Home » Humaniora, Opini

Lesbian vs Media

3 June 2008 29 views 3 Comments

Oleh: Robyn

Artikel tentang lesbian di sebuah majalah membuatku terbahak-bahak. Namun sayang ini bukan karena memang penulisnya bermaksud menulis sesuatu yang lucu, tapi ia menulis sesuatu yang membuatku berpikir: “Ya Tuhan, dia menulis tentang lesbian di zaman batu kali ya?”

Jadi kurang lebih artikel itu bercerita tentang potret lesbian yang dirangkum dari hasil wawancaranya dengan beberapa orang lesbian, sebagian besar ditemui di sebuah diskotek di Jakarta Pusat. Salah seorang di antaranya adalah gadis yang dengan heroik diceritakan berpetualang dari Bandung untuk mencari teman kencan.

Lengkap dengan segala cerita tentang kerepotan hidup in-the-closet dan terkungkung stigma masyarakat, gadis ini (diceritakan) merasa hanya akan bertemu pasangan hidupnya dengan berpetualang di bar-bar di Jakarta.

Aku tidak bermaksud menafikan keberadaan diskotek tersebut, maupun orang-orang yang ada di dalamnya. Clubbing memang menyenangkan dan wajar kalau memang ada yang menjadikannya sebagai bagian dari hobi atau andalan dalam bersosialisasi.

Namun bukankah cerita tentang lesbian yang terpinggirkan, berteman bir dan rokok di tengah kehidupan malam itu sudah berulang-ulang dari tahun 1980an? Setelah Indonesia punya presiden perempuan dan memberi kesempatan lebih banyak pada perempuan untuk memimpin berbagai macam industri dan posisi pemerintahan, seperti memakai kacamata kuda bila media tersebut masih mengangkat sisi yang sama untuk memotret kehidupan lesbian di Indonesia.

Terpikir juga apa mungkin memang wajah lesbian Indonesia memang tidak berubah, masih semuram dan sepesimis waktu lalu, sehingga media pun tidak beranjak dari sisi itu. Seorang temanku yang bekerja di media dengan bersemangat mengiyakan pendapatku ini.

Ia lalu bercerita tentang sebuah diskusi tentang lesbian dan media yang diadakan oleh lembaga nirlaba di Jakarta.

“Isinya standar. Cuma marah-marah dan mengkritik media yang menstigmakan lesbian. Malas gua nulisnya. Basi dot kom,” temanku yang straight ini berkata santai.

Wajar bila media merasa tidak bersemangat dan tidak tertarik dengan isu yang satu ini. Bagaimana tidak, para aktivis pun masih “terstigma” dengan stigma yang dibebankan pada lesbian selama berabad-abad. Masih menggunakan strategi yang sama dengan memandang semua orang, kecuali kaumnya, sebagai pihak yang berseberangan.

Padahal banyak yang dapat dijadikan tema diskusi semacam itu. Contohnya, bisa mengangkat tentang membesarnya ketertarikan dunia hiburan untuk mengangkat tema homoseksual sebagai isu sentral. Tak perlu khusus menjadi pengamat dunia sastra atau hiburan, pengunjung awam bioskop dan toko buku pun akan tahu semakin banyak film dan buku yang mengangkat isu ini. Para aktivis bisa mencetak tebal kemajuan-kemajuan kecil dari para pekerja seni ini menjadi batu tapak kemajuan dinamika lesbian di Indonesia.

Memang bisa menjadi pisau bermata ganda dengan menggadang-gadangkan berbagai pencapaian dan kebebasan berekspresi yang kita miliki. Bagaimanapun, perlu tetap diingat bahwa kita hidup berdampingan dengan kelompok fundamentalis yang bagai bom waktu yang bisa meledak kapan saja. Namun di atas semuanya, perkembangan ini perlu senantiasa disebutkan sehingga media dan publik tidak memandang homoseksual dengan kacamata yang stagnan.

Alasan lain kenapa tulisan itu menjadi basi, dan ini lebih penting, adalah karena aku yakin lebih besar porsi lesbian yang tidak pergi diskotek atau klab malam untuk mencari teman. Internet adalah keajaiban yang mengkompensasi pergaulan lesbian yang memang masih tertutup. Sekarang tak perlu lelah begadang di diskotek atau kafe untuk mencari teman.

Berapa dari kita yang bertemu dan jatuh cinta dengan pasangannya lewat dunia maya? Berapa banyak milis dan blog yang menjadi ajang perkenalan dan perjodohan? Kalau ingin yang lebih praktis daftarkan saja dirimu di Match.com. Tak perlu berusah payah bergaul dengan anggota milis atau blog, tinggal liat biodata dan kau bisa kira-kira si dia akan cocok atau tidak buatmu.

Sebelum aktivis lesbian di Indonesia maju dengan berbagai macam skenario pembebasan, akan lebih baik bila membangun jembatan yang kuat dan berkompromi dengan berbagai jenis komunitas lesbian yang ada, agar dapat memberikan isu yang lebih konstruktif pada media. Sehingga tidak ada mata rantai yang hilang antara dinamika kehidupan lesbian itu sendiri dengan apa yang dicorongkan kepada media.

Terakhir aku bercermin pada diriku sendiri. Aku cukup paham stereotyping kehidupan lesbian juga karena lesbian awam yang punya hobi nonton film dan baca buku macam aku tidak pernah ditulis. Bisa karena terlalu biasa atau juga memang karena lesbian seperti aku kuper dan paranoid dengan pengakuan.

Mungkin saja ada yang menarik dari orang-orang macam aku seperti misalnya dimana aku biasanya menghabiskan waktu dengan teman-teman lesbianku (yang jelas bukan di diskotek haha!), atau obsesiku pada model baju kemeja bergaris-garis (bukan hitam). Sehingga masyarakat tak selalu memandang dunia lesbian itu gelap, muram, mengerikan.

Ya, memang in-the-closet merugikan bagi perjuangan lesbian dan aku apatis tentang itu.

Ayolah, kau tidak mengharapkan aku menjadi aktivis lesbian setelah menulis tulisan ini, kan? Kalau saja aku berniat menjadi aktivis, tentunya aku akan mulai obrolan panjang lebar ini dengan ibu-ibu penggosip di sekitar kompleks rumahku, bukan di sebuah sudut kecil di belantara maya seperti ini.

@Robyn, SepociKopi, 2008

3 Comments »

  • Anonymous said:

    aku suka tulisan kamu robyn!

    rain

  • parikesit n1nna said:

    L vs media ?
    rasanya jurnal perempuan edisi bulan lalu mengulas banyak segi positif L dan memberi banyak penyegaran dengan berita kelas lumayan berat (sampai membuatu mengerutkan kening terutama hukum-politik yang kubenci, argh)

  • Angelo said:

    emangnya khidupan kita ssuram itu ya?
    diskotek?!!! bahkan dngernya aja males, bau rokok!
    itu sih pandangan kolot masyarakat ttg lesbian.
    lgpula, mana mreka tau klo trnyata ttangga mreka lesbian, saudara mreka lesbian, sahabat mreka lesbian, guru mreka lesbian, pmimpin mreka lesbian, dll.
    emangnya sgampang dan smurah itu kita” kaum lesbian??!!
    Please, stop judging us! Secret makes woman, woman..

Leave your response!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.