Laskar Penentang
Aku terlibat dalam percakapan absurd saat sedang menikmati secangkir kopi di kedai kopi sederhana yang tak bermerek internasional. Dua teman lesbianku membawa seorang sahabat lesbian mereka, sebut saja namanya Ade. Kami berbincang-bincang tentang segala hal, dan pembicaraan mengalir menuju topik menonton film.
“Aku nggak suka film Hollywood!” Ade berkata berapi-api.
“Oh,” kataku heran. “Kenapa?”
“Film-film Hollywood adalah film-film kemaruk yang gila duit yang memuja kapitalisme. Nggak ada sense sama sekali. Aku hanya suka film-film Eropa yang indie atau arts gitu deh.”
“Mengapa Eropa?” tanyaku tak mengerti. “Banyak film-film Asia yang juga bagus.”
“Kalau film Asia, aku sih hanya nonton film-film yang sutradaranya Wong Kar-wai. Film-film Hongkong dan India juga banyak yang money-oriented dan kebarat-baratan. Aku anti kapitalisme! Aku menentang monopoli pasar!”
“Apa kamu nonton film-film silat?” Aku nyaris meletus dalam tawa membayangkan Ade menonton film silat. Aku berani bertaruh, dia pasti belum pernah menonton film silat!
“Nggak. Itu terlalu komersil.”
Betul, tebakanku tepat. Dia memang belum pernah menonton film silat yang berseri gila-gilaan itu.
“Sayang sekali. Padahal banyak yang bagus-bagus.” Aku menghela napas pelan-pelan, berusaha mengendalikan diri dari emosi kesal. Susah berbicara dengan orang yang seperti ini. “Apa kamu menonton film Hollywood seperti The Godfather, The Lord of the Rings, When Harry Met Sally, Clueless, Titanic, The Sixth Sense?”
“Nggak. Nggak pernah, untuk apa menonton film-film Hollywood? Nggak nyeni sama sekali. Orang yang nonton film Hollywood nggak pernah mampu mengapresiasi arti seni pada film.”
Aku terdiam. Pembicaraan berhenti sampai di sini. Aku tidak sanggup meneruskan percakapan dengan seseorang yang menutup diri dan tak berniat membuka telinganya terhadap opini orang lain. Pembicaraan tidak akan berlari ke mana pun, paling hanya berkisar di lingkaran setan yang itu-itu saja.
Sekarang saat aku mengetik tulisan ini, otakku tak henti-hentinya berputar. Inilah pertanyaan one million dollar. Bagaimana kamu tak menyukai sesuatu tanpa mencobanya terlebih dahulu? Aku tidak habis pikir bagaimana Ade dapat menarik kesimpulan dia tidak menyukai film Holllywood jika dia tidak pernah menonton film Hollywood.
Bukan sekali ini aku bertemu dengan seorang lesbian berspesies seperti Ade. Ada banyak lesbian lain yang bersikap seperti itu. Sikap yang selalu menentang ini ditujukan kepada banyak hal, banyak topik – tak hanya seputar film. Kebanyakan ulah itu dilakukan atas dasar keinginan menggebu untuk melawan segala hal yang berbau mainstream, alias tak sudi tunduk atau mengikuti apa yang disukai oleh masyarakat awam. Aku nggak mengerti mengapa virus penyakit seperti ini menjangkiti kaum lesbian.
Aku senang menonton, bahkan aku sangat menikmati keasyikan menonton film. Setelah menonton banyak sekali film, yakni film Hollywood, Bollywood, indie, arts, Eropa, Asia, bahkan Indonesia, aku dapat menarik kesimpulan tentang seleraku. Itu pun terkadang seleraku ternyata salah. Kupikir aku tidak menyenangi film-film bergenre tertentu, tapi setelah aku mencoba satu dua film di genre itu, aku menyukainya kok. Tidak ada hal yang terlalu buruk dengan satu pilihan. Jika saja kita mencobanya, maka kita akan mempunya pendapat yang sahih terhadap pilihan tersebut. Bukan hanya itu saja, pilihan kita pun akan menjadi semakin luas dan tak terhingga.
Ada yang mengatakan bahwa orientasi seksual adalah pilihan. Menurutku, pendapat itu sangat benar jika si pemilih yang bersangkutan benar-benar mencoba pilihan-pilihannya sebelum mengambil kesimpulan tentang apa yang diputuskannya. Jika si pemilih belum mencoba aneka alternatif yang tersaji di hadapannya, bagaimana dia bisa ngotot memilih satu preferensi saja? Bagiku itu absurd. Bagaimana kamu bisa menyimpulkan kamu tak menyukai pisang jika kamu sekali pun tak pernah mencoba pisang?
Apakah karena kita adalah lesbian – manusia minoritas, yang tak berada di kelompok mayoritas, membuat sahabat-sahabat lesbianku ini sangat senang menimbulkan sikap permusuhan secara terang-terangan atau antipati blak-blakan terhadap segala hal yang berbau mainstream. Jika seorang lesbian memihak atau memuja segala perkara yang tampaknya sepi disukai, maka kegiatan itu menimbulkan perasaan senasib atau seia-sekata. Perasaan senasib ini memunculkan sikap pembelaan yang berlebihan, selama yang didukung ini juga anti kemapanan alias “berbeda”. Alasan itu semata sudah cukup bagi mereka untuk memberi dukungan.
Aku tahu masih banyak Ade-ade yang berkeliaran di komunitas lesbian, yang mendewakan perbedaan; seolah-olah menjadi berbeda itu (selalu) terlihat keren, membanggakan, dan (please deh!) cerdas. Aku menyayangkan perilaku seperti itu. Berbeda memang tidak apa-apa, tapi berbeda karena hanya ingin banget terlihat berbeda bukanlah satu perbuatan yang akan menimbulkan kesan yang dalam. Menjadi orang yang berbeda dan percaya diri dengan perbedaan tersebut sewajarnya didasari oleh sikap bijaksana; bahwa seseorang harus mengerti tentang pilihan-pilihan yang dihadapinya serta berhasil menentukan pilihan tersebut secara arif dan berbudi.
Laskar penentang, laskar oposan ? Ah, nggak selalu cool deh.
@Lakhsmi, SepociKopi, 2008










Dear lakhsmi,
aku pengikut laskar pelangi kok, bnyk “warna” yg bisa masuk
-nanda-
Banyak yang mengira kita bisa mengajarkan cara membuat pilihan yang baik kepada orang lain, tetapi sebenarnya kita sedang memilihkan untuk mereka…:) Keep on contemplating upon something, Lakshmi
perlakukan orang lain seperti anda ingin diperlakukan, cenderung salah! “perlakukan orang lain sebagaimana mereka ingin diperlakukan” kehidupan yang hebat berasal dari mencoba mengerti sesuatu yang tidak kita mengerti, begitulah akhirnya anak adam selamat menjalani hidup ini.
lakhs…proud of you!
rain
Benar juga… kita tidak bisa memutuskan sesuatu tanpa merasakanya, setidaknya tau apa itu enak apa gak
cerita ttg si ade itu mengingatkan diri saya beberapa tahun yang lalu. hehe lucu juga membayangkannya lagi, .. tepat sekali istilahnya, menutup telinga terhadap opini orang lain,.. tidak mau mencoba sesuatu, terutama sesuatu yang baru dan asing, perlu bertahun2 kemudian untuk berubah, dan saya bersyukur saya bukan orang spt itu lagi..dibutuhkan kemauan yang asngat keras untuk merubahnya….dan salah satu yang menyebabkan adalah seseorang yang sangat spesial,..dialah yang membuat saya menyediakan lebih banyak telinga sekarang buat orang lain (meskipun pada akhirnya saya mendebat
)… luv this story..
Makes two of us, Cherrie. Itu saya beberapa dekade (halah) yang lalu. Haha selfish sekali, merasa setuju itu lemah dan berlawanan itu keren. Apa-apaan yah. Tapi sekarang belajar untuk tidak begitu lagi. Kalau belum coba, ya belum tau. Bukan tidak suka. Lancang sekali sama hak asasi; diri belum diberi kesempatan untuk menjajal kok sudah ketok palu.
Like this, Lakhsmi.
Leave your response!
Esensi Espresso
Lesbian, bulan Februari yang beraroma romantis mulai tampak. Apakah cinta? Pada hubungan percintaan lesbian yang tak bisa terikat dalam landasan pernikahan, banyak lesbian yang terjatuh pada kebingungan, ketakutan, dan ketidakpastian. Di mana pegangan untuk masa depan?
Lesbian, cinta bagi pasangan lesbian tentu membutuhkan perjuangan keras agar hubungan jangka panjang bisa terjadi. Banyak tantangannya dalam berkomitmen, misalnya kesetiaan, finansial, keluarga, perbedaan, dan lain-lain. Bisakah kita menjalaninya? Berapa lama pasangan lesbian bisa bertahan? Konon ada yang mengatakan bahwa usia pasangan lesbian tak bakal melewati satu tahun. Ah, tentu tidak benar!
Lesbian, untuk menjadi pasangan yang langgeng sampai nenek-nenek, kita bisa belajar dari teman-teman lesbian yang lain yang sudah bersama selama bertahun-tahun. Delapan tahun? Dua belas tahun? Lima belas tahun? Dua puluh tahun? Bisakah kita mencuri kebijaksaan mereka dan mengaplikasikannya ke dalam kehidupan percintaan agar kita pun bisa berbahagia dengan pasangan sampai nenek-nenek? Pastinya dong! Selamat merayakan cinta dalam arti yang sepenuh-penuhnya. Peluk cium untuk segenap pembaca SepociKopi tersayang.
Kategori
Visitor Number:
Arsip SepociKopi
Sedang Online
Senggolan Sepocikopi
Stop Press!
Kami mempersembahan kaos SepociKopi yang bakal keren dipakai dalam berbagai acara.
Silakan pilih dan unduh sendiri desainnya, lalu kamu sablon sendiri di kaos warna favoritmu.
Satu desain pasti tidak cukup, dua juga pasti nggak... semuanya saja! Tenang kok, kaosnya sangat lesbian-friendly dan hetero-friendly, jadi nggak bakal ketahuan! Kalau ketemu sesama teman yang juga mengenakan kaos ini, cukup saling melirik penuh arti. Kodenya udah udah dipatenkan di kepala masing-masing bo!
Salam SepociKopi!
Tags
Pembelian Online:
www.gramediashop.com
www.gramediaonline.com
Friendly Reminder
Situs ini adalah situs lesbian nonprofit. Untuk 18 tahun ke atas. Harap keluar dari situs ini jika Anda masih di bawah umur.
Most Commented
www.facebook.com/sepocikopi
www.twitter.com/sepocikopi
Twitter Buttons
Most Viewed
Recent Comments