flower_in_the_sky_by_ganja974Pernah ditinggal kawin oleh kekasih? Dengarkan kisah sahabat lesbian kita, Nikita Lie yang bercerita tentang hal itu!

Di mataku, dia perempuan tercantik (meski aku yakin, semua perempuan itu cantik adanya). Berawal dari persahabatan, berlanjut dengan rasa ketergantungan. Setelah itu muncul rasa kekosongan yang menyengat jika salah satu tak ada. Lama-lama tumbuh rasa suka dan sayang, dan akhirnya pasrah mengikuti panggilan cinta. Aku tak peduli apakah dia sudah punya pacar, apakah aku akan ditinggal kawin dengan lelaki. Yang aku tahu, aku mau menjalani hari-hariku yang menyenangkan dengannya. Jadi sebelum benar-benar jadian, dia berulang kali bertanya padaku, “Nik, kamu mengerti kan someday aku pasti akan menikah dengan lelaki?” Aku menjawab ringan dengan gaya cool-ku “Oiya pasti! Perempuan secantik kamu, mana mungkin nggak kawin?”
Hari-hari berjalan cepat. Tak terasa, sudah tiga tahun kami menjalin hubungan. Rasa penasaran di awal percintaan untuk membuktikan kemampuanku menaklukkannya pelan-pelan menguap. Aku mulai meyakini aku jatuh cinta padanya. Benar-benar tak mau kehilangan dirinya. Namun suatu hari dia mengajak dinner, ingin berbicara serius padaku. Selesai menghabiskan dessert, dia memintaku duduk di hadapannya.

“Nik, masih ingat pertanyaanku yang duluuuu banget? Yang soal, suatu hari aku bakal menikah.”

“Oiya, kenapa? Kamu mau minta aku melamarmu kepada orangtua?”

“Bukan, bukan itu! Kamu tahu Phil?” Phil adalah kenalannya dari luar negeri. Lelaki yang aku tahu sedang mengejarnya. “Dia melamarku. Mama mendesakku untuk menikah.”

Jantungku melesak mendengar kata-kata itu.

Sejak malam itu, pertemuan kami adalah saat-saat yang menegangkan. Topik yang dibicarakan selalu seputar lamaran Phil dan berakhir dengan pertengkaran. Bertengkar, berpelukan, bertangisan. Itu adalah hari-hari kami sejak Phil melamarnya dan dia tak mampu menghindari itu semua. Pernah suatu malam, kami berdua bermobil di tengah jalan yang lengang. Tanganku yang satu memegang stir dan tanganku yang lain memegangi tangannya sangat erat. Air mata kami jatuh perlahan. Setiap pertemuan bagai hari terakhir buat kami. Begitu berat melepaskannya.

Aku memilih untuk tidak mau tahu kapan hari H perkawinan itu dan memutuskan untuk berpura-pura tak akan pernah ada. Tapi semakin aku memungkiri, semakin aku lari dari kenyataan. Semakin aku lari dari kenyataan, semakin tersiksa dan gelisah diriku.

Akhirnya, suatu malam aku memberanikan diri untuk bertanya, “Kapan harinya tiba?” Kupikir, mau nggak mau hal ini harus dihadapi. Seperih apapun! Dia tidak mau menjawab. Aku paksa dia. Akhirnya dia menyebut bulan. Aku kejar dengan tanggalnya juga. Kulingkari tanggal itu di kalender, kututup dengan spidol hitam pekat sehingga tak terlihat lagi. Tapi tanda hitam pekat di kalender makin jelas terlihat setiap kali bulan berganti. Oh Tuhan, kalau tahu begini sakitnya, lebih baik aku tidak mencoba dari awal.

Hari-hari terakhir, aku mencoba menjauhinya, membolak balik pikiranku sendiri dalam perenungan. Orang bilang,”If you really love someone, you have to learn to let her go”. Aku mencoba sharing dengan para sahabat. Banyak input kudapat. Bahwa, cinta itu tidak boleh egois. Ada yang mengirimkan SMS dengan kalimat singkat tapi bermakna, “Justru makin dekat dengan apa yang kita takutkan, anehnya kita bisa menemukan titik pasrah.” Aku harus belajar mengerti kebutuhannya untuk menikah; aku belajar pasrah.

Aku kembali menjumpainya setelah aku mendapatkan kekuatan baru. Betapa rasa kangen sangat terlihat jelas di mata kami saat itu. Aku bertanya dengan tenang, “Schat, kamu sudah memilih gaun pengantin?”

“Belum! Susah sekali memilih, selain aku juga nggak begitu semangat sebenarnya.”

“Oke, aku akan bantu kamu memilihnya hari Sabtu nanti.”

Sabtu itu, kami berdua pergi ke bridal, pilih memilih. Aku pilihkan dia gaun yang kurasa paling pas. Akhirnya, selesai juga urusan gaun pengantin pada hari itu! Ahh, serasa aku yang akan menikah dengannya. Aku heran, ketabahan darimana yang terkumpul di dadaku? Berkali-kali dia berterima kasih karena aku sudah mau memilihkan gaun pengantin untuknya. Dan apapun pilihanku, dia akan dengan senang hati memakainya.

Laju waktu benar-benar tak dapat dicegah. Tanggal yang hanya nampak hitam oleh spidol di kalenderku datang juga akhirnya. Berkat support dari para sahabat, aku mampu menghadiri perhelatan besarnya. Betapa cantik my Schat dalam balutan gaun yang kupilihkan beberapa bulan yang lalu, berdiri di samping Phil yang tinggi gagah. Ingin sekali rasanya mengusir Phil, biarkan aku yang berdiri di sampingnya. Tapi sungguh tak tega melihat senyum tulus Phil padaku. Kadang aku heran, apakah Phil ini seorang malaikat sebenarnya? Kenapa aku tak pernah tega untuk membencinya, meskipun dia telah merebut kekasihku? Jalan terbaik adalah memasrahkan my Schat dalam perlindungan Phil. Kubisikkan di telinga Phil saat aku maju ke depan untuk menyalami kedua mempelai, “Phil, jaga dia baik-baik ya?” Dengan mantap Phil mengangguk, sambil membalas hangat jabat tanganku.

Dengan pernikahannya, hubungan kami tak terputus begitu saja. Rupanya, my Schat menepati janjinya untuk tetap di sampingku. Memang kami tak lagi bisa selalu bersama setiap saat seperti dulu. Tapi, hubungan tidak selalu dinilai dari kuantitas kebersamaan, tapi lebih penting dari segi kualitas. Betapa berharganya kontak di chatting yang hanya beberapa saat, betapa berharganya selarik SMS yang manis, betapa berharganya mendengar suaranya di pesawat telepon. Segala keegoisan menguap, berganti dengan rasa sayang yang tulus. Aku benar-benar mengerti kenapa dia harus menikah.

Aku terus berdoa, belajar memahami hidup. Memang tidak mudah, tapi hidup kan tidak terus menerus memberikan yang terindah. Sering kali, hidup menawarkan keperihan. Bila memang itu yang terjadi, hadapi dengan senyum dan hati seluas angkasa. Maka, semua akan menjadi baik-baik saja.

@Nikita Lie, SepociKopi, 2008