Home » Humaniora, Your Story

Our Angel

3 September 2007 60 views 2 Comments

Oleh: Lakhsmi

Ketika aku tahu aku mengandung anak bungsuku, aku tidak sabar menyimpan rahasia ini. Seharian aku duduk di kantor, mengusap-usap perutku di balik meja, sambil membayangkan hal-hal mengasyikkan sembilan bulan kemudian. Aku mulai memikirkan nama. Aku mulai mengkhayalkan berbelanja keperluan bayi. Aku tenggelam dalam pikiran yang indah-indah: mendorong kereta bayi di satu minggu pagi yang cerah bersama Alex.

Waktu jam menunjukkan pukul lima sore, jantungku mulai berdenyut sangat keras sampai aku mengira aku bakal kena serangan jantung. Bagaimana cara mengatakannya kepada partner? Apakah perlu mempersiapkan acara? Ataukah perlu kuumumkan di tempat yang sangat spesial?

Pukul enam, ketika sedang berbaring berduaan bersamanya, aku menatap mata partner dalam-dalam. Tanpa aba-aba, aku membuka mulut, dan aku ucapkan kata-kata itu dengan lirih, “Say, aku hamil.” Air mukanya berubah perlahan-lahan, dari gembira menjadi terdiam. Tapi, dari terdiam mendadak kulihat ada setitik cahaya di sana; yang semakin besar dan besar dan besar, lalu mendadak menjadi ledakan senyum. Seperti kembang api. Seperti cahaya bintang.

Aku ingat partner berkata bahwa dia sudah punya perasaan aku hamil. Jauh sebelum aku mengatakannya, dia telah tahu. Dia telah merasakan. Tak lama tangannya bergerak ke perutku, partner membelai-belainya dengan sayang. Tidak ada kata-kata yang terucap, hanya pelukan dan sentuhan. Tapi itu sudah cukup; itu menggantikan sejuta kata.

Kami menanti sembilan bulan dengan penuh kegelisahan, ketegangan, dan semangat. Kehamilanku tampaknya tidaklah semulus kehamilan para perempuan lainnya. Kehamilanku diwarnai dengan satu komplikasi dengan komplikasi lainnya. Bercak-bercak darah yang kutemui di awal-awal minggu membuatku sangat takut akan kehilangan bayi. Aku takut aku terlalu lelah bekerja. Aku takut apa pun yang kumakan akan merusak janin. Aku memutuskan untuk lebih banyak bersantai-santai dan memerhatikan kesehatan. Bagi partner, aku adalah prioritas utama pada masa-masa ini.

Kami mulai menyiapkan diri menjadi sepasang mami. Perlengkapan bayi pun dibeli, melengkapi perlengkapan bayi yang telah ada. Kami membongkar gudang, menata baju-baju bayi kepunyaan si sulung. Kamar anak berubah menjadi setengah kamar bayi dengan bau bedak dan kaus kaki mungil berserak di mana-mana.

Pada pagi dia siap dilahirkan, partner menginap di rumah sakit, memperhatikan kegiatan perawat mengukur tensi darahku, mengecek degup jantung bayi, menghitung denyut jantungku. Bayi kami tiba pagi hari dengan bedah Caesar. Tangisannya kencang sekali, kulitnya berwarna putih bersih, dan dia ogah membuka mata. Kupikir matanya sangat kecil sehingga aku tidak dapat membedakan kapan dia membuka mata, kapan dia hanya melirik malas.

Bulan-bulan pertama adalah masa transisi kami menghadapi jam tidurnya yang sangat menyiksa. Dia hidup dari satu gendongan ke gendongan berikutnya. Matanya perlahan membuka ketika senja tiba dan meredup lagi saat langit subuh meledak. Aku dan partner gentayangan di tengah malam, memaksa mata tetap terbuka pada jam-jam rentan. Kami kehilangan ratusan jam-jam ngobrol kami. Kami kehilangan jam berdebat dan diskusi kami. Bayi menjajah kebersamaan kami, merampas keintiman kami, dan merampok setiap menit yang kami punyai. Tapi tidak apa-apa, kami rela jika itu adalah satu-satunya jalan untuk menyayangi, menjaga, dan merawatnya.

Karena dia anak bungsu, aku telah tahu bahwa masa-masa bayi yang tampaknya takkan berakhir ini sebenarnya akan berlalu dengan demikian cepat. Selama dia belajar membiasakan diri dengan kehidupan di luar rahim yang berbeda, tak henti-hentinya kami mengamati raut wajahnya, bentuk bibirnya, dan lekuk tubuhnya. Aku mengatakan bahwa dia mirip partner. Partner mengatakan dia mirip aku. Kami mengambil kesimpulan, baby kami mirip kami.

Tapi kami tidak pernah memikirkan hal itu dengan serius sampai suatu ketika saat dia telah cukup besar untuk diajak jalan-jalan keluar rumah. Kami membawanya pada acara makan malam bersama teman-teman kami. Teman-teman kami memperhatikan rupa wajahnya, lalu berkata “Astaga, dia mirip kalian berdua.” Itu adalah kata-kata paling indah yang kami pernah dengar.

Bayi kami menyelinap masuk di dunia, membawa cinta yang tak ada habisnya, diberikan langsung dari Tuhan. Sejak dulu, kami tidak pernah berani mengharap kehadirannya, tapi dia datang dengan mata (yang ternyata) lebar dan bulat, di situ ada kasih dan serah diri. Dia datang untuk mengajari kami, memberi kami kebahagiaan, menghubungkan kami dengan Tuhan, dan mengikatkan hubungan kami semakin erat. Bayi kami menyempurnakan kami.

Bukan daging dari daging kekasih
Bukan tulang dari tulang kekasih
karena kami disebut sebagai “Tanah yang Disemai”
Tapi secara luar biasa, secara ajaib kau milik kami
Dan jangan lupa sedikit pun, Anakku,
Kau tidak hanya dikandung di dalam rahimku
Tapi di dalam hati dua ibumu

@Lakhsmi, SepociKopi, 2007

2 Comments »

  • Anonymous said:

    bacanya terharu-pengen punya anak lagi…

    al-rain

  • Anonymous said:

    Your baby is the luckiest child. Dia punya 2 mami yg menyayanginya…… jadi pengen punya anak juga.

    *PS

Leave your response!

Ruang komentar adalah ruang yang memberikan perhormatan tinggi kepada kaum lesbian. Silakan gunakan kata "lesbian" atau "lesbi" dengan tepat, bukan dengan kata-kata lain yang melecehkan. Komentar dengan bahasa alay, singkatan, dll, tidak diperkenankan. Terima kasih.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.