Home » Humaniora, Relationship, Tentang Cinta

Ketika Hari Merdeka

22 August 2008 36 views 4 Comments


Oleh: Nine Muses

Mungkin ngomongin tujuhbelasan udah basi buat dibicarakan. Kesibukan kampus dan kemalasan bangun pagi membuatku nggak sempat menulis apa pun tentang hari kemerdekaan Republik Congo eh salah, Republik Indonesia tercinta. Keasyikan ngulet-ngulet, garuk-garuk bagian (nggak) penting, sambil hilang ingatan di ranjang lebih mantap daripada menyalakan komputer dan mulai ngetik. Nggak heran seseorang mengirim surat cinta panjang lebar kepadaku. Isinya kurang lebih cambukan agar aku yang sering kali kelelep urusan kuliah lebih rajin belajar nulis daripada keasyikan ngorek idung. (Terima kasih yah suratnya, Kak Lakhsmi! Cinta deh daku sama Kakak!) Kalimat terakhir nggak usah dibaca, karena itu pake font kecil banget. Hehe.

Biarpun diteriakin udah basi dan dilempar pakai tomat busuk, aku tetap mau cerita tentang perayaan tujuh belasan di kompleks rumahku. Nggak tau disengaja oleh alam semesta raya atau persengkongkolan yang jenius antara orangtuaku dan orangtua Georgina, kami berdua mempunyai satu persamaan yang penting. Bukan kesamaan pakai kaus terbalik kalau nggak sadar, atau menyedot-nyedot ingus kalau nggak ada tisue. Kami mempunyai kesamaan fantastis-bombastis-seksis, yaitu rumahku dan rumahnya berada pada satu kelurahan!

Ehem. Ehem. Hebat kan?

Satu kelurahan berarti satu kegiatan tujuhbelas agustusan. Sebenarnya RT-ku memiliki kegiatan juga, tapi waktu tahu kelurahan kami mempunyai hajatan besar, aku memanfaatkan momen itu untuk mengajak Georgina ikutan pesta rakyat. Kupikir ini adalah ide cool. Kapan lagi dapat pamer kepandaian tarik tambang, atau manjat pinang di depan gebetan tersayang?

Pagi-pagi aku terbangun dengan girang dan dipenuhi semangat tujuh belas agustus. Rumah udah terasa banget suasananya. Papa Mama memakai baju berwarna merah putih, bendera-bendera kecil berada di mana-mana, dan seluruh rumahku ditempeli poster para pejuang kemerdekaan. Hihihi… nggak ding. Aku mencari kaus biru sederhana dipadu dengan celana jins dan kacamata yang menghiasi wajah. Maka siaplah aku mengajak gebetan tersayang menghadiri panggung pertunjukan yang udah dipersiapkan sejak dua hari lalu.

Beberapa jalanan mulai ditutup. Aku berjalan kaki menuju rumah Georgina. Sebelumnya aku pernah berjanji untuk membelikan durian monthong, jadi hari ini aku menenteng durian itu di kardus dengan penuh gaya seperti cewek menenteng tas kulit Hermes-nya. Harum wanginya nggak bisa dirahasiakan – tidak seperti orientasi seksualku yang sangat tertutup, membuat kucing-kucing jalanan mengintilku di belakang. Georgina langsung menghambur keluar rumah saat aku tiba di sana. Kuangsurkan durian tersebut ke tangannya, sebagai pengganti selusin mawar merah. Dia mengucapkan terima kasih. Duh, sumpeh deh, rating dari satu sampai sepuluh, menurutku adegannya romantis sekali! Angka sepuluh. Perfect number.

Kami berdua berjalan menuju tempat di mana massa mulai menyebar dan berkumpul. Perlombaan demi perlombaan digelar. Kami berdua berdiri di pinggir, menyemangati mereka yang sibuk berlomba. Georgina bertepuk-tepuk tangan untuk wakil dari RT-nya, sementara aku sibuk memberi semangat buat wakil RT-ku. Wah, seperti nonton pertandingan Olympiade di TV. Suasana seru. Tibalah saat yang ditunggu-tunggu. Lomba balap karung.

Aku maju dengan gaya berani, mewakili RT-ku. Kuambil karung yang telah dipersiapkan panitia. Karungnya rada kekecilan. Nggak apa, yang penting aku telah berjanji kepada nusa bangsa ditambah sungkem kepada orangtua untuk berjuang mendapatkan medali emas. Aku bersumpah takkan kukecewakan mereka. Dengan penuh heroik, aku melambai kepada Georgina yang tersenyum-senyum di balik batas tali. Aku mengacungkan kepalan tangan ke udara. Satu, dua, tiga! Perlombaan balap karung pun dimulai.

Aku melompat sekuat tenaga sambil membayangkan dikejar ayam yang lagi birahi. Jurus lompatan kungfu yang sering kupraktekkan kepada keponakanku si Ibet ternyata berhasil. Aku maju, semakin cepat, akhirnya menjadi yang terdepan. Terus melompat, lompat, lompat, dan lompat! Sebentar lagi! Nyaris mendekati garis akhir, Saudara-saudara! Lihat, garis akhir telah terlihat! Lagi! Lagi! Lagi! Semakin cepat!

Gubrak!

Aku kepleset. Aduh, sakitnya luar biasa. Malu? Nggak usah yeee. Aku berdiri dengan kilat. Orang sebelahku nyaris melampauiku. Aku cepat-cepat kembali melompat. Hup, hup, hup. Yaaaaa!! Sukses! Akhirnya aku mencapai garis finish.

Juara kedua, dengan kaki lecet, dan senyum Georgina ketika menyambutku. Itu adalah hadiah yang paling indah untuk hari ini. Georgina menggandengku yang berjalan terpincang-pincang. Sebenarnya sih nggak terlalu sakit, cuma aku saja yang ingin dimanja. Georgina membawaku duduk di lapangan basket yang penuh dengan vendor-vendor kaki lima. Dia membeli martabak manis, gulali merah jambu, dan Teh Botol. Kami duduk berdempetan, tertawa untuk joke yang nggak jelas, dan ngobrol ngalor ngidul. Kulihat senyum dan binar matanya. Hatiku seketika lumer.

“Nine, lenganmu kotor tuh.”

Georgina menghapus kotoran di lenganku dengan tisue basah. Ketika kulit kami bergesekan, ada sejuta partikel listrik yang menyengat dadaku. Kunikmati diam-diam, sambil sesekali mencuri pandang ke wajahnya yang cantik. Setelah itu, aku masih ikutan lomba makan telur rebus yang membuatku berhasil menyabet juara pertama dan menghadiahiku diare semalam suntuk.

Dirahayu, Indonesia-ku. Terima kasih udah memberikan hari yang komplit buatku; komplit bahagianya, komplit serunya, komplit sambel kacangnya. Semoga kemerdekaanmu menjadi kemerdekaanku, suatu hari nanti.

@Nine Muses, SepociKopi, 2008

4 Comments »

  • Sinyo said:

    Nine.. tingkah polahmu mengingatkan masa2 mudaku.. kqkqkqkq..

  • Anonymous said:

    Asli Ngakak sambil guling2 dech Bacanya.. Fyuuh.. Duuh Nine, Kangeen bangeet ma tulisanmu.. Kemana az Dikau selama ini?? Nyungsep dmn :D Hehhee

    - strawberry^panic -

  • De Ni said:

    Ha..ha..
    Aku suka banget tulisanmu yang ini.
    Luchu abiiiiiiiiiiiiiiiiis..
    Sebenarnya aku lagi BeTe ma perutku yang mules2, tapi baca tulisanmu buat aku jadi riang bgt pagi ini.
    Sumpah, tulisan2mu bikin aku semangat memulai pesta ngikik.
    Thanks buat hiburannya Nine!!!

  • Affy said:

    Akh, senangnya masa2 muda kayak kamu, d’Nine…mudah2an always happy gini yaaa…:-)

Leave your response!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.