Home » Opini

The Holy Crown

4 June 2008 47 views 22 Comments

Oleh: Ade Rain

Betapa beruntungnya jika sebuah kata memiliki makna tinggi. Kata mahkota misalnya, bukan hanya berarti sebagai hiasan kepala yang diletakkan di kepala raja dan ratu, namun juga bermakna agung menyangkut kemegahan akan kekuasaan yang luas.

Gelar mahkota juga diberikan pada keturunan raja baik perempuan maupun laki-laki, “Putra Mahkota Sri Welanga” keturunan raja Melayu Deli dan “Putri Mahkota Victoria ” asal Swedia contohnya. Selain itu juga ada kata “mahkota jiwa” yang dipakai sebagai ungkapan penghargaan hati pada seseorang yang dicintai. Sementara itu Sutan Takdir Alisyahbana seorang pujangga lama dalam tulisannya juga berani menyebutkan bahwa Tuhan merupakan “Mahkota Alam”, raja segala alam.

Jangan merasa aneh jika kemudian, kata ini juga menjadi ekspresi para jurnalis media cetak yang menggambarkan bahwa benda di selangkangan perempuan yang terletak di antara dua celah paha juga sebagai mahkota perempuan. Mungkin saking mulianya diharapkan para perempuan bisa menjaga bagian paling berharga tersebut, diberilah gelar terhormat padanya.

Terkait dengan kehormatan dan kemuliaan ini, seberapa pentingkah kita menjaga bagian tubuh yang paling sensitif tersebut? Konon dulu jika mahkota perempuan tak perawan lagi kemungkinan besar ia akan masuk dalam daftar kelompok perempuan jalanan, namanya akan cepat hilang dari daftar perjodohan para orangtua yang menginginkan mantu baik-baik. Sementara itu orangtua akan sekuat tenaga menjaga anaknya agar tidak bebas bergaul di luar rumah untuk marwah keluarga ini.

Seorang sahabat mengaku menjadi lesbian karena tak punya kesempatan bergaul dengan teman pria. Bagi keluarganya menjaga kesucian mahkota ini merupakan hal terpenting di muka bumi, sampai-sampai ia sama sekali tak boleh bergaul dengan lelaki mana pun. Jangankan menerima tamu pria di teras rumah, melihat ia mengobrol dengan para pria sang ayah akan langsung mengamuk dan mengingatkannya akan kesucian tersebut.

Karena naif dulu ia sempat percaya bahwa bertatapan mata dengan pria bisa merusak keperawanan dan menyebabkan kehamilan. Alhasil setiap hari teman-teman perempuan saja yang lolos melewati pintu rumah. Menurutnya berawal dari menjaga keperawanan inilah bibit kelesbianan tumbuh dalam dirinya, sehingga cinta pertama pun ia temukan bersama seorang “perempuan”.

Lalu seberapa pentingkah keperawanan dijaga oleh pasangan kita yang perempuan? Sejauh mana para lesbian muda paham bahwa mahkota tersebut memang layak untuk dijaga. Tapi untuk siapa? Apakah keperawanan mahkota ini akan diberikan pada orang yang benar-benar dicintai? Atau menunggu diberikan kepada seorang pria yang pantas untuk menjadi suami karena dianggap bisa menyembuhkannya dari kelesbianan?

Terlepas apakah lesbian akan menjadi lesbian selamanya apakah lesbian akan berubah pikiran kemudian menikah dengan seorang pria, kira-kira masih perlukan menjaga kesucian mahkota yang satu ini? Apakah para lesbian masih menganggap bahwa hal ini sebagai bagian penting yang harus dijaga?

Apakah dengan kita mencintai seseorang merasa perlu memberikan mahkota itu sebagai bukti bahwa kita sangat mencintainya? Bisakah premisnya dibalik? Bukankah dengan kita sangat mencintai seseorang, berarti kita harus menjaga kesucian perempuan pasangan kita itu sampai ia benar-benar siap memberikannya pada orang yang benar-benar ia cintai?

Jika memang kesucian itu tetap bisa terjaga hingga waktunya, betapa beruntung penerima the holy crown tersebut.

@Ade Rain, SepociKopi, 2008

22 Comments »

  • alex said:

    Rain, IMHO, perempuan yang merasa perlu memberikan mahkota sucinya sbg bukti cintanya adalah perempuan paling tolol di muka bumi ini.

    Nggak ada cinta, yg semegah apa pun, yg layak dibuktikan dgn cara seperti itu.

  • Jupiter said:

    WAKS! Untuk pertama kalinya, aku gak setuju nih ama opini nya Alex.

    Bagiku lebih baik dibilang kuno dan tolol daripada menyerahkan kesucianku pada seseorang yang tidak benar-benar aku cintai. Hanya orang terpilih yang aku perbolehkan untuk memetiknya.

    Seandainya sampai ajalku tiba orang terpilih itu tidak juga menyapa, akan aku kembalikan kesucianku yang mungkin sebetulnya sudah tidak utuh ini pada pemiliknya. (JMPP)

  • Sagita said:

    Seandainya, untuk hati yang perawan itu ada mahkotanya..

  • O.S said:

    owow, nice topic … the holy crown: for the right person at the right time. hehehe …

  • Jo said:

    Sorry Jupe, untuk kali ini gue setuju sama pendapat Alex (moga2 aku ga salah tangkap maksud kamu, Lex)

    Lepas dari gue sangat menghormati para perempuan yg tetap menjaga “mahkotanya” hingga mereka menemukan seseorang yang mereka anggap layak untuk menerimanya, bagi gue pribadi, cinta yang suci tidak seharusnya dibuktikan hanya dengan menyerahkan selapis selaput dara…nilai cinta seharusnya lebih dari sekedar selapis selaput dara yang dengan naif-nya bersembunyi dalam nama alias “mahkota suci”

  • Anonymous said:

    Kqkqkq…ngapain sih L-mom pada ngebahas perawan gak perawan? Lagian mana ada coba L-mom yang masih perawan? Percuma kamu mempertahankan prinsip kamu disini jupiter, tidak mungkin ada yang bakal sealiran dengan prinsip luhur yang kamu pertahankan. Toh mayoritas yang ada disini sudah jelas kan mantan perawan semua. Jadiiii… apa yang harus dipertahankan lagi? selain yang katanya cinta sejati itu. (minors)

  • Anonymous said:

    Setuju dengan Jo, cinta yang suci tidak seharusnya lebih dari sekedar selaput dara. And btw dalam hub L hitungan “keperawanan” masihkah ditentukan dengan telah rusaknya selaput darakah? Walaupun udah berkali2 melakukan hubungan seks dengan perempuan tp selaput dara gk rusak apa itu masih dihitung perawan? Apa musti nunggu rusak dulu dengan (sorry)alatbantu, atau berhubungan dengan laki2 dulu baru yg dinamakan telah menyerahkan keperawanan?? Anyway klo menurutku sih.. “keperawanan” udah diserahkan saat kita udah berhub seks dgn org lain, meski selaput dara belum rusak. just my opinion…-Sya

  • Jo said:

    @minors, fyi, aku belum jadi L-mom. Sorry, kali ini aku di pihak Jupe. Bagi aku ga ada yang namanya percuma jika kita berniat mempertahankan prinsip kita. Aku menghormati dan menghargai prinsip yang dipegang Jupe dan mungkin oleh sebagian sahabat yang mampir di blog ini.
    “…tidak mungkin ada yang bakal sealiran dengan prinsip luhur yang jupe pertahankan” BIG OOPS!!! Remember minors, nothing impossible in this world, so mari kita belajar menghargai pilihan orang ;)
    Oh ya, btw, kata siapa ga ada L-mom yang masih perawan??? Mungkin kamu belum nemu aja kali, hehehe (*twink twink*)

  • Anonymous said:

    The holy crown atau the holy sh*t nih?

  • Jupiter said:

    Pisss buat minors. Cooling down, sis! ini sekedar sharing opini dan prinsip aja kok.

    Terlepas dari beragam sudut pandang sehubungan dengan topik “KEPERAWANAN” ini, meskipun kayaknya dah mulai keluar dari artikel yang ditulis oleh bang Rain. Buatku yang kata KTP masih Gadis ini, TEUTEUP ==> KESUCIAN = PERAWAN = SELAPUT DARA. Karna itu yg pertama kali ditanamkan oleh bunda ketika aku beranjak remaja;

    “Sebadung-badungnya kalian, satu pesan bunda. Jaga kesucian kalian jangan biarkan orang lain merampasnya! Karena kalau itu sampai terjadi berarti harga diri kalian sebagai gadis pun sudah tidak ada. Persembahkan yang satu itu hanya kepada orang yang kalian cintai dan mencintai kalian.”

    Untuk yang satu ini, aku gak perduli orang lain mau bilang aku kuno kek, tolol kek, kampungan kek! Yang penting SATU! Aku akan selalu berusaha untuk bisa menjaga amanat dan kepercayaan dari bunda. (Untung aja dulu bunda gak detail nyebutin harus mempersembahkannnya ama makhluk jenis apa (ce or co), jd aku gak merasa bersalah kalaupun pada akhirnya harus menyerahkan amanatnya yang satu ini pada partner lesbianku. *TOP dah Bunda)

    O’ya, Ini prinsipku doank, lho! Yang lain sih terserah mo nyikapinnya seperti apa. Demokrasi Booo… Jadi lesbian aja pilihan. So, perawan gak perawan juga pilihan, dunk! (Panjang kali lebar sama dengan luaaaaaas lagi dah. Hahaha…)

    *Sorry bang rain jadi rada OOT, neh.

  • alex said:

    Haiyahhh, jadi rame… Gini lho yg aku bayangkan dari tulisan Rain:
    Dua orang ini bisa jadi sudah berkali2 melakukan hubungan seks… tapi mungkin selaput dara si Perawan masih utuh. Kemudian si perawan gelisah dan ada dialog spt ini:

    Perawan (P): Sayang, aku mohon lakukanlah. Renggut keperawananku.

    Perenggut Perawan (PP): Tidak. Aku tidak mau melakukannya. Siapa tahu kau masih mau menikah dengan laki-laki.

    P: Aku tidak peduli. Aku ingin kau yang mendapatkan perawanku sebagai bukti cintaku padaku. Cintaku padamu adalah cinta mati. Cuma kau satu-satunya.. blablabla…

    PP: Sungguh, aku tidak mau melakukannya. Aku cinta padamu, aku tidak tega melakukannya…

    P: Aku mohon padamuuuuuu…..

    PP: Well, then… kalau kamu memohon seperti itu. Oke! Sebagai bukti cintaku, aku akan melakukannya….

    Teeetttt!!!!

    Kadang2 cinta dinilai terlalu berlebihan, terutama dalam hal ini.

  • JC said:

    gubrakkk….
    hari gini masih memperdebatkan “keperawanan”

    sama aja mungkin dengan.. lelaki selingkuh wajar… perempuan selingkuh.. kurang ajar??

    santai aja lah.. nga semua item n putih..ada warna2 lain… hehehehe..

  • Sagita said:

    Haiyahhh, gini aja koq repot2. Nyang penting HATI girls! Hati qt perawan g bila bertemu dgn wanita yg tepat sebagai pasangan. Betul g Rain, Jo, Jupe, OS n Alex????

  • Anonymous said:

    Hahhahahha, nyang pada rame komen keperawanan…aku setuju dgn AA Gym aja deh,,,Jagalah hati, jangan kau nodai,,,Jagalah hati, lentera hidup ini…
    Rgrds,
    -Arie-

  • Anonymous said:

    Keperawanan lebih menyerupai mitos. Dalam dunia L, apakah keperawanan fisik masih penting artinya, mengingat kita sama-sama perempuan dan sama-sama memahami bahwa selaput tipis itu merupakan simbol ketaktersentuhan perempuan terhadap sex oleh laki2? Menurutku, lebih baik berfokus pada keeratan hubungan dan kasih sayang, keperawanan dalam artian hati pasangan hanyalah milik kita semata (Sweet Capuccino)

  • Anonymous said:

    Siapa peduli the holy crown, the holy sh*t, the holywood, yg penting pas ML pake hati, cinta dan perasaan, gak cuma just for fun ato nafsu sex semata (such a b*tch yang model begitu).

  • Anonymous said:

    Benar2 sudah g beres nih. Baru nyadar kalau selama ini aku sudah keliru milih tempat ini sebagai tempat favoriteku. Ternyata rata-rata penghuninya seperti ini?! Ada teman yang punya prinsip benar kok ya di bantai. Keluarga macam apa nih???(Broken Feel)

  • Anonymous said:

    Ktnya ini tmp para peacelover tp kok ribut terus, bikin issue yg berbau provokasi jgn2 kena sindrom FPI. Mbok ya bikin crita yg menentramkan dan bawa damai toh!

  • Nuy CS said:

    To admin Sepocikopi,

    Kalau diperkenankan saya ada sedikit masukan. Untuk setiap komentar yang mengandung kata2
    sh*t, b*tch atau yang sejenisnya kalo bisa direject saja. Masalahnya selain tidak enak di lihat, menurut saya komentar2 seperti itu mengandung unsur emosi personal. Sayang kan kalau citra damai di kafe ini rusak hanya gara2 komentar2 kasar seperti itu.

    Untuk teman2 tanpa bermaksud untuk menggurui. Menurut saya adu argumen bagus, silang pendapat wajar, terpancing emosi juga manusiawi, tapi tolong hargai teman2 pembaca lain yang menjadikan kafe ini sebagai tempat pembelajaran. Hidup kita sudah cukup sulit, jangan dinodai lagi dengan kata2 kasar seperti yang saya sebutkan di atas yang sama sekali tidak mencerminkan kepribadian kita sebagai perempuan.

    Minta maaf apabila masukan dari saya ini dianggap terlalu berlebihan, saya hanya berusaha menyampaikan perasaan tidak nyaman beberapa teman yang kebetulan pengunjung setia kafe ini juga.

    Salam damai,
    *Nuy cs*

  • dejavu` said:

    Sebenarnya, apa saja mungkin kok terjadi. Semua kembali lagi ke pelakunya sendiri.
    Banyak orang melakukan hal-hal bodoh demi hal yang disebut “CINTA”, sesuatu yang kasat mata, sesuatu yang tak punya linear measure, square measure, cubic measure or even liquid measure. Tapi hal yang pasti : “LOVE INSPIRES US TO DO GREAT, BEAUTIFUL, TERRIBLE THINGS, AND A BUNCH OF WEIRD AND STUPID STUFF” That’s because when we fall in love, our reason and perspective become distorted. And we discover the lovers’ PARADOX.
    Jadi, mungkin2 saja bagi sebagian wanita memberikan “Holy Crown” untuk ssorang hanya dengan didasari oleh satu kata “CINTA”

    @sis Rain : Go Fight it, SIS. Keep it up!

    Peace Sepocikopi

  • O.S said:

    ayay, sagita … i agree with you :D

    hati dapat berlaku sangat absurd terkadang. hehe.

  • Anonymous said:

    Pada ngomongin apa sih? Aku ga ngerti.. He he

    ^MarooN^

Leave your response!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.