Home » Humaniora, Opini

Me Against The World

10 September 2007 48 views 2 Comments

Oleh: Lakhsmi
http://jejakartemis.blogspot.com

“Kamu pernah dilecehkan oleh masyarakat?”
“Karena hubungan lesbianku dengan Alex?” Aku agak gagap.
“Iya.”
“Nggak pernah.”
“Aku pernah.”
“Kok bisa?”

Obrolan YM yang dimulai dengan santai menjadi agak tegang. Sebenarnya, aku yang tegang, bukan dia. Dia sendiri tampaknya bersemangat membagi pengalamannya yang sangat penting untuk dijadikan contoh kecil tentang hak asasi manusia. Sementara aku sendiri? Seperti kataku tadi, aku tegang. Belum apa-apa, aku sudah membayangkan adegan-adegan ngilu yang bakal diceritakan oleh temanku.<
Dan betul saja… dia bercerita tentang pelecehan yang dialaminya. Bukan hanya pelecehan dirinya tapi obrolan kami berlarut-larut pada cerita lain yang tak kalah menyedihkan tentang kaum homoseksual.

“Emangnya lu berciuman hot, sekalian grepe-grepe di depan orang-orang?”
“Nggak juga. Hanya gandengan.”
“Kok bisa?”

Aku terpesona. Aku hanyalah perempuan lesbian yang bekerja tiap hari tanpa henti, dengan dunia yang tidak berhubungan dengan dunia perjuangan homoseksual. Aku juga seorang ibu, yang kesibukannya nggak jauh-jauh dari memikirkan menu makanan yang sehat, mengawasi perkembangan anakku, sibuk menyiapkan aneka pekerjaan sekolah, mengajar si kecil membaca. Sama sekali tidak mempunyai waktu maupun tenaga untuk kegiatan yang lainnya, selain tentu saja, rekreasi untuk menyegarkan pikiran dan perasaan. Mendengar cerita-cerita tentang penyiksaan fisik dan diskriminasi kaum homoseksual seperti menonton film Hollywood atau mendengar berita tentang perang di CNN.

‘Kok bisanya’ aku terus melantur sampai aku bertemu dengan partner pada sore harinya. Partner juga punya seribu cerita tentang kekerasan pada homoseksual yang diceritakan oleh teman-temannya. “Pernah mengalami sendiri? Melihat dengan mata kepala sendiri? Menjadi saksi atau apalah?” tanyaku menekankan. “Nggak, nggak pernah,” katanya. Lagi-lagi aku terpesona.

“Kok bisa?”

Aku nyaris memukul kepalaku dengan ulekan sambel. Lupakan kata ‘kok bisa’ itu. Sekarang saatnya untuk tidak berpikir naif. Ini adalah kenyataan di luar sana. Kenyataan dengan huruf kapital. Kenyataan itu bukan kenyataan yang kuhadapi setiap hari. Kenyataan tentang teman-teman lesbianku sebagai perempuan-perempuan yang hidupnya nyaman-aman, tenang, mempunyai pendidikan dan status, sebagian kaya raya, dan sebagian lagi mempunyai anak-anak yang menjadi kebanggaan dan harapan bangsa. Kenyataan tentang teman-teman lesbianku yang kalau lagi kangen, wara-wiri ketemu di restoran atau bistro dengan musik jazz yang asyik dan harga makanan yang selangit.

Apakah aku tidak peduli dengan perjuangan kaum homoseksual?

Perjuangan. Ah, kata yang sangat mahal harganya di kamus kosakataku.

Aku berjuang agar pekerjaanku dapat diselesaikan tepat waktu. Aku berjuang agar kehidupan rumah tanggaku stabil dan aman. Aku berjuang agar cintaku pada Alex terpupuk dan tumbuh subur. Aku berjuang agar aku tidak dihantui oleh kebencian, kegetiran hidup, atau rasa putus asa. Aku berjuang agar sekolah selalu menjadi tempat yang aman bagi seluruh anak-anak. Aku berjuang agar pada akhir hari, apa yang kukerjakan adalah hal layak kukerjakan.

Bukannya aku nggak simpati dengan perjuangan teman-teman lesbian terhadap diskriminasi homoseksual. Bukan juga aku hendak melukai hati para sista yang telah mati-matian melawan. Dalam sudut hatiku, sejujurnya aku merasa sentuhan empati itu. Sejujurnya, aku pun merasa ikut terkoneksi.

Tapi mau bagaimana lagi? Aku lelah membayangkan perjuangan jenis itu. Aku lelah dengan keseriusan aneka diskusi masalah feminisme, jender, dan homoseksual. Aku lelah meribetkan hal-hal yang tampaknya di awang-awang, sangat nggak pararel dengan hidupku. Aku lelah dengan hari-hariku, nggak punya ekstra tenaga untuk mengurus perjuangan ideologi kaum homoseksual. Aku lelah dengan distraksi yang mengganggu kesibukanku. Sebut saja aku lesbian yang nggak peduli. Sebut saja aku lesbian yang sok mapan. Sebut saja aku lesbian yang pengecut atau mau enaknya sendiri. Bagiku, menjadi lesbian aja udah sulit, lalu kenapa makin dipersulit dengan melawannya? Bagiku, ikuti saja arus ombak, dan jadilah peselancar yang asyik. Gosong di bawah cahaya matahari, dekat dengan keindahan alam.

@Lakhsmi, SepociKopi, 2007

2 Comments »

  • Anonymous said:

    Hmmm saya selalu perhatikan Lakhsmi mempunyai kemampuan menulis di atas rata-rata. Soalnya tiap kali baca tulisan Lakhsmi, emosi ini tercabik-cabik, bisa gregetan sendiri, kadang marah sama Lakhsmi idiih kok nulis kayak gini, ikut terharu, geram, nggak setuju, mau nabok pipi Lakhsmi, dan sering terpana oleh keindahan pilihan kata-katanya yang sangat, sangat puitis. Saya adalah fans Lakhsmi nomor satu!! Salam kenal yah.. **julian**

  • Anonymous said:

    Tidak perlu ragu atau takut untuk memiliki pendapat yang berbeda, Teman.Anda takkan dikucilkan. Toh, banyak dari teman2 yang terlihat pasif dalam bertindak untuk melawan diskriminasi atau kekerasan terhadap lesbian itu; dunia tetap berjalan seperti apa kata Anda.

Leave your response!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.