Home » Have Your Say

Have Your Say: Kejamnya Fitnah Mantan Kekasih

23 January 2009 199 views 7 Comments

flower_and_swirls_by_jules1983Cinta yang ranum berubah jadi busuk ketika dilanda fitnah dan teror. Cinta yang awalnya indah ternyata berakhir dengan patah hati yang menyakitkan. Benar kata pepatah, fitnah lebih kejam dari pembunuhan. Sahabat kita Aprila menceritakan kisahnya.

Hubungan aku dan mantan bermula kurang lebih setahun lalu. Dia memang punya pacar waktu itu (yang juga sahabatku, namanya Yani). Tapi mantanku, sebut saja namanya Wes, bilang bahwa hubungannya dengan Yani sudah rusak. Kehadiranku membuat Wes merasa mengenal cinta lagi, ia pun memutuskan hubungannya dengan Yani lalu jalan denganku.

Bersama Wes, aku mencicipi cinta yang termanis dan termurni. Seperti orang yang kehausan akan air, aku mereguk cinta itu sebanyak-banyaknya. Selama minggu-minggu pertama kami seakan berada di surga nirwana. Segalanya penuh warna dan indah.
Aku dan Wes memiliki kadar kecocokan yang tinggi. Dia mampu mengisi kekurangan-kekurangan yang kumiliki. Kami juga mempunyai setroman kimiawi yang kuat sehingga kami lengket tak dapat dipisahkan. Apakah kedekatan kami membuat seseorang menjadi cemburu? Apakah kedekatan kami membuat seseorang sakit hati?

Teror pertama kuterima tepat sebulan setelah kami jadian. Aku menerima SMS dari nomor yang tak dikenal. Isinya, jadi lo udah jadian sama cewek itu? Aku bingung saat menerima SMS itu. Aku tidak balas. Sorenya, SMS berlanjut lagi. Isinya, lo nggak tau ya cewek yang lo pacarin itu masih punya pacar?

Aku bertanya kepada Wes dan menunjukkan isi SMS itu kepadanya. Wes berkata bahwa dia tidak tahu menahu soal isi SMS itu. Dia juga bersumpah padaku bahwa dia hanya memiliki diriku seorang, tidak ada perempuan lain di hatinya selain diriku. Aku memercayai perkataannya sepenuh hatiku.

Setelah SMS yang tidak kuladeni, datanglah dering telepon di hape-ku pada jam yang aneh. Pukul sepuluh malam. Pukul empat pagi. Pukul satu dini hari. Kalau kuangkat, lawan bicaraku hanya diam atau memperdengarkan lagu. Beberapa kali telepon berbunyi berturut-turut sehingga membuatku jengkel. Kudiamkan saja, bahkan seorang teman lelakiku membantu mengangkatnya. Tidak ada perubahan apa-apa. Si penelepon tidak berkata apapun, bahkan setelah dibentak-bentak oleh teman lelakiku (mengaku sebagai pacarku), si penelepon malah mematikan hape. Namun setelah itu, hapeku masih terus berbunyi tanpa henti.

Aku memutuskan cuek saja, bersikap santai. Jika hape berdering dari nomor yang aneh atau nomor si peneror (aku telah menyimpannya nomornya), aku tidak mengangkat telepon. Sejujurnya, aku mulai mencurigai pelakunya adalah Yani. Tidak ada bukti yang kuat memang, tapi itu hanya firasatku saja. Saat aku bercerita pada Wes, dia malah menganggapku mengada-ngada dan konyol dengan menuduh Yani pelakunya. Aku percaya Wes adalah orang baik dan dia tidak ingin menuduh sembarangan, apalagi kepada Yani.

Hingga pada tiga bulan hubungan kami, Wes memutuskan untuk kembali ke mantan kekasihnya dengan alasan bahwa dia tidak tega meninggalkan kekasihnya itu. Aku sebenarnya marah, karena perbuatan Wes yang semena-mena. Jadi selama tiga bulan itu, aku dianggap apa? Pacar cadangan saat dia bosan? Dalam hatiku menjerit, tapi aku tak kuasa mempertahankan Wes.

Setelah itu aku dan Wes tidak saling bicara dan nyaris tidak ada komunikasi di antara kami walaupun kami bertiga sebenarnya dulu bersahabat. Teman-teman lingkungan pergaulan kami sebenarnya sama. Aku mulai mencium kejanggalan saat teman-temanku mulai meninggalkanku dan menolak pergi denganku. Aneh. Ketika aku mencari tahu ternyata Wes dan Yani sudah menyebarkan cerita tidak enak bahwa aku sengaja merebut Wes dari Yani dan aku sering meneror Yani lewat SMS dan telepon pada malam hari.

Teganya Yani memutarbalikkan cerita. Wes yang pernah menyatakan cintanya padaku pun ternyata tidak membelaku sama sekali. Wes malah mendukung pernyataan Yani dengan mengatakan bahwa akulah yang memancingnya, aku yang mengejar-ngejarnya, aku yang sering mengajaknya keluar berduaan saja tanpa Yani. Padahal semua itu fitnah.

Setelah itu, aku masih sering menerima SMS, YM, yang isinya menusuk hatiku. Aku perih sekali membacanya. Aku sering menangis diam-diam. Tapi apa yang bisa kulakukan? Aku memilih untuk berdiam diri saja. Setelah beberapa kali berusaha memberikan penjelasan kepada teman-teman, aku mulai merasa lelah dan tak berguna. Buat apa? Teman-teman yang senang bergosip semakin senang mendengar drama keributan kami bertiga.

Setelah beberapa minggu menahan diri untuk tidak berbicara atau memberikan penjelasan apapun, perlahan-lahan gosip dan fitnah mereda dengan sendirinya. Enam bulan aku melajang, aku kembali berkenalan dengan seorang perempuan yang membuat hatiku merekah lagi dalam jatuh cinta. Kini hubungan kami telah satu tahun berjalan dan aku benar-benar berbahagia bersamanya. Sementara Wes dan Yani? Kudengar mereka telah putus. Sungguh, aku bersyukur terbebaskan dari kejahatan rasa cemburu, iri, dengki, dan fitnah. Aku hanya ingin mengenal kata cinta dan syukur.

@Aprila, SepociKopi, 2009

7 Comments »

  • Rie said:

    Yang sabar ya…emang fitnah lebih kejam drpd g d fitnah *lo????* nanti juga kebuka aibnya…

  • Dan said:

    ehm, iya, emang fitnah lebih kejam daripada tidak memfitnah.. :) )

    “nafas benciku terlahir saat kemunafikan dirimu terungkapkan. hoo, jangan pikir aku kan bersedih meski kau tlah khianati cintaku yang terdalam.. kau sakiti aku.. khianati aku..” _kok jadi d’massive-an *LOLLOL*

    (koment yang nggak mikir)

  • *GB* said:

    harus sabar
    harus yakin
    harus bisa telepati
    jiwa dan hatinya
    klu bener..yah,berserah aja
    ALLAH itu tidak tidur..

    gudluck to you

    :-)

  • Rafi said:

    Orang yg suka memfitnah adalah orang yg tidak puas & tidak bisa mensyukuri dengan apa yg dimilikinya. Jd bawaannya iri pada kehidupan orang lain. Difitnah? Cuekin aja, tar jg capek sendiri. Toh orang laen akan melihat sendiri, siapa kita yg sebenarnya. Makin kita klarifikasi tentang ketidakbenaran fitnah itu, makin kita terbawa arus permainannya, yg ada malah jd ikutan gak waras :) aku pernah difitnah yg hampir menghancurkan personal life & karir aku. Makan waktu 3 thn untuk menunggu & melihat fitnah itu berbalik kepada si pelaku. Hanya perlu satu keyakinan bahwa Tuhan tidak pernah tidur dlm menjaga umatNya. Keep smiling! Makin byk cobaan,makin kuat mental kita menghadapi hidup ;)

  • Kaca Piring said:

    fitnah…beredar dimana-mana
    kita emang musti sabar…
    n trim’s tulisan ini membuatku berpikir dan berasa untuk tidak menjadi tukang fitnah..

    membuatku untuk tidak berfitnah saat sakit di hati menusuk periiih

    thank’s tulisan ini bener-bener menyadarkanku..

  • Anonymous said:

    Setuju dng Rafi….

    Setidaknya sekarang kau telah menemukan yg mungkin amat sangat lebih baik dari yang sebelumnya.

    Di balik sebuah pengalaman pahit pasti tersimpan makna yang baik di balik itu yang kita tidak pernah tau apa itu, sampai dengan kita merasakannya….

    Ada yang pergi dan ada yang datang….

    Gud luck 4 u….

  • Summer Baits said:

    Fitnah? Apa itu sejenis makanan dari dunia antah-berantah mana, yang jelas rasanya tidak enak, kecut, asem, pahit, bau, dan benar-benar susah untuk dinikmati.. Jadi bagi yang dapet fitnah, biarin aja tuh fitnah, tar juga basi sendiri(kayak makanan..)
    Yang enak tuh kopi, mau rasa apa aja.. semua enak dinikmatin..
    Jadi bikin hidup seperti kopi, beraroma enak, diteguk sedap, dipandang menggoda.. :P

Leave your response!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.