Home » Humaniora, Tentang Cinta

Sekarang Atau Lima Puluh Tahun Lagi

9 February 2009 52 views 9 Comments

Oleh: Arie Gere

Akhir-akhir ini, paranoidku mengulah. Paranoid berlebihan takut kehilangan kekasih tercinta. Jadilah aku seperti polisi 24 jam, mengecek sana-sini apa yang dilakukan kekasihku. Menelepon hampir tiap saat senggangku, yang menurut Michiru adalah sangat berlebihan. Panik bila telepon tak diangkat, apalagi kalau SMS tak dijawab. Ketakutanku yang sangat berlebihan. Apakah karena zona kenyamanan bercinta saat ini sedang kurasakan dan sangat ketakutan bila semuanya harus sirna dalam sekejap. Sepertinya aku terlalu menjaganya, sampai-sampai kekasih merasa terlalu terjaga dan ingin sekali-kali lepas dari penjagaanku. Yeah, begitulah bila aku terlalu berlebihan ingin menjaganya. Meski hanya melalui pencetan tombol di tangan.

Sering aku merasa uring-uringan tak menentu kalau merasa komunikasiku tak lancar dengannya. Sekali lagi, hanya menurutku saja, meskipun sebenarnya tak ada apa-apa. Katakanlah, telepon dan SMS yang hanya dijawab dengan “Ya” atau “G’’. Dan marah yang tak beralasanku pun dibalas kekasih dengan sindiran, “Yah, kalau mau on line 24 jam terus sih, kamu pacaran sana sama call center atau yang 0809 itu, biar bisa terus-terusan jawab SMS dan teleponnya kamu.”

Cinta dan takut kehilangan, itulah dia, dua rasa yang tak bisa kupisahkan. Entah bagaimana memilahnya, otak kiri dan kananku sama sekali tak mampu mencerna. Lambungku sakit bila harus memikirkannya, jantungku melemah dan paru-paruku bakal bocor halus bila itu sampai terjadi. Jangan sampai ini terucap di depannya, atau sindiran kedua akan berlanjut dari Michiru, “Gombal kamu”

Salah seorang sahabat mengatakan, jangan mencinta yang terlalu mencinta. Jatuhnya nanti, sakit teramat gak ketulungan. Berulang kali dia mengingatkanku, berulang kali aku mengatakan kalau aku memang benar-benar cinta kekasihku. Dan tak tahu bagaimana bila harus mengurangi porsi cinta itu kepada sang kekasih. Akhirnya, jadilah aku yang bebal, menjadi over paranoid yang menjijikkan. Aku sendiri pun tak tahu kenapa dan kenapa, entah bagaimanapun tak mengacuhkan rasa peduli yang terlalu berlebihan ini. Kekasihku pun tak pelak lagi sering menganggapku, “kekanakan”.

Bukan Michiru saja, aku pun menganggap sikapku memang kekanakan. Seperti satpam 24 jam yang ingin menjaga. Online terus seperti status YM yang sebenarnya sudah away tetapi tetap “I’m on sms”. Bodyguard ikhlas yang menguntit ke mana-mana. Bukan Bodyguard from Beijing, malah from tanah batak antah berantah. Atau jangan-jangan, aku punya kelainan psikis, oh tidak, apakah aku psikopat??? Jangan-jangan iya. Oh tidak. Mudah-mudahan bukan. Jangan-jangan memang iya. Ah, semoga bukan, ya Tuhan.

Kuharap kekasih mengerti maksud hatiku. Mungkin inilah efek rasanya merindu, rasanya seperti terimpit dan terjepit. Ingin menjerit pun, tak bisa tak keluar. Vokalnya serasa tersumbat. Ingin mengucapkan A yang keluar E, terbayang B, terkatakan X. Sudah tak sinkron lagi otak dengan mulut, hati dengan jiwa, raga dengan perasaan. Rasanya ingin melompat, terbang dengan dua sayap agar terobati sejenak kekosongan jiwa yang ada. Sambil berandai-andai, akupun berkhayal mendengar kekasih melantunkan lagu curahan hatiku, seperti di dalam lagunya WARNA,

*)Kau bilang kini kau tak menarik lagi
*)Tapi kumerasa kau tidak…
*)Kau selalu bertanya apa ku masih cinta
*)Dari pertanyaanmu sepertinya kau takut.

**)Sekarang atau 50 tahun lagi ku masih akan tetap mencintaimu
**)Tak ada bedanya rasa cintaku masih sama seperti pertama bertemu

***)Ku ingin tahu pernahkah kauduakanku
*)Pernahkah? Ku tak pernah..
***)Bermain cinta di belakangku, bersenang-senang…

*)Dari pertanyaanmu, sepertinya kau takut..

*)Cobalah percaya padaku itu hanya ketakutanmu saja
*)Cobalah percayaaaaa…

Index *) = Femme yang melantunkan
Index **) = Pasangan sama-sama melantunkan
Index ***) = Butch yang melantunkan

@Arie Gere, SepociKopi, 2009

9 Comments »

  • Rafi said:

    Heh??! Biar udah punya pasangan, tiap orang tetap butuh privasi kalee ;) Engap deh urusannya kalo dijagainnya sampai over gitu. Yg ada malah putus gara2 capek diawasin terus & bisa dianggap kita gak percaya ma dia. Kasih kebebasan yg bertanggung jawab, toh waktu awal jadian kita udah tau komitmen kita masing2, baik yg LDR atau yg sekota atau bahkan yg serumah sekalipun ;)

  • Wil said:

    CINTA dan TAKUT KEHILANGAN… Kalo cinta, ya pastinya takut kehilangan dwonk ach….!!! Kalo udah ga ada rasa takut kehilangan, itu namanya udah kaga cinteeee….. *peace…!

  • Anonymous said:

    aq juga gitu dl…
    selalu jempol bergoyang…
    ampe2 blon ada setahun hp soner kesayangan musti dijual krn udah somplak ampun2an…
    skrg baru 2 minggu jalanin ma gf baru, eh dia orangnya tuh yg ga bgt begitu…
    bisa2 3 harian baru ada kabar itu jg tlp bentar..
    aq yg terbiasa ga pnh lepas ngontrol pacar jadi uring2 ndiri deh dibuatnya…

  • Anonymous said:

    aq juga gitu dl…
    selalu jempol bergoyang…
    ampe2 blon ada setahun hp soner kesayangan musti dijual krn udah somplak ampun2an…
    skrg baru 2 minggu jalanin ma gf baru, eh dia orangnya tuh yg ga bgt begitu…
    bisa2 3 harian baru ada kabar itu jg tlp bentar..
    aq yg terbiasa ga pnh lepas ngontrol pacar jadi uring2 ndiri deh dibuatnya…

  • Anonymous said:

    The hottest romance always have the coldest endings.

    Heheh…bener sih kata orang tua duul kalo cinta yang 100%, cukup 60% aja. Biar nanti gak sakit ati.

    Cayo buat Arie Gere, aku suka baca tulisan2 kamu. Semoga awet ama Michirunya ya.

    I’m not a lesbian, but I love reading this blog very much.

    Tania

  • d` said:

    Insecurity is part and parcel of every relationship. Who doesn’t worry that their beloved will be torn away from them somehow sometime? But insecurity can be addressed over time, through understanding each other better, through words and/or gestures of assurance, through commitment, through expressions of love. Insecurity is a solvable hiccup, and is vastly different from self-esteem issues.

    Cobalah kamu membicarakan baik- baik masalah keresahan hatimu ke pasangan km. Lalu cobalah menyelesaikannya bersama. Pasanganmu seharusnya merespon kamu dan mengerti permasalahan kamu jadi dia mampu untuk mendukungmu, dan secara batiniah, kamu akan merasa lebih lega.

    So, work it out.
    Hubungan itu tentang perasaan bersama, kamu dan dia. Carilah titik tengahnya.

    Good Luck.

  • Anonymous said:

    Dulu gw juga begitu.. seakan mo makan aja tuh hape kudu disamping temenin makan. Lagi mo mandi aja, tuh hape di bawa ke kamar mandi ikutan mandi.. hahaha.. but, Thanks God..! seiring gw berusaha meningkatkan rasa percaya diri gw, rasa itu gak menghantui gw lagi.. biar tampang gw pas-pasan, kantong pas-pasan, yang penting, gw yakin cinta gw beri gak bakal dia temukan dari orang laen… peace bro’

  • Anonymous said:

    Dulu gw juga begitu.. seakan mo makan aja tuh hape kudu disamping temenin makan. Lagi mo mandi aja, tuh hape di bawa ke kamar mandi ikutan mandi.. hahaha.. but, Thanks God..! seiring gw berusaha meningkatkan rasa percaya diri gw, rasa itu gak menghantui gw lagi.. biar tampang gw pas-pasan, kantong pas-pasan, yang penting, gw yakin cinta gw beri gak bakal dia temukan dari orang laen… peace bro’

  • dian said:

    hohohoh….ternyata ini misterinya kenapa status kak arie selalu
    ‘sekarang atau 50 tahun lagi’, hehehe

Leave your response!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.