Home » Humaniora, Opini, Your Story

Hantu-Hantu dalam Imajinasiku

30 May 2008 40 views 10 Comments

Oleh: Debs

Aku pembaca setia Blog Sepoci Kopi. Blog yang selalu aku ikuti pertumbuhannya, dari mungil menjadi semakin perkasa. Blog ini oase kegembiraanku setelah sekian tahun mencari tulisan bertema lesbian yang ditulis dengan berani, indah, menghibur, dan menguatkan.

Tulisan-tulisan berformat blog di sini merupakan jejak penulis-penulis lesbian mencari jalan dan usaha untuk menggairahkan bahasa sekaligus menguraikan kesadaran akan keragaman warna pelangi yang sesungguhnya. Blog ini telah melahirkan ratusan tulisan dan penulis-penulis yang semakin lancar bercerita. Seluruh ekspresi itu tertuang dan disumbangkan dengan cara dan gaya tulisannya masing-masing, semua itu dilakukan demi kemajuan dunia sastra lesbian yang sebenarnya compang-camping—seperti dikatakan oleh Lakhsmi, wakil pemimpin redaksi Sepoci Kopi.

Setelah mengikuti tulisan-tulisan di blog ini selama setahun lebih, aku dapat menghidupkan para barista di kepalaku sebagai tokoh-tokoh imajiner yang berdenyut. Tokoh-tokoh ini memelihara citra, menaklukkan, membangun, menggumulkan, dan mengisi ruang di ranah bahasa yang berindentifikasi dengan dunia lesbian. Aku ingin memaknai mereka satu per satu, khususnya mereka yang jadi hantu-hantu dalam kepalaku dan berputar tiada henti.

Alex, pemimpin redaksi Sepoci Kopi. Kebetulan aku mengenalnya secara pribadi dan bagiku dia tokoh yang penting dan istimewa. Seorang redaktur spesialis sastra yang selalu terang-terangan menyerukan semua penulis (lesbian) untuk mencintai bahasa Indonesia, menghormati karya sastra, dan patuh terhadap aturan-aturan baku penulisan. Dia menulis banyak resensi buku dan film bertema lesbian yang menurutnya berkualitas. Kata Alex, “Isi otakku penuh dengan gagasan dan ide. Nggak ada situs lesbian yang dapat menyalurkan semangatku, nggak ada situs lesbian yang dapat memberiku apa yang kucari.” Dia ingin menciptakan Sepoci Kopi sebagai e-magazine yang tidak terkenal karena keberaniannya, tapi terkenal karena profesionalismenya, yang terkadang (mungkin) dinilai sebagai media yang terlalu berlagak berani.

Lakhsmi, sang deputy editor, datang dengan kekritisan. Dengan gamblang dia bilang sastra lesbian itu mandul, penulisnya impoten. Dia menulis tentang banyak hal, terkadang tulisannya tajam menyerang tapi banyak juga yang halus membuai. Blog adalah kendaraan politik Lakhsmi dalam menyampaikan kegelisahan hatinya, menuturkan pengalaman pribadinya, dan menyuarakan pandanganya tentang penyempitan kebebasan berpendapat dalam komunitas lesbian. Tampaknya dia tidak peduli dengan pujian maupun cercaan yang kerap dialamatkan kepadanya. Geliat Lakhsmi mengingatkanku dengan perkataan Seno Gumira Ajidarma, “Sastra mesti berdiri di tonggak depan untuk melawan tekanan itu!” Untunglah Blog Sepoci Kopi blog independen, tidak patuh dengan aturan main dan peraturan komunitas lesbian mana pun sehingga dia bukan seperti koran atau majalah yang dapat seenaknya diberangus oleh penguasa yang tersinggung dengan tulisan-tulisan di sana.

Bening mengusung idealisme damai, menebarkan tulisan yang disajikan dengan indah dan menyentuh. Dengan kisah-kisah sederhana ala “rumah tangga”, Bening tergerak untuk mengingatkan para pembaca lesbian tentang arti cinta, kehilangan, dan kebahagiaan. Mungkin pribadinya yang sensitif terhadap persoalan dan segala hal yang berhubungan dengan jiwa kemanusiaan membuatnya selalu konsisten menulis tentang humanisme dan makna hidup.

Ade Rain memperkaya konstelasi gaya tulisan di Blog Sepoci Kopi. Dia bersikap layaknya sahabat lama yang membawa sahabat-sahabat lainnya untuk duduk minum kopi bersama. Tulisan-tulisannya berkisah tentang petualangan dan kegembiraan berteman, sehingga pembaca membayangkan dirinya sebagai orang yang ramah serta hangat, menjunjung tinggi nilai persahabatan, dan loyal terhadap kawan. Dan terkadang di antara tulisannya terselip pesan kerinduannya terhadap Tuhan.

Kiprah Ratri M. di dunia tulis-menulis memang layak diangkat jempol. Sang penulis seakan menjaga jarak dengan tulisannya sehingga membaca karya Ratri M. bagai membaca artikel atau feature di majalah. Ratri M. mengajak pembaca berkelana dalam liku-liku bahasa pers. Gaya tulisannya lugas, sederhana, dan mudah dimengerti.

Berbeda dengan para penulis lainnya, Jupiter mengawali langkahnya di dunia menulis dengan aneka tulisan yang melankolis. Dia menjadikan nilai ketegaran sebagai medium ungkap pada tulisan-tulisannya. Kebenaran bagi Jupiter adalah kemampuan seseorang mengurai kesedihan.

Beberapa penulis lain yang baru bergabung tidak dapat aku rincikan. Sulit untuk dapat memahami ciri khas dan gaya tulisan mereka dengan jumlah tulisan yang masih rendah. Walaupun demikian, wujud dan kiprah mereka memberikan arti istimewa dalam membangun rangkaian citra yang berada di dalam benakku. Aku tidak berhenti kagum pada semangat mereka terhadap jalan kepenulisan—biarpun bernapas dalam udara pop(uler) dan menggunakan medium blog, mereka menulis dengan sepenuh jiwa.

Dan, tujuh penulis penting yang memaknai blog Sepoci Kopi berada di jalur yang tepat. Kuhormati mereka sebagai tokoh-tokoh dan hantu-hantu yang hidup di imajinasiku. Melalui medium blog, para penulis (lesbian) di sini tergerak untuk mengusung keindahan dunia (lesbian) kepada para pembaca (lesbian). Menginspirasi dan memahami. Memberi dan menandai. Dengan segala kekurangan dan kebesaran. Dengan segala kelemahan dan kebahagiaan.

@Debs, SepociKopi, 2008

Tentang Debs: usia 31 tahun. Bekerja sebagai wartawan di media nasional. Berdomisi di Surabaya.

10 Comments »

  • Jupiter said:

    WOW! Penulis amatiran bisa masuk penilaian seorang wartawan?
    Waduh! gak salah, neh? jangan2 mataku lagi kelilipan.

    Bentar sis, aku mo ke salon dulu.
    Photo2nya bisa di tunda ampe taun depan, gak?
    kata orang salon, aku harus ngumpulin kantong kresek dulu.
    biar muka geradakanku bisa semulus “Jupe” yg lagi hot itu. (*Norak mode on)

    Btw, thanks ya sis dah mo nilai tulisan amatiranku juga.
    Aku bener2 tersandung (eh, tersanjung maksudnya, kqkqkq…)
    Baru nyadar lho, ternyata mayoritas yg aku tulis emang mellow semua.
    Pantesan kemarin ada yg ngasih-Ani aku, hiks…
    Untung si Aninya cakep, jadinya gak aku tolak, deh. (ngawuuur)

    Ayo bangun, Jupie! Keluarkan gaya hot kamu, biar temen2 jadi pada seger!

    Jabat hangat dari si mellow buat ratu pena dari Surabaya.

    *

  • wins said:

    Yah…keduluan deh. Kata itu yang pertama kali muncul dalam benak saya ketika membaca “Hantu-Hantu dalam Imajinasiku”.

    Well, saya juga pembaca setia weblog Sepoci Kopi. Beberapa hari terakhir ini, terpikir dalam benak saya untuk membuat tulisan tentang para Barista:kekagumanku akan kecerdasan mereka, kegentaranku akan keberanian mereka, betapa tiap-tiap barista memiliki keunikan dan keistimewaannya masing-masing. Tulisan mereka mampu mengisi kekosongan hatiku. Entah bagaimana aku harus membahasakan untuk menjelaskan bahwa para barista ini benar-benar hidup dalam imajiku. Aku memiliki bayangan imajiner mengenai sosok mereka.

    Well, salut untuk Ms. Debs atas tulisan Anda yang mampu mewakili ungkapan dan pengakuan profesionalisme para barista Sepoci Kopi dari para pembaca setia.

    Untuk The Baristas… I really adore and admire each one of you. Tetaplah miliki semangat untuk menulis. Jangan pernah jemu untuk menulis karena kalian mungkin tidak tahu betapa tulisan kalian mampu mengilhami mereka di luar sana.

    Salam damai untuk semua… .

  • Ade Rain said:

    salam kenal debs, terima kasih atas tulisannya yang membesarkan hati, terus terang selama di sepocikopi aku selalu siap dicaci dan dimaki, tidak pernah membayangkan ‘penghargaan’ seperti yang kamu tuliskan…ada yang tersinggung dengan pesan di dalamnya, ada yang karena sentimen pribadi mulai mengomentari dengan cara yang tidak objektif, ada yang menyangkal dan menabukan…semuanya jadi breakfast, lunch, dan dinner yang harus nikmati dengan rasa syukur, sekali lagi salam jabat erat. aku juga belajar dewasa dengan tulisan para barista lain, aku mengagumi mereka semua.

    wins salam sista!

    love you barista!

  • Anonymous said:

    Cuma Kumara Dewi yang kukagumi, setiap rajutan katanya lebih indah dari permadani mesir sekali pun, kalo penulis yang lain so so lah, kadang sok bijaksana, sok suci, sok setia dan terlalu berkaca dari cermin kejelekan orang lain daripada cermin kejelekan sendiri. Just a comment so.. Piss!!

  • Lusi said:

    Tolong abaikan komentar pexxxxxxt di atas.

    SALUT untuk para penulis sepoci tanpa terkecuali. Saya sudah lama juga menjadi pembaca setia di sini. Kalau tidak ada sharing pengalaman dari teman2 penulis di sini, saya mungkin sudah lama terpuruk dalam kesendirian.

    Tidak mudah membagi cerita tanpa iming2 materi sebagai imbalan, tapi para penulis di sini sama sekali tidak memikirkan hal itu.

    Terus Menulis!! Jangan hiraukan “virus Brontok” (komentar2 tidak bertanggung jawab) yang saya yakin hanya berniat untuk menjatuhkan semangat menulis saudari semua.

    (LUSI Fans setia Sepocikopi)

  • KD said:

    Setuju buat Lusi! Semua yang telah berkontribusi di Spoci, orang-orang yang telah bersusah-payah menuangkan idenya dalam secarik tulisan di blog ini, patut dihargai. Semua memiliki gaya dan ciri khasnya masing-masing. Cheers buat sahabat penaku : Lakhs, Alex, Cassey, Bening, Rain, Nat, Ratri, Jupiter, Jo, Dee, Oryza Sativa dan kontributor lainnya yang tidak bisa kusebut satu per satu. Tetap semangat untuk menulis ya!

  • Anonymous said:

    Gw jg penggagum KD, setiap tulisannya bikin gw adem, damai (jd pingin ngibarin bendera putih di bumi), dan mak nyosss di hati. Nine Muse jg kocak abis, bikin gw terhibur ngakak2 klo lg suntuk. Lakhsmi tulisannya garang2 biar kadang ada yg lembut (jarang bgt seh), yg lain males baca deh agak2 terlalu menggurui.

  • Anonymous said:

    Gw suka Ade Rain, nulisnya berani, nggak boseni, nggak capek mikir, banyak pandangan, banyak pengalaman, berani, temanya variatif, kapan lagi baca tulisan lesbian kayak gini?

  • O.S said:

    cool work … cool comments …

    pertama kali diajak alex menulis disini, senang sekali rasanya. ada tempat yang mau menampung kata-kata dengan cara yang indah. secara personal, bukan hanya tentang menulis ketika mengerjakan tulisan untuk blog ini. ada ruang untuk melepaskan sesuatu-sesuatu yang kurang bisa dibagi secara gamblang dengan orang-orang sekitar.

    untuk rekan-rekan penulis yang lain, i love your works guys. such a lolipop ya. bikin ngakak sampai sendu.

    Lex&Lax, KD, Cassey, Bening, KD, Nine, Jo, Jupiter, Fredric, Robyn, Sagita, Capucino, Ratri, keep on writing.

    Meski, sebagian besar belum kukenal lebih lanjut. Let me say this, it’s wonderful to have you guys.

    Hugs,
    O.S

  • Jo said:

    Thanks to Debs yg sudah meluangkan waktunya untuk menuangkan apresiasi terhadap para kontributor poci (sumpeh selama ini aku bingung gimana nulisnya hehehe)

    Seperti layaknya tempat nongkrong sambil ngopi, salut untuk semua barista yang tanpa lelah terus meracik kopi yang selalu bikin aku betah nongkrong berjam-jam sambil mencoba berbagai macam kopi.

    Keep brewing, barista!

Leave your response!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.