Oleh: Nuha Guwa

Tuhan menciptakan manusia dengan keanekaragaman warna kulit, perbedaan bahasa, dan warna warni tingkah laku dalam khazanah kaya budaya. Perbedaan itu sangat mudah dilihat ketika berada di negara lain, atau dalam skala kecil ketika mengunjungi daerah di luar tempat tinggal kita. Perubahan cara berbicara, ucapan, kata-kata kalimat dalam dialek merupakan sebuah kenyataan yang mau tak mau harus menjadi bagian penerimaan manusia terhadap perbedaan adat istiadat tersebut. Meskipun pada kenyataannya hingga kini penerimaan akan satu budaya dan pandangan hidup yang berbeda selalu menimbulkan rasa curiga dan syakwasangka.

Sudah menjadi kebiasan manusia selalu mengukur gejala atau sesuatu hal dengan pengalaman sebelumnya. Adanya perbedaan keseharian atau gaya hidup ini pun kerap menimbulkan rasa was-was. Perbedaan agama contohnya, perbedaan kesepakatan akan nilai-nilai kebenaran dalam penyembahan terhadap Tuhan juga kerap menjadi biang curiga, benar atau salah sebuah anutan hidup. Menganut agama yang sama pun seringkali memberikan perbedaan dalam menafsirkan ayat-ayat dalam kitab sucinya atau menyikapi peristiwa dalam kejadian sehari-hari. Perbedaan menikmati jenis makanan tertentu juga sering kali menjadi sebuah masalah ketika mengunjungi suatu daerah. Mengeluh bahwa makanan di suatu tempat tidak selezat lidah di kampong kita, rasa yang terlalu hambar, terlalu manis, terlalu pedas, dan asin, nyatanya hanya selebar lidah manusiayang ukurannya 4 centimeter.

Cara berpakaian juga kerap menjadi contoh cemooh yang menyakitkan. Perempuan Arab menutupi seluruh tubuh, bahkan mata pun harus ditabir dengan cadar sampai-sampai sulit melihat ekspresi mereka sedang sedih, marah atau tersenyum ketika berbicara. Masyarakat Tionghoa gemar mengenakan pakaian kasual dan santai, bahkan sering kali mengenakan penutup badan yang minim. Lihat di pelosok Bali, Mentawai, dan Papua, para perempuannya menganggap penampakan payudara itu hal yang wajar dan biasa, tak ada yang aneh membiarkan dua bulatan indah itu mengantung di sana.

Masa kini ketika semua menggunakan Iphone, modern gadget, dan Blackberry super canggih, perbedaan akan semua hal yang terjadi di antara gaya hidup seseorang seharusnya tak lagi menjadi sebuah topik yang perlu dibicarakan. Jika seseorang memang memiliki gaya hidup socialite, intelek syndrome yang bangga dengan keilmuannya, seseorang yang bersahaja tak menonjolkan apa-apa bahkan terlalu biasa. Biarkan, karena memang tak ada yang aneh dengan mereka. Tetap keberbedaan gaya hidup itu memperkaya warna di sekitar kita.

Tentu semua kenyataan hidup itu memiliki sisi positif, negatif dan area abu-abu, tergantung dari sisi mana manusia memandang. Adanya sudut penglihatan berbeda ini seharusnya tak membuat manusia menjadi picik dengan segera menyimpulkan sesuatu yang dilihat dengan begitu sinikal, bahkan disimpulkan dengan teramat kejam. Buru-buru mengatakan seseorang baik atau jahat dapat menjadi bias, butuh berhari-hari mengenal hidup seseorang sehingga kita bias menyimpulkan mereka begini dan begitu karena di belakangnya ada hal seperti ini dan seperti itu. Dengan mencoba mengerti apa yang dialami seseorang, mungkin sikap mudah mengerti dan memahami akan sesuatu hal akan menghasilkan pemahaman yang mampu menyokong pondasi keharmonian.

Memang tidak mudah melakukan pemahaman itu. Apalagi ketika antar manusia berbenturan sesuatu hal, bersengketa prinsip, berebutan ingin mempertahankan keamanan negara. Konflik di Gaza, Taliban di Afganistan, kematian Ketua DPRD Sumut atas ulah demonstran di Sumatra Utara juga menjadi contoh bahwa sebuah perbedaan pandangan mampu mengorbankan darah bahkan nyawa. Jika perbedaan itu bisa menyakitkan tentu saja ada yang harus diluruskan sehingga konflik-konflik kesenjangan sisi pandang, budaya, tingkah laku, bahkan gaya hidup, tak mengorbankan siapa-siapa.

Gay dan lesbian merupakan contoh lain, dianggap penyakit, sumber aib dalam sebuah keluarga konservatif, sehingga terpaksa harus menikah untuk menutupi semua itu… bahkan menyembunyikan pasangan yang bergaya terlalu perempuan atau patner yang agak kelaki-lakian seperti sebuah keharusan. Seorang lesbian mengaku takut mendatangi lagi rumah patnernya akibat sang “ibu mertua” menjulukinya si Lanang, si Perkasa, si Jantan. Tentu saja penerimaan akan keadaan seseorang memang tak bisa kita harapkan begitu saja dari orang lain. Reaksi yang dilakukan oleh pihak lain di luar diri kita memang sangat tergantung dengan latar belakang hidup seseorang.

Atas dasar inilah seharusnya bibit-bibit saling hormat dan menghargai mulai ditanam pada diri sendiri, bahwa perbedaan itu seharusnya tak menumbuhkan kebencian, apalagi kemudian menjurus dalam hot conflict yang ujung-ujungnya malah terjadi persiteruan. Jika berbeda pandangan tentang penggunaan labelisasi, sewajarnya tak membuat dua kelompok lesbian saling cemooh atau menjauh. Adanya ketidaksetujuan terhadap lesbian yang harus menikah dan memilih punya anak tak lagi menjadi gosip di kongkow di café dan obrolan di belakang seorang teman yang sedang bimbang menghadapinya.

Jika kita saja sudah dianggap berbeda oleh sekeliling, disebut sebagai objek atau subjek calon pelanggar undang-undang pornografi dan pornoaksi. Kalau norma-norma masyarakat menganggap ada yang aneh pada kaum homoseksual, seharusnya kita menjadi manusia yang paling memahami makna sebuah toleransi. Seorang butchi memilih menukar dadanya menjadi rata, mengganti alat kelaminnya menjadi testikel, apakah masih ada lagi yang perlu dicemoohkan? Sebelum menukar semuanya ia selalu mendapat masalah ketika harus mencari toilet. Mendatangi rumah patner dipelototin Ayah Ibunya, terkadang harus risih dipandangi seseorang yang berusaha menebak jenis kelamin. Dan, di atas semuanya, mungkin dia merasa menjadi lelaki adalah kodrat utamanya sehingga dia lebih tenang dan berbahagia dengan menjadi manusia yang menyebrangi jenis kelamin. Pernahkah kita sebentar saja mencoba merenungkan jika berada di posisi demikian?

Jangan lagi melihat perbedaan itu dengan kaca mata kuda, bahkan menggunakan kaca mata tidur yang membuat kita menjadi terlelap dan tak lagi tahu apa yang sedang terjadi di luar sana. Percayalah, perbedaan akan sebuah pilihan hidup seseorang itu bukan karena ia memang mau demikian. Justru kedaan tertentu menggiringnya ke dalam sebuah keputusan yang mau tak mau harus dijalani. Konon banyak yang bilang hidup itu pilihan. Bagaimana kalau pomeo yang sering kali diucapkan banyak orang itu diganti, hidup adalah toleransi.

Toleransi paling pertama harus dilakukan yakni dengan diri sendiri, kedua dan ketiga juga terhadap keadaan diri sendiri. Mengerti mengapa harus bangun pagi dan bersiap kerja keras. Memahami mengapa kita malas dan enggan berkemas, mengapa syahwat itu malah mengalir begitu saja pada teman sejenis. Dengan mencoba mengeksplorasi, memahami kekurangan dan kelebihan sendiri akan lebih mudah menjalani takdir hidup itu secara tulus. Seharusnya tak ada lagi keluh kesah, pesimis, bahkan sikap yang menjurus merugikan orang di sekeliling. Toleransi seharusnya memudahkan otak kecil memahami dan mengenal mengapa kita seperti ini bahkan lebih jauh mengerti mengapa seseorang itu bisa berbeda. Dengan demikian kita bisa berdamai dengan diri sendiri, dan hidup damai bersama orang lain di sekitar kita.

@Nuha Guwa, SepociKopi, 2009