Home » Opini

Laskar Penentang

14 June 2008 125 views 6 Comments

Oleh: Lakhsmi

Aku terlibat dalam percakapan absurd saat sedang menikmati secangkir kopi di kedai kopi sederhana yang tak bermerek internasional. Dua teman lesbianku membawa seorang sahabat lesbian mereka, sebut saja namanya Ade. Kami berbincang-bincang tentang segala hal, dan pembicaraan mengalir menuju topik menonton film.

“Aku nggak suka film Hollywood!” Ade berkata berapi-api.

“Oh,” kataku heran. “Kenapa?”

“Film-film Hollywood adalah film-film kemaruk yang gila duit yang memuja kapitalisme. Nggak ada sense sama sekali. Aku hanya suka film-film Eropa yang indie atau arts gitu deh.”

“Mengapa Eropa?” tanyaku tak mengerti. “Banyak film-film Asia yang juga bagus.”

“Kalau film Asia, aku sih hanya nonton film-film yang sutradaranya Wong Kar-wai. Film-film Hongkong dan India juga banyak yang money-oriented dan kebarat-baratan. Aku anti kapitalisme! Aku menentang monopoli pasar!”

“Apa kamu nonton film-film silat?” Aku nyaris meletus dalam tawa membayangkan Ade menonton film silat. Aku berani bertaruh, dia pasti belum pernah menonton film silat!

“Nggak. Itu terlalu komersil.”

Betul, tebakanku tepat. Dia memang belum pernah menonton film silat yang berseri gila-gilaan itu.

“Sayang sekali. Padahal banyak yang bagus-bagus.” Aku menghela napas pelan-pelan, berusaha mengendalikan diri dari emosi kesal. Susah berbicara dengan orang yang seperti ini. “Apa kamu menonton film Hollywood seperti The Godfather, The Lord of the Rings, When Harry Met Sally, Clueless, Titanic, The Sixth Sense?”

“Nggak. Nggak pernah, untuk apa menonton film-film Hollywood? Nggak nyeni sama sekali. Orang yang nonton film Hollywood nggak pernah mampu mengapresiasi arti seni pada film.”

Aku terdiam. Pembicaraan berhenti sampai di sini. Aku tidak sanggup meneruskan percakapan dengan seseorang yang menutup diri dan tak berniat membuka telinganya terhadap opini orang lain. Pembicaraan tidak akan berlari ke mana pun, paling hanya berkisar di lingkaran setan yang itu-itu saja.

Sekarang saat aku mengetik tulisan ini, otakku tak henti-hentinya berputar. Inilah pertanyaan one million dollar. Bagaimana kamu tak menyukai sesuatu tanpa mencobanya terlebih dahulu? Aku tidak habis pikir bagaimana Ade dapat menarik kesimpulan dia tidak menyukai film Holllywood jika dia tidak pernah menonton film Hollywood.

Bukan sekali ini aku bertemu dengan seorang lesbian berspesies seperti Ade. Ada banyak lesbian lain yang bersikap seperti itu. Sikap yang selalu menentang ini ditujukan kepada banyak hal, banyak topik – tak hanya seputar film. Kebanyakan ulah itu dilakukan atas dasar keinginan menggebu untuk melawan segala hal yang berbau mainstream, alias tak sudi tunduk atau mengikuti apa yang disukai oleh masyarakat awam. Aku nggak mengerti mengapa virus penyakit seperti ini menjangkiti kaum lesbian.

Aku senang menonton, bahkan aku sangat menikmati keasyikan menonton film. Setelah menonton banyak sekali film, yakni film Hollywood, Bollywood, indie, arts, Eropa, Asia, bahkan Indonesia, aku dapat menarik kesimpulan tentang seleraku. Itu pun terkadang seleraku ternyata salah. Kupikir aku tidak menyenangi film-film bergenre tertentu, tapi setelah aku mencoba satu dua film di genre itu, aku menyukainya kok. Tidak ada hal yang terlalu buruk dengan satu pilihan. Jika saja kita mencobanya, maka kita akan mempunya pendapat yang sahih terhadap pilihan tersebut. Bukan hanya itu saja, pilihan kita pun akan menjadi semakin luas dan tak terhingga.

Ada yang mengatakan bahwa orientasi seksual adalah pilihan. Menurutku, pendapat itu sangat benar jika si pemilih yang bersangkutan benar-benar mencoba pilihan-pilihannya sebelum mengambil kesimpulan tentang apa yang diputuskannya. Jika si pemilih belum mencoba aneka alternatif yang tersaji di hadapannya, bagaimana dia bisa ngotot memilih satu preferensi saja? Bagiku itu absurd. Bagaimana kamu bisa menyimpulkan kamu tak menyukai pisang jika kamu sekali pun tak pernah mencoba pisang?

Apakah karena kita adalah lesbian – manusia minoritas, yang tak berada di kelompok mayoritas, membuat sahabat-sahabat lesbianku ini sangat senang menimbulkan sikap permusuhan secara terang-terangan atau antipati blak-blakan terhadap segala hal yang berbau mainstream. Jika seorang lesbian memihak atau memuja segala perkara yang tampaknya sepi disukai, maka kegiatan itu menimbulkan perasaan senasib atau seia-sekata. Perasaan senasib ini memunculkan sikap pembelaan yang berlebihan, selama yang didukung ini juga anti kemapanan alias “berbeda”. Alasan itu semata sudah cukup bagi mereka untuk memberi dukungan.

Aku tahu masih banyak Ade-ade yang berkeliaran di komunitas lesbian, yang mendewakan perbedaan; seolah-olah menjadi berbeda itu (selalu) terlihat keren, membanggakan, dan (please deh!) cerdas. Aku menyayangkan perilaku seperti itu. Berbeda memang tidak apa-apa, tapi berbeda karena hanya ingin banget terlihat berbeda bukanlah satu perbuatan yang akan menimbulkan kesan yang dalam. Menjadi orang yang berbeda dan percaya diri dengan perbedaan tersebut sewajarnya didasari oleh sikap bijaksana; bahwa seseorang harus mengerti tentang pilihan-pilihan yang dihadapinya serta berhasil menentukan pilihan tersebut secara arif dan berbudi.

Laskar penentang, laskar oposan ? Ah, nggak selalu cool deh.

@Lakhsmi, SepociKopi, 2008

6 Comments »

  • Anonymous said:

    Dear lakhsmi,
    aku pengikut laskar pelangi kok, bnyk “warna” yg bisa masuk :D

    -nanda-

  • Anonymous said:

    Banyak yang mengira kita bisa mengajarkan cara membuat pilihan yang baik kepada orang lain, tetapi sebenarnya kita sedang memilihkan untuk mereka…:) Keep on contemplating upon something, Lakshmi

  • Anonymous said:

    perlakukan orang lain seperti anda ingin diperlakukan, cenderung salah! “perlakukan orang lain sebagaimana mereka ingin diperlakukan” kehidupan yang hebat berasal dari mencoba mengerti sesuatu yang tidak kita mengerti, begitulah akhirnya anak adam selamat menjalani hidup ini.

    lakhs…proud of you!

    rain

  • sakura said:

    Benar juga… kita tidak bisa memutuskan sesuatu tanpa merasakanya, setidaknya tau apa itu enak apa gak :P

  • cherrie said:

    cerita ttg si ade itu mengingatkan diri saya beberapa tahun yang lalu. hehe lucu juga membayangkannya lagi, .. tepat sekali istilahnya, menutup telinga terhadap opini orang lain,.. tidak mau mencoba sesuatu, terutama sesuatu yang baru dan asing, perlu bertahun2 kemudian untuk berubah, dan saya bersyukur saya bukan orang spt itu lagi..dibutuhkan kemauan yang asngat keras untuk merubahnya….dan salah satu yang menyebabkan adalah seseorang yang sangat spesial,..dialah yang membuat saya menyediakan lebih banyak telinga sekarang buat orang lain (meskipun pada akhirnya saya mendebat :D )… luv this story..

  • Dusk said:

    Makes two of us, Cherrie. Itu saya beberapa dekade (halah) yang lalu. Haha selfish sekali, merasa setuju itu lemah dan berlawanan itu keren. Apa-apaan yah. Tapi sekarang belajar untuk tidak begitu lagi. Kalau belum coba, ya belum tau. Bukan tidak suka. Lancang sekali sama hak asasi; diri belum diberi kesempatan untuk menjajal kok sudah ketok palu.

    Like this, Lakhsmi. :D

Leave your response!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.