Home » Have Your Say

Have Your Say: Aku Korban Penipuan Cinta

9 January 2009 173 views 17 Comments

flower_blues_by_megan_yrrbbyDiselingkuhi lalu diperas uang dengan ancaman membeberkan orientasi seksual kita kepada keluarga dan kantor. Pernahkah mengalaminya? Hati-hati, banyak perempuan penipu yang berkeliaran berpura-pura menjadi lesbian untuk memeras korban targetnya. Dengarkan cerita teman kita, Nadine, yang di-blackmail.

Ketika aku disebut dewasa dan pantas menikah. Aku melangkahkan kaki ke altar bersama seorang lelaki. Lelaki itu kini kusebut suami. Wajahnya tampan, sikapnya arif, mapan dan bertanggung jawab. Orang-orang menyebut dia sebagai lelaki sempurna. Tapi dia tidak pernah mengisi hatiku secara sempurna.

Kepada perempuan aku berikan ruang kosong di hatiku. Kepada perempuan itu, perempuan yang menyapaku dengan lembut. Kulitnya putih, berambut panjang tergerai, bermata lembut dan bersuara manja. Perempuan itu membuat hatiku membunga. Ia mamandikan aku dengan kaharuman cinta dan mengguyurku dengan kenikmatan asmara.

Aku jatuh cinta padanya. Pada kelembutan kata-katanya, pada sikap santunnya, pada ketulusan hatinya, pada perhatiannya kepada anak-anakku, pada kedekatannya dengan Tuhan. Aku kagum pada pikirannya yang selalu positif, pada cara pandangnya yang idealis. Aku kagum kepadanya seuntuhnya. Kepadanya hatiku bepaut, kepadanya cintaku dipersembahkan, kepadanya aku rela memberikan hidup dan jiwaku. Dia adalah belahan hati yang selama ini kucari.

“Kamu, mau jadi kekasihku?” Pertanyaanya menggetarkan seluruh ragaku. Pada malam itu. Malam di mana semua bintang tersenyum dan bulan tertawa. Tanpa ragu aku menerimanya. Karena itulah yang aku inginkan selama ini. Karena dialah perempuan yang aku tunggu. Perempuan itu adalah kekasihku. Dia adalah Margie-ku

Kami mejalani hubungan yang indah. Meski ketakutan pada suamiku sejalan dengan keindahan cinta. Ya, ketakutanku, ketakutan melukai hati lelaki sempurna itu. Ketakutan menghancurkan keluargaku yang ceria dan penuh damai. Maka kuhapus semua kata-kata sayangnya di hanphone, kubuang semua surat cintanya, kusingkirkan semua pemberiannya. Aku singkirkan semua, walau tak kusingkirkan dia dalam hidupku. Apalah arti sms romatis, surat cinta dan kado-kado kalau semua itu akan membunuh aku dan suamiku? Yang penting aku selalu mencintai perempuanku, yang penting kami saling mencinta, yang penting kami bersama dalam tempat persembunyian terindah.

Dan cinta itu begitu memberikan pengaruh dalam hidupku. Seketika saja aku dikuasai oleh nikmatnya. Aku selalu ingin berada dekat dengan kekasihku. Seketika kami berdua larut menjadi satu kesatuan yang utuh. Bahagianya adalah bahagiaku, deritanya menjadi deritaku. Maka kami saling meminta dan memberi tanpa ragu. Meminta dan memberi demi cinta. Demi cinta, aku meminta kasih sayang darinya, dan demi cinta ia memuaskan hasratku yang terpenjara oleh dinding-dinding kokoh pernikahan.

Demi cinta kami saling meminta dan memberi. Demi cinta dia meminta ini dan itu, dan demi cinta aku membelikan segalanya. Mulai dari communicator HP sampai PDA phone. Mulai dari Laptop hingga menyewakannya sebuah rumah. Bahkan demi cinta kurelakan mobil Honda Jazz, hadiah ulang tahun dari suamiku berbalik nama menjadi namanya. Supaya dengan surat-surat mobil itu kekasihku dapat mengurus KPR (kredit pemilikan rumah). Sungguh, demi cinta kuberikan apa yang dia minta dan demi cinta pula kulihat dia selalu berusaha membahagiakanku.

Entahlah segila apa cinta itu. Sehingga cinta membuat aku seolah berjalan di atas suntas tali yang pancangkan di atas sebuah kolam bara api. Salah sedikit saja aku melangkah, maka aku akan lumer dalam panasnya bara api. Tapi sekali lagi demi cinta aku meniti jalan itu. Walau ternyata kekasihku hanya menghadiahkan cinta biadab. Cinta palsu, cinta yang bukan hanya mendorongku tercebur dalam bara api, namun malah menertawakan terbakarnya tubuhku. Cinta yang semu. Cinta sialan!

Ternyata Margie-ku telah lama menjalin hubungan dengan seorang lelaki namanya Sam. Jauh sebelum aku mengenalnya. Setelah tidur dengan lelaki itu, Margie kabur bersama lelaki pujaannya. Lelaki yang jelas-jelas sangat ditentang oleh kedua orangtuanya. Orangtua Margie menghubungiku untuk bantu mencarinya. Dalam pencarian, Margie justru meneleponku.

“Margie, di mana kamu?”
“Aku tahu, kamu ‘dah tahu semua kan? Tentang aku dan Sam. Aku butuh uang 200 juta.”
“Hah? Margie, kegilaan apa ini?”
“Aku ‘dah kepalang tanggung, orangtuaku pasti marah besar. Aku ‘dah nggak perawan. Aku butuh uang untuk hidup.”
“Astaga, Margie. Nggak! Nggak ada uang dariku sepeserpun untuk menghidupimu dan Sam. Bagaimana mungkin kamu bisa minta uang kepada orang yang kamu sakiti?”
“Terserah, Beib. Kalau kamu tidak mau memberikan uang itu, aku siap menuntutmu atas tuduhan pelecehan seksual. Dan asal kamu tahu kalau kasus ini di bawa kepengadilan, suami kamu akan tahu tentang hubungan kita. Dan satu lagi selama setahun ini aku sudah mendampingi anak-anak kamu. Kamu pikir aku budak kamu? Aku minta bayaranya 60 juta untuk upah mendampingi mereka belajar. Itu hakku. Itu gajiku.”
“Sialan kamu? Pelecehan apa? Kita melakukannya suka sama suka. Aku bisa membuktikannya.”
“Membuktikan? Aku tahu kamu menghapus semua sms dan hadiah-hadiah dariku, itu kebodohan kamu. Sedangkan aku masih memegang semua bukti cinta kita, Sayang.”
“Setan kamu!”
“Terserah kamu mau bilang apa. 200 juta atau pengadilan? Atau suami kamu tahu kalau kita lesbian dan kamu akan dibuang seperti sampah? Ok, Beib? Kamu bisa siapkan semua, kirimkan aku 50 juta dulu secepatnya.”

Perempuan keparat itu menutup teleponnya. Tubuhku lemas. Aku terlukai. Bukan hanya penghianatannya, tapi karena cinta yang pernah ia persembahkan kepadaku adalah cinta yang palsu. Dia tidak pernah mencintaiku. Cinta tidak pernah mengijinkan pelaku cintanya hancur. Demi uang, ia menimang aku dalam dekapannya, ia melambungkan aku pada langit kebahagiaan, namun seketika ia menghempas aku ke bumi. Tubuhku terluka, tapi bagi perempuan jahanam itu, aku masih harus disiksa. Dalam keterpurukan ia tetap berusaha untuk menginjak-injakku dengan menghancurkan keluarga yang aku bangun bersama suamiku.

Dan pada saat itu aku melihat suamiku sebagai sosok yang paling setia. Dan utunglah dia membuktikan kesetiaanya dengan mempercayai semua ceritaku tentang keinginan Margie untuk menghancurkan hidup kami. Dan untunglah ayah Margie sendiri berbicara dan meyakinkan suamiku bahwa Margie adalah perempuan bermasalah, yang kini sedang bermasalah pula dengan keluarganya.

Entah berapa banyak lesbian mom dan lesbian mapan yang menjadi korban perempuan komersil sekelas Margie. Seorang penipu yang mengaku dirinya lesbian, membutuhkan kita dan mencintai kita habis-habisan walau sebenarnya mungkin dia sendiri bukan lesbian. Perempuan yang dengan mudah bisa mengucap cinta dan rela memberikan apapun untuk kita, sampai kita bergantung penuh kepadanya dan tak mau kehilangannya. Pada saat itu ia, akan meminta apapun. Dan kita justru melakukannya dengan senang hati karena telah menganggap dia sebagai bagian diri yang tak boleh terpisahkan. Dia akan terus dan terus meminta. Dan pada saat kita tidak bisa memenuhi permintaanya, maka dia akan mulai merayu. Kalau rayuannya tidak mempan, ia mengancam akan menghancurkan hidup dan mencampakkan kita. Ia datang kepada kita atas nama cinta, mencoba memuaskan dahaga dan hasrat seks kita. Dalam pikirannya, kita sama dengan om om senang yang mengejar-ngejar ABG untuk ditiduri, lalu menghadiahkan ABG-ABG itu uang, atau tante-tante girang mengobral uang demi kenikmatan seks. Astaga! Buk
ankah kita tidak sama om senang atau tante girang itu? Bukankah kita tidak semalang mereka? Bukankah kita membutuhkan cinta dan kasih sayang yang murni? Kasih yang tulus dari seorang perempuan?

Aku sadar sesadar-sadarnya kini, cinta yang murni tidak akan membuatku hancur dan jatuh terpuruk. Cinta yang murni justru memberi. Cinta yang murni akan selalu mendambakan pasangannya menerima yang terbaik. Cinta yang murni akan selalu menjaga pasangannya tetap dalam keadaan terbaik. Cinta yang murni tidak akan memeras dan menghalalkan segala cara untuk meraup keuntungan sebanyak-banyaknya. Semoga pengalamanku menjadi batu penjuru bagi para lesbian mom dan lesbian mapan lainnya. Agar kita semua dapat berhati-hati dalam memilih partner. Karena seorang partner yang baik seharusnya dapat mengangkat kita ke surga tertinggi bukan menyeret kita ke jurang terdalam. Mengangkat kita menjadi manusia yang lebih baik bukan menjadikan kita sampah bagi manusia lain.

(ditulis oleh De Ni, seperti yang dikisahkan oleh Nadine)

@Nadine, SepociKopi, 2009

Redaksi SepociKopi menerima kiriman tulisan kisah pengalamanmu yang mengiris hati namun telah berhasil kaulewati dengan baik. Mungkin ceritamu bisa jadi sharing berharga dan pengajaran buat teman-teman lain. Ayo bagi pengalamanmu ke redaksi SepociKopi di: jejak_artemis@yahoo.co.id, alex58id@yahoo.com, dan sebeningembun@gmail.com

17 Comments »

  • Anonymous said:

    Nadine,

    There is silver lining in every cloud.
    Pada waktunya engkau akan melihat cahaya diujung terowongan.

    Be tough, be strong, and be patient, o.k?

    Ms

  • Anonymous said:

    Nadine,

    There is silver lining in every cloud.
    Pada waktunya engkau akan melihat cahaya diujung terowongan.

    Be tough, be strong, and be patient, o.k?

    Ms

  • *GB* said:

    Nad,

    Antara cinta dan airmata
    biarlah airmata yg dulu
    agar pengakhirannya sebuah
    cinta yg tersenyum

  • *GB* said:

    Nad,

    Antara cinta dan airmata
    biarlah airmata yg dulu
    agar pengakhirannya sebuah
    cinta yg tersenyum

  • Rafi said:

    Aku jg pernah hampir ngalamin ini. Tp dr dulu prinsip aku cinta itu take n give, bukan take n keep takin' . Dan kalau memang kita mencintai seseorang seharusnya kita 'memberi' & bukan 'meminta'. So,waktu cewek yg mengaku lesbian itu mulai 'meminta' sejumlah uang yg cukup besar,padahal kita baru pendekatan,aku mulai curiga…'something must be wrong with her'. Tp krn waktu itu alasannya utk berobat adiknya & krn rasa kemanusiaan aku kasih jg tp ga sebanyak yg dia minta. Akhirnya aku tau kl dia bukan lesbian. Anehnya bukan aku yg marah krn merasa tertipu,malah tuh cewek yg marah2 krn langsung aku tinggalin dgn minta tegas ke dia utk ga hubungin aku lg (mungkin krn dia merasa akan kehilangan atm'nya kali ya…hehehe). Sempat 2 thn dia neror dgn ancaman mau bilang kekantor aku kalau aku L, tp aku bilang silahkan aja, aku akan tunggu krn sesudah itu aku yg akan bikin hidupnya dia susah…hehehe,padahal aku jg cuma nge'bluff aja :) sampai akhirnya terornya berhenti sendiri. Saranku sih, kenali partner lebih jauh sebelum hati yg lebih jauh terbuai dgn kata2 cinta yg manis. Cinta yg tulus tidak akan pernah mau menyusahkan orang yg dicintai apalagi dgn terus2an meminta uang & materi. Justru seharusnya keinginan utk memberilah yg ada,bukan meminta. Buat Nadine, cheer up…Life is just everything u want it to be!

  • Rafi said:

    Aku jg pernah hampir ngalamin ini. Tp dr dulu prinsip aku cinta itu take n give, bukan take n keep takin' . Dan kalau memang kita mencintai seseorang seharusnya kita 'memberi' & bukan 'meminta'. So,waktu cewek yg mengaku lesbian itu mulai 'meminta' sejumlah uang yg cukup besar,padahal kita baru pendekatan,aku mulai curiga…'something must be wrong with her'. Tp krn waktu itu alasannya utk berobat adiknya & krn rasa kemanusiaan aku kasih jg tp ga sebanyak yg dia minta. Akhirnya aku tau kl dia bukan lesbian. Anehnya bukan aku yg marah krn merasa tertipu,malah tuh cewek yg marah2 krn langsung aku tinggalin dgn minta tegas ke dia utk ga hubungin aku lg (mungkin krn dia merasa akan kehilangan atm'nya kali ya…hehehe). Sempat 2 thn dia neror dgn ancaman mau bilang kekantor aku kalau aku L, tp aku bilang silahkan aja, aku akan tunggu krn sesudah itu aku yg akan bikin hidupnya dia susah…hehehe,padahal aku jg cuma nge'bluff aja :) sampai akhirnya terornya berhenti sendiri. Saranku sih, kenali partner lebih jauh sebelum hati yg lebih jauh terbuai dgn kata2 cinta yg manis. Cinta yg tulus tidak akan pernah mau menyusahkan orang yg dicintai apalagi dgn terus2an meminta uang & materi. Justru seharusnya keinginan utk memberilah yg ada,bukan meminta. Buat Nadine, cheer up…Life is just everything u want it to be!

  • Anonymous said:

    Warning to every one!!!

    Too much love will ruin, or even kill you, guys.

    Raf, lu kayaknya punya banyak pengalaman, ayo kirim tulisan dong ke blog ini. Di tunggu ya.

    Ms

  • Anonymous said:

    Warning to every one!!!

    Too much love will ruin, or even kill you, guys.

    Raf, lu kayaknya punya banyak pengalaman, ayo kirim tulisan dong ke blog ini. Di tunggu ya.

    Ms

  • wind said:

    @ Alex & Lakhsmi
    Two thumbs up :)

    @ all
    Lets make those bastards out of business ;)

  • wind said:

    @ Alex & Lakhsmi
    Two thumbs up :)

    @ all
    Lets make those bastards out of business ;)

  • alex said:

    Have Your Say adalah kisah pengalaman sahabat-sahabat lesbian yang telah berhasil melewati pengalaman pahit penuh aral dan rintangan. Tulisan-tulisan di sini adalah sarana berbagi pengalaman sehingga rekan-rekan pembaca tidak terjerumus ke lubang yang sama.

    Kami harap pembaca bisa memberi komen yang sifatnya supportif, simpatik dan mencerahkan, bukannya menyudutkan atau mengejek mengapa seseorang bisa terjebak dalam pengalaman gelap. Beberapa komen yang menghina sahabat penulis atau rekan yang berbagi pengalaman di sini terpaksa harus kami hapus.

    Kami minta dengan hormat kepada para pembaca untuk tidak menjadikan ruang komen di sini sebagai tempat sampah, tempat melampiaskan kebencian, atau sarana curhat berlebih.

    ~Alex
    (Editor in-chief)

  • alex said:

    Have Your Say adalah kisah pengalaman sahabat-sahabat lesbian yang telah berhasil melewati pengalaman pahit penuh aral dan rintangan. Tulisan-tulisan di sini adalah sarana berbagi pengalaman sehingga rekan-rekan pembaca tidak terjerumus ke lubang yang sama.

    Kami harap pembaca bisa memberi komen yang sifatnya supportif, simpatik dan mencerahkan, bukannya menyudutkan atau mengejek mengapa seseorang bisa terjebak dalam pengalaman gelap. Beberapa komen yang menghina sahabat penulis atau rekan yang berbagi pengalaman di sini terpaksa harus kami hapus.

    Kami minta dengan hormat kepada para pembaca untuk tidak menjadikan ruang komen di sini sebagai tempat sampah, tempat melampiaskan kebencian, atau sarana curhat berlebih.

    ~Alex
    (Editor in-chief)

  • arik said:

    Di dunia gay memang hal seperti itu sering terjadi. Maka, jangan terlalu ‘membuka’ pribadi terlalu dalam. jangan beritahu dimana kantor kita, rumah kita.

  • Anonymous said:

    Sebaiknya sebesar apapun cinta kita sama partner, logika tetap harus jalan. Love should be equal, to take and to give, dan jangan pernah memanfaatkan partner kita atas nama cinta, dan ujung-ujungnya cuma ingin mengeruk bermacam2 materi saja. Say NO to penipu2 cinta. Peace! Gaby

  • Anonymous said:

    Sebaiknya sebesar apapun cinta kita sama partner, logika tetap harus jalan. Love should be equal, to take and to give, dan jangan pernah memanfaatkan partner kita atas nama cinta, dan ujung-ujungnya cuma ingin mengeruk bermacam2 materi saja. Say NO to penipu2 cinta. Peace! Gaby

  • Rafi said:

    Arik, pendapat kamu benar 100%. Juga bisa sebagai masukan yg baik buat sahabat2 lesbian yg lain. Aku sendiri ga mungkin ksh alamat kantor kl aku gak tau keberadaan itu cewek dimana. Tuh cewek sering bgt minta dikirimin makan siang. Sebatas minta dikirimin makan siang, aku ga keberatan, meskipun sedikit aneh untuk orang yg baru kenal. Dan krn ada resto yg menyediakan jasa delivery dengan tempat penagihan yg berbeda, aku pesan dr resto itu. Jadi aku jg tau alamat kantor itu cewek. Kalau awalnya mungkin aku cuman ‘bluffing’ supaya cewek itu gak berani macam2, tp ga menutup kemungkinan kalau aku jg akan ambil tindakan tegas, kalau cewek itu benar2 ngejalanin terornya buat ngebuka orientasi seksualku ke kantor. Siapapun tidak mau hidupnya dibikin susah oleh seseorang yg tidak pernah kita sakiti, maka janganlah menyusahkan hidup orang lain. Itu prinsip aku

  • Rafi said:

    Arik, pendapat kamu benar 100%. Juga bisa sebagai masukan yg baik buat sahabat2 lesbian yg lain. Aku sendiri ga mungkin ksh alamat kantor kl aku gak tau keberadaan itu cewek dimana. Tuh cewek sering bgt minta dikirimin makan siang. Sebatas minta dikirimin makan siang, aku ga keberatan, meskipun sedikit aneh untuk orang yg baru kenal. Dan krn ada resto yg menyediakan jasa delivery dengan tempat penagihan yg berbeda, aku pesan dr resto itu. Jadi aku jg tau alamat kantor itu cewek. Kalau awalnya mungkin aku cuman ‘bluffing’ supaya cewek itu gak berani macam2, tp ga menutup kemungkinan kalau aku jg akan ambil tindakan tegas, kalau cewek itu benar2 ngejalanin terornya buat ngebuka orientasi seksualku ke kantor. Siapapun tidak mau hidupnya dibikin susah oleh seseorang yg tidak pernah kita sakiti, maka janganlah menyusahkan hidup orang lain. Itu prinsip aku

Leave your response!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.