Home » Cuci Mata, Humaniora

The Importance of Second Skin

15 November 2008 34 views 2 Comments

Oleh: Sidney

Kepalaku pusing melihat beragam pilihan yang berseliweran di depanku. Ada yang berenda. Ada yang sport. Ada yang model imut. Aku memegang-megang beha dan kemudian menimbang-nimbang. “Yang ini aja,” kata temanku menawarkan. “Buy one get one.”

Mataku melihat ke arah yang ditunjuk temanku. “Ngapain beli banyak-banyak?” tanyaku heran.

“Ya ampun, jelas supaya nggak bikin pusing!”

“Tapi gue nggak butuh banyak-banyak.”

“Emangnya beli beha seperti nyari pacar? Cukup satu aja lalu dipakai sampai putus?”

Aku tertawa ngakak mendengar analoginya. Pertanyaanku adalah berapa beha yang dibutuhkan seorang cewek? Mengetahui gaya membeli beha bisa dianalogikan dengan jumlah pacar. Pacar baru berarti beli beha baru secara kita semua pengin tampil cakep di ranjang. Aku selalu meyakini pakaian dalamku terlihat bersih dan rapi sebelum siap bercinta dengan cewek pujaanku. Malu kali kalau behanya udah kendor dan robek-robek! Dan oiya, kalau bisa kenakan satu set; beha dan celana dalam yang terlihat kompak, manis, dan sekseeeh.

SPG datang dan menawarkan barang baru. “Ini bahan jenis baru lho, Mbak. Elastis, seperti kulit kedua. Seakan-akan tidak mengenakan beha sama sekali.”

Aku meraba bahan yang disodorkannya, walaupun dalam hati agak bingung juga, buat apa sih gunanya nggak merasa mengenakan beha? Melihatku tertarik, si mbak makin giat menawarkan.

“Ukurannya berapa, Mbak?”

“Tiga empat A.”

Aku masuk ke ruang ganti dan seketika mencoba. Hukssss… Huksss! Ada apa dengan beha ini? Kenapa nggak bisa dikait? Pikiranku bergerak secepat kilat dan mengecek ukurannya. Mungkin si mbak tadi salah memberikan ukuran. Mataku menyipit ketika mengetahui ukurannya 34. Astaga, masa sih ukuran behaku sekarang 36? Gendut sekali. Aku memanggil temanku dari balik pintu ruang ganti. Dia masih setia berdiri seperti satpam di depan pintu.

“Tolong minta yang ukuran 36 dong. Sempit nih ukuran 34!”

Temanku memberikanku beha yang bernomor 36 sambil mengejekku sebagai tante-tante. Aku pura-pura tidak mendengar. Setelah bersusah payah, akhirnya beha itu terkait di dadaku. Tapi pas aku memandang cermin, ada masalah besar. Cup-nya menggembung kedodoran. Astaga, jelek banget! Beha yang bikin nggak pe-de. Aku memutuskan untuk mengembalikan beha tersebut ke pegawainya. “Nggak jadi deh, Mbak. Behanya aneh.”

Akhirnya setelah berputar-putar beberapa kali, aku memutuskan membeli beha yang standar-standar aja. Yang sering kubeli sejak masih balita eh, maksudnya SMA.

“Nggak dicoba dulu, Mbak?” tanya pegawainya.

“Nggak apa-apa. Saya tahu udah pasti pas deh.”

“Kayak Pertamina aja lu,” celetuk temanku. “Pasti pas. Dimulai dari nol ya.”

“Hahahaha.”

Kalau temanku menganalogikan beha dengan mencari pacar, apakah itu berati aku mencari pacar dari jenis dan model yang sama? Hmmm, belum tau aja dia!

@Sidney, SepociKopi, 2008

Tentang Sidney:
Lajang 30′s something, penggemar chicklit walaupun tidak keberatan membaca buku-buku thriller. Tidak pernah berhenti belajar untuk mengetahui segala hal yang baru. Baginya hidup adalah ruang kelas, hanya butuh pikiran yang terbuka dan hati yang merdeka.

2 Comments »

  • Zoe said:

    jika pacar tuh di umpamakan seperti beha…. enaknya banyak-banyak tapi fungsinya tetep sama kan menyanggah sesuatu :P

  • intan amlan said:

    nice story, kalau saja…

Leave your response!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.