Home » Opini

Tidak Ada yang Sia-Sia

4 September 2007 64 views One Comment

Oleh: Bening

”Sampai kapan kalian akan menjalani hubungan ini?” tanya seorang teman pada percakapan lewat telepon.

Terus terang, aku sendiri tidak tau harus menjawab apa. Aku bukan Tuhan yang bisa menentukan ukuran waktu. Satu tahun? Dua tahun? Sebelum menikah? Atau… bagaimana kalau besok aku mati, bukankah itu berarti hubungan kami akan berjalan selama napas masih berembus? Ah, terlalu sinetron banget ya?! Tapi, pernahkah engkau mendengar orang bijak berkata, “manusia hanya berencana tapi Tuhan yang mentukan.” Jadi, rencanaku ketika bersama partner adalah bersamanya selama waktu yang Tuhan berikan buat kami, mengasihi, mencintai dan membahagiakannya sebesar kemampuanku melakukannya, dan yang terutama adalah menjadikannya sebagai partner terakhir dalam hidupku.

”Jadi …?”

Aku dan partner tidak akan pernah putus. Akan ada suatu masa di mana pola hubungan mungkin harus disesuaikan dengan keadaan. Beradaptasi dan berubah agar tak punah. Tetapi ada yang tetap dan tak tergantikan. Ada perasaan kasih dan sayang yang tak berubah, ada jalinan persahabatan yang akan tetap utuh, ada hubungan kekeluargaan yang tetap terjalin.
Sebab hubungan percintaan antara aku dan partner bukan menjadi sesuatu yang mendominasi.

”Jadi kamu tidak akan menikah?”

Siapa bilang begitu? Bukankah rezeki, jodoh, dan maut itu juga urusan Tuhan? Aku bukan pembenci lelaki, aku dikelilingi lelaki yang baik, dari keluarga maupun dari teman-temanku. Jadi, bila ada lelaki yang baik yang Tuhan jodohkan buatku, tentu tak sesiapa pun bisa menahan. Tentu aku juga harus mempertimbangkan segala kemampuanku dalam menjalaninya, mempertimbangkan kesiapan partner dalam menerimanya.

Setiap orang tentu memiliki konsep bagaimana sebuah hubungan yang dijalin. Dan hubunganku dengan partner adalah hubungan untuk saling membahagiakan. Hubungan ini adalah hubungan hati, hubungan yang hanya antara kami berdua. Fakta yang paling jelas di depan mata dia tidak akan pernah menjadi suamiku, keluargaku tidak akan pernah menjadi bagian dari keluarganya. Hanya Dua, tidak akan pernah menjadi tiga atau lebih.

”Bukannya itu berarti sama saja dengan sebuah kesia-siaan?”

Buat kami, dua orang bergerak di jalur cinta dan kasih-sayang, tidak mengenal kata sia-sia. Aku dan partner tidak melakukan hal-hal buruk, justru kami seperti berlomba menggapai berkat Tuhan yang kian berlimpah di depan mata. Aku dan partner pernah bersendirian, hidup dalam kondisi yang baik-baik dan melakukan hal-hal yang baik. Namun ketika Tuhan pertemukan kami dan Tuhan beri kesempatan untuk menjalani kehidupan bersama, kami justru melihat bertapa hal-hal baik itu semakin berlipat ganda. Lalu apanya yang sia-sia? ;)

Sia-siakah cinta dan pengabdianku padanya? Mengurus segala sesuatu yang membuat hidupnya lebih nyaman, mendampinginya dalam suka dan duka, meringankan beberapa hal urusan hidupnya? Tidak akan. Tidak akan pernah sia-sia.

Sia-siakah kasih sayangnya padaku? Menyediakan dada yang lapang untuk menyandarkan resahku, melengkapi apa yang ada padaku, mencukupi apa yang kurang padaku serta mendukungku dalam segala hal yang membuat hidupku lebih baik? Hidup selalu adil. Siapa yang menyemai bibit akan menuai hasil. Dan selama ini kami hanya menyemai kebaikan, jadi apa yang ditakutkan?

Sia-siakah banyak hal yang telah kami gapai bersama? Rencana-rencana yang dirancang bersama? Bila sia-sia adalah apa yang didapatkan tidak sebanding dengan yang diharapkan dengan segala usaha yang dilakukan, maka tidak ada hal yang sia-sia dalam hidup kami, karena kami hanya berharap bahagia.

Kami tidak bermodal materi. Sebab berkat Tuhan berupa kebahagiaan adalah hal-hal yang tidak terjangkau materi. Kami tidak pernah berinvestasi dengan materi, apalagi berupa deposito yang akan kena denda bila ditarik sebelum waktunya. Modal kami hanya ketulusan dan kasih sayang, yang tak perlu menunggu sekian tahun untuk menikmati hasil dan keuntungannya.
Jadi, kami tidak akan pernah merugi. Sebab kami telah merasakan bahagia.

***
Alkisah, seorang tabib bertanya kepada seorang buta, tentang apa yang ia inginkan. Si Buta menjawab, bahwa ia ingin melihat cahaya dan isi semesta. Tabib itu berkata, ”Aku bisa membantumu untuk melihat, tapi hanya sesaat. Meski begitu, itu waktu yang cukup buatmu menikmati semesta. Sesudahnya kamu akan kembali ke sedia kala, terpasung dalam gelap. Aku takut, kamu kelak akan meratap, apalagi sambil menyanyikan lagu berjudul ’Bukan Perpisahan Yang Kutangisi Namun Pertemuan Yang Kusesali’,” kata Tabib mengingatkan.

Si Buta tersenyum, ”Tabib, apakah tabib lupa, aku memiliki hati yang bisa menyimpan kenangan. Apa yang kulihat akan kusimpan dalam hati dan ia tidak akan pernah hilang meski mataku kembali buta,” katanya dengan arif. ”Bila aku melihat yang indah aku akan sangat bersyukur karena aku pernah melihat sesuatu yang indah dan hatiku akan dipenuhi kebahagiaan. Bila aku melihat hal yang buruk, maka ketika aku kembali buta aku bisa bersyukur karena aku hanya melihatnya sekali saja dalam hidupku,” katanya melanjutkan.
Tabib terdiam, mengangguk dan menyetujui ucapan si Buta.

***
Aku pikir hal yang sama berlaku dalam banyak hal kehidupan. Hidup adalah pilihan-pihan dengan masing-masing konsekuensi yang menyertainya. Konsekuensi hidup adalah mati. Konsekuensi memiliki adalah kehilangan. Kita mengerti putih karena mengetahui hitam. Kita mengerti rasa bahagia karena tau bagaimana rasanya sedih.

Si Buta mengajariku agar tidak takut akan perpisahan, sebab aku masih memiliki jutaan kenangan yang tersimpan rapi dalam hati. Perpisahan akan menunjukkan arti sebenarnya pada sebuah kebersamaan. Justru yang kutakutkan adalah kebencian. Karena hanya kebencian yang bisa menggerogoti cinta sampai ke akar-akarnya.

Jadi, daripada resah memikirkan hal yang di luar jangkauanku, lebih baik aku merawat anugerah yang sudah Tuhan berikan, menjaga cinta dan menyemprotkan antiseptik agar virus benci tak berani menghampiri.

@Bening, SepociKopi, 2007

One Comment »

  • Anonymous said:

    emmm pesan yang manis

Leave your response!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.