Home » God, Renungan, Spiritualisme, Tentang Cinta

Tuhan, Manusia, dan Kematian

Submitted by on 07/01/2009 – 7:15 am6 Comments | 759 views

Oleh: De Ni

Apa yang akan kau lakukan saat kau tahu bahwa ternyata hidupmu tidak akan lama lagi? Oke, mungkin kau sulit membayangkannya. Rambutmu belum memutih, kulitmu belum mengkriput, jantungmu masih sehat memompa, dan gigimu masih rapih pada tempatnya. Intinya kau belum bau tanah. Tapi marilah berpikir sejenak, kematian bukan hanya milik para lansia, kematian adalah milik semua orang. Sahabatku Hanry berusia 23 tahun. Sorenya masih asyik bernyanyi denganku, namun malamnya meninggal hanya karena sakit kepala. Mas Barno berusia 30 tahun. Paginya masih cekikikan sambil ngopi denganku, siangnya meninggal hanya karena tersedak.

Kematian bisa menghampiri semua orang di segala tempat dan waktu. Kematian adalah misteri. Mengetahui misteri kematian ini, tentu akan membuatmu mudah berpikir tentang hari kematianmu. Nah bayangkan kalau sekarang kau menjadi salah satu pasien yang hari kematiannya telah ditetapkan oleh dokter, entah 5, 2, atau 1 tahun lagi. Yang jelas hidupmu tak lama lagi. Yang jelas kau akan menghadapai kematian lebih cepat dari yang kau bayangkan. Apa yang akan kau lakukan? Tentu hal pertama yang akan kamu lakukan adalah berpikir tentang kehidupan setelah kematian. Sebab aku yakin kita semua sependapat bahwa kematian bukanlah tidur panjang. Kematian adalah sebuah perjalanan menuju dunia baru. Seorang pasien yang divonis mati akan mulai akrab dengan pemikiran tentang surga dan neraka atau reinkarnasi.

Dalam pemikiran tentang kehidupan baru itu, manusia akan mulai berpikir tentang pribadi yang berkuasa dalam alam maut, dalam dunia baru, dalam kehidupan setelah kematian. Pribadi itu adalah Tuhan. Dan saat kau berpikir tentang Tuhan, kau akan terhanyut untuk berpikir tentang kelayakan. Tentang perbuatan buruk dan baik, tentang dosa dan pahala, tentang cemar dan kudus, tentang karma. Dan tentu kau akan mulai memilih baik, pahala dan kudus supaya kau bisa mencapai kelayakan dalam pandangan Tuhan.

Untuk memperoleh baik, pahala dan kudus, kau akan mulai membuang buruk, dosa dan cemar dalam sisa hidupmu yang singkat. Ketika seorang dokter langgananku tahu bahwa dirinya menderita penyakit kanker rahim stadium 3, ia segera melepaskan pekerjaannya sebagai dokter dan mengambil keputusan untuk menjadi seorang pendeta. Keputusan ini tidak salah. Semua orang ingin memperoleh surga dan nirwana. Maka dalam kesempatan yang singkat mereka melakukan baik, pahala dan kudus. Mereka menjaga kedekatannya dengan Tuhan, menjaga tutur kata terhadap sesama, melunasi segala hutang yang tersisa , meminta ampunan kepada sanak saudara dan orang-orang yang pernah terlukai, beramal sebanyak-banyaknya, menjaga keharmonisan dalam rumah tangga dan melakukan kebajikan setiap hari. Intinya dalam sisa hidup yang singkat mereka berusaha meluluhkan hati Tuhan agar dapat menikmati kesempurnaan surga, keindahan nirwana.

Nah, sekarang mari kita berpikir tentang posisi kita sebagai perempuan lesbian. Dan seandainya dokter memvonis kita hanya bisa bertahan hidup 3 tahun. So… langkah apa yang akan kita lakukan? Apakah menjadi sama dengan mereka? Berusaha hidup sesuci-sucinya dalam 3 tahun ke depan? Kalau benar, berarti kita akan berusaha meninggalkan semua hal yang dianggap dosa. Dan… astaga! Bukankah lesbian dianggap sebagai dosa oleh hampir semua manusia? Apakah itu berarti kita harus membuang jiwa lesbian kita sama seperti kita membuang sombong, bohong, curang, licik, tipu, egois, kebencian dan berbagai penyakit hati lainnya? Membuang jiwa lesbian bukankah sama artinya dengan membuang partner? Ya Tuhan, padahal semua manusia yang hampir mati tentu merindukan kedekatan dan kemesraan dengan orang yang begitu dicintainya. Apakah ini berarti bahwa kita tidak bisa bermesraan, bercinta, membelai dan menciumi partner? Padahal cinta kita kepada partner begitu suci, begitu murni. Bukankah ini sebuah ketidakadilan?

Ini berarti bahwa kita akan mati dalam kekeringan kasih. Kita akan mati tanpa didampingi perempuan tercinta, padahal perempuan itu adalah satu-satunya orang yang kita cintai dalam hidup yang hanya sekali ini. Tidak pantaskah partner mendampingi karena sebuah alasan baik dan buruk, dosa dan pahala, cemar dan kudus demi mencapai surga dan nirwana? Mampukah kita membayangkan bagimana kesedihan partner yang tidak bisa merawat saat kita sekarat, yang tak bisa menemani saat kita meregang nyawa? Mampu kah kita bayangakan betapa hancurnya hati kita ketika mengakhiri hidup, partner tidak bisa mengantar dengan ciuman terakhir dan bisikan cintanya, “Pergilan honey, kamu akan abadi di hatiku. Aku cinta kamu selamanya. Tunggulah aku dengan penuh cinta di surga abadi kita.”

Salah satu temanku, sebut namanya namanya Anggi mengagetkan dan memilukan hatiku dengan ceritanya. Anggi pernah menjalin hubungan lesbian. Pada tahun ke-5 dalam hubungannya, kekasihnya yang bernama Melly menderita leukemia. Pada masa kritisnya, Melly mendapat konseling rohani. Ia membuat pengakuan dosa dan mengakui dirinya lesbian. Konselor menyarankan Melly meninggalkan jiwa lesbiannya dengan cara mengakhiri hubungannya dengan Anggi. Dan tahu apa yang terjadi? Melly memutuskan hubungannya dengan Anggi. Melly ingin membuang segala hawa nafsu dan keinginan daging. Dia ingin mengosongkan dirinya dari keinginan duniawi dan hidup dalam kekudusan di sisa hidupnya. Melly meminta Anggi pergi jauh dari hidupnya dan tidak menemuinya lagi, agar Melly dapat berkonsentrasi pada Tuhan dalam pengujung hidupnya.

Dan perpisahan di akhir hidup Melly itu, membawa luka kekal dalam diri sepasang kekasih ini. Anggi sangat terluka karena ia hanya bisa mendengar kemunduran fisik Melly dari orang lain, padahal ia rindu mendampingi Melly, menggenggam tangannya dan membisikan betapa ia mencintai Melly hingga maut menjemput. Ia rindu menunjukkan kesetian dan cintanya yang tak akan pernah berakhir kepada Melly. Tapi kesempatan itu tidak diraihnya. Kesakitan ini menjadi luka besar yang meradang. Hingga kini luka itu tetap menganga. Namun ternyata yang paling terluka adalah Melly. Saat ia meregang nyawa. Dalam kesadaran yang labil antara dunia nyata dan alam baka, ia terus menerus menyebut nama Anggi. Nama Anggi dipanggil Melly dalam ketidaksadarannya. Jiwanya yang memanggil nama itu. Jiwa yang begitu takut, membutuhkan setuhan dan dekapan cinta perempuannya. Tapi kekasihnya tak kunjung datang. Saat ajal Melly menjemput, Anggi sedang menangis sendiri meratapi Melly di suatu tempat yang jauh.

Baiklah, saat ini kita tidak sedang meregang nyawa. Tapi, jika masa itu tiba. Jika kamu ada di penghujung hidup atau jika partnermu harus menghadapi kematiannya. Janganlah pergi meninggalkanya. Aku tahu kau takut terhadap jiwa lesbianmu yang dipandang sebagai dosa. Tapi ijinkan, sekarang aku berbicara tanpa bermaksud menceramahi. Aku adalah orang yang mendalami agamaku sedalam-dalamnya. Bertahun-tahun aku mempelajari kitab suci. Tentu aku mengerti tentang arti buruk dan baik, dosa dan pahala, cemar dan kudus. Dalam keluasan pengertian itu, aku pun mengerti tentang kelembutan hati Tuhan, tentang kebijakan-Nya, tentang rancangan-Nya yang tidak pernah salah, tentang pengampunan-Nya yang tidak pernah habis dan anugerah-Nya yang tidak pernah putus. Aku pun mengerti semengerti-mengertinya bahwa Tuhan adalah pribadi yang tidak akan pernah mampu dimengerti oleh otak manusia.

Maka kutanyakan kepadamu, siapa yang bisa memastikan bahwa ketika seorang lesbian mati maka ia akan dilempar ke nereka atau duduk di tahta surga? Ah, semua adalah misteri. Surga dan neraka adalah sebuah misteri yang hanya bisa dipahami oleh orang-orang yang pernah mati. Manusia yang hanya ciptaan Tuhan memiliki keterbatasan untuk mamahami Tuhan yang adal
ah penciptanya. Jadi bagaimanakah kita mampu mereka-reka kebijakan Tuhan tentang layak atau tidaknya sang umat masuk surga? Padahal kita belum bisa memahami kebijakan Tuhan, padahal kita belum bisa menyelami rancangan-Nya.

Selama ini kita hanya mampu memahami bahwa yang berpahala masuk surga dan yang berdosa masuk neraka. Lalu bagaimana dengan orang yang disebut berdosa namun melakukan kebaikan? Bagaiamana dengan Robin Hood yang berdosa karena mencuri namun berpahala karena membagikan hasil curiannya kepada orang miskin? Masuk manakah dia? Surga atau neraka? Lalu bagaimana dengan seorang lesbian yang disebut pendosa namun sepanjang hidupnya berpahala, menebar kebaikan, membangun sesama dan menjadi saluran berkat? Masuk manakah mereka? Surga atau neraka? Ah, aku tak tahu. Mungkin kamu juga tidak tahu. Oleh karena itu, marilah kita serahkan semua pada kebijaksanaan Tuhan yang berdaulat penuh menentukan penghuni surga dan neraka. Sungguh, Tuhan tidak bisa dipahami dengan otak manusia. Sebab jika Tuhan bisa ditebak dan direka oleh manusia, maka Tuhan bukanlah Tuhan.

@De Ni, SepociKopi, 2009

6 Comments »

  • Anonymous says:

    Kita semua menyadari bahwa hidup tidak kekal.Pada suatu saat semuanya pasti akan menghadapi kematian.
    Seharusnya pada saat kita menghadapi ajal kita…kita sudah banyak mempunyai bekal.
    Selanjutnya kepasrahan meninggalkan dunia ini dan bersiap menemui sang Pencipta.
    Apapun tindakan-tindakan yang sudah kita lakukan akan mendapatkan perhitungannya kelak tidak hanya satu masalah orientasi seksual saja. CInta itu murni,tp biarkanlah Tuhan yang memperhitungkan semuanya.
    Selagi kita hidup berpikirlah tentang mati…ketika menjelang kematian janganlah lagi memikirkan tentang dunia…hidup hanya sekali pergunakanlah dengan sebaik2 nya kita maksud Tuhan menciptakan kita. Peace all :-)

  • Anonymous says:

    Kita semua menyadari bahwa hidup tidak kekal.Pada suatu saat semuanya pasti akan menghadapi kematian.
    Seharusnya pada saat kita menghadapi ajal kita…kita sudah banyak mempunyai bekal.
    Selanjutnya kepasrahan meninggalkan dunia ini dan bersiap menemui sang Pencipta.
    Apapun tindakan-tindakan yang sudah kita lakukan akan mendapatkan perhitungannya kelak tidak hanya satu masalah orientasi seksual saja. CInta itu murni,tp biarkanlah Tuhan yang memperhitungkan semuanya.
    Selagi kita hidup berpikirlah tentang mati…ketika menjelang kematian janganlah lagi memikirkan tentang dunia…hidup hanya sekali pergunakanlah dengan sebaik2 nya kita maksud Tuhan menciptakan kita. Peace all :-)

  • Anonymous says:

    DeNi…
    Seperti sebelumnya…
    Hidup hanya sekali..
    Beri yang terbaik dalam hidup kita untuk orang2 yang kita kasihi.
    Keluarga, suami mungkin, anak, sahabat, teman dan tentu saja partner kita.
    Aku sejalan dengan pemikiran kamu.
    Jangan tinggalkan “dia” dalam keadaan tersulit sekalipun.
    Like I told u before.. “Till The Death Do Us Part”.
    Beri kesan termanis sampai pada titik terakhir itu.
    Just listen to your heart..
    Hati ngga akan menipu.
    Hati ngga akan berdusta.
    Hati pasti akan tertuju dan ingin selalu dekat dengan orang yang kita cintai..
    Nice story, DeNi..

    -Carry-

  • naz ilyn says:

    kalian akan mati itu janji
    ia kepastian yang pasti
    tiada keraguan yang sangsi
    kabar yang harus dipercayai
    kita semua akan dijemput
    pada hari tidak disebut

  • cipung says:

    hahaha..

    banyak yang ingin aku bicarakan, tapi ujung2nya hanya berahir pada kata:

    hhh…

    ~selalu geli dengan persoalan Surga-Neraka.. hihi.. really. that’s so funny, beibeh..~

  • Anonymous says:

    aku suka tulisan ini…semoga ampunan-Nya menyirami hati-hati yang beriman.

    aderain

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also Comments Feed via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.