempat itu.

Obrolan sama Raden udah asal, aku maksa mau balik ke hotel. Raden buru-buru membayar minuman kami, aku masih melihat mimik Gael yang kasihan padaku. Aku hanya main mata.

Di bawah temaram lampu dan embusan angin winter, aku ngacir berjalan jauuuuh di depan Raden, aku tahu otaknya udah terpana oleh campuran vodka, whiski dan jeruk nipis tadi, entah apalah namanya. Aku langsung ngacir buru-buru mau lantai 8. Di lift kujambak rambutnya sambil mengancam jangan ikut ke kamar. Raden malah ketawa ngakak, dan ikut.

Aku mau pinjam kameramu mau transfer foto-foto kita.

Radennnn aku benar-benar ingin membunuhmu menjepitkan lehermu di pintu lift atau kugulung karpet hotel, kubuang dari jendela aja kali yaaa. Buru-buru kuambil kamera itu dan Brak!!! Kubanting pintu kamar,

“Aku tidur ya, Den.”
“Munaaa Munaaa munaaa, ma kasih, Sayang.”

Adduuh Den terserah deh mau bilang apa aja asal kamu ngga bilang aku lesbian. Belum lima menit telepon kamar bunyi. Raden lagi, kali ini minta izin semua foto ditransfer ke laptopnya, jadi flash disk d
i kamera dikosongi. Terserah elu deh, Deeeen, makan tuh kamera, aku mau bebas malam ini.

Tak terasa hampir pukul 10 malam café nyaris tutup, aku masuk bar itu lagi 15 menit setelah pasti Raden nggak berkeliaran. Kali ini berjingkat memastikan tak ada Raden-Raden lain yang juga lalang melintang di sekitar jalan yang penuh tempat nongkrong itu. Aku masih duduk di meja, Chris dan Alen terbahak-bahak mendengar perjuanganku lepas dari Raden dan caraku menemukan tempat itu. Kami mengobrol sampai teman-teman lesbian lain meninggalkan ruangan. Aku lihat Gael berciuman bibir dengan Christ, oh mereka couple ternyata… melihat ciuman bibir itu aku jadi kangen seseorang.

Setelah menutup bar, Christ, Gael, Allen, dan Jane mengantarku pulang, hanya beberapa blok dari tempat itu. Dan sepertinya mereka sangat menghargai aku yang sengaja mencari tempat itu dan nekat datang sendirian. Gael dan Christ bergenggaman, satu tangan Gael memeluk bahu sambil bersenandung lagu yang tak kukenal.

Jemari mengkerut padahal berbalut sarung kulit, tapi malam itu indah. Pohon tanpa daun ditiup angin, kelap kelip lampu Billboard, buliran es mengeras di aspal. Suara klakson mobil di kota tempat 9/11 menghancurkan WTC itu, membuat enggan pulang… mereka membuatku betah. Tapi sesekali aku masih melihat-lihat ke belakang, takkan pernah kubagi kebahagiaan malam itu dengan Raden. Tuhan aku benar bahagia meski terbungkus bagai dodol anyep, beku, dan dingin yang dimasukkan ke dalam kulkas bersuhu minus 15 derajat Celsius.

@Ade Rain, SepociKopi. 2009

6 Comments »

  • Rafi said:

    Bu ujaaaan…jd inget masa lalu. Tapi kebalikan ma aku tuh. Aku malah takut setengah mati waktu dikerjain temen masuk ke Bar gay & lesbian (dan ternyata temenku tuh L). Awalnya gak tau krn didalam gelap & musicnya rada keras gitu, nyadarnya waktu ada gay couple yg lagi dance sambil ciuman… mampus deh! Usaha untuk keluar dr bar itu eh…malah kecekal ma butchy, whuaaaa…sumpah deh panik abiiis!! Apalagi ketemu ma dosen yg lagi ngobrol di meja barnya sama dosen laen (tp mereka straight)!. Kebetulan gedung kampusku emang cuman diseberang bar itu.Temenku malah ngakak sampai diluar. Sebetulnya seru jg sih bisa masuk kesitu,masalahnya gak prepared aja sebelumnya kaya kamu, ditambah temen2ku & dosen2 itu kan taunya aku straight!! Oops! :) Kalo tau mau dibawa ke situ kan,aku bisa request minta bar yg khusus L, jd bisa skalian tepe2…hahaha :) )

  • Anonymous said:

    New York City Never Sleep…

  • Anonymous said:

    rain i wish t b with u there

  • Anonymous said:

    semoga laen kali pak raden ga ikut2 lagi….

  • Anonymous said:

    halo mba Rain,ceritanya bikin ngakak lagi:) mba lebih baik cari si unyil,supaya pak Raden sibuk ma dia,hehehe…
    mba siapkan jurus detektifnya,yang bisa ngilang kapan aja,menghindari dia,n bisa menjaga ke-L-nya dari Pak Raden yang dah jadi “musuh2an” mba….
    masih ditungu cerita kucing2nya dengan pak Raden (jangan2 ini kayak film tom n jerry???)
    ini aku _T Jogja_

  • Inney said:

    Wah seru ceritany simpan ja pk raden d bawah bantal atau kantongin ja,. kak anoy blh tau cf tmpt linez jogja ini emailq inney_imoet@yahoo.com

Leave your response!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.