Oleh: Ade Rain

Betapa beruntungnya jika sebuah kata memiliki makna tinggi. Kata mahkota misalnya, bukan hanya berarti sebagai hiasan kepala yang diletakkan di kepala raja dan ratu, namun juga bermakna agung menyangkut kemegahan akan kekuasaan yang luas.

Gelar mahkota juga diberikan pada keturunan raja baik perempuan maupun laki-laki, “Putra Mahkota Sri Welanga” keturunan raja Melayu Deli dan “Putri Mahkota Victoria ” asal Swedia contohnya. Selain itu juga ada kata “mahkota jiwa” yang dipakai sebagai ungkapan penghargaan hati pada seseorang yang dicintai. Sementara itu Sutan Takdir Alisyahbana seorang pujangga lama dalam tulisannya juga berani menyebutkan bahwa Tuhan merupakan “Mahkota Alam”, raja segala alam.

Jangan merasa aneh jika kemudian, kata ini juga menjadi ekspresi para jurnalis media cetak yang menggambarkan bahwa benda di selangkangan perempuan yang terletak di antara dua celah paha juga sebagai mahkota perempuan. Mungkin saking mulianya diharapkan para perempuan bisa menjaga bagian paling berharga tersebut, diberilah gelar terhormat padanya.

Terkait dengan kehormatan dan kemuliaan ini, seberapa pentingkah kita menjaga bagian tubuh yang paling sensitif tersebut? Konon dulu jika mahkota perempuan tak perawan lagi kemungkinan besar ia akan masuk dalam daftar kelompok perempuan jalanan, namanya akan cepat hilang dari daftar perjodohan para orangtua yang menginginkan mantu baik-baik. Sementara itu orangtua akan sekuat tenaga menjaga anaknya agar tidak bebas bergaul di luar rumah untuk marwah keluarga ini.

Seorang sahabat mengaku menjadi lesbian karena tak punya kesempatan bergaul dengan teman pria. Bagi keluarganya menjaga kesucian mahkota ini merupakan hal terpenting di muka bumi, sampai-sampai ia sama sekali tak boleh bergaul dengan lelaki mana pun. Jangankan menerima tamu pria di teras rumah, melihat ia mengobrol dengan para pria sang ayah akan langsung mengamuk dan mengingatkannya akan kesucian tersebut.

Karena naif dulu ia sempat percaya bahwa bertatapan mata dengan pria bisa merusak keperawanan dan menyebabkan kehamilan. Alhasil setiap hari teman-teman perempuan saja yang lolos melewati pintu rumah. Menurutnya berawal dari menjaga keperawanan inilah bibit kelesbianan tumbuh dalam dirinya, sehingga cinta pertama pun ia temukan bersama seorang “perempuan”.

Lalu seberapa pentingkah keperawanan dijaga oleh pasangan kita yang perempuan? Sejauh mana para lesbian muda paham bahwa mahkota tersebut memang layak untuk dijaga. Tapi untuk siapa? Apakah keperawanan mahkota ini akan diberikan pada orang yang benar-benar dicintai? Atau menunggu diberikan kepada seorang pria yang pantas untuk menjadi suami karena dianggap bisa menyembuhkannya dari kelesbianan?

Terlepas apakah lesbian akan menjadi lesbian selamanya apakah lesbian akan berubah pikiran kemudian menikah dengan seorang pria, kira-kira masih perlukan menjaga kesucian mahkota yang satu ini? Apakah para lesbian masih menganggap bahwa hal ini sebagai bagian penting yang harus dijaga?

Apakah dengan kita mencintai seseorang merasa perlu memberikan mahkota itu sebagai bukti bahwa kita sangat mencintainya? Bisakah premisnya dibalik? Bukankah dengan kita sangat mencintai seseorang, berarti kita harus menjaga kesucian perempuan pasangan kita itu sampai ia benar-benar siap memberikannya pada orang yang benar-benar ia cintai?

Jika memang kesucian itu tetap bisa terjaga hingga waktunya, betapa beruntung penerima the holy crown tersebut.

@Ade Rain, SepociKopi, 2008